Dari Aku dan Keseluruhanku
Desember 20th, 2006 by kritel
Semuanya sudah kusampaikan kepadamu
Jangan terlalu difikirkan
Apalagi dijadikan beban
Karena aku pun tak pernah terlalu memikirkannya
Lagipula ini bukan doktrin yang mesti kamu turuti
Nikmati saja
Seperti sepiring menu sarapan pagi
Ambil dan makan yang kau suka
Tak perlu sungkan
Namun yang memuakkan tolong jangan dibuang
Kembalikan kepadaku biar kutelan
Oleh : P. Handoko
.
Wahyu Pertama
Biarkanlah sungaiku bercampur dengan lautmu, berdebur, memecah karang, dan menjadi badai bersamamu.
Wahyu Kedua
Malam yang sepi berjalan sendiri. Bulan lelah dibalut awan basah. Suara-suara mulai disimpan dalam ruang kedap udara. Sehingga kini yang tertinggal hanya kekecewaan kita. Kecewa pada malam juga kecewa pada bulan yang tak mau tahu dengan segala pengaduan kita !
Wahyu Ketiga
Bulan adalah pengantin malam yang bersanding sendirian. Menimati gairah peraduan dalam penantian. Tersisih hingga letih dan tertidur dalam belaian kasih angin malam yang penasaran. Sungguh malang. Kasihan. Aku tak mau ada diantara kita yang menjadi bulan.
Wahyu Keempat
Kamu dan keakuanmu adalah fatamorgana. Visualisasi yang terlihat mewujud lewat kekuatan inderaku. Tapi, selalu hilang di pinggir keyakinanku untuk menyentuhmu.
Wahyu Kelima
Cintaku semakin parah. Konsistensimu berdarah-darah
Wahyu Keenam
Kini kamu menjelma gerhana matahari. Adakah yang berani menatapmu ?
Wahyu Ketujuh
Musim-musim hatiku tak lagi bersiklus : mampus!
Wahyu Kedelapan
Apa yang sudah terasa di dada biarkan saja. Tak perlu tergesa-gesa dibawa keluar dan diperlihatkan kepada dunia. Angin terlalu kencang. Tubuhnya masih rentan. Bagai jabang bayi di dalam rahim perempuan yang belum genap berusia sembilan bulan. Aku takut dia akan sangat kesakitan, lalu pergi melupakan setelah sejenak memberi kebahagiaan yang rawan.
Wahyu Kesembilan
Mencoba mengenalmu adalah perjuangan baruku. Pertaruhan yang sepadan untuk menemukan sebuah penjelasan. Jangan terlalu banyak berharap hingga terjebak dalam sejuta lakon sentimentil tentang cinta dan penyatuan. Kuingatkan, menuju kesana bukan hal yang gampang. Pun jangan khawatir, aku takkan marah lalu menyerah jika kamu menilai niatku lemah. Sebab, mencoba mengenalmu sungguh adalah perjuanganku yang benar-benar baru. Mungkin lebih baik kita menjadi aliran air di kali berbatu atau desir angin di atas ombak lautan saja. Yang lembut berjalan. Yang tak pernah habis-habisan memaksa ataupun terkandaskan. Biarkanlah : logikamu dan egoku, kebingunganmu dan ketakutanku, hingga semua pengharapanmu dan keinginanku saling mengenal tanpa luka dan rekayasa. Bergerak lepas mengikuti naluri manusiawi sebagai dua variabel bebas di semesta yang tak takut teretas hingga akhirnya membentuk sesuatu berdasarkan keputusannya sendiri. Semua yang terjadi tak perlu disesali. Walau mungkin akhirnya kita akan berjalan sendiri-sendiri meniti jejak pagi yang samar di bawah rimbun terik matahari.
Wahyu Kesepuluh
Kamu bukan rawa. Bahkan, kecantikanmu tak cukup dipadankan dengan air terjun Niagara. Tapi, kenapa setiap ada kamu kurasa udara menghambur serupa lumpur ? Kasar, tebal, menyebal, berpusar, kasar. Meyumbat kesadaranku. Menginjak-injak keseimbanganku. Sungguh, bersamamu aku larut hingga terparut-parut.
Wahyu Kesebelas
Aku mau asal kamu mampu berteriak keras di telingaku ketika aku sudah mulai liar dengan egoku dan acuh pada mimpi galaumu. Aku mau asal kamu mampu memakiku dengan ikhlas ketika kata-kataku sudah mulai membosankan kamus gairahmu dan menjemukan catatan harianmu. Aku mau asal kamu mampu membunuhku dengan meninggalkanku ketika kamu merasa aku sudah tak begitu membahagiakan dan pantas menjadi kebanggaanmu lagi. Mampukah kamu ?
Wahyu keduabelas
Wahai awan kelabu. Adakah air disitu ? Kalau ada, lepaskan dia. Aku sangat rindu. Dahagaku kian menggebu. Bergalon coca cola dan sebaskom corn yang ditawarkan sudah tak lagi menarik perhatianku. Aku hanya mau minum dari awanmu. Sangat ingin bertemu, menyatu. Merasakan dinginnya ketika dia membasahiku. Langsung di bawah tubuh awanmu.
Wahyu ketigabelas
Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Kenapa angin dan semua deru yang biasa terdengar akrab ditelingaku, kini tak terasa lagi begitu memburu. Kupu-kupu yang senantiasa menghantarkan wahyu-wahyu pun tak lagi menarik perhatianku. Kusaksikan kedatangan mereka yang segera pergi dengan malu-malu, begitu melihat aku. Brengsek ! Apa ada yang salah ? Kenapa semua memandangku seperti itu ? Ngomong-ngomong, tahukah kamu. Apa yang sedang terjadi padaku ?
Wahyu Keempatbelas
Keguncangan keras menghantam dunia. Semua tak percaya. Tak ada yang menyangka. Melihat aku yang tergila-gila. Bukankah hatimu adalah batu ? Begitu tanya mereka. Jiwa-jiwa penasaran terus asyik menduga-duga. Seperti ahli pada objek kajiannya. Teliti memeriksa apa saja. Saling berebut sangka, mengadu hipotesa, benarkah adanya ? Sedangkan aku, hanya tertawa-tawa.
Wahyu Kelimabelas
Ruang-ruang hatiku dulu hampa udara. Seperti sebuah kista, tak bernyawa. Siapapun yang mencoba masuk pasti takkan mampu mengendalikan bobotnya.
Melambung tak tegar berpijak. Membentur. Meretak. Sering aku mencoba dengan sukarela membantunya berdiri tegak, tapi justru aku yang terbanting telak. Sampai suatu ketika bagai Hawa yang tiba-tiba muncul di sisi Adam terjadi perubahan yang tak kusangka-sangka. Tuhankah yang diam-diam dalam tidurku telah memompakan angin, api dan salju ? Hingga tak ada lagi ruang hampa yang tersisa di hatiku. Habis sama sekali. Semua tenggelam dalam tsunami rasa. O…Adam, inikah yang kau rasa ketika kesadaranmu untuk pertama kalinya dibuka ? Saat Tuhan dengan kasihnya mengajarimu semua nama benda-benda. Hingga dunia serasa sujud takluk di kakimu dan kau pun merasa mampu memiliki segalanya. Begitulah, kuberanikan diri untuk mengintip ruang-ruang hatiku yang kini indah tertata. Ada taman-taman bunga, perabot-perabot kaca, serangkai galaksi dan kunang-kunang bercahaya serta orkestra panda-panda. Lewat celah-celah hati yang kini banyak terbuka kurasa hangat matahari menyelusup seperti anak kucing yang mencari kehangatan dipeluk induknya. Ada kehidupan baru disana. Tapi, sejenak aku merasa asing. Kecurigaan menepuk-nepuk pundakku. Jangan-jangan ini hanya fatamorgana atau pentas sirkus keliling yang terus berpindah menciptakan keramaian dari kota ke kota. Karenanya, aku takkan cepat terlena dan berteriak : ini dia ! Siapa tahu semuanya hanya fatamorgana atau pentas sirkus keliling saja.
Wahyu Keenambelas
Tuhan maha tahu dan atas nama akalku hatiku tak pernah menyangkalmu sejak detik pertama ketika Tuhan menghembuskan kesadaran itu. Sering memang aku menyangkalmu di depan mereka. Hanya sementara, pura-pura. Aku yakin kamu mengerti itu cuma sandiwara. Jadi, jangan pernah ragu dan menggugatku lewat matamu : “Kamu tempatkan dimana aku ?”. Sungguh, hatiku tak pernah menyangkalmu sejak detik pertama kesadaranku. Mungkin juga kesadaranmu ?
Sudahlah, tak perlu kita runut kebelakang. Hati tidak layak untuk diperlombakan. Dia utuh selamanya sebagai bahan bacaan Tuhan.
Wahyu Ketujuhbelas
Jika aku mati ini hari, di mana kamu akan berdiri ? Tepat di sebelah tubuhku yang terkafani atau menyesakkan hati di kamar hingga sunyi ? Duh, cinta yang masih mencari. Aku sudah tak sanggup berdiri, bahkan sekedar memelukmu dalam imaji. Aku takut malaikat menuduhku tak tahu diri. Dan, ketika hujan pertama di kuburku mulai turun membasahi, apa yang akan kamu hayati ? Tentang gundukan tanah yang indah bermandi taburan melati atau janji-janji yang masih setia menunggu matahari ? Di dalam pasti gelap sekali. Tak perlu menangis, nisanku biar melapuk sendiri. Lalu, saat hujan ini berhenti, ke mana kamu akan pergi ? Maaf, aku tak bisa lagi mendampingi. Air yang merembes diwajahmupun tak bisa lagi kurasai. Tapi, aku sudah tak peduli. Terima kasih
sudah mau hadir di sini, walau mungkin kamu takkan pernah menyambangiku lagi.
Wahyu Kedelapanbelas
Jalanku tak segampang yang kamu kira. Bahkan banyak pohon tumbang yang merintanginya. Kadang aku harus merayap atau memanjat, jika memang itu cara melewatinya. Di pinggir jalan yang terlihat juga hanya ilalang dan bunga-bunga berduri yang tak sedap dipandang. Buahnya pahit, sulit ditelan. Aku kasihan. Bisakah kamu bertahan dengan aku dan jalanku yang sangat tidak nyaman.
Wahyu Kesembilanbelas
Pembicaraan model apa ini ? Apa ada landasan teorinya ? Segalanya berakhir dengan kata : “mengerti ‘kan ?”. Edan ! Memangnya kita Tuhan yang bisa menafsirkan dan memastikan segala atau pakar telepati yang saling bisa membaca isi hati. Kenapa kita menjadi seperti pedagang atau pialang yang selalu tak tenang memikirkan untung rugi. Kita tidak sedang bertransaksi !
Tentara pun tak pernah sewaspada ini. Ayolah, jangan lagi penuh basa-basi.
Jangan menipu diri sendiri, karena tubuh ini akan membalas dengan sangat keji.
Wahyu Keduapuluh
Kesadaran tak bisa dipaksakan. Dia datang dan pergi. Mengikuti alur perubahan yang alami. Inilah keabadian itu ! Walau setiap pergantian menimbulkan
konsekuensinya sendiri-sendiri. Jangan lari ! Ambillah keputusan dan tentukan posisi. Apa itu kebenaran ? Apa itu cinta ? Tak lebih dari sekedar ego yang terasionalisasi menemu jatinya yang tak pernah mati.
Wahyu Keduapuluh Satu
Tahukah kamu ? Kini aku sering bermimpi menjadi seekor nyamuk yang diam-diam hinggap dan menggigiti leher putihmu. Taring-taring gigiku tepat menancap tajam di liang-liang nadi kenikmatanmu. Liurku liar membius kesadaranmu selagi aku menyedot habis darah dari semua pembuluh vena dan balikmu. Tidak cukup sampai disana, kumakan pula sumsum tulang belakang dan otak encermu. Sungguh rasanya seperti coklat saja. Kini mengerti aku, kenapa banyak yang berminat sama kamu
Wahyu Keduapuluh Dua
Tak ada yang abadi. Bahkan eksistensi secara alami saling berusaha mendominasi sampai menyisakan satu yang hakiki. Kau sang pencipta yang esa, tempat asal segala dan akhir dari semua muara. Tuhan, aku tahu Kau juga ingin eksistensi Ketuhanan-Mu diakui. Semua makhluk-Mu pun tak lebih dari sekedar citra unik keberadaan-Mu yang asali. Sepenuh hati, aku sadar kuasa-Mu, betapa kecilnya aku. Namun apa berlebihan, jika saat ini kumendamba keabadian dan secuil eksistensi Mu yang tak terbagi. Tolong jawab sekarang.
Bisakah dia tetap bersanding denganku, meski dunia dan segala isinya telah kembali menjadi Mu ?
Wahyu Keduapuluh Tiga
Ada yang bilang katanya embun adalah keringat bintang yang kalau siang tak sempat mencapai bumi karena keburu diganyang matahari. Jadi, adanya hanya pada malam ketika banyak orang sedang menggauli mimpi-mimpi. Mumpung belum pagi izinkan aku bersumpah janji : “jika semua ini cuma embun, maka akan kupastikan takkan ada matahari yang mampu menguapkannya. Dia akan ada sepanjang hari dipucuk-pucuk pohon, diatap-atap rumah, padi-padi di sawah, kembang-kembang riang, perkakas para tukang, hingga segala sesuatu yang tak mencoba bersembunyi darinya”.
Wahyu Keduapuluh Empat
Baik, kita mulai dari mana ? Kalau yang ku mau, kamu pasti sudah tahu. Tapi apa yang kamu mau, aku masih ragu. Jangan-jangan ini cuma imajinasiku !
Wahyu Keduapuluh Lima
Bahkan Rahwana terus memperjuangkan cintanya. Meski darah kian dalam menggenang menutupi mata kaki Sri Rama. Dimanakah Sinta ? Apa masih menangis di atas peraduannya ? Tidakkah dia melihat betapa Rahwana sangat menginginkannya. Semua telah dipersembahkan, hingga darah keluarga yang coba-coba menentang hasratnya. Ini cinta atau kegilaan semata ? Apa yang kamu tunggu Sinta ? Jemputan dari Sri Rama kekasihmu itu ? Rupanya pengorbanan Rahwana masih belum bisa membuktikan apa-apa. Mari sini, bangun dan saksikanlah. Dikejauhan perang makin menggelegak bersama debu yang membumbung tinggi ke puncak (Demi Tuhan, mulialah dengan kesetiaanmu Sinta).
Angin terus berhembus, membawaku menyaksikan Khadijah yang menyatakan cintanya kepada seorang pemuda Arab yang mulia, Al-Amin julukannya. Mereka saling suka, bertemu dalam perniagaan yang jujur dan bersahaja. Usia si pemuda baru dua puluh lima, sedang sang perempuan yang telah menjanda itu kata banyak orang lima belas tahun lebih tua. Inikah sesungguhnya kelugasan dan keberanian itu ? Laki-laki ternyata bukan penguasa mutlak pada kerajaan cinta. Perempuan juga berhak memproklamirkan berita cintanya. Tolong jangan kotori prosesi ini dengan prasangka burukmu ! Bahwa ini hanya strategi awal seorang anak manusia bernama Muhammad untuk menguasai Mekah yang Megah. Karena sungguh dalam cinta Muhammad-Khadijah tak ada yang terjajah.
Lihatlah ketika Khadijah di telan masa tua dan menemui ajalnya, Tuhan membacakan luka di hati nabi sebagai tahun kesedihan. Untuk mengobatinya, bahkan Tuhan sendiri yang langsung turun tangan. Diajaknya nabi mengarungi syurga neraka, bertemu para nabi sebelumnya dan bersilaturahmi dengan banyak fenomena kemanusiaan. Luka yang teramat dalam melebihi sayatan pedang. Tuhan sangat mengerti. Bukti cinta tulus nabi pada Khadijah; seorang perempuan, seorang istri, sekaligus seorang teman dalam berbagai keadaan.*
Dari lautan padang pasir, kuikuti matahari yang tenggelam dan kuterjebak dalam perseteruan dua keluarga yang selalu kehilangan, saling berusaha untuk memusnahkan. Kebencian seperti api abadi, menyala sepanjang hari, tak kenal musim. Dari ladang kebencian, muncul kehendak-kehendak suci yang tak direncanakan. Semua berkembang secara spontan. Romeo-Juliet paham keadaan, lalu coba menghancurkan tembok penghalang yang kian menebal dari hari ke hari.
Kasihan, kenapa cinta mereka begitu tak bernasib baik ? Semakin besar cinta yang mereka bangun, semakin menambun pula aura permusuhan yang tumbuh dari orang-orang yang sebelumnya sangat mencintai mereka melebihi apapun. Romeo-Juliet coba bertahan. Membuat janji-janji dalam kegelapan. Takut terang akan mempertontonkan mereka, lalu mengobarkan kesombongan dua keluarga. Hingga mereka tak sabar. Masing-masing membuat rencana. Sayang keduanya saling tak begitu paham. Jadilah mereka mati berdua dalam kekonyolan. Cinta mereka tergadai di sudut-sudut malam.
Ah, ada bunga tanjung jatuh dipangkuan. Kuteringat akan dendam Dewi Amba pada Bisma, Ksatria Hastina yang telah menolak cintanya, demi setia pada sebuah sumpah yang dihormati dewa-dewa. Inilah persaingan antara keteguhan seorang laki-laki dengan cinta seorang perempuan. Apa yang dipilihnya ? Bukankah cinta juga mulia ? Apa Dewi Amba kurang menarik baginya ? Wahai Bisma Putra Bharata, dimana naluri manusiawimu ? Bukankah ketika kau batalkan sumpahmu tak kan ada yang terluka ? Tapi kini telah kau buat Dewi Amba merasa tersia-sia.
Kesombonganmu Bisma. Ini adalah kesombonganmu ! Kau sakiti Dewi Amba demi sesuatu yang kau sebut kehormatan. Dan tahukah ketika kau mabuk dalam kehormatanmu, telah kuikuti tiap jengkal tangisan Dewi Amba yang mengadukan kesombonganmu dan kehancuran hatinya kepada para dewa kahyangan yang kau puja. Dengar Bisma, inilah permohonannya : “Apapun akan kuberikan dewa yang agung, bahkan nyawaku, tapi restui aku untuk membunuh Bisma dengan tanganku sendiri”.
Kau tahu Bisma, dewa-dewa itu bermuka dua. Mereka kabulkan permohonan Dewi amba. Menyedihkan, cinta kalian terkatung-katung dalam sebuah alur permainan yang tak membahagiakan. Dewi Amba mati ditikam dendamnya sendiri. Tunggulah saat ketika panah Dewi Amba menembus jantungmu. Suatu ketika nanti saat Bratayudha meletus, perang saudara yang mengobrak-abrik semua logika dan makna rasa umat manusia.
Waktupun terus berjalan tak pernah berhenti, seperti ulat yang menggerogoti daun-daun. Bisma diusiamu yang senja, kau mulai merasa rindu, ada sepi yang mengungkung. Kematian bagimu adalah cita-cita. Tenanglah Bisma, masa itu pasti tiba. Seorang penunggang kuda, titisan Dewi Amba yang merasuk pada tubuh seorang ksatria muda akan mengincarmu di padang Kurusetra. Pancaran tubuhnya memperlihatkan rindu tertangkup dendam yang tetap menyala terang meski tubuh telah berganti rupa.
Telah kauputuskan dialah yang menjadi simbol kematianmu, sebagaimana cuma kamu pula yang mampu memupuskan cintanya. Telah kautetapkan pula waktu kematianmu, seiring berakhirnya perang ini. Bismapun berkata ketika sang ksatria titisan Dewi Amba telah berhadapan dengannya : “Aku menemukan keindahan dan keagungan, namun aku sia-siakan. Kini dia datang menagih utang. Ditangannya tergenggam undangan kematian yang akan menyatukan aku padanya. Srikandi, sadarkah kau adalah titisan dari kekasihku. Jangan ragu, angkatlah busurmu. Kita selesaikan semua kebodohan ini. Habisi aku. Lepas anak panahmu. Biarkan dia melesat menembus jantungku. Kini aku pasrah dalam pedihnya cintamu”.
Bisma segera membuang semua senjata dan melucuti baju besinya. Dari langit hujan kembang turun dengan derasnya.
Di kepala mendadak tumbuh kamboja, melati dan kenanga. Harumnya melingkupi gundukan tanah kuburan yang entah kapan adanya. Kudengar suara-suara keharuan dan jeritan kemurungan. Ratapan-ratapan Gibran, kegilaan-kegilaan Majnun dan mimpi-mimpi sepi Samsul Bahri. Semua dipaksa membuang cintanya begitu saja.
Malam mulai merapat dengan badan. Aku tertidur diatas kuburan. Dilangit sebuah bintang jatuh terlihat asyik berkayuh, angkuh. Itu pasti dia, sang penipu, moyangnya para pengkhianat. Telah dihancurkannya kepercayaan sang ksatria. Padahal sang ksatria telah rela menempuh segala bahaya demi menemui kekasihnya di kerajaan langit dan si bintang jatuh telah menyanggupi untuk membantunya, begitu sahabatku dee bercerita entah kapan.
Wahai, adakah yang lebih tega dari bintang jatuh ? Dilepaskannya pegangan sang ksatria yang penuh percaya, hingga tubuhnya dilumat semesta menjadi aurora. Sedangkan bintang jatuh sendiri langsung berlari menghampiri si putri dan bergaya : “telah kutempuh segala bahaya!”.
Bangsat, takkan kukagumi lagi kamu wahai bintang jatuh. Seumur hidupku. Biar seribu kali kamu lewat di depan mataku, takkan ada lagi permohonan kepadamu.
Tiba-tiba, kulihat bintang-bintang luruh kewajahku. Panas. Aku terbangun, jendela terbuka, matahari sudah penuh. Mimpi berakhir. Kudengar ibu tetangga menyuruh mandi anak-anaknya. Dari HP segera kusampaikan kepadamu : Tuhan, melalui semesta telah membentangkan begitu banyak cerita. Kita tidak perlu terperangkap pada salah satunya. Kita juga pencipta, seperti Tuhan juga. Takdir adalah pilihan ego kita yang tak akan mungkin bisa melampaui hukum-hukumnya. Jadi jangan takut untuk berfikir bebas. Well, kita kesampingkan semua. Lalu kita cipta cerita, dengan aktor utama kau dan aku. Hanya berdua. Silahkan dipertimbangkan. Aku akan tidur lagi. Kuliahku masuk siang”.
Sayup-sayup kudengar ibu tetangga menyuruh sarapan anak-anaknya.
* Syedaarazwy dalam bukunya yang bejudul Khadijah yang Agung : Keteguhan Hati Seorang Istri (terjemahan, Penerbit Hikmah Jakarta, 2001) menulis bahwa pernikahan nabi dengan Khadijah adalah satu-satunya yang didasari oleh cinta dan persahabatan. Bagi nabi, pernikahan inilah yang berhasil meraih semua tujuan pernikahan.
Wahyu Keduapuluh Enam
Malam mendadak berjamur. Hatiku terus mengajak bertempur. Menjengkal kerinduan yang tak terukur. Nyamuk-nyamuk padahal sudah asyik mendengkur. Musik ditelinga telah lelah menghibur. Perutku juga tidak terasa lapar. Masih kenyang dipenuhi sepiring tahu campur. Tadi aku juga nyantai. Tak ada masalah. Serasa berlibur. Tapi, kenapa aku tak bisa tidur-tidur ?
Wahyu Keduapuluh Tujuh
Seorang perempuan hadir. Mengetuk-ngetuk jiwaku yang musafir. Akankah kubiarkan dia mampir ? Hanya sekedar mampir ? Bagai handuk yang membelit tubuh selepas mandi, lalu tersingkir. [Kesungguhan, dengar, jangan kikir, nanti terjungkir]. Di depan pintu. Suara perempuan itu masih terus berusaha mematriku. Coba mengukir api terkadang kelinci. Kapan musim semi ? Harum tubuhnya kuingat serupa pagi. Tiba-tiba aku ingin keluar dan melihat embun tunduk disingkirkan matahari. Sampai diluar kutemukan seorang perempuan
yang segera menjelma menjadi kupu-kupu yang nakal mengusikku. Dan ketika tanganku mulai berani mengelus sayapnya yang bergetar sayu, diapun seketika berubah menjadi hantu yang mencemaskanku.
Wahyu Keduapuluh Delapan
Jadilah Ibrahim, aku akan mendingin. Jadilah Isa, aku akan bangkit. Jadilah Muhammad, aku akan membebaskan. Jadilah sang kekasih, akan kuseru bahtera tasbih.
kata2nya kuat banget, halus dan through the point
bagus banget, bacanya aja sambil merinding!!!!
u must read it!!!
aku tahu semua isi hatimu, kurasakan semua kegalauanmu. tapi tolong, janganlah lagi kau meragu. sudah bangunkah kamu?
lelah….memang sungguh lelah bersama cinta ini….
aku sama sepertimu yang risau…
rupanya ALLAH memberikan sahabat padaku untuk cinta ini
sama halnya degan dirimu…
tapi aku masih meyakini cinta sejati kan datang menghampiriku