Gelombang-gelombang Gaduh
Desember 20th, 2006 by kritel
Oleh : P. Handoko
Baru sekitar setengah jam meninggalkan pelabuhan Sri Bintan Pura, kapal feri cepat Tanjung Pinang - Dabo Singkep yang kutumpangi sudah mulai bergoyang kencang diayun gelombang. Seluruh tubuh kapal beserta semua yang ada didalamnya ikut terguncang-guncang. Orang-orang mengeluhkan kerasnya gelombang laut hari ini. Pengaruh angin barat kata orang-orang itu. Walau ini bukan badai, namun tetap saja perasaan hatiku sedikit menjadi bimbang gelisah.
Selapis cemas terlihat menyelimuti wajah beberapa penumpang, sementara ada juga yang sudah muntah-muntah tak karuan. Entah kenapa, dalam sesaat tragedi naas pecah dan tenggelamnya sebuah kapal feri cepat yang terjadi beberapa tahun silam kembali membayang. Tak ada yang selamat ketika itu. Semua penumpang termasuk kapten dan anak buah kapal meninggal tanpa sempat keluar dari kapal.
Tiba-tiba kapal melambung tinggi dan menghempas-hempas beberapa kali seperti batu ceper yang dilempar ke tengah danau, memantul-mantul, lalu hilang tenggelam. Jantung seperti lepas, semua orang menahan nafas. Tenggelam seperti batu ? Ah, macam-macam saja. Ingin segera kubunuh perasaan kalut ini dengan mengirim SMS buat kamu. Tapi, di tengah laut lepas begini mana mungkin ada sinyal.
Kuperhatikan hampir semua penumpang terdiam dan dengan caranya masing-masing coba mencari tenang. Dalam keadaan ini aku menyesal tak bisa berenang. Tapi kalau pun bisa tetap saja percuma. Pintu keluar yang ada saat ini tertutup dengan sangat rapat dan andaikata terjadi sesuatu yang buruk bisa dipastikan tak gampang untuk membukanya dengan cepat. Tapi sudahlah, lebih baik aku pasrah dan percaya saja sama kapten kapal yang sudah aku kenal dari kecil itu.
Aku tahu kapten itu sejak dia masih menahkodai kapal penumpang kayu. Seingatku, era kapal feri cepat yang terbuat dari fiber seperti yang dikemudikannya saat ini bermula tepat setelah terjadi tragedi kebakaran yang menimpa kapal penumpang kayu yang dinahkodainya. Kejadian itu sudah lama, sekitar dua belas tahunan yang lalu. Tak ada korban jiwa yang jatuh pada malam itu, karena kapal kayu itu memang sedang bersandar di pelabuhan Dabo. Menjelang matahari terbit, kapal penumpang kayu yang entah apa namanya itu akhirnya tenggelam tak bersisa.
Daripada diam, iseng kunyalakan kembali HP yang sedari tadi kumatikan. Kode PIN kumasukkan dan kubaca-baca kembali beberapa SMS kirimanmu. Aku tersenyum-senyum sendiri ketika membaca beberapa SMS terakhir dari kamu, tepat sebelum kapal feri cepat yang kutumpangi meninggalkan pelabuhan dan HP ku benar-benar kehilangan sinyal.
“Aku akan terus mendekap kamu sampai aku puas. Sampai aku benar-benar bisa menemukan kembali keikhlasan dan semua yang pada awalnya terlanjur kuanggap sempurna”.
Kubuka lagi SMS yang lain. ”Logikanya kok dibalik. Yang total dan tulus itu aku, sementara yang kurang ajar itu kamu. Aku si lugu dan kamu si penipu. Keras kepala, kenapa kamu nggak cerita dari awal ?”.
Setelah sms tadi kututup, segera kubuka lagi yang satunya. “Kayaknya akulah yang merusak semua rencanamu. Aku akan fikir-fikir dulu, tapi kamu juga”.
Ah, masih ada satu SMS lagi. SMS terakhir dari kamu yang masuk sesaat sebelum aku kehilangan sinyal. “Ya udah, hati-hati. Kalau udah dapat sinyal, cepat hubungi aku lagi. Aku masih mangkel sama kamu. Jaga diri, urusan kita belum selesai !”
Aku menarik nafas panjang. Aku sudah menjalin hubungan dengannya sejak masih duduk di bangku kuliah tujuh tahun lalu. Gadis lokal asli Kota Malang. Disana aku melanjutkan pendidikan tinggiku. Ketika kami mulai jadian, banyak orang menilai kami bukan pasangan yang serasi.
Orang-orang sering mengatakan kalau aku ini seperti itu dan dia itu seperti ini. Aku pantasnya dengan yang itu dan dia mestinya dengan yang ini. Sebab aku sehari-hari cenderungnya ke arah sini, sedangkan dia ke arah sana. Kata orang juga, aku mengandung energi ini dan dia mengandung energi itu. Dan masih banyak lagi omongan yang lain. Terus membanding-bandingkan. Terus menggoyang-goyang. Ini. Itu. Kesana. Kesini. Omong kosong. Tahu apa mereka ! Namun begitulah, komentar-komentar tak sedap itu tak pernah reda.
Gelombang laut nampaknya juga tak reda-reda, bahkan rasa-rasanya kian bertambah ganas. Kapal makin sering terhempas-hempas keras. Kuperhatikan kini tak terdengar lagi suara orang bercakap-cakap. Benar-benar sunyi. Hanya dengung mesin kapal bercampur suara percikan gelombang setelah menghamtam dinding kapal yang menggetarkan udara dan gendang telinga.
Anehnya, aku justru terlena oleh suasana ini. Mataku terasa mulai mengantuk. Tapi baru beberapa saat, aku terbangun karena mendengar suara gaduh. Kuangkat sedikit kepala dan melihat kedepan, belakang, samping kiri, dan samping kanan. Semuanya terlihat tenang, tak ada tanda-tanda barusan ada yang bercakap-cakap dengan keras. Tak ada apa-apa.
Kucoba menyandarkan kepalaku. Tapi baru saja hendak memejamkan mata terdengar lagi suara percakapan yang gaduh itu. Bahkan kali ini terdengar lebih gaduh dari yang sebelumnya. Suaranya berasal dari sebelah kananku. Cepat aku menoleh.
Sungguh, aku tak bisa menutupi rasa kagetku. Bukankah aku duduk di sebelah jendela. Ah, mungkin aku salah. Suara itu pasti datangnya tepat dari arah belakangku. Kini dengan sedikit berdiri, aku menoleh ke belakang, tapi penumpang-penumpang yang duduk di barisan belakang tampak sedang tertidur-tidur ayam. Aku kian penasaran, dari mana suara gaduh itu ?
Kembali suara-suara itu muncul. Kali ini aku benar-benar yakin, suara-suara itu berasal dari sebelah kananku atau lebih tepatnya di luar jendela kapal ini. Dengan memberani-beranikan diri, aku menoleh dan mencoba mengintip keluar dari jendela yang selalu basah karena berkali-kali dihantam gelombang. Astaga! Aku tersadar, gelombang-gelombang diluarlah yang sedari tadi mengeluarkan suara dengan gaduh.
Kian lama suara-suara tersebut kian jelas, bahkan mendominasi suara mesin kapal. Kudengar-dengar, ternyata suara percakapan, walau sering saling tumpang tindih dan mengulang-ulang. Tubuhku bergetar. Tanganku terasa sejuk. Sawan. Sial betul nasibku. Siang-siang begini dikerjai hantu laut. Aku hanya terdiam sambil mencoba mendengarkan apa yang gelombang-gelombang itu percakapkan.
Setelah beberapa saat berkonsentrasi, walau sekilas-sepintas, aku mulai bisa menangkap secuil percakapan mereka. Kudengar ada yang bercakap bahwa sekerat tubuh sebuah pulau di kawasan perairan ini kemarin kembali hilang. Berpindah pelan-pelan berbentuk seperti gunung berwarna putih bersih. Melewati selat-selat sempit yang cuma bisa diam, takut diri turut dicuri tangan-tangan besar berjari besi.
Kucoba mencari-cari gelombang mana yang menyampaikan cerita itu, tapi semua gelombang terlihat sama dan semua terlihat sedang berbicara. Kembali kudengar cerita dari gelombang lain, entah yang mana. Katanya, banyak pulau sekitar dipakai untuk membangun pulau mereka. Hingga tak sadar patung singa itu sudah sampai dipinggir jendela. Anak-anak pribumi pun tinggal meloncat dan sampai di seberang sana.
Ingin aku bertanya, pulau apa yang sedang kalian percakapkan ini ? Patung singa yang mana ? Tapi, gelombang-gelombang itu seperti tak peduli sedikit pun. Terus saja bersuara gaduh. Kudengar mereka kembali bercakap-cakap. Kata mereka, orang-orang setempat masih bermimpi tentang kejayaan masa lampau yang indah semanis limau. Daerah ini memang sulit diajak maju. Rakyat setempat kian bermental keju. Kualitas anak-anak bangsa masih memperihatinkan. Kerusakan lingkungan tak pernah diperhatikan. Pasar-pasar terus diterajang barang-barang impor dari negeri seberang yang dulu pernah terikat dengan daerah ini dalam satu wilayah kerajaan besar sebelum dicerai-beraikan Raffles dengan traktat Londonnya. Sedihnya, kini pemekaran daerah juga dijadikan isu perpecahan. Konflik politik tak bermakna antar elit terus terjadi di sana-sini. Korupsi sudah menjadi makanan sehari-hari.
Darahku kian mendidih, naik ke ubun-ubun. Percakapan gelombang-gelombang ini seperti menikam-nikam dadaku. Ingin kuminta mereka berhenti, tapi kelihatannya mereka tak akan pernah mempedulikan aku. Terus saja gaduh dan menceritakan semua dongeng tentang mimpi-mimpi depresi sedihnya tanah melayu, tanah kelahiranku.
Dadaku bergemuruh keras, seperti ditumbuk bergalon-galon air. Nyeri tak terkira. Aduh ! Gemuruh di dadaku masih terus bergema, hingga hampir tak sadar ketika suara-suara gaduh dari gelombang-gelombang itu perlahan-lahan menghilang seiring dengan melemahnya suara mesin kapal. Ganti kini suara gaduh penumpang yang kudengar. Aku yakin ini bukan imajinasi. Kulihat jam di pergelangan tangan. Ah iya, memang sudah hampir sampai.
Setelah empat jam yang menegangkan, kapal ini mulai melintasi semacam rumah-rumah panggung dari kayu yang berada sedikit jauh meninggalkan bibir pantai. Rumah-rumah ini digunakan sebagai tempat menangkap ikan. Orang-orang setempat menyebutnya kelong. Dengan mulai terlihatnya kelong-kelong ini, seperti penumpang yang lain, aku juga tahu pelabuhan Dabo sudah lagi tak jauh membentang.
Tak sampai sepuluh menit, dari jendela kapal aku dapat melihat pelabuhan itu. Sesaat aku kembali teringat dengan pengalaman barusan bersama gelombang-gelombang yang bersuara gaduh. Aku mengangguk pelan. Dadaku menghangat. Kini aku bertambah yakin dengan pilihan sikapku. Tiba-tiba, terdengar nada panggil HP ku berbunyi nyaring. Oh, ternyata dari dia.
“Assalammu’alaikum”.
“Wa’alaikum salam”, jawabnya sedikit ketus.
“Kenapa, sepertinya kamu marah ?”
“Tadi kan sudah kubilang, begitu sampai dan dapat sinyal, harus langsung hubungi aku”.
“Jangan marah begitu. Kapal ini memang belum sampai pelabuhan. Ini masih dilaut. Sebelumnya aku juga tidak tahu, kalau HP ku sudah dapat sinyal”.
Hening. Dari seberang sana tidak terdengar tanggapan. Tapi, kami masih terhubung.
“Sudah kuputuskan. Aku akan menata masa depan di sini saja”. Selesai mengatakan itu, aku diam sejenak, menunggu tanggapan darinya.
“Tawaran posisi dan gaji dari perusahaan kemarin itu memang cukup menggiurkan. Tapi, sepertinya kehadiranku akan jauh lebih bermakna di sini. Sudah kuputuskan untuk menerima tawaran itu”.
Satu detik. Dua detik berlalu. Akhirnya dia menanggapinya. “Menjadi dosen di sebuah kampus swasta kecil yang baru berdiri di Tanjung Pinang bagimu lebih bermakna daripada menerima tawaran sebagai manager bergaji diatas tujuh juta ? Jangan cari-cari alasan. Pasti karena di sana kamu akan bertemu lagi dengan mantan pacarmu yang seksi itu ‘kan?”.
Aku tertawa keras, “Sembarangan. Dia sudah menikah dan punya anak dua. Bukannya aku sudah cerita”.
“Terus apa yang membuat kamu mendadak yakin ? Padahal beberapa jam yang lalu sewaktu berada di pelabuhan Sri Bintan Pura kamu masih bimbang”.
“Gelombang-gelombang”.
“Apa ?”.
“Aku diyakinkan oleh gelombang-gelombang”.
“Jangan aneh-aneh, aku tidak mengerti”.
“Nanti saja aku ceritakan. Yang jelas, kamu siap-siap saja. Selepas lebaran ini aku akan segera datang menemui kamu dan keluargamu bersama orang tuaku. Itupun kalau kamu berani”.
“Kita lihat saja. Kamu tahu, aku tak akan kalah pada gelombang-gelombang itu”.
“Ya sudah, nanti aku hubungi lagi. Kapal sudah sandar. Kamu masih puasa ‘kan ?”.
Tak ada suara sahutan. HP di seberang sana langsung ditutup. Aku tersenyum kecut. Aku sudah sangat hafal dengan karakternya yang satu ini. Segera kuselipkan HP di saku celanaku dan mengambil ransel yang berada di bawah kursi tempat dudukku. Barang-barangku yang lain masih berada di palka, akan ada ABK yang mengurusnya. Kulihat orang-orang antri berjejal menuju arah pintu keluar. Malas berdesak-desakan, aku duduk kembali.
Dalam ramai suara orang, aku kembali teringat cerita gaduh dari gelombang-gelombang. Tahu-tahu, gelombang-gelombang itu kembali menghampiriku dan bercerita tapi kali ini tidak dengan gaduh. Pelan-pelan mereka berbisik dari balik dinding kapal. “Tak ada di antara kalian yang harus kalah dengan kami. Sebab tujuan kami bukan untuk mengalahkan, tapi agar didengarkan. Terserah setelah ini kau akan bersikap apa, tapi yang pasti, kami akan terus bercerita dengan suara-suara kami yang menggelombang”. Dan akupun segera mengangguk-angguk mengerti.
bagus, apa perempuan itu aku?