KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Padi dan Rumput

Keringatku membasashi seluruh tempat tidur. Bahkan dadaku kembang kempis karena memacu dahaga nafsu begitu menggebu. Desahan-desahan menari indah di balik telingaku, sehingga dengan semangat aku memacu. Perempuan yang sedang kutiban dengan penuh gelora itu, matanya membesar dan mengecil. Aku lihat dia juga kelelahan meladeninku. Keringat tambah lama keluar deras dari seribu atau puluhan ribu pori-poriku. Keringat kami bercampur dan menimbulkan bau yang sungguh khas. Akhirnya aku selesai dengan sebuah suara puas AKhh dari mulutku. Langsung saja tubuhku terkulai lemah serasa tak ada tenaga yang tersisa. Akhirnya  sepanjang malam  aku tertidur di pelukan perempuan yang tak aku tahu siapa namanya. Siapa ayahnya maupun siapa ibunya. Yang penting selembar uang akan kubayar bila dia memberikanku kehangatan sebentar.

Pagi-pagi benar aku terbangun masih di pelukannya. Dia juga sedang tidur dengan wajah yang membuatku bosan malah jijik melihatnya. Segera kuhempaskan dirinya agar segera menjauh dari diriku. Dia pun terbangun karena kaget. Aku menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Dan kuperintahkan agar dia segera pergi. Dia tak berkata apa-apa. Dan langsung merapikan pakaiannya., menutupi satu persatu tubuhnya dan setelah itu pergi meninggalkanku. Tak lama juga aku mengikuti jejaknya yaitu keluar dan meninggalkan hotel yang tak ada kelas bintangnya. Di luar pagi masih sangat cerah. Bahkan angin sejuk pagi hari menyapa lembut di wajahku. Lantas aku berjalan terus menikmati kesejukan pagi hari. Tiba-tiba perasaan dosa tumbuh di otakku. Tapi kucabut akarnya dari pikiranku. Maka hilanglah perasaan itu. Anak- anak berseragam SD melintas di depanku. Mereka menuju halte seberang jalan. Aku tersenyum melihati mereka, karena di antara mereka menyapaku dengan sebuah senyuman ramah. Setelah sama sama se-halte dengan mereka akhirnya ada cakap-cakap kecil akhirnya aku tahu mereka siswa kelas 5 SD dan sama seperti anakku Amang. Tapi mereka beda sekolah, kalau anakku sekolah di SDN 23, kalau mereka di SDN 2. dan kita pun berpisah, aku naik angkot jurusan pal 2. Sesampainya di rumah, aku dapati istriku lagi mencuci pakaian di ruang belakang.

“sudah selesai rapatmu semalam” tanyanya. “iya tentu, kan sekarang aku sudah pulang” jawabku.

“biar kuseduhkan kopi dulu” tawarnya. “hmm” sambil ku mengangguk pelan.

Aku duduk dan merebahkan diri di kursi empuk yang mulai kelihatan usangnya. Karena sudah banyak robek di sana-sini.  Kelihatannya aku capek. Waduh sebentar lagi akan ke kantor. Tapi akhh hari ini badanku pegal semuanya. Ku keluarkan surat saktiku, ya biasalah surat izin dokter yang ku dapat dari dokter yang di depan jalan sana kemarin sore, dengan lembar surat ini aku bisa di beri izin di kantorku.

“ma, antarkan surat ini kepada pak Ilham”perintahku.

“iya, sebentar, aku lagi buatkan kopi untukmu” jawabnya dari dapur.

Tak lama juga istriku balik dengan segelas kopi, dia gelarkan di atas meja.

“hari ini bapak tak masuk kantor”

“itu urusanku, nih suratnya” kuserahkan kepadanya, dia mengambil terus pergi menuju ke pak Ilham yang tinggal di kompleks gang sebelah. Karena hanya berdiam diri sendiri, sedangkan  Amang pasti sudah ke sekolah. Pukul delapan pagi aku telah merebahkan tidur di kamarku karena kecapean semalam menunggangi nafsu.

******

Aku dapati diriku diantara semak belukar yang begitu luas. Angin masih terlalu sejuk walaupun matahari menyinari diatas kepala. Tiba-tiba saja awan hitam melewati dan menutupi sinar matahari, awan hitam itu berarak-arakan sehingga seketika langit makin mendung. Dari kejauhan aku melihat ada sekelompok orang berjalan menujuku. Setelah jarak dekat, maka tubuh mereka kelihatan jelas. Dan kuhitung-hitung jumlah mereka ada lima orang. Tanpa ba-bi-bu mereka langsung menangkap dan mengikatku di pohon besar, aku tak kuasa menahan laju kekuatan mereka. Aku terikat dengan kencang dan satu persatu mencambuk badanku sehingga menimbulkan bekas hitam. Lama kelamaan bekas itu mengelupas dan pecah. Darah segar berderas keluar. Serasa keperihan sampai menyentuh sum-sum tulang. Aku tak berdaya. Semakin lama semakin keras mereka mencambuki badanku, akhirnya aku jatuh pingsan. Setelah sadar mereka melanjutkan lagi cambukannya. Aku berteriak menanyakan kesalahanku. “dasar manusia biadab yang melebihi anjing, kamu telah menyia-nyiakan kami berlima” bentak mereka. “sebenarnya siapa kalian” tanyaku penasaran. Maka satu-persatu memperkenalkan diri. Nama mereka yang paling besar adalah Isya, yang agak gemuk dan selalu sering menghadiahkan cambuk adalah Subuh. Kata dia aku paling sering menyia-nyiakan. Dan ketiga lainnya Dzuhur, Ashar dan Magrib. Setelah aku tahu nama-nama mereka, maka datang lagi seorang anak kecil. Dia menyerupai wajahku. “kamu semalam telah menyia-nyiakanku” teriaknya. Dia membawa cambuk dan menghadiahkan cambukanya berkali-kali. Darah semakin berkucur dengan keras. Aku mengerang kesakitan kembali. Bahkan berteriak dan menimbulkan gema suara yang memantul-mantul di padang ilalang yang belukar. Eranganku tak bisa membebaskanku. “sakit..!, Sakit…!, Ampun…!, Ampun…!, “teriakku lantang berulang-ulang. Bahkan ilalang hanya bergoyang buas mengejek, bahkan mengamini perbuatan mereka. Tak ada lagi penolong yang bisa aku mintai bantuan. Sinar rembulan pun tak berani menonjolkan wajahnya. Mereka sekalian alam seakan telah di serukan oleh raja segala raja untuk tak perdulikanku. “Ciss” cambukan lagi. Entah sudah berapa jumlahnya. Masih saja terus dicambuk. Aku hanya pasrah, bahkan berharap di biarkan sebentar untuk istirahat. “apa istirahat, tak ada istirahat” bentak mereka. Seakan-akan tak ada keibaan di mata mereka. Tiba-tiba badanku serasa di goyang-goyang. Dan wajah istriku telah di depan mata.

“kamu mimpi buruk lagi ya” sambil di seka keringat yang tumbuh di dahiku. Segera aku bangkit dan turun dari ranjang untuk ke belakang. Langsung saja aku mandi. Selesai mandi aku berganti pakaian. “jam berapa sekarang ma” tanyaku. “12 lewat seperempat” aku memanggil sarungku segera ku menuju mesjid yang tak begitu jauh. Aku menjatuhkan simpuhku diatas kebesarannya dengan penuh syahdu. Aku mengakui semua kesalahan-kesalahanku. Setelah selesai sholat aku mulai agak tenang, tak ada lagi ketakutan dari kelima orang dalam mimpiku.

Ashar, magrib dan Isya aku tunaikan, aku memohon lagi atas semua dosaku. Selepas isya aku memeluk Amang dan istriku dan meminta maaf atas semua kesalahanku. Tak lupa pula juga aku mengakui di depan istriku tentang apa yang ku lakukan semalam. Sungguh tercengang dia melihati rautku dengan kebencian dan kejijikan. Di hempaskannya aku memeluk tanah, bahkan Amang di tariknya untuk menjauhiku. Najis telah memenuhi badanku, tak ada setitikpun fitrahku  bawaan dari lahir. Istriku pergi bersama anakku amang  ditinggalkannya aku bersimpuh dan menekuri lantai, kasih sayang telah tenggelam di wajahnya bergantian dengan kebencian yang telah terbit. Sendirilah aku dengan dosa yang telah terbuka lebar menganga. Dengan kebisuan aku menangis dengan bersimpuh karena tak ada yang bisa kulakukan. Bahkan diri ini kulihati sangat menjijikan.

******

Setelah tiga hari berikutnya istri dan anakku balik kerumah. Alangkah senang aku melihati mereka. Tapi tatapan istriku masih menyala dengan api kebenciannya.

Setiap malam aku tak bisa tidur. Aku takut jangan-jangan bila aku tertidur mereka berlima akan datang lagi. Tanpa sadar aku pun tertidur kembali. Nanti azan subuh aku terbangun kembali, kukerjakan kembali sholat subuh dengan tangisan seperti anak kecil. Tadi malam aku di datangi mereka berlima, tapi aku tak di cambuk lagi. Mereka menasehatiku dengan menyuruh agar aku menjaga sholatku. Aku Tanya ke mereka caranya bagaimana. Mereka menjelaskan sangat gampang. Kata mereka dari Isya ke subuh, aku harus menjaga perbuatan yang tak di sukai ALLAH, subuh ke Ashar juga begitu dan seterusnya berulang-ulang sampai ajal menjemputku.

Setelah setahun aku melaksanakan semua perintahNya. Mereka selalu datang di dalam mimpiku dan selalu mengobrol, bercanda. Bahkan di kala aku mengalami kesusahan selalu mereka menghiburku. Tak ada yang lebih indah dengan berkawan dengan mereka. Istriku sudah mulai bisa di ajak bicara. Akhirnya aku menikmati hidup dengan penuh arah dan tak ada lagi yang kurasai susah dalam menjalani hidup. Pernah juga mereka berkata di akhir ujung malam. Tuntunlah akhirat maka dunia mengikutimu, di umpamakan padi adalah akhirat dan rumput adalah dunia. Analoginya begini, bila kita menanam padi maka rumput akan ikut, tapi apabila kita menanam rumput maka padi tak akan ikut. Sesuatu perumpamaan yang kusampaikan kepada anakku. Dan kuperintahkan kepada Amang kelak kalau dia punya anak sampaikan juga perumpamaan ini. Begitu seterusnya turun temurun.

Tinggalkan Komentar