Sekali Lagi Tentang Cinta
Desember 18th, 2006 by Idris Siregar
Seperti gurun yang rindukan air
Dahaga kita menyusup jauh ke titik nadir
Apapun namanya sebut saja getir
Sebab cinta bak terasa mulai afkir
Begitupun selalu saja ada peluang
Jangan bilang senja ini jadi penghalang
Berjalanlah atau tepatnya biarkan kaki berpetualang
Sebab rindu begitu ramai berterbangan di jalan-jalan
Aku melirik waktu yang kini
kian tergesa-gesa menaburi ragam pilihan
Datang dan pergi kisahnya seiring musim
Menyanyikan angka-angka dalam almanak
Di mana kan berhenti ke mana kan berpijak
Adalah kita pemberi jawab
Sebab nurani masih menyisahkan tekad
Dalam benak kau dan aku
Maka, carilah peta agar kita
Dapat susuri gulita menuju wilayah imdah
‘tuk menunaikan rakaat kesetiaan
Menyempurnakan cinta ini
yang terbengkalai bertubi-tubi
Dikikis kilau duniawi
Diombang ambing gemerlap nafsu
Dikejar-kejar kenangan biru masa lalu
Dan aku di sini kerap menunggu pagi
Walau malam membuatmu sembunyi
Di balik sedu sedan dan sepi
Takkan usai buku rasa membasah
Tergenang berulang-ulang entah sampai kapan
Jika kita jua yang melayangkannya
Menjelma suratan panjang kehidupan
Tetapi mengapa jemarimu tak juga terurai
Padahal aku telah begitu utuh
Mengulurkan senyum seperti air di gurun
Melabuhkan kesejukan
Ke jantungmu berkali-kali
Ya berkali
Seperti gurun yang rindukan air
Akulah air di gurunmu… mengalir
Deli Serdang, 13 Desember 2006