KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Benang Raja

Dahulu kala, Bakti Danadyaksa adalah bintang berkilau yang senantiasa kupandangi tanpa rasa jemu. Ia adalah awan biru setinggi langit yang kerap kubawa dalam mimpi.

Tapi sekarang ia menjelma manusia yang paling kubenci di seluruh muka bumi. Semenjak ia menjadi mimpi buruk yang tak pernah kuingini, tepatnya sebulan yang lalu.

“Nggun, menurut Ayah Bakti cocok untukmu. Bagaimana pendapatmu?”

Jantungku hampir berhenti berdenyut. Jangankan mengutarakan pendapat, mendengar namanya saja aku sudah tak mau.

Kulirik Ibu yang seperti biasanya tak banyak bicara.

“Maksud Ayah, Bakti putra Om Ardi?”

“Siapa lagi Bakti yang kau kenal? Seharusnya kau panggil dia Mas, usianya kan sepuluh tahun di atasmu,” Ayah mengoreksi.

Aku tak hendak berpendapat. Jika Ayah sudah mengeluarkan kata-kata positif tentang seseorang, angin topan pun takkan mengubah pendangannya. Aku hanya ingin tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Ibu bersuara, “Bakti akan meminangmu, Nak.”

Petir benar-benar meledak sekarang. Ini pengumuman, bukan pertanyaan. Semestinya Ibu berucap Bagaimana kalau Bakti berniat meminangmu, Nak? Tampaknya orangtuaku sudah memberi persetujuan. Ayah juga tidak keberatan sama sekali. Dan ini artinya perintah.

“Ayah,” kuhela nafas yang mendadak sesak. “Kenapa saya? Kenapa bukan Mbak Bening?”

“Karena Bakti memilihmu. Ia menyukaimu. Om Ardi juga setuju.”

Aku pasti salah dengar. Ayah tentu sedang berkelakar. Ia hanya ingin menggodaku. Ia tahu bahwa di masa lalu, aku pernah begitu mendambakan putra sahabatnya itu.

Namun begitu kutatap matanya, tak kutemukan kekeliruan sedikit pun. Ayah mengucapkan kata demi kata dengan kesadaran penuh.

“Apakah..Ayah punya utang lama dengan Om Ardi?”

Pertanyaan itu langsung membakar amarah beliau. “Darimana kau punya pikiran seperti itu, Anggun?”

“Karena ini terlalu tiba-tiba. Karena masih sulit bagi saya untuk menerima bahwa Ayah dan Om Ardi menghendaki saya menikah dengan Bakti.”

“Ini berawal dari bincang-bincang teman lama,” Ibu menjelaskan, menenangkan Ayah yang tampak siap menyemburkan kemurkaan padaku. “Kedengarannya klise dan kuno, tapi percayalah, tidak sedikit pun terlintas dalam benak kami untuk mengorbankan anak yang mana pun sebagai penebus utang atau balas budi.”

Aku menggeleng-geleng. Apa gerangan yang telah kuperbuat hingga harus mengalami semua ini?

“Anggun, dengarkan Ayah,” kini Ayah angkat bicara. “Sebagai orangtua, Ayah dan ibumu tidak tahan melihat kesendirian dan penderitaanmu sepeninggal Mahija.”

Bibirku gemetar. “Saya hargai itu. Sangat. Tapi tahukah Ayah mengapa saya nampak begitu menderita? Karena saya tidak dapat dan tidak pernah mencintai lelaki sebesar cinta saya pada Mahija. Dan tidak ada yang lebih berarti bagi saya dibandingkan dia.”

Setengah berjingkat, Mbak Bening memasuki kamarku.

“Nggun, semakin kau mengingat Mahija semakin sedih Ayah dan Ibu. Relakanlah dia.”

“Aku masih berusaha,” kutekan kening yang terasa berat. “Tapi Ayah tidak sabar. Demi Tuhan..apa salahku sampai ia menginginkan hal seperti ini terjadi?”

Mbak Bening duduk di sisiku. “Nggun, maksud Ayah baik. Aku juga ikut prihatin melihatmu berdukacita setiap hari.”

“Tapi mengapa harus Bakti?” aku menggertakkan gigi.

“Nggun, kau masih menaruh dendam padanya?”

“Kalau ada yang tidak kulupakan selain kematian Mahija, maka itu adalah keangkuhan Bakti yang kekanak-kanakan!” darahku menggelegak. “Dia pikir siapa dirinya..seorang pangeran? Penguasa dunia? Butuh waktu sangat lama agar aku tidak lagi membenci diri sendiri akibat kesalahan super fatal dengan mengharapkan dia di sisiku.”

Mbak Bening membisu.

“Mengapa dia tidak menjatuhkan pilihan padamu, wanita serba hebat?” aku berpaling pada kakak semata wayangku. “Ditinjau dari segala segi, Mbak jauh lebih layak menjadi menantu Om Ardi.”

Wajah cantik di hadapanku menegang.

“Ah ya, ada Mas Bayu,” aku teringat lelaki yang belakangan setia mendampingi Mbak Bening. “Aku saja yang naas, tidak punya teman dekat atau kekasih sehingga jadi sasaran empuk.”

“Aku yakin Bakti tidak berpikiran begitu.”

“Mbak mau tahu apa yang kupikirkan? Ayah sengaja menimpakan padaku. Ayah tidak rela putri cantiknya yang istimewa disandingkan dengan duda macam Bakti, Ayah ingin Mbak dapat yang terbaik! Yang orisinal!”

“Anggun!” Mbak Bening terperangah.

“Aku bercanda,” tawaku kering. “Seandainya Ayah mau mendengarkan aku sejenak saja..aku tak ingin menikah dengan Bakti walaupun ia laki-laki terakhir yang masih ada di dunia. Tapi kita berdua tahu bahwa pendirian Ayah sekeras cadas, bukan? Jadi, baiklah..”

“Apa rencanamu?”

“Aku akan membuat Bakti menyesal berkepanjangan.”

Setelah bersilat lidah dan meyakinkan Ayah bahwa ini yang terakhir kalinya, aku diperkenankan mendatangi pusara Mahija.

Air mataku tak tertahankan. Berada di dekat Mahija mengeluarkan naluri perempuanku, naluri kemanusiaanku. Bahkan tatkala ia sudah beristirahat dengan tenang seperti sekarang.

Dalam perjalanan pulang, sebuah toko kue yang megah membongkar sebagian kenangan pahitku.

Kue sebesar ini dapat dari mana, Ti?

Dari mana lagi?

Anggun? Tangkapanmu kali ini hebat juga. Sepertinya dia tergila-gila padamu.

Mungkin, biar sajalah. Tidak ada ruginya.

Bukan main playboy kita ini. Anak kelas 1 SMA pun bisa terpikat.

Aku tidak menjanjikan apa-apa. Hanya masalah waktu, dia akan tahu aku punya pacar.

Kasihan, Ti. Anggun kan lumayan manis.

Kalau dia mau sama kamu, ya ambil aja.

Bungkusan seserahan berderet rapi di atas pembaringan yang telah dihias. Seluruhnya berwarna biru menyejukkan. Bakti hanya tahu warna favoritku. Selebihnya, nol besar. Tak satu pun barang di dalam bingkisan ini yang kusukai. Mereka mengira semua benda indah ini dapat membeli hatiku. Orang menyangka aku merasa bangga dan beruntung karena diperistri putra tunggal seorang pengusaha besar yang sudah amat mapan. Semua predikat itu, plus penampilan fisiknya, membuat orang mengabaikan statusnya sebagai duda cerai dengan dua anak.

Aku yakin sekali Bakti dapat merasakan keenggananku yang tersembunyi dan bercampur dengan kebencianku padanya. Aku tak pernah tersenyum meski berkali-kali Bakti melayangkan kerlingan pada acara lamaran. Tak mungkin ia tidak tahu. Ia hanya tak punya cukup nyali untuk mengurungkan niatnya mempersuntingku. Sama halnya dengan Mbak Bening begitu mengetahui apa yang ada dalam pikiranku.

“Anggun, kamu jangan main-main. Ini ikrar suci, kalian akan mengucapkan ikrar di hadapan Tuhan!”

“Tuhan Maha Tahu bahwa aku terpaksa. Hanya Tuhan pula yang tahu apa sebenarnya yang ada di hati Bakti.”

“Kau gila. Ayah akan menganggapmu mencemarkan nama baik keluarga. Perbuatanmu akan merusak hubungan Ayah dengan Om Ardi.”

“Hanya itu yang kalian semua hiraukan? Kalian tak peduli aku mengikat diri seumur hidup dengan orang yang sudah lama kuharapkan enyah dari bumi. Orang yang telah membuatku kehilangan muka!”

“Nggun, lupakanlah..Bakti tidak sengaja melukaimu. Peristiwa itu terjadi lima belas tahun yang lampau.”

“Benar. Memang sudah lama dan akan kupastikan Bakti mengingatnya.”

Mbak Bening kehabisan kata-kata.

“Sudahlah Mbak,” kurapikan rangkaian melati yang menghiasi rambutku. “Mungkin harus begini jalan hidupku.”

Seminggu setelah menikah, Bakti memboyongku pindah ke sebuah rumah yang dihadiahkan orangtuanya. Aku berhasil berkelit dari bulan madu dengan menjadikan kesibukan pekerjaan sebagai dalih.

Sejak pekan-pekan pertama, aku menenggelamkan diri di ruang perpustakaan pribadi dan menghadapi naskah-naskah yang harus disunting. Aku sengaja membawa pekerjaan ke rumah. Terkadang Akas dan Citra, anak-anak Bakti dari istrinya terdahulu, menemaniku di ruangan itu. Mereka sangat manis, asyik membaca buku selama aku bekerja dan tidak membuat kegaduhan. Entah mengapa Bakti berpisah dengan Mbak Widati. Aku tak ingin tahu.

Berkat keberdayaan Bakti secara ekonomi, aku bebas dari tugas rutin rumahtangga. Masak-memasak, berbenah, mencuci, menyiram tanaman, semuanya ditangani tiga orang pembantu. Kutolak usul Bakti menyewa jasa seorang pengasuh, karena Akas dan Citra sudah besar. Lagipula aku dapat mengurus mereka seorang diri.

“Anak-anak suka sekali padamu,” Bakti berujar seraya menyeruput kopinya.

“Mereka baik, didikan ibunya juga baik,” aku menjawab.

“Kurasa sudah waktunya kau menjadi ibu.”

“Jadi sekarang kau yang menentukan waktuku? Kapan aku harus tidur, kapan aku harus berhenti bekerja, kapan aku harus..”

“Anggun,” Bakti memotong. “Kemarin Ibu bicara denganku, beliau sependapat. Kau akan menjadi ibu yang baik.”

“Karena Ibu, ya?” ulangku sinis. “Kau punya dua anak. Sudah cukup.”

“Tapi mereka bukan anak kandungmu.”

“Aku tidak mau!” kutentang pandangannya tajam-tajam. “Kukira sudah cukup jelas, aku tidak pernah ingin melahirkan anakmu.”

Bakti sudah hampir buka mulut, namun Akas muncul di ambang pintu.

“Akas mau pulang, Tante.”

“Mama sudah menjemput, Sayang? Yuk, Tante antar ke depan.”

Aku beranjak dari tempat duduk, menemui Mbak Widati.

Darahku tersirap menjumpai lelaki itu di ruang tamu. Hari namanya, sahabat Bakti sejak kecil. Temannya yang turut memperolok dan menertawakanku.

“Apa kabar, Nyonya Bakti? Kamu tampak segar.”

Ingin sekali aku menampar mulutnya. Tapi kukendalikan diriku.

“Bakti sedang mandi. Tolong tunggu sebentar.”

“Aku tahu. Tadi kutelepon dia sebelum kemari. Kulihat kamu belum menunjukkan tanda-tanda ngidam ya?”

Menyebalkan.

“Silakan duduk,” kataku saat Inah menyajikan minuman. “Maaf, saya harus ke kantor sekarang.”

“Sudah cantik, punya karir pula,” Hari berdecak. “Bakti benar-benar pintar memilih pendamping.”

Ya Tuhan, betapa aku ingin membungkamnya semenit saja.

Seminggu ini Bakti pulang larut malam terus. Aku tak pernah bertanya. Terngiang ucapan Mbak Bening ketika kami makan siang di restoran dekat kantor.

“Bagaimana kalau Bakti berpaling pada wanita lain karena sikap dinginmu? Kau akan sengsara.”

“Aku sudah sengsara sejak menjadi istrinya.”

“Kau belum jawab pertanyaanku.”

“Kalau itu yang terjadi, maka aku bebas. Aku yang akan mengajukan gugatan cerai.”

“Anggun, kau terlalu mudah mengucapkannya.”

“Memangnya apa lagi yang harus kulakukan? Bakti menginginkan aku, maka ia menikahiku. Kalau sudah ada wanita lain yang diinginkannya, ia tinggal melepaskan aku. Sederhana saja.”

“Ayah bisa kena serangan jantung.”

“Mbak, sudah terlalu banyak alasan untuk menerima Bakti dan mempertahankannya. Karena ia begitu baik di mata Ayah dan Ibu, karena Om Ardi sekeluarga sayang padaku, karena Ayah sakit, karena ini, karena itu..”

“Kau kira enak jadi janda? Kau masih muda, perkawinanmu baru seumur jagung.”

“Tidak apa-apa. Resikoku memilih orang yang pernah gagal berumahtangga. Anggap saja Bakti tidak belajar dari pengalaman.”

Bertolak belakang dengan sikap manisku pada Om Ardi dan seluruh keluarganya, setiap hari aku mencari masalah dengan Bakti. Keributan demi keributan kuharap membuatnya tidak kerasan berada di dekatku lalu mengakhiri perkawinan ini. Tetapi sialnya, Bakti memahami maksud terselubungku.

“Kau membuang energi dan waktu percuma, Sayang,” ia berkata. “Aku benar-benar mencintaimu. Itu sebabnya aku memperistrimu. Maka takkan kukabulkan permintaan sekecil apa pun yang akan memisahkanmu dariku.”

“Kau tidak akan bahagia karena aku tidak mencintaimu sedikit pun.”

“Masih terlalu dini untuk mengatakan itu.”

“Kau bercita-cita menaklukkan aku? Membuatku berubah pikiran? Itu takkan terjadi.”

“Anggun, apapun yang kau lakukan aku tidak akan menyerah. Kau berharap aku selingkuh? Tak akan ada perempuan lain. Kau akan buktikan bahwa tidak ada yang lebih baik dariku.”

Laki-laki besar kepala. Di hatiku tak ada tempat untuknya.

Aku tak dapat memejamkan mata. Kunyalakan lampu di sebelah tempat tidur. Saat menggapai tombolnya, foto pernikahanku tersenggol dan jatuh.

Kacanya tidak pecah, tetapi bingkainya terlepas. Ketika hendak memasang foto itu kembali, kutemukan sesuatu mengganjal di bagian belakangnya. Benda tersebut ternyata selembar foto lain yang ditempelkan terbalik. Foto Mbak Widati dan…Mahija!

Rasa kagetku belum pulih tatkala Bakti memasuki kamar.

“Semua orang sudah tahu, Anggun. Ia tak pantas mendapatkanmu.”

Perlahan-lahan aku berdiri. “Karena Mahija merampas istrimu, maka kau merasa jadi pahlawan bagiku?”

“Sama sekali tidak, Sayang. Ini teguran Tuhan untukku, sekaligus jalan dariNya untuk mendapatkan cinta sejatiku. Kau.”

“Hentikan rayuan omong-kosongmu!” tubuhku gemetar. “Kau sudah mengaturnya sejak awal. Kau..membunuh Mahija? Kau..yang menabrak motornya?”

“Aku tidak perlu melakukan itu,” Bakti tertawa lirih. “Tuhanlah yang menghukum dia. Kau telah diselamatkan dari sebuah pilihan yang keliru.”

Aku tak berkutik saat ia mendekat dan meraih tanganku.

“Sudah kukatakan, Anggun. Kau milikku. Tak ada yang mencintaimu sedalam cintaku padamu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu.”

Benang Raja = pelangi

6 Responses to “Benang Raja”

  1. on 14 Mar 2007 at 13:08Aris Cute

    Bagus…bagus…..

  2. on 14 Mar 2007 at 16:57Banhawy

    ceritanya sangat bagus dan juga menyentuh

  3. on 08 Sep 2007 at 06:44rinurbad

    Terima kasih, terima kasih:)

  4. on 01 Oct 2007 at 09:14Rina

    Ceritanya bagus…tapi akhirnya gantung?? lanjutannya dunk…apakah anggun akhirny mencintai bakti?? bakti bener2 tulus atau ga?? ditunggu yaa….thanks

  5. on 09 Apr 2008 at 21:12rara

    lanjutin donk !!!!!!!! harus harus dilanjutin pokoknya ditunggu kalau bisa kirim kepenerbit pasti banyak yang suka lanjutin……. bagus bagus banget!!!!, pokoknya titip dibikin happy ending ya si anggun harus mau sama bakti ya(maksa :) ) pokoknya dilanjutin ya SEMANGAT!!!!

  6. on 04 Feb 2009 at 09:19Fila

    Manis.
    Alurnya ga maksa
    dan akan lbh mnis jka ad lki2 lain yg mmbuat bkti cmbru

Tinggalkan Komentar