Hujan di Langit Hati
Desember 22nd, 2006 by raksaka
Hujan itu,
Selayaknya tak lagi turun
Seiring musim yang berlalu mengubur seteru
Kecamuk badai yang singgah di hatimu harusnya berlalu
.
Betapa keras usaha menghapus jejak mendung di sudut matamu
Sebunyi di balik mantra kata dan tawa,
berdalih lewat mentari yang kau perangkap-paksa di bibirmu
Untuk apa, bila hujan tak juga reda?
.
Meski tak menderas dan meninggalkan jejak di sudut mata
Suara rinai dan dingin,
kutahu menusukkan jarum-jarum beku di dadamu
Mengalirkan sungai-sungai tak terangkum dalam peta
.
Kau terjebak dalam mantra dan tawa parau
Terbakar oleh mentari yang berontak di bibirmu
Dan kau makin hanyut dalam sungai-sungai gelap tak bermuara
Menyeretmu dalam siklus hujan tak putus di gelap langit hatimu
.
O, berhenti saja terus mengingkari
Mengapa tak kau coba lebih mengenal luka?
Jangan kau lari….. karena,
luka adalah satu kepingan yang membentuk hati manusia
.
Lihatlah, siapa yang tak hidup dengan luka?
Kalau kau mau….sebentar saja untuk merenung
Lihatlah, hujan di langitmu juga menyemai badai di dadaku
Kau tak sendiri!
.
.
Maka biarkan luka jangan kau ingkari
Ia bangkai yang terurai menyuburkan dataran hati
Agar pepohonan tumbuh mengakar kuat,
Lebih kuat untuk menyambut badai yang pasti datang, seiring musim yang pasti kembali
.
Magelang, 14 Des 06, After Rain