Jika saja Mereka Tahu…
Desember 26th, 2006 by Shirotsuya
”Assalaamu ’alaykum…” tidak terdengar salam dari Musholla bagian putri. …………………………. Tidak ada jawaban. Gak kedengeran sih!
Thok…thok…thok…..!!
“Assalaamu ‘alaykum….” kali ini terdengar karena lebih keras dan didahului ketukan keras pada hijab pembatas dari kayu.
“Eh…. Wa ’alaykumussalaam wa rahmatullaah…” jawab Heru setelah berlari mendekati sumber suara.
“Ini siapa ya?” sambut suara yang sama dengan yang mengucap salam.
“Lho??” Heru mengerutkan kening, “…lha kamunya nyari siapa, kok malah nanya?”
“Emm…. ini Anna sama Fatih. Yang di situ siapa?” sahut suara yang mengaku bernama Anna.
Heru manggut-manggut, ”Oo Anna…, saya Heru. Ada apa?”
” Mmm… Pak Heru, boleh minta bantuan ndak?” tanya Anna.
”Ada apa?” tanya Heru. Agak merasa aneh, malam-malam seperti ini kok masih ada anak perempuan ”berkeliaran” di kampus.
”Boleh minta bantuan kan?”
”Iya…iya…, langsung aja to, dari tadi saya tunggu nih. Ada apa?” sergah Heru, agak mulai tidak sabar.
”Gini, Pak. Ini kan sudah malam, kan nggak baik bagi akhwat kalau malam-malam di jalan. Bisa minta dianter nggak?” jawab Anna.
”Eh…iya, kok bisa, malam-malam begini kalian masih di kampus? Sudah hampir jam sembilan lho.” Yang ditanya balik bertanya.
”Tadi kan praktikum, lama soalnya sempat ngulangi eksperimennya, salah sih. Selesainya sekitar setengah delapanan. Lalu membahas laporan sementara dan perhitungan. Jadi ya sampai jam segini. Pak Heru bisa nganter kami kan?” Anna menjelaskan keadaan mereka. Dari tadi Anna terus yang bicara. Sepertinya memang jadi juru bicaranya nih. Eh, ngerasa janggal nggak sih, Heru yang masih muda gitu dipanggil Pak? Tidak ada penjelasan khusus mengenai ini sih, cuma kebiasaan anak-anak musholla aja kalau memanggil yang laki-laki dengan sebutan Pak.
Heru berpikir sejenak, ”Hmm… ke mana sih?”
”Ke Daarus-Sholihat….” jawab Anna. Daarus-Sholihat (DS) adalah salah satu pesantren mahasiswi di Yogyakarta, cukup dekat dengan kampus UGM. Sampai saat ini pesantren mahasiswi itu masih di bawah pengelolaan dan pembinaan Ustadz Syathori Abdurrouf. Kalau tidak salah slogan pesantren itu seperti ini; ”Melabuh Damai Menggapai Ridhlo Ilahi”. Keren yah?
”Ooo…mmm… harus dianter ya?” tanya Heru kayak orang bego.
”Iya, kan nanti lewat persawahan juga, di sana tuh gelap dan sepi. Nanti kalau….” kembali Anna menjelaskan kekhawatiran jika mereka berjalan sendiri tanpa ada yang mengawal. Kemungkinan bahaya yang ada memang cukup besar.
”Eh…kan bisa lewat utara kan? Lewat Jakal lalu Ring road, kan ada jalan serong ke kiri tuh yang tembusan selokan. Ke Daarus-Sholihat bisa lewat sana kan?” Kayaknya Heru emang bodoh tuh.
Entah kenapa Heru saat itu kurang sensitif. Terlalu bertele-tele untuk memberikan bantuan. Padahal dalam keadaan seperti itu, harusnya dia langsung tanggap, bahwa keselamatan wanita dipertaruhkan. Kemudian segera mengantar mereka tanpa banyak bicara lagi. Mungkin sedang lupa. Tapi, bisakah dimaklumi?
”Eh… saya kan sama Larso ni… kalau Larso aja yang ngantar gimana?” Huuhh… kok Heru jual mahal banget sih? Cuma diminta nganter gitu aja kok…
”Hei… Larso, bisa nggak nganter Anna sama Fatih, ke Daarus-Sholihat?” tanya Heru setelah mendekati tempat Larso duduk.
”Di mana tuh Mas?” tanya Larso. Mukanya terlihat gimana gitu, kelihatan kalau gak minat. Heru segera menjawab, ”Dekat Ring Road, Jakal ke Barat. Nanti kamu ngikutin mereka aja. Arah rumah kamu juga ke sana kan?”
”Eh…nggak je Mas, saya ke selatan tuh.” sahut Larso.
”Tapi bisa kan?” Heru bertanya dengan agak menekan.
”Emmm… Mas aja deh. Kan sudah tahu tempatnya.” Larso menyatakan ketidak sanggupan, dari mukanya kelihatan kalau memang tidak mau.
Heru berfikir sebentar. ”Ya sudah deh, aku aja.” Segera Heru kembali ke tempat dua cewek kemaleman tadi menunggu. Tidak kelihatan kayak apa wujud mereka, soalnya memang di Musholla itu dipasang hijab, untuk menghalangi pandangan antara bagian putra dan bagian putri. Kata anak-anak Musholla, menjaga pandangan tuh perintah Allah, apalagi di tempat ibadah seperti ini. Biar hati dan niat kita lebih bersih. Begitu kata mereka, yang lebih sering memakai istilah ghadul bashar daripada menjaga pandangan.
”Ann…” panggil Heru.
”Ya? Gimana, Pak?” tanya Anna dengan nada berharap.
”Saya deh, yang akan nganter kalian, saya tunggu di gerbang depan ya?” Akhirnya… Hei Heru, dari tadi kek, mau nganternya. Apa sih yang bikin lu bodoh gini??
”Alhamdulillaah….” kata mereka bersamaan, terdengar lega. ”… kami ngambil motor di parkiran dulu ya.” kata Anna.
Heru berjalan menuju gerbang timur fakultas Teknologi Pertanian (TP) UGM. Hari itu adalah salah satu hari dimana Heru harus pulang malam. Jarang sekali Heru bisa pulang siang hari, bahkan tidak jarang dia harus rela tidak pulang alias menginap. Jarak rumahnya dengan kampus memang lumayan jauh, sehingga kalau sampai terlalu malam, Heru memilih menginap. Kalau pulang sia-sia, cuma numpang tidur habis itu harus ke kampus lagi. Gitu katanya. Semua itu tidak lain karena agenda, tugas dan tanggung jawab keorganisasian yang cukup meminta waktu. Meski begitu, Heru merasa enjoy-enjoy saja. Bahkan katanya, yang seperti itu bisa bikin hidup lebih hidup, daripada jadi mahasiswa yang saban hari cuma berkutat kost-kelas-perpus-kantin. Nggak dinamis tuh, katanya lagi. Gak tahu, sok jadi aktivis tuh anak.
Beberapa saat setelah sampai di gerbang timur fakultas, terlihat pengendara motor berboncengan. Siapa lagi kalau bukan Anna dan Fatih. Sosok mereka sekarang sudah bisa dilihat, dua orang cewek berjilbab panjang. Cewek-cewek model begitu yang biasanya jadi aktivis musholla di kalangan perempuan. Cewek dengan pakaian longgar dan tertutup, mengenakan jilbab panjang dan lebar hingga sepinggang, bahkan tidak sedikit pula yang lebih panjang dari itu. Anak-anak musholla menyebut kalangan wanita berpenampilan seperti itu dengan sebutan akhwat. Walaupun secara arti kata, akhwat itu berarti saudara perempuan, yang artinya bahwa setiap perempuan muslim bisa disebut akhwat (karena setiap muslim memang bersaudara, begitu kata salah satu hadits), namun dalam prakteknya nyata terasa bahwa kata itu menunjuk golongan tertentu.
Biasanya para akhwat diidentikkan sebagai wanita yang pemahaman keIslamannya lebih baik dari wanita biasa dan memiliki kesadaran untuk menyebarkan pemahaman itu kepada yang lain (berda’wah) melalui berbagai sarana yang ada, yang pasti lewat Lembaga Da’wah tentunya. Untuk diketahui saja, Lembaga Da’wah tingkat fakultas di FTP UGM bernama KMMTP. Kepanjangannya sih Keluarga Mahasiswa Muslim Teknologi Pertanian. Panjang yach.
Ketika melihat mereka, segera Heru berseru, ”Kalian duluan saja. Nanti tunggu saya di gerbang utara di dekat fakultas Pertanian. Saya akan ke sana. Nanti saya ngambil motor dulu di kost teman.” Kemudian Heru berjalan menyusuri jalan beraspal di sebelah timur FTP ke arah utara. FTP UGM berada satu komplek dengan beberapa fakultas lain pada rumpun yang sama, rumpun Agrokompleks. Di sebelah timur FTP ada fakultas Pertanian, sedang di sebelah utaranya ada fakultas Kehutanan.
Setelah sampai pada tempat yang dijanjikan, Heru bertanya-tanya dalam hati, kok dua orang tadi nggak ada? Ke mana mereka? Jangan-jangan mereka tidak paham yang kumaksud, pikir Heru. Tiba-tiba HP-nya ber-tat-tit-tut, sebuah SMS masuk.
”Kami tunggu di perempatan Jakal.” Begitu bunyi SMS itu.
Lho, tadi kan kusuruh nunggu di sini. Gimana sih? Tapi OK deh, aku akan ngambil motor ke tempat Rudi dulu, Heru membatin. Heru tidak bisa membalas SMS, soalnya pulsanya emang lagi bokek. Biarlah mereka menunggu sebentar, pikirnya. Setelah sampai di kost temannya, Rudi, sambil ngobrol sedikit Heru meminjam motor temannya sekalian. Sebenarnya motornya pun di sana, tapi karena lampu depan motornya mati, dan nanti juga mau pulang ke rumah, jadi butuh motor yang lebih terjamin keamananannya.
Setelah pamit, Heru berangkat secepatnya menyusul kedua akhwat tadi. Setelah sampai di Jakal, Heru menjalankan motor lebih pelan, mengamati di sepanjang Jalan Kaliurang terutama di tiap perempatan. Heru bingung, perempatan yang mana ya? Heru masih terus mengawasi hingga sampai ke Ring Road, kemudian belok ke kiri dan mau masuk jalan serong. Eh, sepertinya ada bunyi tat-tit-tut. Dengan segera Heru mengecek HP-nya.
”Terima kasih! Kami sudah sampai. Ternyata ikhwan TP nggak peka sama keselamatan akhwat! Maaf sudah merepotkan!! ” begitu kata-kata dalam SMS itu.
Degg!! Heru tertegun. Membaca ulang isi SMS itu. Heru coba mengingat apa saja yang terjadi tadi. Beberapa saat kemudian muncul perasaan menyesal dan sedikit terpukul dalam dirinya. Mengapa tadi tidak segera meluluskan permintaan bantuan itu, tidak malah justru bertele-tele dan terkesan berkeberatan? Padahal, seharusnya dia ingat bahwa menjaga saudaranya, khususnya yang perempuan, adalah salah satu kewajibannya selaku seorang laki-laki yang prioritas. Heru sangat menyesal akan hal ini, mengetahui bahwa akhirnya dua akhwat tadi harus pulang sendiri, mengetahui bahwa bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun sekarang dia sudah tahu bahwa mereka telah sampai dengan selamat. Tapi bagaimana dengan Fatih, dia belum tahu, soalnya dia tinggal di rumah sendiri, bukan di DS. Fatih pun hanya mengantar Anna, sedang rumahnya sendiri ada di Jakal (jalan Kaliurang) beberapa kilometer dari Ring Road ke utara.
Heru menyesal, mengapa tadi mempersulit urusan. Juga mengapa tadi tidak menjelaskan mekanismenya dengan jelas. Padahal aku tadi sudah berniat mengantar mereka, tapi mungkin mereka kurang memahami apa yang kukatakan tadi, pikirnya. Meski tadi bersikap acuh dan terlihat keberatan, sebenarnya di dasar hatinya, ada rasa cinta yang begitu besar pada saudara seaqidahnya, tentu termasuk dua akhwat tadi. “Ah, jika saja kalian tahu, bahwa aku rela mempertaruhkan nyawaku ini demi membela keselamatan dan kehormatan kalian…” rutuk Heru.
20 Desember 2006
eh…masak si akhwat jalan malem2…menurutku ga bener tu… apalagi alasannya dakwah? harusnya dakwahnya diusahain dong ga ngelanggar syar’i…gimana c????