KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Jingga di Riak Musi

Cerpen  Koko P. Bhairawa

”HUUUHHH…!”

Pekerjaan apa yang paling membosankan di dunia?. Semua orang akan setuju untuk menjawabnya, bahkan ada kemungkinan dengan kour yang sangat panjang, kalau pekerjaan itu adalah ’menunggu’. Di Sore ini pun aku melakukan pekerjaan yang dikatakan orang membosankan itu. Aku menunggu seseorang yang selama ini hanya hadir di dunia khayalan. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya setelah lima tahun berlalu, aku mengenal dirinya melalui cerita-cerita yang ia tulis dan selalu hadir di rubrik mingguan koran lokal yang kuakses via internet.

****

Tiga bulan sudah aku bertugas di kota ini, kota yang cukup membuatku nyaman untuk berpergian kemana pun aku suka tanpa merasa kecemasan, ataupun ketakutan akan bahaya kriminalitas yang akan menghampiriku. Di Palembang aku mendapat tugas untuk melakukan penelitian mengenai tingkat partisipasi warga akan budaya politik.

Kuraih teh botol yang tadi kupesan. Lumayan, bisa menyejukkan hati yang gelisah. Pandanganku berpendaran ke arah sekitar. Pelataran Benteng Kuto Besak tetaplah sebuah hamparan lapangan luas, selalu diwarnai dengan orang yang lalu lalang, membawa cerita atau sekedar menikmati hari sore. Karena di kota paling bersejarah ini, hanya disinilah semua warganya dapat melepas sore dengan murah dan merakyat.

Kulirik jam di tangan. Sudah jam lima lebih limabelas menit!. Mengapa ia belum juga tiba?. Aku melongok ke kanan dan ke kiri, berharap siapa tahu ada pemilik wajah itu. Namun yang kuharap tak juga nampak.

“Maaf, boleh saya duduk di sebelah anda,” tiba-tiba terdengar suara mengejutkan.
Aku segera menoleh ke samping kanan, asal suara itu. Seorang wanita berbaju hitam, kembang-kembang biru muda. Rambutnya terikat rapih ke belakang. Ia mengenakan kacamata hitam. Sebuah syal berwarna ungu kehitaman melilit lehernya. Walau mengenakan kacamata hitam, jelas terlihat olehku, ia adalah perempuan yang sangat cantik. Tangan kanannya membawa kantung berisi kentang goreng dan segelas capucino.

“Silakan.., silakan,” aku sedikit berdiri sambil tersenyum untuk kemudian menggeser tempat dudukku memberi ruang padanya.

“Terimakasih,” perempuan itu menghempaskan pantatnya di kursi sebelahku. Dilepaskannya kacamata, dan sebentar kemudian kacamata itu telah berpindah ke dalam tas.

Benar dugaanku, ia sangat cantik. Alis matanya tebal dengan bulu mata yang lentik. Kedua bola matanya sangat jernih, menyiratkan wawasan dan kecerdasan. Dagunya meruncing dengan bibir tipis yang tersalut lipstik tipis. Sungguh menurutku ia adalah perempuan yang ayu dalam segala arti!, pujiku dalam hati.

“Anda juga sedang menunggu seseorang?”, aku bertanya sambil terus mengamati gerak-geriknya.

Perempuan itu tak segera menjawab. Ia mengambil beberapa kentang goreng, dan memasukkan ke dalam mulutnya. Terpaksalah kutunggu ia mengunyah. Nampaknya ia sangat lapar. Beberapa saat kemudian ia menjawab; “Tidak, saya justru ingin menghabiskan sore..,” ia berkata tanpa memandangku sambil terus memasukan kentang goreng ke dalam mulutnya. Sesekali ia menyeruput capucino pesanannya itu.

“Pastilah anda sering datang kemari?” aku menebak, berusaha menghidupkan suasana. Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia malah meraih gelas capucino itu sekali lagi dan menghirupnya. Rasanya aku menjadi hilang kesabaran dengan perempuan ini!.

Ia tampak menikmati sekali minuman itu. Setelah gelas diletakkan, diambilnya sebungkus rokok dari tas tangannya. Dengan lincah, jemari tangannya yang letik memantik korek gas yang kutebak, pastilah mahal harganya.

Dengan isyarat mata ia menyodorkan rokok dan pemantiknya padaku. Aku menggeleng memberi isyarat pula. Jangankan merokok, minum kopipun aku tak pernah, tak kuat!.

Asap putih tersembur dari bibirnya. Setiap hisapan ia nikmati dengan mata yang nyaris terpejam, seperti sedang merenungi sesuatu. Seperti sedang memikirkan kata-kata untuk dikeluarkan. Pada hisapan yang ke-lima, ia berkata;

“Saya baru pertama duduk disini,” nadanya terdengar dingin, tepatnya ketus.

“Kenapa?” Ia berkata lagi, kali ini sambil melirikkan kedua matanya ke arahku. Pandangan yang tajam seolah hendak menusuk. Kemudian berkata; “Apa salah seorang perempuan duduk sendiri di tepian?” perempuan itu kemudian mematikan rokok yang masih cukup panjang itu dipinggiran kursi taman.

”Oh tidak, ini kan tempat umum jadi siapapun berhak untuk datang kemari” jawabku cepat, sembari meliriknya – takut ia tersinggung aku segera mengeluarkan ponsel dari saku jeans, pura-pura menghubungi seseorang.

Perempuan itu kembali diam, lalu diambilnya kembali sebatang rokok putih. Disulut dan diisapnya asap tembakau itu dalam-dalam. Sedetik setelah itu ia menyeruput kembali capucino. Selesai menghirup minuman itu ia menyemburkan asap rokok, perlahan. Ia berkata lagi; “Aku masih bingung kenapa aku kemari”

“Mengapa bisa begitu?” tanyaku lirih, takut kalau-kalau akan membangkitkan emosinya.

”Ya,..bingung apa yang harus kukatakan nanti dan apakah aku mampu untuk menyampaikan ini”. Kali ini nada bicaranya sedikit membaik.

“Saya tak pernah menyesali ketika semuanya terjadi, sebaliknya saya mulai berfikir kalau saja waktu itu saya tidak bertemu dengan dia mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang.” ia berkata lagi. Nadanya kini sudah jauh lebih tenang.

Aku termangu, merenungi setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ada kebingungan dan kejanggalan yang kurasa. “Sudahlah…!” perempuan itu berkata lagi. Ia kemudian melirik jam tangannya. Raut wajahnya nampak terkejut. Dengan cekatan ia segera merapikan dirinya kembali, kemudian berdiri dan berkata; “Maaf, saya harus segera kembali, ada tulisan yang belum saya kerjakan.” katanya sambil mengulurkan tangan.

”Senang berkenalan dengan anda!” lanjut perempuan itu sembari melebarkan senyumnya.

“Terimakasih” Aku menjawab pasti.

Perempuan itu kemudian segera bangkit dari kursinya. Ia masih tampak anggun, cantik, dan berwibawa.

Selang lima belas menit kemudian, ponselku berdering.

”Koko, gue Vio teman Melan. Lebih dari setengah jam gue di pelataran benteng. Maksud hati ingin menyampaikan langsung, tapi tugasku masih terlalu tidak bisa dikompromi. Gue mau menyampaikan pesan dari Melan, ia terus mencintaimu tapi sayang ia terlalu angkuh dengan kanker otaknya. Ia pergi satu bulan yang lalu,…” kalimat dari ponsel langsung menghancurkan imajiku. ”Jadi, wanita tadi?” tanyaku dalam hati.

Kuperhatikan matahari yang mulai turun, disisinya berarakan gumpalan awan bersama langit yang mulai berpendar. Kuperhatikan pantulan jingga yang asyik menari di riak sungai yang akan selalu menghiasi sore disini. Aku masih terdiam dan terduduk lemas, soreku hanya ditemani tumpahan capucino milik perempuan tadi yang mulai mengering, dan cerita ini…***

riakmusi, 03/09/2006

3 Responses to “Jingga di Riak Musi”

  1. on 22 Dec 2006 at 11:54rusmila_kesiman

    Kalo saya melihat dari segi content cerpen ini, saya hanya menemukan sesuatu yang sangat-sangat menggantung dan tidak jelas. Dijelaskan bahwa cara pemeran utama pria dan pemeran utama wanita saling mengenal hanyalah lewat koran lokal atau akses internet.
    Nah, bagaimana si wanita tahu kalo si pria pada saat itu ada di tempat itu? apalagi si pria tidak mengenal wanita itu pada saat pertemuan.
    Padahal cerita selanjutnya menjelaskan sepertinya mereka telah membuat janji sebelumnya untuk bertemu di suatu tempat bahkan pernah saling mencintai. Aneh kan ?

  2. on 28 Dec 2006 at 06:03bj. sujibto

    satu hal yang selalu menjadi momok besar bagi penulis pemula: ketidak konsistenan menjaga dan menghidupkan watak dan karakter tokoh-tokohnya.

  3. on 02 Jan 2007 at 12:54koko_p_bhairawa

    terima kasih atas komentarnya,,…inilah yang saya tunggu2..sebagai pemula memang saya masih perlu banyak belajar dari semuanya,..terima kasih

Tinggalkan Komentar