KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pagi itu..

Akhir-akhir ini perasaanku bergejolak. Seperti ada yang hilang, dalam rumahku, keluargaku, dan kehidupanku. Pertanyaan-pertanyaan senada terngiang hampir setiap saat di daun telingaku.

Rizki, itu adalah panggilanku sehari-hari. Kerap teman-temanku menanyakan, “Rizki, ada apa dengan adikmu?” Pertanyaan seperti itu terus menghantuiku setiap hari dalam beberapa hari ini. Pertanyaan tersebut terlontar dari mulut sobat-sobatku yang sering bertandang ke rumahku di daerah pinggiran Jakarta. Apakah itu teman SMA ku dulu, maupun teman kuliahku. Setiap mereka datang, seperti tak ada bahan omongan lain. Tak seperti minggu-minggu lalu saat kita sibuk-sibuknya membicarakan persiapan acara pameran buku Islami di kampus kami. Pertanyaan itupun juga mampir ke telingaku yang bersumber dari teman-teman adikku.

Seperti yang pernah aku bilang, ada yang hilang dalam kehidupanku. Bagiku yang hilang adalah sosok seorang adik perempuan yang selama 21 tahun mengisi rumahku. Adik perempuan yang periang, manja, dan selalu mengisi kebahagiaan rumahku. Aku tak keberatan adikku berubah. Sekarang adikku memakai jilbab, sikapnya sopan, perwakannya lembut, dan seolah-olah dia telah menjadi muslim yang mantab. Yang aku sering pertanyakan pada diriku sendiri, “apa yang terjadi pada dirinya?”.

Alya Jelita Nugraha, nama lengkap adikku. Perlu diketahui, nama ini kerap masuk di kolom-kolom bahkan cover majalah remaja ibukota, tentu disertai dengan potret dirinya. Alya biasa ia dipanggil. Tak heran namanya bisa tenar seperti itu, profesinya lah yang mendongkraknya, dengar baik-baik, seorang model!! Beberapa iklan televisi pun telah dilakoninya. Dengan tinggi badan 172 cm dan berat badan 57 kg, kulitnya yang terang, serta didukung paras wajah yang sangat cantik, tak heran dia bisa terjun di dunia itu. Bagiku, ia adalah sosok wanita tercantik yang pernah kulihat. Mungkin ibukulah yang menurunkan kecantikannya itu.

Pada awalnya, ayah dan ibu tidak setuju dengan profesi Alya. Mereka menilai profesi itu terlalu berbahaya bagi adikku. Seks bebas, narkoba dan hal negatif lain sering menjadi momok menakutkan bagi profesi ini. Namun, entah bagaimana caranya hati orangtuaku luluh oleh kata-katanya. Adikku terkenal sangat supel di lingkungannya, berbeda dengan aku yang cukup pemalu. Sosialisasinya pun sangat baik. Tak terhitung temannya, sejak SMP, SMA, maupun teman dari sekolah modellingnya. Karena profesinya itu, pendapatan keluarga kami pun meningkat sehingga bisa hidup serba berkecukupan. Seringkali aku berpikir sejenak, kapan aku bisa sesukses adikku. Untung saja ayah dan ibuku tidak pernah membanding-bandingkan aku dengan Alya

Tiap pagi, aku dan Alya berangkat bersama dengan mobilnya, BMW seri 3 keluaran tahun 2005. Aku tidak punya mobil karena aku terbiasa menggunakan angkutan umum ke kampusku, dan jujur saja, sampai sekarang aku belum bisa menyetir mobil. Aku diantar Alya ke kampusku di daerah Depok, lalu Alya meneruskan perjalanannya ke sekolah modellingnya di pusat kota Jakarta. Setiap hampir tiba di perempatan jalan yang tak jauh dari kompleks rumah kami, Alya memarkirkan mobilnya untuk berhenti sejenak. Dia menunggu kedatangan bibi Yuli, perempuan yang menyayanginya Alya saat Alya masih kecil, tak heran karena dulu rumahnya bersebelahan dengan rumah kami. Namun semenjak ditinggal suaminya, bi’ Yuli meninggalkan kami dan tinggal di tempat lain. Kondisi badannya pun mulai rapuh karena usianya. Alya menunggunya untuk sekedar pamitan dan membantu menyeberangkan bi’ Yuli yang membawa barang dagangan untuk dijual di pasar. Kegiatan ini telah menjadi kebiasaan bagi Alya semenjak ia menjadi model. Mungkin itu adalah bentuk balas budinya kepada bi’ Yuli.

Selera humor Alya juga sangat tinggi. Ia kerap membuat lelucon yang membuat seisi rumah tertawa. Alya juga penggemar berat olahraga. Ia sangat menyukai sepakbola. Tiap malam minggu, malam senin, dan setiap ada jadwal pertandingan sepakbola yang seru, Alya tak pernah ketinggalan. Tak jarang aku melihat ia terjaga pada jam 3 pagi untuk menyaksikan pertandingan klub bola kesayangannya, Manchester United. Ia pun sering berolahraga secara rutin. Ia selalu mengajakku bermain bowling, billiard, fitness, aerobik, yoga dan olahraga “orang kaya” lainnya. Pantas saja badannya proporsional layaknya seorang supermodel.

Gaya hidup metropolitan telah merasuki tubuh Alya. Pernah suatu saat aku tergoda untuk memasuki kamar Alya yang tak tertutup rapat. Kebetulan saat itu Alya sedang show di Surabaya. Saat aku membuka pintu, tercium semacam wewangian yang aku pernah menciumnya di mal-mal ibukota. Dinding kamarnya dipenuhi poster-poster berbau fashion dan Manchester United. Saat aku melihat ke pojok kamar, aku melihat koleksi majalah-majalah fashion dan majalah-majalah remaja ibukota yang di dalamnya ada foto dirinya. Aku tergeleng-geleng dengan sebagian isi kamarnya itu. Meja riasnya pun tertata rapih. Aku tak bisa menghitung lagi berapa banyak koleksi minyak wangi yang dimilikinya. Di situ juga terdapat aksesori yang masih berbau fashion yang bahkan aku tak pernah melihatnya. Pada meja rias dan dinding kamar juga terdapat foto-foto cantik adikku baik saat sendiri maupun dengan orang lain seperti aku, orangtuaku atau teman-temannya. Foto-foto saat Alya sedang dalam pertunjukan juga menghiasi kamarnya. Aku terheran kenapa tak ada foto laki-laki yang biasanya ada di dalam kamar perempuan seusianya. Akhirnya aku teringat bahwa ia tak pernah mempunyai kekasih. Aku sedikit tersenyum ketika melihat lipatan sejadah dan mukena di pojok kamarnya serta sebuah lukisan kecil bergambar Ka’bah yang terdapat di sebagian kecil dinding kamarnya.

Semakin banyak aku palingkan mataku dari suatu benda ke benda lain di kamar Alya, semakin tertarik aku dengan isi kamarnya. Seakan tak ada beban akhirnya aku membuka lemari pakaian Alya. Masya Allah, di dalamnya terdapat banyak sekali pakaian. Entah apa yang ada dalam pikiran Alya dalam membeli seluruh pakaian itu. Aku menyeringitkan dahiku tatkala aku melihat koleksi pakaian Alya yang ketat dan tidak menutup aurat. Aku terpaksa membesarkan hatiku sendiri dengan berpikir bahwa itulah tuntutan seorang model pada zaman sekarang. Pernah aku menasehatinya ketika keluar rumah dengan pakaian seperti itu, tetapi jawabannya selalu sama.

Kemudian aku melanjutkan eksplorasi kamar Alya ke bagian koleksi musik dan filmya. Alya memiliki sebuah mini home theatre sendiri di kamarnya. Dia memiliki segudang kaset vcd dan dvd film. Koleksi filmnya berkisar dari film keluarga, film remaja, action, komedi, komedi romantis, dan percintaan. Sedangkan untuk bagian musik, koleksinya hampir sama banyaknya. Mulai dari penyanyi yang melegenda seperti The Beetles samapai album terbarunya Lindsay Lohan, ada di koleksi musiknya. Rasa sadar ku mulai hilang ketika berada di kamarnya. Ketika aku telah berada di depan kamarku, aku baru sadar akan perbuatanku yang mulanya ingin melihat-lihat saja malah menjadi semajam penggeledahan. Perbuatan itu aku rahasiakan kepada Alya.

Namun, semua yang aku ceritakan tadi hampir tak ada yang aku temui lagi. Keanehan yang aku sering rasakan selama ini bermula 5 hari yang lalu. Majalah-majalah yang pernah aku lihat, tertumpuk rapi dalam kardus-kardus. Ketika aku tanyakan pada ibuku, beliau bilang majalah-majalah itu akan diuangkan dan hasilnya akan disumbangkan. Aku terpaksa melarang tindakan ibuku tersebut karena itu semua milik Alya dan ibuku tak berhak bertindak seperti itu. Namun, akhirnya aku tahu bahwa tindakan itu Alya lah yang menyuruh beliau. Baju-baju yang pernah aku lihat di kamar Alya waktu itu pun diperlakukan sama oleh ibuku, tetapi kalau sekarang baju-baju itu akan langsung di jual kepada sebuah butik langganan ibuku. Keanehan itu pun semakin memenuhi otakku hingga aku tak sanggup berpikir. Lipatan dan gulungan kertas kembali terlihat secara tak sengaja oleh mataku. Aku yang sangat hafal kedudukan setiap benda di ruang keluargaku tertarik dengan kertas-kertas yang terletak tak teratur itu. Aku segera melihat isi kertas itu. Aku kembali tersentak ketika tersadar bahwa kertas-kertas itu adalah poster-poster yang pernah aku lihat di kamar Alya dulu. Bermacam-macam perkiraan melintas di benakku tentang apa yang terjadi di rumah dan khususnya apa yang terjadi pada Alya. Setelah kejadian itu, aku terus menyelidikinya sampai sekarang.

Pada malam hari keesokan harinya aku dengan sengaja mengetuk pintu kamar Alya karena aku sadar Alya sedang berada di dalamnya. Tak ada jawaban apa-apa.. Mataku kembali tertarik oleh suatu stiker bertuliskan “Ucapkan Assalamu’alaikum Sebelum Masuk”. Bulu kudukku berdiri, dan aku merasa ditekan oleh benda berat dari segala arah. Hal apa lagi yang terjadi pada Alya??! Aku mengucapkan salam sambil berusaha menenangkan diriku. Salamku disambut oleh jawaban dengan suara yang sangat merdu, lain dengan Alya yang biasanya yang selalu bersuara lantang seperti laki-laki. Aku berusaha menyembunyikan keanehanku sambil membuka pintu kamar Alya. Dadaku bergetar kencang… tambah kencang setiap aku melangkahkan kaki lebih jauh dalam kamar itu. Lukisan bertuliskan kaligrafi ayat kursi terpampang pada dinding kamarnya yang kini lapang. Tak ada lagi poster-poster dan majalah-majalah yang pernah aku lihat waktu itu. Alya menanyakan ada apa padaku.

Aku semakin berusaha menutupi rasa keanehan yang memenuhi otakku. Bahkan, rasa aneh itu kini mulai berubah menjadi rasa takut. Saat aku belum sempat menjawab, Alya menanyakan pendapatku tentang pakainan-pakaian barunya yang dibeli tadi siang. Aku menduga pakaian-pakaian itu sejenis dengan yang aku lihat dalam kardus waktu itu, karena aku mengira Alya Cuma ingin mengganti koleksi bajunya dengan yang baru. Aku kembali tersentak ketika pintu lemari dibuka. Beberapa baju lengan panjang dan rok panjang berwarna cerah menghiasi lemari itu. Kepalaku sudah penuh dengan rasa aneh, aku tak sanggup menambahnya. Aku mencoba memalingkan mataku ke arah televisi. Televisinya tidak dinyalakan padahal aku tahu saat itu sedang ada pertandingan sepakbola yang amat seru atau bahkan tayangan langsung konser Britney Spears di Jepang. Bulu kudukku sudah terlanjur berdiri, kini keringat dari dahiku mulai tercucur. Alya menanyakan keadaanku. Aku dengan susah payah meyakinkan dia bahwa tidak terjadi apa-apa padaku. Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Langkah kakiku terasa berat meninggalkan kamar itu. Damai hatiku saat berada di dalamnya walaupun ketenangan itu terus bergejolak dengan keanehan yang aku rasakan. Aku kembali melihat secarik kertas di lantai. Aku langsung mengambil dan membacanya. Kertas itu bertuliskan,
Bi, aku sudah berubah..
Aku harap bibi senang dengan aku yang sekarang
Berat memang aku melakukan ini…
Tapi hatiku berkata padaku…
Akan lebih berat lagi jika aku menanggungnya nanti di akhirat

Keringatku bercucuran lebih deras lagi dari sebelumnya. Alya langsung mengambil kertas itu dengan cepat seolah-olah ia takut ada yang melihat isi tulisan itu. Setelah kertas itu ia ambil, ia langsung menuju tempat tidurnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang kini mengenakan pakaian yang sangat sopan. Aku tak mau mengganggunya lebih banyak. Aku segera menuju ke kamarku dengan penuh rasa takut tentang apa yang terjadi pada adikku. Rasa takut itulah yang menghantuiku sampai sekarang.

Aku akhirnya tersadar dari memoriku ketika aku terbangun dari tidurku. Beberapa saat setelah aku terbangun aku baru sadar bahwa satu-satunya orang yang dipanggil bibi oleh Alya cuma bi’ Yuli. Aku langsung bergegas merapikan diriku lalu menyalakan mesin sepeda motor baruku. Ketika ibuku menanyakan kenapa aku terburu-buru seperti itu, aku sudah jauh meninggalkan rumah. Tanpa menghiraukan orang sekitar yang meyapaku, aku segera memacu motor semaksimal mungkin untuk menuju rumah bi’ Yuli demi menjawab semua pertanyaan itu.

Ketika hampir sampai di rumah bi’ Yuli, aku melihat suasana seperti habis dilaksanakan sebuah acara pada malam harinya. Sebuah bendera kuning pun masih terikat di sebuah pagar rumah yang aku belum yakin itu adalah rumah bi’ Yuli. Aku terus menerka sambil menenangkan diriku. Ternyata benar, itu adalah rumah bi’ Yuli. Ketika aku tanyakan pada anaknya di mana bi’ Yuli, anaknya sambil merintih memberitahu bahwa ibunya 6 hari yang lalu meninggal. Bulu kudukku berdiri, dadaku berdegup makin kencang. Aku kembali teringat bahwa Alya selama beberapa hari ini jarang di rumah. Mungkin inilah alasannya. Anak yang aku tanyakan tadi menangis, mungkin teringat oleh ibunya. Aku merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Aku mencoba menghiburnya sambil mengajaknya ke sebuah warung untuk menikmati pakanan kecil sejenak.

Setelah satu jam mengobrol dengan anak itu, barulah aku tahu bahwa bi’ Yuli meninggal karena kecelakaan. Yang membuat aku tercengang adalah bi’ Yuli tewas saat menyeberang jalan di perempatan jalan yang biasa didatangi Alya. Aku teringat bahwa saat hari kejadian, aku berangkat sendiri karena aku telah mempunyai motor. Aku terheran mengapa kecelakaan itu bisa terjadi padahal bi’ Yuli biasa menyeberang dengan bantuan Alya. Pertanyaan demi pertanyaan datang di benakku. Setelah mengucapkan maaf dan terima kasih kepada anak bi’ Yuli, aku kembali ke rumah mencari jawaban pada adikku.

Saat tiba di rumah, aku segera berlari menuju kamar Alya. Aku segera mengucapkan salam. Namun, salamku tak kunjung dijawab. Melihat sikapku yang kebingungan mencari Alya, ibuku dengan tenang memberitahu bahwa Alya sedang mengurus administrasi ke sekolah modellingnya. Ibuku sambil terheran-heran menjelaskan bahwa Alya akan keluar dari sekolah yang sangat terkenal itu. Kecewa aku mendengar berita itu. Sambil menenangkan pikiranku yang sudah jenuh dengan keanehan, ketakutan, dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu datang sebelum pertanyaan lain terjawab, aku pergi ke ruangan keluarga untuk sekedar bersandar di sofa.

Dalam perjalanan singkat itu, aku melihat sebuah buku kecil. Aku tak tahu buku apa itu. Setelah memungutnya, aku menyalakan tv lalu melompat ke sofa yang merupakan benda yang dibeli dari gaji pertama Alya. Buku itu kuletakkan lagi di lantai. Tanpa aku sadari buku itu tergeletak dengan posisi terbuka. Ketika aku melihat lagi buku itu, aku melihat secarik kertas yang sama dengan yang aku lihat waktu itu terselip di halaman yang terbuka. Aku mengambil buku itu kemudian aku tersadar, itu adalah buku harian Alya. Senang akhirnya menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjawab semua pertanyaan ini. Dengan bergegas aku melihat tulisan terakhir dari Alya. Ketika aku buka aku melihat sebuah tulisan yang menggoyang diriku. Tulisan ini ditulis pada hari meninggalnya bi’ Yuli. Aku terus membacanya sambil menyebut kebesaran Allah.

Dear diary,
Hari ini aku telah membuat kesalahan besar
Aku terlambat pamitan dengan bibi
Pagi itu………
Aku melihat bibi bersimbah darah
Jilbab putihnya berubah jadi merah
Andai aku datang lebih awal……
Aku bisa membantu bibi menyeberang
Andai aku datang lebih awal……
Besok aku bisa membantu bibi lagi
Tuhan…
Memang hamba-Mu cuma bisa mengandai-andai
Aku tak tahu cara menebus kesalahanku
walau aku tahu engkau Maha Pemurah
Bibi……
Aku ingat perkataanmu dulu tentang diriku
Tubuhku terlalu terbuka…
Perkataanku tidak terjaga…
Shalatku pun sering terlupa…
Andai kamu jadi muslimah
Kamu pasti akan terlihat sangat cantik
Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan
Jilbab ini…
Mudah-mudahan akan melindungi diriku
Pakaian ini…
Semoga bisa menjaga diriku
Al-Qur’an ini…
Semoga bisa membimbing diriku
Aku tak ada disisimu di saat-saat terakhir
Aku merasa bersalah
Menjadi muslimah yang taat…
Telah aku anggap sebagai pesan terakhirmu
Jika aku tak melakukannya…
Sungguh hina hamba-Mu ini ya Allah

Air mata terus menetes di pipi pada setiap kata yang aku baca. Penantian jawaban pun berakhir di sofa ini. Ketika bel rumah berbunyi dan salam adikku terdengar, pelukan hangat dariku tak bisa ia hindari.

Akhir-akhir ini perasaanku bergejolak. Seperti ada yang hilang, dalam rumahku, keluargaku, dan kehidupanku. Pertanyaan-pertanyaan senada terngiang hampir setiap saat di daun telingaku.

Rizki, itu adalah panggilanku sehari-hari. Kerap teman-temanku menanyakan, “Rizki, ada apa dengan adikmu?” Pertanyaan seperti itu terus menghantuiku setiap hari dalam beberapa hari ini. Pertanyaan tersebut terlontar dari mulut sobat-sobatku yang sering bertandang ke rumahku di daerah pinggiran Jakarta. Apakah itu teman SMA ku dulu, maupun teman kuliahku. Setiap mereka datang, seperti tak ada bahan omongan lain. Tak seperti minggu-minggu lalu saat kita sibuk-sibuknya membicarakan persiapan acara pameran buku Islami di kampus kami. Pertanyaan itupun juga mampir ke telingaku yang bersumber dari teman-teman adikku.

Seperti yang pernah aku bilang, ada yang hilang dalam kehidupanku. Bagiku yang hilang adalah sosok seorang adik perempuan yang selama 21 tahun mengisi rumahku. Adik perempuan yang periang, manja, dan selalu mengisi kebahagiaan rumahku. Aku tak keberatan adikku berubah. Sekarang adikku memakai jilbab, sikapnya sopan, perwakannya lembut, dan seolah-olah dia telah menjadi muslim yang mantab. Yang aku sering pertanyakan pada diriku sendiri, “apa yang terjadi pada dirinya?”.

Alya Jelita Nugraha, nama lengkap adikku. Perlu diketahui, nama ini kerap masuk di kolom-kolom bahkan cover majalah remaja ibukota, tentu disertai dengan potret dirinya. Alya biasa ia dipanggil. Tak heran namanya bisa tenar seperti itu, profesinya lah yang mendongkraknya, dengar baik-baik, seorang model!! Beberapa iklan televisi pun telah dilakoninya. Dengan tinggi badan 172 cm dan berat badan 57 kg, kulitnya yang terang, serta didukung paras wajah yang sangat cantik, tak heran dia bisa terjun di dunia itu. Bagiku, ia adalah sosok wanita tercantik yang pernah kulihat. Mungkin ibukulah yang menurunkan kecantikannya itu.

Pada awalnya, ayah dan ibu tidak setuju dengan profesi Alya. Mereka menilai profesi itu terlalu berbahaya bagi adikku. Seks bebas, narkoba dan hal negatif lain sering menjadi momok menakutkan bagi profesi ini. Namun, entah bagaimana caranya hati orangtuaku luluh oleh kata-katanya. Adikku terkenal sangat supel di lingkungannya, berbeda dengan aku yang cukup pemalu. Sosialisasinya pun sangat baik. Tak terhitung temannya, sejak SMP, SMA, maupun teman dari sekolah modellingnya. Karena profesinya itu, pendapatan keluarga kami pun meningkat sehingga bisa hidup serba berkecukupan. Seringkali aku berpikir sejenak, kapan aku bisa sesukses adikku. Untung saja ayah dan ibuku tidak pernah membanding-bandingkan aku dengan Alya

Tiap pagi, aku dan Alya berangkat bersama dengan mobilnya, BMW seri 3 keluaran tahun 2005. Aku tidak punya mobil karena aku terbiasa menggunakan angkutan umum ke kampusku, dan jujur saja, sampai sekarang aku belum bisa menyetir mobil. Aku diantar Alya ke kampusku di daerah Depok, lalu Alya meneruskan perjalanannya ke sekolah modellingnya di pusat kota Jakarta. Setiap hampir tiba di perempatan jalan yang tak jauh dari kompleks rumah kami, Alya memarkirkan mobilnya untuk berhenti sejenak. Dia menunggu kedatangan bibi Yuli, perempuan yang menyayanginya Alya saat Alya masih kecil, tak heran karena dulu rumahnya bersebelahan dengan rumah kami. Namun semenjak ditinggal suaminya, bi’ Yuli meninggalkan kami dan tinggal di tempat lain. Kondisi badannya pun mulai rapuh karena usianya. Alya menunggunya untuk sekedar pamitan dan membantu menyeberangkan bi’ Yuli yang membawa barang dagangan untuk dijual di pasar. Kegiatan ini telah menjadi kebiasaan bagi Alya semenjak ia menjadi model. Mungkin itu adalah bentuk balas budinya kepada bi’ Yuli.

Selera humor Alya juga sangat tinggi. Ia kerap membuat lelucon yang membuat seisi rumah tertawa. Alya juga penggemar berat olahraga. Ia sangat menyukai sepakbola. Tiap malam minggu, malam senin, dan setiap ada jadwal pertandingan sepakbola yang seru, Alya tak pernah ketinggalan. Tak jarang aku melihat ia terjaga pada jam 3 pagi untuk menyaksikan pertandingan klub bola kesayangannya, Manchester United. Ia pun sering berolahraga secara rutin. Ia selalu mengajakku bermain bowling, billiard, fitness, aerobik, yoga dan olahraga “orang kaya” lainnya. Pantas saja badannya proporsional layaknya seorang supermodel.

Gaya hidup metropolitan telah merasuki tubuh Alya. Pernah suatu saat aku tergoda untuk memasuki kamar Alya yang tak tertutup rapat. Kebetulan saat itu Alya sedang show di Surabaya. Saat aku membuka pintu, tercium semacam wewangian yang aku pernah menciumnya di mal-mal ibukota. Dinding kamarnya dipenuhi poster-poster berbau fashion dan Manchester United. Saat aku melihat ke pojok kamar, aku melihat koleksi majalah-majalah fashion dan majalah-majalah remaja ibukota yang di dalamnya ada foto dirinya. Aku tergeleng-geleng dengan sebagian isi kamarnya itu. Meja riasnya pun tertata rapih. Aku tak bisa menghitung lagi berapa banyak koleksi minyak wangi yang dimilikinya. Di situ juga terdapat aksesori yang masih berbau fashion yang bahkan aku tak pernah melihatnya. Pada meja rias dan dinding kamar juga terdapat foto-foto cantik adikku baik saat sendiri maupun dengan orang lain seperti aku, orangtuaku atau teman-temannya. Foto-foto saat Alya sedang dalam pertunjukan juga menghiasi kamarnya. Aku terheran kenapa tak ada foto laki-laki yang biasanya ada di dalam kamar perempuan seusianya. Akhirnya aku teringat bahwa ia tak pernah mempunyai kekasih. Aku sedikit tersenyum ketika melihat lipatan sejadah dan mukena di pojok kamarnya serta sebuah lukisan kecil bergambar Ka’bah yang terdapat di sebagian kecil dinding kamarnya.

Semakin banyak aku palingkan mataku dari suatu benda ke benda lain di kamar Alya, semakin tertarik aku dengan isi kamarnya. Seakan tak ada beban akhirnya aku membuka lemari pakaian Alya. Masya Allah, di dalamnya terdapat banyak sekali pakaian. Entah apa yang ada dalam pikiran Alya dalam membeli seluruh pakaian itu. Aku menyeringitkan dahiku tatkala aku melihat koleksi pakaian Alya yang ketat dan tidak menutup aurat. Aku terpaksa membesarkan hatiku sendiri dengan berpikir bahwa itulah tuntutan seorang model pada zaman sekarang. Pernah aku menasehatinya ketika keluar rumah dengan pakaian seperti itu, tetapi jawabannya selalu sama.

Kemudian aku melanjutkan eksplorasi kamar Alya ke bagian koleksi musik dan filmya. Alya memiliki sebuah mini home theatre sendiri di kamarnya. Dia memiliki segudang kaset vcd dan dvd film. Koleksi filmnya berkisar dari film keluarga, film remaja, action, komedi, komedi romantis, dan percintaan. Sedangkan untuk bagian musik, koleksinya hampir sama banyaknya. Mulai dari penyanyi yang melegenda seperti The Beetles samapai album terbarunya Lindsay Lohan, ada di koleksi musiknya. Rasa sadar ku mulai hilang ketika berada di kamarnya. Ketika aku telah berada di depan kamarku, aku baru sadar akan perbuatanku yang mulanya ingin melihat-lihat saja malah menjadi semajam penggeledahan. Perbuatan itu aku rahasiakan kepada Alya.

Namun, semua yang aku ceritakan tadi hampir tak ada yang aku temui lagi. Keanehan yang aku sering rasakan selama ini bermula 5 hari yang lalu. Majalah-majalah yang pernah aku lihat, tertumpuk rapi dalam kardus-kardus. Ketika aku tanyakan pada ibuku, beliau bilang majalah-majalah itu akan diuangkan dan hasilnya akan disumbangkan. Aku terpaksa melarang tindakan ibuku tersebut karena itu semua milik Alya dan ibuku tak berhak bertindak seperti itu. Namun, akhirnya aku tahu bahwa tindakan itu Alya lah yang menyuruh beliau. Baju-baju yang pernah aku lihat di kamar Alya waktu itu pun diperlakukan sama oleh ibuku, tetapi kalau sekarang baju-baju itu akan langsung di jual kepada sebuah butik langganan ibuku. Keanehan itu pun semakin memenuhi otakku hingga aku tak sanggup berpikir. Lipatan dan gulungan kertas kembali terlihat secara tak sengaja oleh mataku. Aku yang sangat hafal kedudukan setiap benda di ruang keluargaku tertarik dengan kertas-kertas yang terletak tak teratur itu. Aku segera melihat isi kertas itu. Aku kembali tersentak ketika tersadar bahwa kertas-kertas itu adalah poster-poster yang pernah aku lihat di kamar Alya dulu. Bermacam-macam perkiraan melintas di benakku tentang apa yang terjadi di rumah dan khususnya apa yang terjadi pada Alya. Setelah kejadian itu, aku terus menyelidikinya sampai sekarang.

Pada malam hari keesokan harinya aku dengan sengaja mengetuk pintu kamar Alya karena aku sadar Alya sedang berada di dalamnya. Tak ada jawaban apa-apa.. Mataku kembali tertarik oleh suatu stiker bertuliskan “Ucapkan Assalamu’alaikum Sebelum Masuk”. Bulu kudukku berdiri, dan aku merasa ditekan oleh benda berat dari segala arah. Hal apa lagi yang terjadi pada Alya??! Aku mengucapkan salam sambil berusaha menenangkan diriku. Salamku disambut oleh jawaban dengan suara yang sangat merdu, lain dengan Alya yang biasanya yang selalu bersuara lantang seperti laki-laki. Aku berusaha menyembunyikan keanehanku sambil membuka pintu kamar Alya. Dadaku bergetar kencang… tambah kencang setiap aku melangkahkan kaki lebih jauh dalam kamar itu. Lukisan bertuliskan kaligrafi ayat kursi terpampang pada dinding kamarnya yang kini lapang. Tak ada lagi poster-poster dan majalah-majalah yang pernah aku lihat waktu itu. Alya menanyakan ada apa padaku.

Aku semakin berusaha menutupi rasa keanehan yang memenuhi otakku. Bahkan, rasa aneh itu kini mulai berubah menjadi rasa takut. Saat aku belum sempat menjawab, Alya menanyakan pendapatku tentang pakainan-pakaian barunya yang dibeli tadi siang. Aku menduga pakaian-pakaian itu sejenis dengan yang aku lihat dalam kardus waktu itu, karena aku mengira Alya Cuma ingin mengganti koleksi bajunya dengan yang baru. Aku kembali tersentak ketika pintu lemari dibuka. Beberapa baju lengan panjang dan rok panjang berwarna cerah menghiasi lemari itu. Kepalaku sudah penuh dengan rasa aneh, aku tak sanggup menambahnya. Aku mencoba memalingkan mataku ke arah televisi. Televisinya tidak dinyalakan padahal aku tahu saat itu sedang ada pertandingan sepakbola yang amat seru atau bahkan tayangan langsung konser Britney Spears di Jepang. Bulu kudukku sudah terlanjur berdiri, kini keringat dari dahiku mulai tercucur. Alya menanyakan keadaanku. Aku dengan susah payah meyakinkan dia bahwa tidak terjadi apa-apa padaku. Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Langkah kakiku terasa berat meninggalkan kamar itu. Damai hatiku saat berada di dalamnya walaupun ketenangan itu terus bergejolak dengan keanehan yang aku rasakan. Aku kembali melihat secarik kertas di lantai. Aku langsung mengambil dan membacanya. Kertas itu bertuliskan,
Bi, aku sudah berubah..
Aku harap bibi senang dengan aku yang sekarang
Berat memang aku melakukan ini…

Tapi hatiku berkata padaku…
Akan lebih berat lagi jika aku menanggungnya nanti di akhirat

Keringatku bercucuran lebih deras lagi dari sebelumnya. Alya langsung mengambil kertas itu dengan cepat seolah-olah ia takut ada yang melihat isi tulisan itu. Setelah kertas itu ia ambil, ia langsung menuju tempat tidurnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang kini mengenakan pakaian yang sangat sopan. Aku tak mau mengganggunya lebih banyak. Aku segera menuju ke kamarku dengan penuh rasa takut tentang apa yang terjadi pada adikku. Rasa takut itulah yang menghantuiku sampai sekarang.

Aku akhirnya tersadar dari memoriku ketika aku terbangun dari tidurku. Beberapa saat setelah aku terbangun aku baru sadar bahwa satu-satunya orang yang dipanggil bibi oleh Alya cuma bi’ Yuli. Aku langsung bergegas merapikan diriku lalu menyalakan mesin sepeda motor baruku. Ketika ibuku menanyakan kenapa aku terburu-buru seperti itu, aku sudah jauh meninggalkan rumah. Tanpa menghiraukan orang sekitar yang meyapaku, aku segera memacu motor semaksimal mungkin untuk menuju rumah bi’ Yuli demi menjawab semua pertanyaan itu.

Ketika hampir sampai di rumah bi’ Yuli, aku melihat suasana seperti habis dilaksanakan sebuah acara pada malam harinya. Sebuah bendera kuning pun masih terikat di sebuah pagar rumah yang aku belum yakin itu adalah rumah bi’ Yuli. Aku terus menerka sambil menenangkan diriku. Ternyata benar, itu adalah rumah bi’ Yuli. Ketika aku tanyakan pada anaknya di mana bi’ Yuli, anaknya sambil merintih memberitahu bahwa ibunya 6 hari yang lalu meninggal. Bulu kudukku berdiri, dadaku berdegup makin kencang. Aku kembali teringat bahwa Alya selama beberapa hari ini jarang di rumah. Mungkin inilah alasannya. Anak yang aku tanyakan tadi menangis, mungkin teringat oleh ibunya. Aku merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Aku mencoba menghiburnya sambil mengajaknya ke sebuah warung untuk menikmati pakanan kecil sejenak.

Setelah satu jam mengobrol dengan anak itu, barulah aku tahu bahwa bi’ Yuli meninggal karena kecelakaan. Yang membuat aku tercengang adalah bi’ Yuli tewas saat menyeberang jalan di perempatan jalan yang biasa didatangi Alya. Aku teringat bahwa saat hari kejadian, aku berangkat sendiri karena aku telah mempunyai motor. Aku terheran mengapa kecelakaan itu bisa terjadi padahal bi’ Yuli biasa menyeberang dengan bantuan Alya. Pertanyaan demi pertanyaan datang di benakku. Setelah mengucapkan maaf dan terima kasih kepada anak bi’ Yuli, aku kembali ke rumah mencari jawaban pada adikku.

Saat tiba di rumah, aku segera berlari menuju kamar Alya. Aku segera mengucapkan salam. Namun, salamku tak kunjung dijawab. Melihat sikapku yang kebingungan mencari Alya, ibuku dengan tenang memberitahu bahwa Alya sedang mengurus administrasi ke sekolah modellingnya. Ibuku sambil terheran-heran menjelaskan bahwa Alya akan keluar dari sekolah yang sangat terkenal itu. Kecewa aku mendengar berita itu. Sambil menenangkan pikiranku yang sudah jenuh dengan keanehan, ketakutan, dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu datang sebelum pertanyaan lain terjawab, aku pergi ke ruangan keluarga untuk sekedar bersandar di sofa.

Dalam perjalanan singkat itu, aku melihat sebuah buku kecil. Aku tak tahu buku apa itu. Setelah memungutnya, aku menyalakan tv lalu melompat ke sofa yang merupakan benda yang dibeli dari gaji pertama Alya. Buku itu kuletakkan lagi di lantai. Tanpa aku sadari buku itu tergeletak dengan posisi terbuka. Ketika aku melihat lagi buku itu, aku melihat secarik kertas yang sama dengan yang aku lihat waktu itu terselip di halaman yang terbuka. Aku mengambil buku itu kemudian aku tersadar, itu adalah buku harian Alya. Senang akhirnya menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjawab semua pertanyaan ini. Dengan bergegas aku melihat tulisan terakhir dari Alya. Ketika aku buka aku melihat sebuah tulisan yang menggoyang diriku. Tulisan ini ditulis pada hari meninggalnya bi’ Yuli. Aku terus membacanya sambil menyebut kebesaran Allah.

Dear diary,
Hari ini aku telah membuat kesalahan besar
Aku terlambat pamitan dengan bibi
Pagi itu………
Aku melihat bibi bersimbah darah
Jilbab putihnya berubah jadi merah
Andai aku datang lebih awal……
Aku bisa membantu bibi menyeberang
Andai aku datang lebih awal……
Besok aku bisa membantu bibi lagi
Tuhan…
Memang hamba-Mu cuma bisa mengandai-andai
Aku tak tahu cara menebus kesalahanku
walau aku tahu engkau Maha Pemurah
Bibi……
Aku ingat perkataanmu dulu tentang diriku
Tubuhku terlalu terbuka…
Perkataanku tidak terjaga…
Shalatku pun sering terlupa…
Andai kamu jadi muslimah
Kamu pasti akan terlihat sangat cantik
Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan
Jilbab ini…
Mudah-mudahan akan melindungi diriku
Pakaian ini…
Semoga bisa menjaga diriku
Al-Qur’an ini…
Semoga bisa membimbing diriku
Aku tak ada disisimu di saat-saat terakhir
Aku merasa bersalah
Menjadi muslimah yang taat…
Telah aku anggap sebagai pesan terakhirmu
Jika aku tak melakukannya…
Sungguh hina hamba-Mu ini ya Allah

Air mata terus menetes di pipi pada setiap kata yang aku baca. Penantian jawaban pun berakhir di sofa ini. Ketika bel rumah berbunyi dan salam adikku terdengar, pelukan hangat dariku tak bisa ia hindari.

One Response to “Pagi itu..”

  1. on 11 Dec 2007 at 15:04uca

    cerpennya bagus, saya akan telaah cerpen ini dari pendekatan feminisme,….

Tinggalkan Komentar