KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Back to Memories

Me and Them
(Back To Memories)

Sejenak aku menahan nafas, menahan kedipan mataku dalam sekian detik
Apa yang bisa kulihat adalah apa yang tidak bisa aku duga? Meski hanya sebuah perwakilan hati tanpa melodrama sama sekali, tapi inilah hal yang mungkin paling jujur tentang apa yang mengendap dalam hatiku. Yang tersembunyi ada dalam hatiku tanpa pernah aku sadari.
Tulip kuning yang terkulai lemah dikelilingi dinding sunyi.
Apa yang berikutnya aku lihat adalah apa yang tidak bisa aku duga…

“Hello…!!!”

Aku tidak bisa lari dari orang ini. Ya benar, aku pernah menertawakan dunia bersamanya dan kalaupun aku berpergian saat aku kembali, dia akan tetap berdiri dihadapanku seperti itu dan entah sampai kapan.

“apa hal brengsek yang bisa membuatmu pergi sejauh itu?”

“tentu saja DOLLAR” kataku menahan senyum.

“dollar? Bodoh!! Kenapa mencarinya di Bissau?” ia menatapku aneh, “ah, aku pikir kau mengejar romantisme paris!” aku belum menanggapi dan mulutnya kemudian terbuka lagi, “asal jangan ke Brazil, aku kawatir!”

“sinting, kau seperti Rupi* yang mati-matian mencari Greenland, padahal itu belum tentu ada dan pada akhirnya kau akan terjebak di Berau ini. Ha…ha…ha…!!” orang satunya lagi menertawakanku.

“eh, tapi aku baca komiknya akhirnya dia menemukan Greenland kok!” manusia yang satunya lagi protes.

“disebutkan dimana tempatnya?”

“tempatnya itu dipotong oleh garis lingkar kutub utara, di Samudra Atlantik diapit antara Benua Amerika, Eropa dan Afrika dekat tanah es Eslandia!”

“Goblok itu mah letak dalam peta”

“eh, aku pengen ke Eslandia” kataku setelah agak lama diam

Semua memandangiku bengong.

“oh….Yah, kau bisa menjala** Dollar di Samudra Atlantik!!”

“eh, jangan gitu dong sapa tau dapat emas bekas bangkai kapal Titanic!” aku membela diri.

“KORBAN FILM!!” mereka menjerit bersamaan.

“kenapa kau menganggap semua tempat itu seperti sangat dekat denganmu juga hidupmu?” ia bertanya, aku menatap matanya dengan semua keyakinan yang aku punya, “jauhnya jarak hanya ada dalam pikiran kita masing-masing!***”

“kau tipe orang yang tidak akan pernah punya apa-apa karena selalu meninggalkan apa yang pernah kau punya!”

Sejenak aku diam, menarik nafas dalam

“kalau memang sesuatu itu punyaku dan dia juga merasa memilikiku maka sesuatu itu akan selalu bersamaku!” kalimat itu sepertinya memiliki keraguan tapi, itu merupakan salah satu jalan yang kadang dipegang seseorang untuk bisa mengerti apa yang mereka sebut kehidupan.

“didunia ini tidak ada yang sia-sia!”

Aku menambahkan ditengah-tengah tatapan keraguan mereka. Dari dulu manteraku Cuma satu. Aku akan hidup dengan caraku.

Sejenak aku menahan nafas, menahan kedipan mataku dalam sekian detik.

Apa yang aku lihat adalah apa yang tidak bisa aku duga. Tanpa dramatisir sekalipun aku bisa merasakan sakitnya, ketika kadang logika sudah bisa menjelaskan perasaan belum tentu bisa. Sekuat apapun selama ini aku membekukan apa yang kusebut rasa yang gampang terluka tetapi, aku masih tetap memilikinya. Bodoh, tentu saja aku punya itu bukankah aku masih manusia? Aku mengiris senyum.

“Lohengrin telah kembali”

“…tolong, kau jangan pergi!”

Mataku terbuka pelan dalam sekian detik. Apa yang aku lihat adalah apa yang tidak pernah bisa aku duga. Cahaya pecah yang tidak bisa terlihat jelas. Jujur, aku ingin tertawa apalagi saat aku melihat jurang yang pernah aku lupakan ataupun tahta yang pernah aku duduki.

“kau selalu yang terbaik untukku!” cahaya itu masih pecah dimataku. Aku tidak ingin berkata apa-apa lagi, tapi, ini suatu keharusan.

“sekarang mungkin ini hanya dimulut saja, ataupun hal yang suatu hari nanti akan aku sesali tetapi aku tetap ingin mengatakan bahwa bagiku saat ini tidak ada yang benar-benar berarti lagi” serak kalimat itu berhamburan keluar dan memaksanya diam. Kadang memang manusia bisa menerima di nomor duakan tetapi kadang juga tidak akan bisa menerima saat kalah dalam pilihan.

Kalaupun sekarang aku punya pilihan maka semuanya pilihan itu untuk mematahkan apa yang pernah aku bentangkan.

“aku suka kata Good Bye!” aku berbisik itu pelan.

“kenapa?” teman dudukku melihat laut bertanya

“itu adalah kata akhir, setalah kau mengeluarkan kata-kata itu kau tidak punya keharusan lagi untuk mengatakan hal lain!” aku menatap bintang yang hanya ada dalam khayalanku saja.

“hei, saat mungkin kau menginjakkan kakimu di Brussel ataupun Cape Town. Apa hal yang ada dibelakangmu yang akan kau ingat?”

Aku mengaris senyum

Menyayat senyum, “Doa!! Semoga mereka yang pernah aku kenal dan aku sendiri bisa berbahagia”

Bahagia…Adalah harta yang paling diinginkan semua manusia didunia ini melebihi apapun.

Note:

* nama tokoh utama anime One Piece
** alat penangkap ikan atau udang
*** ucapan dr. kuan shin dalam film The Hospital

Nov 8th, 2006. 12:09 on Wednesday.
By. Wind

One Response to “Back to Memories”

  1. on 26 Dec 2006 at 18:55Fransisca Triani

    Saya suka cerpen-nya saya mengkopinya untuk saya jadikan salah satu karya satra yang saya sukai…mohon ijin mengambilnya yah!!!terima kasih banyak

Tinggalkan Komentar