KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Penggalan Jalan Berkabut

Apakah ini tepi jurang? “jalan ini panjang” kataku sambil menyeduh
kabut yang ada didepan mataku
ada yang terlepas dalam pelukanku, merenggutnya dalam setiap sendiku
kekasihnya nafas yang selalu berhembus denganku, dambaannya detak jantung
yang selalu berdansa bersamaku
merahnya darah yang mengalir dalam setiap mili ruas tubuhku…
dalam diam menghentak pergi
sehingga nafas terasa sesak, sehingga jantung berdetak lambat
sehingga darah tak lagi merah
dalam sunyi menghentak pergi….melangkah pelan
kemudian hilang

Apakah yang tersisa? ”jalan ini mana arahnya?” tanyaku sambil menyeduh
kabut yang ada didepan mataku
kuintip lubang kenangan, kerinduan berhamburan berterbangan
menikamku dalam gurauan-gurauan…melangkah pelan
kemudian hilang.
apakah yang tersisa? Debu bertanya kepada angin
daun bertanya kepada ranting

Sembah rasa kepada hamparan kelana
aku melihat sabana sebagai sebuah pelarian rasa yang penuh luka
ketika nafas kehilangan kekasihnya, ketika detak jantung kehilangan dambaannya
dan ketika darah kehilangan merahnya
aku sudah tak punya apa-apa. Aku tidak punya apa-apa….
hanya sebuah ruang rasa, hampa
penuh torehan-torehan sunyi yang terluka

Sesaat, aku…aku…dan aku
berdansa dengan lagu dunia dalam jelaga yang penuh cinta
menuangkan wine dari sampanye yg sudah retak penuh dengan melodrama
tentang sandiwara bahwa semua kucicipi untuk kukhianati
aku genggam erat apa yang seharusnya kurentangkan
kuhantarkan pergi apa yang seharusnya aku miliki
sesaat aku merasa tahu bahwa dunia penuh karena lagu itu
tapi, lihatlah pagar jeruji tinggi mengelilingi hamparan rasa kelana
aku terasing…Tercabik-cabik dalam cinta yang dulu
menjelaga.

Biarkan saja langit menjadi tenda biru pengasingan
mengetahui rasa telah patah, pecah
kesunyian adalah obat dari pengkhianatan atas semua kesetiaan
keterasingan adalah tanggungan atas cinta yang tak mampu dipertahankan

Apakah ini tepi jurang? Untuk sebuah kehidupan tumpukan kabut itu
terlihat menakutkan
bercampur aduk dengan bayang-bayang yang memintal
sebuah keberangkatan menuju kepulangan bernafaskan ketakutan
berkeringat keraguan dan bercerita tentang keyakinan yang coba di pertahankan
mata tak pernah mampu mendefinisikan sebuah bayangan
hati yang menafsirkan, naluri yang memberi tuntunan dalam ruang yang Tuhan
sediakan untuk sebuah perjalanan.

Sembah rasa pada hamparan kelana
“hanya Tuhan yang tahu tentang makna sebuah bayangan!”

Diantara semua yang berteriak melawan sepi, disini aku masih tetap sendiri
diam…menunggu hilang apa yang sempat aku
rindukan…

In Yogyakarta. May 26th,2006.

One Response to “Penggalan Jalan Berkabut”

  1. on 14 Apr 2007 at 12:04adrian

    Dear Kolomkita,

    Cerpen yg bagus dgn bahasa yang menarik……
    pemberian makna yang positif memberikan pemahaman dalam berpikir bagi pembacanya.

    Kerenz

Tinggalkan Komentar