KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Gadis Kecil yang Mencintai Nisan

Jika senja cerah—biasanya sehabis mandi—ia akan menuju ke halaman belakang, mengambil satu persatu daun rambutan yang berserak, lalu menaburkannya di atas nisan. Setelah itu, biasanya ia akan menyikan lagu anak-anak sambil menari-nari mengelilingi nisan, kemudian bersimpuh lama. Di depan nisan itu ia sering tersenyum tiba-tiba, kadang mendadak tangisnya meledak.

Seperti saat ini. Lihalah, ia bersimpuh di depan nisan berlapis keramik warna hitam yang dinaungi ngrembuyung pohon rambutan. Dipandanginya nisan itu, lama. Beberapa saat kemudian terdengar isak tangisnya. Sesekali tangisnya berhenti, lalu pecah lagi.

Di loteng rumah, Maria yang tengah mengambil jemuran tergesa menuruni tangga (hampir saja ia terpeleset), mendekatinya. Melihat air mata gadis kecil itu bercucuran, muka Maria berubah merah menyala. Matanya layu, darahnya memberat seketika…

***

“Besok Binti belikan nisan ya, Ma.” Begitu pinta Binti setahun silam, sehari setelah melihat sebuah nisan yang ditanam di serambi masjid di dekat rumah saudaranya Maria di Kota Gede.

“Nisan?” Maria tercengang. Tak percaya dengan permintaan Binti.

“Untuk apa, Binti?” Badrun, suami Maria meningkahi dengan suara pelan.

Binti diam. Maria dan Badrun menggelengkan kepala berkali-kali sambil berpandangan. Adakah segalanya butuh alasan? Sungguh, mereka berdua tak bisa mendesak Binti untuk menjawab. Setelah Binti menangis, sambil bergulingan di lantai dengan nafas tersengal mereka akhirnya mengiyakan permintaan itu. Tak sanggup mereka mendengar tangis Binti. Hati mereka perih. Tak tega melihat Binti menderita.

Begitulah, pada sore berikutnya bisa dilihat sebuah nisan dilapisi keramik warna hitam di halaman belakang. Binti teramat senang. Berhari-hari, setiap senja cerah ia bermain di dekat nisan itu. Sementara Badrun dan Maria hanya bisa memendam rasa heranan.

Banyak tetangga bertanya dengan logat Jogja selatan yang kental, “Untuk apa sebuah nisan di taruh di halaman?” Maria, juga Badrun tertegun, geragaban menjawab, Binti yang meminta, lalu menambahkan, permintaan anak kecil memang kadang aneh-aneh. Untunglah para tetangga itu mau mengerti.

Sampai suatu hari, di depan nisan itu tangis Binti menyilet langit senja. Ketika itu Badrun masih di kantor, Maria tengah memasak trancam kesukaan Badrun. Perkutut kesayangan Badrun bernyanyi murung di sangkar yang tergantung. Jika Badrun mendengar bunyi perkututnya senja itu, pastilah ia akan bertanya-tanya, petaka apa yang akan terjadi. Tapi di telinga Maria dan Binti bunyi perkutut Badrun tak berarti apa-apa. Di telinga mereka bunyi perkutut sama halnya dengan bunyi kodok atau jengkerik.

“Binti kenapa?” Maria tak sempat mencuci tangannya yang kotor parut kelapa. Mulanya ia menyangka kroto krangkang jatuh dari ranting pohon rambutan menimpa Binti. Tapi tidak, tak terlihat seekor semut pun merayap di tubuh Binti. Berulangkali Maria mengulang tanya yang sama, Binti tetap terpaku sambil terus menjerit tangis. Maka, Maria kemudian menggendong Binti, sampai tangisnya berhenti. Sampai kemudian, Maria merasakan firasat buruk karena hingga malam jatuh Badrun tak kunjung pulang. Maria tak pernah menyangka ketika azan isya menggema pesawat teleponnya memberi kabar Badrun naas dalam kecelakan lalu lintas.

Tadinya, Maria sama sekali tak berpikir tentang ada tidaknya hubungan antara tangis Binti dengan kematian Badrun. Tapi setelah peristiwa serupa kembali terjadi bebepa hari kemudian, begitu saja ia mengaitkannya. Bukankah sebelum Pak RT, Yu Sri, Ismanto, Tarjdi—tetangga yang masih satu kampung—meninggal Binti juga menangis di depan nisan?

Aneh. Sebenarnya semenjak dua tahun lalu Binti bersama Maria, keanehan itu telah tampak. Dulu, Maria dan Badrun pernah membawa Binti ke dokter, karena selalu menjerit setiap kali melihat orang-orang berlarian, meskipun dilayar tv. Juga karena tak pernah mau dimandikan dengan air pancuran. Dari doter, Maria dan Badrun tahu bahwa Binti punya trauma dengan masa lalu dan menderita amnesia. Tapi untuk tangis Binti di depan nisan, masih belum bisa dimengerti hingga kini.

Tak seorang pun mengerti hal aneh yang dilakukan Binti setiap senja hari. Tentang kebiasaannya menaburkan daun rambutan dan berlama-lama duduk di depan nisan, siapa paham. Bahkan, seminggu lalu, setelah Maria mengajarkannya menulis huruf-huruf dan angka-angka, Binti menuliskan namanya sendiri di sebuah kertas kosong, kemudian menempelkan kertas tersebut dengan lem sepatu di nisan itu. Ketika Maria tahu, ia langsung mencopotnya. Tapi saat Binti sadar hasil karyanya hilang, ia langsung menuduh Maria telah mengambilnya. Binti menangis dan minta dibuatkan yang lebih bagus. Maria kemudian membuatkannya dengan kardus bekas mie rebus dan menuliskan “Binti” dengan spidol besar. Matanya berkabut saat menggoreskan spidol, sementara Binti girang bukan kepalang.

Binti bukan tidak tahu bahwa nisan merupakan batu yang digunakan untuk menandai pusara orang meninggal. Ia paham atas penjelasan Maria itu. Adakah Binti ingin lekas-lekas di kuburkan? Entahlah. Tak bosan-bosan ia dengan mainannya itu. Kadang, saat beranjak tidur ia merengek minta dongeng yang masih bersinggungan dengan nisan. Jika Maria tak mau dan menawarkan dongeng lain, Binti akan menolak mendengarkan. Ia akan beranjak ke ruang tengah, lalu menyalakan tv, hingga Maria mesti menunggu Binti terlelap di kursi. Akhir-akhir ini Binti juga sering menceritakan mimpinya. Mimpi yang selalu saja membawa-bawa nisan. Seperti misalnya kemarin malam, Binti mengaku bermimpi melihat ribuan nisan berderet panjang. Bagi Maria mimpi Binti tak punya arti apa-apa, tidak seperti tangisnya.

***

Angin bertiup kencang. Merontokkan dedaun rambutan yang telah menguning. Sementara di jalan raya, depan rumah itu, bisa dilihat arus lalu lintas terus menderas. Entah sejak kapan, senja dijadikan pilihan untuk bepergian, belanja atau sekedar menikmati udara kota. Barangkali sejak siang garang membakar, entah.

Sebagaimana biasa, setiap kali melihat Binti menangis, Maria segera merengkuh dan menggendongnya. Dalam gendongannya, Binti meronta sambil terus menjerit-jerit. Maria tak bertanya kenapa menangis, tidak. Karena ia tahu Binti tak akan menjawab. Dan Maria tak bisa memaksa Binti untuk menjawab.

Ia membawanya masuk kamar lalu merebahkannya di ranjang. Diusapnya air mata Binti yang terus meretas. “Cep-cep,” begitu ucapnya berkali-kali. Sampai perlahal-lahan tangis Binti berhenti. Setelah menegug segelas susu, Binti kemudian tertidur pulas.

Lama Maria memandangi gadis kecil yang tergolek di sebelahnya itu. Gadis kecil yang cantik, dengan bibir gula-satemplik, merah indah, serta sepasang alis nanggal- sapisan, melengkung menawan. Terkenang, bagaimana jerih payahnya dulu, sebelum Binti ada bersamanya. Saat-saat dimana Maria tak pernah lupa dua kali seminggu makan sate kelinci. Saat dimana setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon bersimpuh di sebuah pusara keramat. Sungguh pahit takdir Maria dan Badrun, hingga lima belas tahun masa pernihakan belum juga diberi momongan. Sampai suatu hari, sesuatu yang mengejutkan itu terjadi: Seorang lelaki membopong gadis kecil mendatangi rumah mereka.

Mulanya suami-isteri itu tak menyangka ketika lelaki itu berniat menyerahkan gadis kecil yang diakui sebagai anak kandungnya sendiri. Tapi setelah lelaki yang mengaku beralamat di Taman Sari itu menjelaskan bahwa dirinya terlampau banyak punya anak hingga tak mampu lagi membiayai keperluan hidupnya, mereka pun mengangguk-angguk percaya.

Dari mana lelaki itu tahu jika mereka begitu merindukan keturunan? Oi, oi, siapa tidak tahu cela keluarga orang, apalagi kemandulan? Entah. Yang jelas, Maria dan Badrun percaya bahwa gadis kecil itu memang sengaja diberikan Tuhan pada mereka. Bukankah Tuhan akan selalu mengabulkan keinginan hambanya yang tekun berdoa dan berusaha? Ya, meski tidak persis sama dengan apa yang didengungkan dalam doa. Meski Badrun harus merelakan menjual beberapa hektare tanah warisan sebagai syarat merawat seorang bocah di rumahnya, tak apa.

Sebetulnya, sudah lama Maria ingin berterus terang pada Binti tentang semua itu. Tapi Binti masih kecil, akan susah untuk mengerti. Namun Maria berjanji, sebelum mati ia akan memberitahukan bahwa dirinya bukan ibu kandung Binti.

Mendadak Maria merasakan desir tajam menyayat dada. Matanya menerawang. Di lubang ventilasi bermotif kembang ia seolah melihat Izroil mengintai-intai. Ah, tidak! Ia hanya terbawa tangis Binti di depan nisan tadi sore. Tapi kenapa hingga malam larut, mata Maria susah memejam?

**

Gemeletuk gigi Binti terdengar nyaring ketika Maria bangkit dari ranjang, lalu melangkah ke luar kamar. Puji-pujian dari menara masjid bersenggama dengan udara dingin. Kepa Maria masih berjejal ingatan tentang kematian Badrun, dan para tetangganya. Kenapa selalu, setelah tangis Binti pasti ada yang mati? Dada Maria tersedak. Dalam doa subuhnya sengkarut ingatan tentang kematian kembali memenuhi pikirannya. Sungguh, ia telah berserah; kapan dan dimana pun maut menjemput.

Tapi Binti? Seperti kelopak mawar di emper rumah, matanya berembun manakala teringat Binti. Dengan siapa Binti nanti tinggal? Pertanyaan itu tak terjawab, sampai mushala kecilnya dijilat hangat sinar matahari menerobos kaca jendela. Dari kaca jendela itu ia melihat panorama gunung Merapi mengepulkan asap. Selesai merapikan mukena, ia bergegas menuju ke kamar.

Menggelendot di daun pintu Maria tersenyum memandangi Binti yang pulas tertidur. Belum waktunya bocah seusia Binti bangun, pikirnya, lalu melangkah ke dapur. Menghidupkan kompor gas, menaruh panci berisi air. Menuju ke lemari bumbu, ia mengambil berambang, mrica, garam….. Matanya berair saat mengiris berambang. Hatinya tersenyum, sebab nanti ia akan melihat Binti tertawa-tawa merasakan nikmat nasi goreng buatannya.

Tapi demikianlah, harapannya melihat Binti tertawa mesti rela di tunda. Minyak di penggorengan telah tua ketika tubuhnya terguncang-guncang tiba-tiba. Air yang masih setengah mendidih tumpah, juga rak berisi piring dan peralatan masak. Matanya membeliak lebar, ketakutan. Sementara di luar rumah pekik-teriak menyeruak: “Lindu…”

Sadar apa yang terjadi Maria tergopoh-gopoh menuju kamar. Genting-genting telah luruh, pecah berkeping. Di kamar, Binti masih lelap terbaring. Maria telah meloncat dan berhasil mendekap tubuh Binti saat tembok dan eternit kamarnya rontok menimpa tubuhnya.

Tak lama setelah itu, Binti berteriak serak, “Mama…mama.” Tak ada jawaban atau sepatah kata dari Maria. Lama, sampai jerit Binti berganti rintih, lirih, dan berlahan-lahan menghilang.

***

Pagi itu terasa benar-benar gelap. Aroma kematian bergentayangan. Di sela-sela reruntuhan sebuah rumah serombongan warga menemukan mereka berdua. Maria tak lagi bernyawa, sedang Binti tak sadarkan diri. Mengapa selalu anak kecil yang terselamatkan?

Sementara itu dari arah selatan terlihat gerumbul orang berlarian. Maut tergambar samar di sepasang-pasang mata mereka. Oleh keriuhan kendaraan dan jerit orang-orang Binti tersadar. Seketika ia teringat nisan di halaman rumahnya. Tapi ketika memandang orang-orang berlarian, ada bayangan berkelebat-kelebat di kepalanya. Ia tak lagi mengingat nisannya. Ia merasa seolah pernah melihat suasana serupa itu. Memutar kepala matanya memebalak, tercengang melihat rumah-rumah di sekelilingnya rata. Binti hanya bisa menangis saja. Jika Maria masih hidup, tentu ia akan segera menggendong dan menengangkannya. Tapi semua sibuk dengan dirinya sendiri. Sampai kemudian, seseorang menggendong Binti, membawanya ke utara. Binti tak pernah mengenal orang itu. Tapi setelah menatap matanya ia seperti pernah mengenalinya. Jauh, jauh sudah Binti dibawa ke utara, entah kemana.

4 Responses to “Gadis Kecil yang Mencintai Nisan”

  1. on 07 Feb 2007 at 01:04toni maulana

    cerpen yang penuh dengan simbol.
    indah sekali bahasa tuturnya.
    layak di apresiasi kita bersama
    menceritakan tentang penderitaan gadis kecil, yang sebenarnya merindukan kematiannya akibat dukanya yang terus menerus menimpa.
    dahsyat.
    salam kenal untuk penulisnya..

    Toni

  2. on 06 Nov 2008 at 02:19Arief

    Saluut…untuk penulisnya….walaupun hanya sekedar cerpen..tapi mampu membuat saya benar-benar hanyut….apa gak kepikiran nulis buku kayak mas El-shirazy…..anda mempunyai banyak bakat istimewa dalam hal ini…kalau bisa tolong terus berkembang ya…pastikan saya orang pertama anda kabari ke email saya kalau ada karya baru dari saya………..and kalo nggak keberatan tolong biodata anda kirim ke email anda…karena sepertinya saya ketemu idola baru…..
    16 jempol u anda…….

  3. on 18 Nov 2008 at 11:36temon

    aku gabisa ngomong apa-apa,,,
    pokoke apiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkk,,,,,,,,,,,,,
    tolong selalu kirimi karya anda ke email saya,,, ok,,,

  4. on 10 Feb 2009 at 16:43Fila

    Cerdas. It kata pertama yg saya lontarkan, stlah mmbca crpen anda..
    Boleh kita brtman?

Tinggalkan Komentar