Waktu Daun
Desember 21st, 2006 by jusuf
Mendadak saja kepalaku melahirkan sebuah negeri tak bernama
barangkali tercipta dari abu sisa pembakaran doa
dan badai bermalam-malam silam.
Tahu, di setiap sudut negeri itu cokor bayang-bayang waktu
berdiri kekar bagai hantu
kakiku menyerabut letih menunggu
ungu
Waktu
seperti seekor katak
meloncat-loncat di ladang gersang
sembari menyanyikan lagu hujan
redam riang. Adakah hidung orang-orang sanggup
menciup bau perempuan rembulan yang merebak di kepalaku
amis darah kering menggambar ibu meringis tangis di batu-batu?
Genta itu bertalu lagi
Berlarut-larut, menggumam laik ombak di malam lengang:
“Bergeraklah!”
Waktu
seperti ular lapar
melata mencari mangsa
Kita adalah musafir yang berteduh di bawah pohon rimbun
sembari menyaksikan daun-daun bergetar berjatuhan
“hidup adalah masa di mana kita saling menggantikan.”
Waktu
seperti seekor cicak merayap
di dinding udara menuju angkasa
kelak ia akan bertanya:
“Sekiranya bulan tak muncul lagi
adakah bebintang akan memilih
salah satu di antaranya untuk menggantikannya
dan malam, akankah tetap berputar?”
Mendongak aku menemukan diriku pada sehelai daun kering
menunggu disakal kencang angin. Menggoyang
goyang
goyang
goyang
lalu melayang
rumah poetika, 2006