Embun Ambang Fajar
Desember 26th, 2006 by Abdul Malik
In, …
sekiranya rembulan yang
nggenang di dasar matamu
adalah suar yang dinyalakan
sunyi, bagi pejalan-pejalan malam
maka ikatkanlah sauhku
di pangkal rindumu
sementara kepak-kepak camar
yang telah keruhkan beningmu, biarlah
luruh oleh gerai rambutku, yang
akan kupetik sebagai dawai-dawai
pada orkestra embun-embun fajar
II
Dah, jika padamu pernah
kutitipkan warna-warna,
bukan berarti ku tak percaya
pada isak tangismu
bukan pula karena
ku tak yakin pada pekat sesalmu
tapi:
aku hanya ingin mengajakmu
menikmati sunyi ini lebih tinggi
menghikmati luka ini lebih abadi
tak lewat tangis
tak lewat isak
hanya sunyi: warna-warna
saja.
III
Na, jika kali ini kujumpai dirimu
di pematang perihmu
tak berarti aku hendak merebutmu
dari terik mentari
aku hanya ingin menghantar
bongkah sunyiku yang matang
dibakar rindu
kaulah yang harus menelannya
agar musnah menjelma cinta
IV
Wa, nyatanya dermaga yang telah kita bakar,
sesaat menjelang kau berangkat;
tak penah musnah dimangsa bara
abu-abunya terus membumbung
mengurung mendung
lalu memadatkannya menjadi pematang
tempat sunyiku dan sunyimu
meniti rindu
V
Sa, seperti lembut rambutmu
yang tipis tergerai di sela daun telingamu
begitulah aku lelap dibuai lembut bayangmu
yang tiba-tiba hadir menagih mimpi
sudahlah Sa, jangan lagi kau bunuh aku
lewat kepayang yang terbangkan
erangku di lembut bibirmu
cukup saat itu saja
kau yakinkan diriku betapa indah
warna bibirmu selepas
kau reguk malam-malamku
VI
Ri, jangan salahkan aku
jika gemuruh rindu ini kembali
kuhembuskan pada petak-petak malammu
karena kau jualah yang telah
nyalakan baranya lewat
harum nafasmu yang
hadir kembali seperti
saat kau terengah-engah dan
berkata:
“jangan sekarang, Lik!!!”