KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Hujan di Langit Hati

Hujan itu,

Selayaknya tak lagi turun

Seiring musim yang berlalu mengubur seteru

Kecamuk badai yang singgah di hatimu harusnya berlalu

.

Betapa keras usaha menghapus jejak mendung di sudut matamu

Sebunyi di balik mantra kata dan tawa,

berdalih lewat mentari yang kau perangkap-paksa di bibirmu

Untuk apa, bila hujan tak juga reda?

.

Meski tak menderas dan meninggalkan jejak di sudut mata

Suara rinai dan dingin,

kutahu menusukkan jarum-jarum beku di dadamu

Mengalirkan sungai-sungai tak terangkum dalam peta

.

Kau terjebak dalam mantra dan tawa parau

Terbakar oleh mentari yang berontak di bibirmu

Dan kau makin hanyut dalam sungai-sungai gelap tak bermuara

Menyeretmu dalam siklus hujan tak putus di gelap langit hatimu

.

O, berhenti saja terus mengingkari

Mengapa  tak kau coba lebih mengenal luka?

Jangan kau lari….. karena,

luka adalah satu kepingan yang membentuk hati manusia

.

Lihatlah, siapa yang tak hidup dengan luka?

Kalau kau mau….sebentar saja untuk merenung

Lihatlah, hujan di langitmu juga menyemai badai di dadaku

Kau tak sendiri!

.

.

Maka biarkan luka jangan kau ingkari

Ia bangkai yang terurai menyuburkan dataran hati

Agar pepohonan tumbuh mengakar kuat,

Lebih kuat untuk menyambut badai yang pasti datang, seiring musim yang pasti kembali

.

Magelang, 14 Des 06, After Rain

Tinggalkan Komentar