KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Embun Ambang Fajar

In, …

sekiranya rembulan yang

nggenang di dasar matamu

adalah suar yang dinyalakan

sunyi, bagi pejalan-pejalan malam

maka ikatkanlah sauhku

di pangkal rindumu

sementara kepak-kepak camar

yang telah keruhkan beningmu, biarlah

luruh oleh gerai rambutku, yang

akan kupetik sebagai dawai-dawai

pada orkestra embun-embun fajar

II

Dah, jika padamu pernah

kutitipkan warna-warna,

bukan berarti ku tak percaya

pada isak tangismu

bukan pula karena

ku tak yakin pada pekat sesalmu

tapi:

aku hanya ingin mengajakmu

menikmati sunyi ini lebih tinggi

menghikmati luka ini lebih abadi

tak lewat tangis

tak lewat isak

hanya sunyi: warna-warna

saja.

III

Na, jika kali ini kujumpai dirimu

di pematang perihmu

tak berarti aku hendak merebutmu

dari terik mentari

aku hanya ingin menghantar

bongkah sunyiku yang matang

dibakar rindu

kaulah yang harus menelannya

agar musnah menjelma cinta

IV

Wa, nyatanya dermaga yang telah kita bakar,

sesaat menjelang kau berangkat;

tak penah musnah dimangsa bara

abu-abunya terus membumbung

mengurung mendung

lalu memadatkannya menjadi pematang

tempat sunyiku dan sunyimu

meniti rindu

V

Sa, seperti lembut rambutmu

yang tipis tergerai di sela daun telingamu

begitulah aku lelap dibuai lembut bayangmu

yang tiba-tiba hadir menagih mimpi

sudahlah Sa, jangan lagi kau bunuh aku

lewat kepayang yang terbangkan

erangku di lembut bibirmu

cukup saat itu saja

kau yakinkan diriku betapa indah

warna bibirmu selepas

kau reguk malam-malamku

VI

Ri, jangan salahkan aku

jika gemuruh rindu ini kembali

kuhembuskan pada petak-petak malammu

karena kau jualah yang telah

nyalakan baranya lewat

harum nafasmu yang

hadir kembali seperti

saat kau terengah-engah dan

berkata:

“jangan sekarang, Lik!!!”

Tinggalkan Komentar