Renungan Hati
Desember 21st, 2006 by nia
Oleh : Kurnia Rahmawati, S.TP
Kubuka perlahan jendela kamarku. Tampak langit gelap tanpa hiasan bintang-bintangnya, bulan juga ikut bersembunyi di balik pekat. Bintang dan bulan memang terkesan angkuh malam ini karena tak juga munculkan diri tanpa ada sedikit rasa iba melihat langit yang telah kehilangan setengah ruhnya. Gelap, seakan tanpa makna. Tanpa dapat aku pahami keindahannya. Tidak sedikitpun!
Hembusan angin malam membuat tubuhku semakin dingin saja bagai es dan perlahan membeku menjadi salju, meskipun tubuhku sudah kuselimuti dengan mantel tebal. Dan bulu kudukku dibuatnya terpaksa berdiri kaku tanpa ekspresi. Merinding! Namun entah, kakiku dibuatnya kaku untuk tak sedikitpun beranjak dari tempat itu.
Suasana malam yang jauh di luar impianku ini menjadikan pikiran di otakku melayang-layang rendah tanpa tujuan. Tak dapat melayang bebas ke luar angkasa. Mampat! Uh…!!!
Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba saja terbersit kembali di benakku bayangan akan dirimu dimana namamu sudah kutulis di atas batu nisan meski tak terkubur juga. Cerita yang ingin kutenggelamkan sejak dulu ke dasar laut, ternyata masih mengapung riang di sungai. Dan semakin kuberlari darimu, bayanganmu bahkan melebihi derap kakiku. Sia-sia!
Mungkin aku memang sangat mencintaimu setulus hati. Dalamnya cintaku mungkin melebihi dalamnya palung laut, tepat berada di ujung kalbu hingga tak mungkin lagi untuk terlepas meskipun mantra-mantra sakti berkeliaran hebat di sekelilingku. Payah!
Dan memang kau adalah yang terindah yang pertama kulihat di mata ini. Sesosok Adam yang terlahir dengan bentuk sempurna. ‘Kesempurnaan’ yang mampu menembus ‘sempurna’ pula ke dalam mata hati. Jadi, wajar saja jika para Hawa mencoba untuk meraihmu, menggengam erat tanganmu hingga tak terlepas. Mengeluarkan aneka rayuan tuk pikat hatimu. Saling berlomba tunjukkan keindahan diri; pesona raut wajah dan halus tutur kata.
Surprise! Kejutan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupku adalah ketika kau mendekati aku yang diam walau ingin mendekat. Tak pernah kuberharap banyak, meskipun sejuta impian selalu menghantui pikiranku saat kau menjatuhkan pilihan hatimu kepadaku; tambatkan hatimu di dermaga cintaku. Sungguh, hal itu membuat sukmaku melayang ceria sambil menari dan bernyanyi gembira tiada terkira. Lupa diri!
Memang aku akui kau adalah pangeran teromantis di dunia.dengan kata-kata rayuan bernuansa cinta kau rangkaikan dengan indah lalu kau masukkan ke dalam hatiku. Aku ingat saat itu, saat senja baru saja datang menghampiri cakrawala, kau ulurkan tanganmu kepadaku. Lalu kau ajakku berdansa dalam iringan musik yang membangkitkan kegairahan. Kita pun terlena, berdansa bagai orang yang sedang mabuk. Kita pun terlupa akan masa depan. Punah!
Kutersentak ketika cawan anggur yang tengah kita goyangkan mesra terjatuh, lalu pecah berkeping-keping. Aku menangis hebat. Luapan air mataku tiada mampu aku bendung dengan jemari tanganku yang lemah ini. Aku berteriak sekeras-kerasnya hingga tenggorokanku terasa kering. Dan sang bayu berlarian keluar dengan perasaan jengkel. Berisik!
Namun, aku tak mau peduli dengan keadaan sekelilingku. Acuh terhadap sikap membisumu. Bagai orang kesurupan roh jahat, aku berteriak kencang, suaranya menggema di ruangan nista, muntahkan beribu kata maki dan penyesalan kepadamu, menjerit histeris, menangis dan kadang membisu. Gila!
Aku menyesal telah melakukan semua ini., mudah tergoda untuk mengikuti lingkaran cinta setanmu yang manis tapi menyakitkan. Kita telah melakukan sesuatu yang belum pantas untuk kita lakukan; melangkahi garis kehidupan kita sendiri. mungkin kita memang terlalu angkuh untuk tidak memperdulikan semuanya : dogma, adat, nasib dan asa. Tetapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku menyadari betapa lemahnya imanku, tak bisa mengekang nafsuku sehingga mudah tergoda rayuan gombal iblis jahatmu itu.
Hatiku bertambah perih, seakan-akan pisau kutukan itu terus mengiris-iris batinku. Darah luka yang terus mengalir pelan menggerayungi tubuh yang semakin melunglai. Sakit! Dan…kau pun pergi tanpa beban; tanpa ada tanggung jawab, meskipun hanya berupa secuil bongkahan penahan rasa sakit dari batu kerikil penyesalanmu. Tanpa berdosa kau pergi meninggalkan segala yang tertinggal paksa. Tanpa peduli aku yang pernah memberikanmu secercah kebahagiaan walau sedikit kusangsikan apakah benar itu kau rasakan. Tanpa peduli nasib aku selanjutnya, apalagi acuh terhadap orang-orang yang menaruh harapan kepadaku. Dimana ‘kesempurnaan’ yang dulu aku ‘agung’kan itu?
Kini aku hanya bisa menyesali semuanya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tetapi aku sadar, aku tak boleh larut dalam penyesalan semu, aku harus bangkit. Harus dan harus bangkit! Selama langit masih cerah dan pintu taubat Tuhan masih terbuka lebar di langit, masih kupendam harapan tuk teruskan hidup tanpamu, meski kusadari hal itu sangat sulit, karena di setiap langkah yang mengingatkan akan khilafku menjadikan rintik air mati jadi hujan tangis yang menengggelamkan gairah hidup.
Namun hatiku kini bertambah yakin bahwa kau bukanlah satu-satunya Adam yang tercipta untuk Hawa dan segala cinta yang dipenuhi hasrat dan nafsu tidak akan pernah menggapai tahtanya dengan sempurna karena cinta tidaklah harus memliki. Dan mengapa masih harus berhasrat memiliki sesosok Adam sepertimu? Dan mengapa pula selalu mengharapkan ‘kesempurnaan’ jika aku sendiri tak pernah belajar untuk menata hati agar menjadi ‘sempurna’? Bukankah Tuhan tidak akan memberikan suatu cobaan kepada hambaNya sesuai dengan kemampuannya? Mungkin Tuhan menganggapku bisa untuk menghadapi ini semua, lantas mengapa aku sendiri tidak yakin untuk bisa melaluinya? Bukankah ini semua merupakan langkah awal bagiku untuk mulai mendewasakan diri dalam menapaki hidup?
Dan akhirnya kututup jendela renungan hati ini karena kelelahan menyelimuti jiwa. Tetapi sejuknya embun malam mengisyaratkan harapan pagi bahwa masih ada esok hari untuk memulai belajar lagi mengenai hati dengan keyakinan Tuhan masih bersamaku.
renungannya membuat kita iba.. btw apakah itu pengalaman pribadi atau khayalan saja?
tolong dijawab di email aku yach
makasih
Gue terkesan sama puisi lu bro..
oh iya gue lagi mau serius sama cewek niih yang paling gua sayanggi…
kita dah pacaran cukup lama ..
mungkin dah saatnya kali..
hehehe doain gue yah.
sukses untuk puisi lu yang keren…
gue juga seorang puisiwan dulu di jogja met kenal yach..