Dia (Kisah Di Pesta Kupu-Kupu)
Desember 20th, 2006 by Satyaning
Aku bertemu kisah di pesta kupu-kupu :
Yang ditemani selir-selir pemuja
menyihir sauh agar berbelok
dan menyapa penenun senja hari
.
Ketika abdi bulan
tak lagi menjadi sasaran anak panahku
Atau saat pagi hendak melupakan pagi
secara perlahan
.
Bukan hanya kesempurnaan yang setia
menemani seonggok lentera putih
Dan senja biru yang menjadi latar
panggung sendra tari
.
Aku membiarkan sepasang merpati berperang
Besujud pada hujan
Memohon pada awan
Hingga sayap mereka rusak digerogoti rayap
Atau paruh mereka bisu oleh waktu
.
“Aku tak mempersiapkan nisan”
rintih gerimis dari senja negeri seberang
.
Sejak subuh tadi
aku tlah mencipta ribuan fatamorgana
Barangkali ilusi
yang tersesat di tengah rimba
atau di kedalaman lautan
.
Tapi tetap saja peri-peri dideras cahaya itu
tak mampu melelehkan 160 grafiti tentang kasih
.
Kemarin aku tulisi telapak tangan anak Tuhan
Menyuruh tuannya untuk menyalami angin
yang melukis pada sayap-sayap bekas karat
.
Dan tadi angin menangis
Seseorang tak kunjung bangkit dari pembaringan
.
“Matahari mencari jejak musim semi” bisik hujan cemara
.
Aku bertemu kisah di pesta kupu-kupu :
Yang disambut penghuni sejarah
masih menangisi guguran musim semi
dan berdiri di tengah perempatan
Satyaning 121206