diam dalam hijaunya sofa
koridor kelas
terpaku mata ini
pada dinding pria pujaan
bersayap seperti malaikat
senyum…dibalik keributan suasana
tak begitu jauh
dibalik celah ranting
ku terus memandang
mimpikan dia
di samping ku dalam empukkan hijau
di tengah keramaian seragam
dia masih mengenaliku
Hal ini sering ku rasa
bagai detak dalam dada
selalu tak ada arti
seperti mencoba menangkap asa
asaku…
perasaan ini selalu abadi
ku rawat dalam benak
harap takkan pernah luntur
satu minggu…udara bergetar
tersebut satu nama
tak asing bagiku
tapi entah siapa dia
dia membuatku berhenti
merawat perasaan ini
aku nyaris terhenti asa
melihat dia bergentayangan begitu saja
terhimpit hati…
titik air menuruni pipi
berpikir…tersesat dalam asa
bertanya dalam lamunan
apakah harus berhenti berharap
butir keringat…nuraniku berteriak
selama bumi ini tak terbelah
selama detik jam masih mengaluni detak jantungku
selama hati ini masih sekuat baja
mengapa harus berhenti berharap???