KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kamar Duka

Dalam ruangan 2×2 m yang menyimpan duka,
aku tergolek lemah. Jika Kakak mengetuk pintu kamar itu,
lemah tak berlaku lagi.
Akan kusambut engkau penuh suka cita
Seperti semester lalu.Kemarin, sebuah kendaraan yang kuanalogikan seperti monster
Melemparkan raga hingga beberapa meter sampai
otak sempat berhenti menerjemahkan sinyal-sinyal stimulus akseptor.
Kesadaran hilang seketika raga terbujur kaku di jalanan berdebu.

Tubuh terbalut luka dengan bonus rasa nyeri di tiap sendi.
Terpasung raga di atas kasur sambil berharap
Kakak datang dan membawaku pulang dari perantauan ini.
Aku tak mampu pulang sendiri sebab kurasa remuk sudah
tulangku terseret roda motor itu.

Lutut ini perih tiada terkira saat alkohol 70%
memandikan daging yang ternganga,
penuh kuman yang bersarang di sana.
Darah melekat pula pada celana panjang penutup kaki.
Wajahnya bersimbah darah segar

Datanglah Kakakku!
Adikmu masih meronta menahan rasa nyeri
di tiap sendi.
Keramaian kota seperti suara radio dalam keheningan
Aku melihat orang-orang hanya berlalu lalang
tanpa menaruh rasa iba.

Selembar kertas putih dan pena hitam
menjadi sahabat setia.
Mereka menjadi tempatku mencurahkan
perasaan yang terkoyak.
Hampir saja kertas itu basah kuyup oleh hujan air mata.
Segeralah datang jemput aku ke kampung halaman.
Jangan sampai hujan itu membanjiri ruangan 2×2 m
Hingga aku tenggelam oleh air mataku sendiri dalam kamar duka itu.

Tinggalkan Komentar