KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Selaksa Bintang

oleh

IRA BAUTY DWI OCTAVIA

Banda Aceh, 03 April 2006

…kamu itu bintang, Nad.

“Sial juga nih mobil! Nggak tau orang lagi buru-buru apa?!”

Joe menendang ban sedan hitam kesayangannya dengan penuh emosi. Tampangnya kusut. Satu hal yang tidak biasa terlihat dari cowok jangkung berpostur tubuh atletis yang sehari-harinya sangat peduli dengan penampilan ini. Nggak berapa lama, cowok yang memakai baju kaos hitam itu udah sibuk mencet-mencet ponsel di tangannya. Entah siapa yang dihubunginya, tapi yang jelas setelah itu Joe duduk di trotoar seperti menunggu seseorang.

Lima belas menit kemudian, dari kejauhan tampak mobil sport berwarna kuning melaju ke arah Joe dan berhenti tepat di hadapannya. Seorang cewek berambut pendek dengan gaya kasual bermodal celana jins panjang, kaos kuning kebesaran, dan sandal jepit, turun dari mobil.

Ya, dia Nadine. Sahabat Joe sejak mereka masih sama-sama suka main ayunan dan pelosotan.

“Eh, kenapa lo? Mogok lagi tu mobil? Makanya gue bilang juga apa! Servis dong sekali-kali. Jangan bisanya cuma make doang. Kalau udah gini, gue juga kan yang repot!”

Cewek manis yang tingginya cuma 7/8 dari 175 cm tinggi Joe itu langsung nyerocos. Nggak peduli yang diomelin udah tampang pasang sebel.

“Gila lo ya? Datang-datang langsung ngomel. Bawel amat! Mending lo sekarang anterin gue ke Canopus. Gue udah telat nih!”

Joe langsung megang handle mobil tu cewek. Niatnya sih pengen cepat-cepat cabut dari situ.

Namun cewek berbadan kecil tapi punya nyali gede yang diakuin oleh Joe itu bukannya langsung setuju, malah protes sambil kacak pinggang.

“Eh, elo tuh ya! Udah bagus gue mau bela-belain nunda nonton film yang lagi seru cuma buat ngejemput lo, eh bukannya bilang makasih kek malah perintah-perintah!”

Nadine manyun.

Kalau udah gini, Joe bakalan ngalah.

“Iya, iya. Gue minta maaf deh. Habis lo juga sih datang-datang malah ngomel. Nggak tau apa gue udah kelewat BT nungguin lo di sini. Udah panas, kayak sapi ompong lagi! Jangan marah ya, Nadzhira Raudinaku sayang…,” Joe berusaha membujuk cewek itu dengan memanggil nama lengkapnya sebagai jurus andalan. Soalnya Joe tau banget, walaupun cewek yang dikenalnya selama 13 tahun ini terkenal galak sama siapa aja, nggak peduli secantik bahkan seganteng apapun tuh orang, tapi Nadine paling nggak bisa ngebiarin ada orang yang nunggu maaf darinya.

“Ya udah deh. Yuk, gue anterin.”

Tuh kan bener apa kata gue! sahut hati Joe girang.

“Tapi tu mobil udah lo urus kan?” tanya Nadine mengarahkan dagunya ke mobil yang sekarang bertengger manis di pinggir jalan.

“Tenang, Non. Gue udah panggil orang buat ngegerek tu mobil. Masuk bengkel deh.”

Dalam perjalanan ke Canopus, sebuah kafe yang terkenal sebagai tempat nongkrong para remaja di kota itu, Nadine membuka percakapan.

“Lo ngapain sih buru-buru amat? Ada janji ya?”

Sambil melirik jam di tangan kirinya, Joe menjawab, “Iya nih. Gue mau ketemu cewek yang gue ceritain ke elo tiga hari yang lalu. Lo masih inget, kan?”

“Uhm…, cewek cantik berambut panjang yang lo bilang kenalan lewat friendster itu?” Nadine coba mengingat.

“Bener banget!” Joe tersenyum jahil.

“Kayaknya dia ada feeling gitu deh ke gue. Apa gue tembak aja ya, Nad?”

“Akh, dasar lo! Kagak bisa liat barang bagus dikit aja. Trus cewek lo yang baru sebulan kemaren jadiannya, siapa tuh namanya…?”

“Tria maksud lo?”

“Nah itu! Mau lo kemanain, coba?”

“Udah gue masukin ke museum,” sahut Joe enteng.

“Eh, kurang ajar banget lo jadi cowok! Nggak kebayang deh kalau gue jadi si Tria, Nanda, Febi, trus siapa lagi ya? Sampai lupa gue saking bnyaknya cewek yang udah lo gebet.”

Nadine sewot.

“Kenapa? Lo mau daftar juga?”

“Iya, gue mau daftar jadi cewek pertama yang ngegampar lo kalau lo berani mainin gue kayak mereka.”

“Hahaha…,” Joe ngakak ngeliat Nadine marah-marah gitu.

“Emangnya lo cewek, Nad?”

“Sialan lo!”

“Auw! Sakit, jelek!” Joe kena tonjokan keras Nadine.

“Tapi tenang, Nad. Lo nggak bakal jadi salah satu daftar nama gebetan gue soalnya lo bakal jadi satu-satunya nama calon istri gue ntar. Gimana, setuju kan?!”

Joe mengacak-acak rambut Nadine.

“Whuaaa!!! Nggak deh. Bisa kiamat dunia kalau lo yang jadi suami gue,” teriak Nadine sambil nutupin telinganya. Nggak nyadar dia lagi kemudiin mobil.

“Woi, tangan lo tuh! Mau mati apa?!” teriak Joe panik.

“Ups, sorry. Lagian lo juga sih…,” Nadine ngeles dan kembali konsen ngemudiin mobilnya. Dalam hati dia bersyukur banget karena Joe nggak ngeh kalau wajahnya jadi merah gitu gara-gara omongan asal tu cowok.

“Hai, aku Joe. Joey Pratama. Kamu Devya, kan?”

Joe ngulurin tangannya ke cewek cantik yang sedang duduk manis di pojok kafe dengan setelan rok putih dan kardigan warna pink yang senada dengan jepit rambutnya.

“Yup. Devya Ananda. Ternyata kamu lebih ganteng aslinya ya ketimbang foto kamu yang aku liat di friendster.”

Wuih, cepat juga gerak ni cewek. Belum-belum udah masang umpan. Ucap Joe ke-GR-an dalam hati.

Setelah duduk di meja yang sama dengan Devya dan memesan menu, pembicaraan antara keduanya pun mengalir lancar. Dari sisi lain kafe, sepasang mata mengamati canda gurau mereka. Walau nggak tau apa yang dibicarakan pasangan yang baru bertemu muka itu, tapi hatinya terasa perih. Diam-diam dia beranjak meninggalkan tempat itu.

“Bukan sekali ini gue liat dia segitu dekatnya sama cewek lain. Bukan sekali ini juga hati gue nggak terima sikap dia. Tapi sampai kapan gue bisa bertahan? Gue nggak mungkin ngehancurin persahabatan ini cuma karena nurutin perasaan gue. Gue tau ini nggak bener. Ini nggak boleh terjadi.”

Nadine sesenggukan. Dia menumpahkan perasaannya di taman belakang sekolah, tempat favorit Nadine sejak tiga tahun lalu untuk melarikan masalahnya saat dia nggak mungkin cerita ke Joe.

Seperti biasa, taman itu sepi di sore hari krena SMA yang baru enam bulan lalu ditinggalkan Nadine untuk melanjutkan kuliah di jurusan komunikasi yang sesuai dengan cita-citanya sejak masih berseragam putih abu-abu itu, hanya ramai saat jam sekolah yaitu dari pagi sampai siang hari.

Kembali ke Nadine. Entah sejak kapan Nadine mulai merasakan perubahan perasaannya terhadap Joe. Perhatian, kasih sayang, dan semua hal manis mapun menyebalkan yang dilakukan Joe terhadapnya tidak lagi dirasakan hanya sebatas antar sahabat. Berkali-kali Nadine coba mengingkari tapi akhirnya dia menyerah dan menyadari belakangan dia jadi orang yang nggak nentu. Contohnya aja tadi sewaktu melihat Joe begitu akrab dengan cewek lain membuat hatinya teriris-iris. Padahal pemandangan seperti itu bukan yang pertama kalinya buat Nadine. Malah dia pernah tidak sengaja melihat Joe sedang berpelukan mesra dengan seorang cewek di teras rumah Joe. Saat itu Nadine biasa aja, cuma kesal karena niatnya buat ngajak Joe ke toko buku gatot alias gagal total. Tapi kenapa sekarang begini?

Nadine bukannya nggak tau gimana Joe. Bahkan dia teramat tau. Dia ingat, Joe selalu bilang dia nggak bermaksud untuk menyakiti hati cewek-cewek yang dikenalnya entah dari mana aja, tapi itu semua semata karena dia belum ketemu cewek yang pas di hatinya. Nadine percaya. Toh selama ini nggak ada yang perlu ditutupin di antara mereka. Tapi soal perasaannya sekarang, itu pengecualian. Jomblonya Nadine yang bertolak belakang dengan Joe, dianggap Joe sebagai wujud kecuekan tu cewek terhadap makhluk yang berjudul cowok. Nadine sadar, dia nggak punya harapan. Entah yakin atau nggak, cewek itu pun memutuskan…

Ponsel Nadine berdering dari dalam ransel kuning yang nggak pernah absen dibawanya kuliah.

“Halo, Nad. Kamu lagi di mana?”

“Haha, tumben nyebut kamu. Gue masih di kampus. Emang kenapa, Joe?”

“Aku kangen banget sama kamu, Nad. Aku pengen ngobrol di tempat biasa. Aku jemput ya?”

Ada rasa senang tersirat di wajah Nadine namun segera ditepisnya.

“Duh, gimana ya, Joe… Gue udah ada janji sama Nicky. Habis kuliah dia mau ngajak gue jalan,” jawab Nadine tetap keukeuh dengan sebutan lo-guenya. Emang biasanya juga gitu kok.

“Oo, cowok baru kamu itu?”

Ada nada lain dari cara bicara Joe.

“Kamu berubah, Nad! Belakangan aku ngerasa kamu sengaja ngehindarin aku. Tanpa ba bi bu tiba-tiba aku dengar dari orang kamu udah jadian. Kenal di mana sih kamu dengan cowok nggak bener itu?”

“Joe!” bentak Nadine marah.

Dia naik pitam karena Nicky, cowok yang dikenalnya tanpa sengaja satu bulan lalu di toko buku, dijelek-jelekin gitu sama sahabatnya sendiri.

Tapi Joe nggak peduli. Dia terus aja ngedumel.

“Kamu udah ngelupain aku, Nad. Kamu udah kelewat asyik sama dia dan nggak peduli lagi sama aku.”

“Oh ya?! Trus apa lo pernah peduli sama gue? Lo nggak nyadar siapa yang paling sibuk di antara kita? Lo jalan suka-suka sama cewek lain, apa gue pernah protes? Trus waktu lo sendirian, baru lo inget sama gue! Lo kira gue apaan, Joe?! Udahlah, Joe, gue muak kayak gini trus!”

Telepon terputus. Joe terkesiap dengan kata-kata Nadine. Joe sadar, dia yang salah karena udah ngejelek-jelekin pacar Nadine. Tapi mau gimana lagi? Joe terlanjur cemburu. Sejak Nadine jadian dengan cowok bengkel yang tongkrongannya bareng anak-anak balap itu, sejak itu pula dia jadi jarang ketemu Nadine.

Joe nggak ngerti. Entah apa yang dipikirin cewek itu sampai bisa-bisanya pertama kali jadian sama cowok yang nggak jelas arah hidupnya itu. Awalnya dia cuma kesepian karena sahabat yang biasanya selalu ada di setiap hari yang dia jalanin, tiba-tiba hilang. Gimana pun sibuknya Joe dengan cewek-cewek cantik kenalannya tapi Nadine nggak pernah absen dari hidupnya. Namun belakangan ini…

Banyak orang bilang, cinta itu baru kerasa setelah orangnya nggak ada lagi di sisi kita. Ya, Joe kehilangan dan baru setelah dia liat Nadine mesra banget jalan bareng cowoknya dua hari lalu di mall, saat itulah Joe ngerasain ada yang lain di hatinya. Akhirnya Joe tau siapa cewek yang selama ini dicarinya. Pelan dia bergumam, gue jatuh cinta, Nad….

Di tempat lain, Nadine menyesali kekasarannya terhadap Joe barusan. Nggak sepantasnya Nadine ngomong gitu. Toh sebelumnya dia oke-oke aja dengan tingkah laku Joe yang terkenal playboy itu. Dia menerima Nicky dengan pertimbangan agar bisa melupakan perasaannya terhadap Joe. Itu sebabnya dia pun pelan-pelan menjauhi Joe. Tapi nyatanya sampai saat ini, rasa itu belum juga sirna.

“Siapa lo?” tanya cowok yang memakai kaos hitam tanpa lengan dengan nada tidak bersahabat.

Joe melirik tato kecil di lengan cowok tersebut kemudian tersenyum sinis.

“Jadi lo yang namanya Nicky?”

“Urusan apa lo sama gue?” tanya cowok yang Joe sebut Nicky itu.

“Tinggalin Nadine! Dia milik gue,” jawab Joe tegas.

“Hei, enak aja lo ngomong. Nadine itu pacar gue. Lagian lo belum jawab pertanyaan gue. Siapa sih lo? Bodyguard Nadine?”

“Bukan urusan lo! Gue cuma minta lo tinggalin Nadine. Atau kalau nggak…”

“Kalau nggak, lo mau apa, hah?!”

“Kita taruhan.”

“Oke, apa taruhannya?”

“Balap mobil. Kalau gua menang, lo harus tinggalin Nadine.”

“Tapi kalau gue yang menang, jangan berani lagi nongolin tampang lo di hadapan gue dan Nadine! Satu hal, lo bakal nyesal pernah nantangin gue,” tuding Nicky ke wajah Joe yang berdiri tepat di hadapannya.

“Kita liat aja nanti,” Joe balik badan dan meninggalkan bengkel tempat Nicky kumpul bareng temannya.

Di tengah malam yang penuh bintang, tampak dua mobil sedang melaju kencang. Keduanya saling menyalip. Untuk beberapa saat, sedan hitam mengungguli. Namun, dari belakang sedan biru metalik berusaha menjajari. Cowok di malik kemudi yang ternyata adalah Nicky, tanpa rasa takut di wajahnya, mencoba menikung mobil di depannya. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan permainan ini. Keduanya melaju dengan kecepatan yang tidak kurang dari 100 km/jam. Tapi di mobil yang satunya lagi, Joe tampak sedikit ragu dan pucat. Dia tau dia kalah jauh dibanding Nicky yang terkenal sebagai rajanya racing di kotanya, tapi semua itu dia lakukan demi mendapatkan Nadine meskipun sampai saat ini Nadine belum tau bahwa Joe mencintainya. Joe terlalu pengecut menghadapi Nadine. Seperti bukan diriku, bisik hati Joe.

Tiba-tiba… braaakkk!!! Mobil Nicky menghantam mobil yang dikendarain Joe dari samping dengan kekuatan penuh. Joe yang tersadar dari lamunannya mencoba membanting setir, tapi saying, terlambat. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Kini hanya kegelapan yang menghampiri Joe.

”Akh…!”

Nadine terbangun dengan napas yang tersengal-sengal. Tubuhnya berkeringat. Mimpi buruk.

Gadis itu melihat jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar tidurnya. Pukul 02.10.

Di mana Joe sekarang? Apa dia baik-baik saja?  Kenapa gue jadi gelisah gini? Nadine bingung.

Tiba-tiba dering telepon mengagetkannya. Siapa yang menelpon malam-malam begini?

“Halo.”

“Nad, kamu kenal cowok bernama Joe?” tanya suara di seberang. Nadanya terdengar panik.

“Dia sohib aku. Kenapa, Nick? Joe kenapa? Dia baik-baik aja, kan?” Nadine jadi ikutan panik. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak karena teringat mimpi buruknya barusan.

“Aku jemput kamu sekarang. Dia di rumah sakit.”

“Apa?! Tapi Nick…”

Belum sempat Nadine bertanya, telepon terputus. Nadine segera mengambil jaket dan keluar dari kamar.

Dia mengetuk pintu kamar orang tuanya untuk meminta ijin. Keduanya kaget dan cemas tapi mereka mengerti perasaan Nadine. Mereka membiarkan anak semata wayangnya pergi menjenguk sahabatnya.

“Bangun, Joe! Lo nggak boleh ninggalin gue! Lo jangan jahat gini dong ke gue,” Nadine meratapi tubuh Joe yang kini terbaring kaku di kamar yang serba putih itu.

Joe meregang nyawa dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Kepalanya terbentur keras sehingga mengalami perdarahan yang sangat hebat. Menurut dokter, hal itu memang dapat berakibat fatal seperti kematian. Tapi Nadine nggak bisa terima. Apalagi dia belum sempat meminta maaf pada Joe atas kekasarannya. Saat teringat akan hal itu, Nadine berpaling  ke arah Nicky yang tertunduk diam di sudut ruangan.

“Kamu apain Joe? Kenapa bisa gini, Nick?”

“Aku minta maaf, Nad. Dia yang nantangin aku balapan buat ngedapatin kamu. Aku nggak sengaja nyalip mobilnya dari samping dan dia…” ucapan Nicky terputus. Terbersit penyesalan di wajahnya.

Tapi Nadine tidak peduli.

“Aku benci sama kamu, Nick! Kamu udah ngambil satu-satunya sahabat yang aku punya. Orang yang aku sayang. Aku benci kamu, Nick!”

Nadine menangis. Dia menumpahkan air matanya sambil memukul-mukul dada Nicky. Perasaannya campur aduk. Nicky hanya bisa pasrah.

“Maapin aku, Nad. Ini aku temuin di mobilnya.”

Setelah menyerahkan sebuah buku harian berwarna hitam di tangannya, perlahan Nicky beranjak pergi. Meninggalkan Nadine yang kini menyalahkan dirinya.

Masih berurai air mata, Nadine membaca lembaran yang ditandai dengan pita hitam di tengahnya. Setelah selesai, tangis Nadine semakin menjadi.

Dia berteriak, “Joey bodoh! Kenapa selama ini kamu nggak bilang sama aku? Kamu nggak tau kalau aku juga cinta sama kamu, Joe! Aku cinta sama kamu…”

Buku harian itu terjatuh dari tangannya tapi masih membuka pada halaman yang membuat Nadine terkulai lemah.

Pingsan.

Ia di atas sana mungkin tak mampu kuraih. Jika hanya dapat menikmati indahnya dari kejauhan, itu pun tak apa. Karena aku ada untuk menunggu. Bilakah ia akan kembali padaku atau aku akan habis dalam penantian tak berujung. Dengan segenap hati, aku mencintainya.

Karena buatku…

kamu itu bintang, Nad.

[mosa, 0210]

5 Responses to “Selaksa Bintang”

  1. on 24 Dec 2006 at 13:01Vanilla

    Ya ampun, gw hampir nangis baca endingnya.. Tau ga sih, klo g d warnet gini pasti gw da berurai air mata bacanya.. Keren Bgttt.. Swearrr… Tq..

  2. on 10 May 2007 at 01:53hendra

    bagus banget…buat yang lebih romantis lagi ya…tapi jangan yang sedih…

  3. on 15 May 2007 at 15:36nien

    wah..cerpennya bagus banget…salut deh..ada romantisnya, namun ada juga mellow nya..salut deh buat pengarangnya..ditunggu ya cerpennya lagi yg ok punya..

  4. on 23 Jul 2007 at 16:25salim

    wiih..terharu juga..bagus,romantis, sedih…

  5. on 25 Apr 2008 at 14:38Angelie

    Bagus koq cerpennya….terus berkarya ya……….

Tinggalkan Komentar