KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Puisi Terakhir

Tertopang lengan seorang gadis mengkhyalkan kedatangan seseorang. Seseorang yang selalu ia puja dalam hatinya. Nayla begitu orang memanggilnya. Hanief nama orang yang selalu ia puja. Khayalannya seketika buyar ketika terlintas dalam benaknya Raisya sahabatnya yang juga menyukai orang yang ia suka. Semula ia sama sekali tak memikirkan hal itu, karena ia belum terlalu dekat dengan Raisya. Namun takdir berbicara lain, semula ia masa bodoh dengan hal itu tapi kini ia sangat memikirkannya, karena Raisya terlalu baik untuk disakiti. Hubungannya dengan Raisya kini menjadi semakin baik, bahkan ia lebih dekat dengan Raisya dari pada Fani temannya sejak SD.

Nayla tak ingin menyakiti Raisya tapi apa yang harus ia lakukan? Satu yang Nayla tahu bahwa Raisya sangat bahagia apabila dekat dengan Hanief. Tapi ia tahu kalau hal itu sampai terjadi, ia akan sangat sedih. Karena ia juga sangat mencintai Hanief. Pernah ia berkata kepada Raisya kalau ia sama sekali tidak menyukai Hanief, perasaannya hanya sebatas adik kelas yang menyukai kakak kelas. Tapi itu semua bohong, Anita teman sebangku Nayla yang tahu seluk beluk perasaan Nayla kepada Hanief.

Sering Nayla ber-sms ria dengan Hanief. Tapi ada perasaan tak enak saat ia sedang bercengkrama dengan Hanief di Handphone. Teringat akan sahabatnya, ia merasa bahagia di atas penderitaan sahabatnya. Dan ia merasa perbuatannya sangat kejam. Tak disangka ternyata Hanief menyimpan sebuah rasa pada Nayla. Karena perhatian - perhatian yang sering Nayla curahkan padanya.

Suatu ketika Hanief berniat mengungkapkan perasaannya pada saat ulang tahunnya. Semua anak yang bergelut dalam sebuah organisasi yang ia pimpin di undangnya, juga semua anak yang bergabung dalam ekstrakulikuler di sekolahnya. Ia menemui Nayla di kelasnya. Anak - anak yang melihatnya bersorak ria. Terlihat di pojok kelas Raisya yang berdiam diri. Nayla pun menghampiri Raisya.

“Sya,sorry…marah ya? kalo kamu ngebolehin aku nemuin dia ku temuin, kalo nggak, aku gak akan nemuin.”ucap Nayla.

“Temuin aja lagi La, siapa tau itu masalah yang penting.”jawab Raisya.

“Thanks…”

Raisya membolehkan Nayla menemui Hanief, padahal dalam hatinya ia tak rela. Ia sedih, andai ia tak malu ia ingin sekali menangis. Tapi tak mungkin, ia tak ingin orang lain , mengasihaninya.

“Ada apa kak?”tanya Nayla.

“Cuma mau ngasih ini…kasih ke yang lain ya…”kata Hanief sambil menyerahkan beberapa undangan.

“Oh…”

“Makasih ya, kakak pergi dulu.”

“Ya…”

Setelah Hanief pergi Nayla kembali ke kelasnya, dan membagikan surat undangan itu.

“Sya…nih, surat undangan dari ka Hanief, dia cuma ngasih ini, kamu gak marah kan?”

“Nggak kok, makasih ya…”

Raisya sangat gembira setelah menerima surat undangan itu, ia merasa tak enak telah mencurigai sahabatnya sendiri.

Hari yang ditunggu - tunggu pun tiba, hari di mana Hanief genap berumur 17 tahun. Semua orang yang di undang pun datang. Hanief terlihat sangat menawan dengan jas hitam yang ia kenakan. Raisya pun terlihat cantik dengan gaun biru mudanya. Dari pintu gerbang terlihat Nayla datang dengan gaun putih di tubuhnya. Acara inti pun akan segera di mulai. Orang - orang yang hadir mengira acara inti itu adalah acara tiup lilin dan potong kue, tapi tidak bagi Hanief. Acara inti dalam pestanya adalah pengungkapan rasanya.

“Ok…teman - teman di malam yang indah ini aku mau ngungkapin perasaan aku…buat orang yang selama ini ku cinta…dia adik kelas aku…”

Terlihat Raisya tersipu malu, ia merasa dirinyalah orang yang di maksud. Karena saat SMP pun Hanief pernah mengutarakan isi hatinya, sayangnya dulu ia menolak cintanya. Nayla pun berpikiran demikian, ia sangat sedih bila hal itu sampai terjadi. Pikiran mereka pun buyar ketika Hanief mulai berbicara lagi.

“Gini ya…orang yang aku panggil adalah orang yang aku maksud dan dia harus menghampiriku…aku mau Raisya mengantar Nayla ke depan…”

Terdengar sorak ria orang - orang yang hadir. Semula Raisya mengira bahwa ia yang dimaksud karena namanya terlebih dahulu dipanggil, ia sangat sedih…ia pun berlari sekencang - kencangnya, ia tak menghiraukan teriakan Nayla. Nayla pun mengejar Raisya, sayangnya Hanief menarik tangan Nayla.

“La…plis, biarin aja dia pergi…tolong jangan rusak acara aku…”

“Jadi acara ini lebih penting dari persahabatan aku?gitu?kakak tau gak?apa yang kakak lakuin itu udah ngerusak persahabatan aku tau…”

“Tapi…aku kan sama sekali gak tau kalo hal ini bakal bakal terjadi…jadi gimana?’

“Gimana apanya?”

“Terima gak?”

“Tapi Raisya?”

“Kan bisa jelasin nanti…”

“Ok, aku mau…tapi kakak harus nyembunyiin hubungan ini…dan orang - orang yang di sini juga.”

“Makasih ya…”

Hanief merasa sangat bahagia, ia menyanggupi permintaan Nayla. Hubungannya pun berjalan sesuai dengan rencana…tak ada satupun yang tahu hubungannya.Telah 6 bulan lamanya hubungan itu terjalin secara backstreet. Suatu ketika Nayla melihat binder Hanief…ia sangat terkejut ketika membaca isinya, ia pun segera menghampiri Hanief yang sedang mengambil buku yang tertinggal di kelasnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kekasihnya itu sedang berpelukan dengan Raisya. Ia sangat sedih ia pun segera berlari, Hanief yang mengetahui hal itu segera berlari dan mengejar Nayla.

“La…la…apa yang kamu liat itu gak seperti apa yang kamu bayangin…”

“emang aku bayangin apa?”kata Nayla sambil terisak menangis.

“Maaf…”

“Maaf?emang kakak salah apa?”

“Maaf udah bikin kamu nangis…”

“Kak hubungan kita sampai sini aja ya…aku gak mau sandiwara ini terus berlanjut…”

“Sandiwara apa?”

“Kakak gak suka sama aku kan? kakak pacaran sama aku cuma mau manasin Raisya aja kan?”

“Kamu kok punya pikiran kayak gitu sih?”

“Kakak yang ngomong sendiri…”

“Aku?”

“Iya….ini binder kakak kan?”

“Kok…kok ada di kamu sih?”

“Gak penting kali…ini!”kata Nayla sambil menyerahkan bindernya.

“terus kamu percaya?”

“Udahlah…kakak sama Raisya adalah orang yang aku sayang…jadi kalo kalian bahagia aku juga bahagia…anggap aja selama ini aku sebagai penolong kakak aja buat ngedapetin cinta sejati kakak…anggap aja kita gak pernah pacaran…”kata Nayla yang beranjak pergi.

“Tapi La…”

“Gak apa - apa…itu Raisya, ungkapin perasaan kakak sebelum terlambat…”Nayla pun pergi.

Saat berlari ia merasa sangat pusing sekali mungkin karena hujan yang begitu deras. Langit seperti merasakan apa yang ia rasakan, karena merasa sangat tak kuat lagi ia segera pergi ke rumah sakit, ia takut ada hal yang mengerikan dalam dirinya. Setelah memeriksakan dirinya ke rumah sakit, ternyata apa yang ia duga benar - benar terjadi. Ia mengidap kanker otak stadium akhir. Ia sangat sedih karena waktunya tak akan lama lagi. Ia sama sekali tak memberitahukan tentang penyakitnya itu kepada siapa - siapa, bahkan orang tuanya pun tidak.

2 bulan berlalu begitu cepat dengan rahasiannya. Terdengar kabar bahwa Hanief telah merajut kasih dengan Raisya, kabar itu membuatnya sedih. Ada lagi kabar yang membuatnya lebih sedih, yaitu kabar bahwa Raisya mengidap penyakit jantung. Suatu ketika saat pelajaran olahraga Nayla merasa sangat pusing, keadaan sekitarnya semakin gelap dan ia pun pingsan. Teman - temannya segera membawanya ke rumah sakit. Saat dokter memeriksakan penyakitnya, Nayla sadar.

“Dok…apa waktu aku udah tiba?”

“Jangan ngomong gitu…”

“Dok apa jantung aku baik - baik aja?”

“Jantung kamu baik - baik aja, kecuali…”

“Kecuali otak aku?”

“Ya…”
“Aku gak mempermasalahkan itu…dok tolong donorin jantung aku buat sahabat aku, Raisya…dia juga dirawat di sini kan?”
“Tapi apa kamu gak mau memanfaatkan waktu kamu semaksimal mungkin?”
“Cepat atau lambat kematian pasti akan datang. Tolong berikan surat ini buat Hanief dan Raisya.”
“Ya…Kamu yakin dengan keputusan kamu?”

“Ya…tolong sampaikan kata sayang saya untuk semua orang yang datang, terutama ke-2 orang tua saya.”

Pendonoran pun dilakukan. Kini Nayla tersenyum bahagia dalam alam baka. Semula dokter menyembunyikan hal ini, tapi akhirnya ia tak kuasa memendamnya dan mengungkapkan hal itu, sambil menyerahkan sepucuk surat dari Nayla. Tak kuasa Hanief dan orang - orang yang ada di situ menahan tangis ketika mereka menyadari bahwa Nayla yang mendonorkan jantungnya, apalagi saat ia membaca sepucuk surat dari Nayla yang isinya…

berteriak dalam kebungkaman

menangis dalam senyum

duka dalm cita

dunia ini penuh kepura-puraan

 

cintaku terbelenggu

tertahan padam

terjebak dalam pilihan kelam

cinta atau sahabat

 

menatap sebuah kenyataan

tersirat apa yang akan terjadi

kepedihan terlalu bersahabat

menutup semua celah kebahagiaan

 

egois hati tak ingin kau pergi

bayangmu terlalu melekat di benakku

namamu terukir dalam di hati

andai kau mengerti

 

rebahkan lelah di hati

hampa terkurung sepi

hari-hari penuh penat

sekejap lari dan pergi

 

tiada kata terucap

tetes air mata berderai

terucap janji dalam di hati

aku selalu ada

Tinggalkan Komentar