Sajak Anak yang Terbuang
Desember 18th, 2006 by yabesh
Jalan ini masih panjang
Hawa bau dosa asa suram dan batu batu penyandung kaki menyatu
Lama akan begini nikmati pekat kebusukan dalam raga masih kencang
Dan mata menerawang kosong ke neraka pintunya menganga
Nikmati keakuan kebebasan keangkuhan keperkasaan kala detik detik bertanya
ini saatnya berhenti atau entah sampai kapan
Kami masih ada meskipun sampah wujudnya dan dunia kami tempat tempat sampah
diakui dan dilestarikan keberadaannya
Jalan ini masih panjang
Dongeng dongeng kami adalah kisah hidup kami dalam norma norma mengancam,
formalitas memuakkan: ” sergap raja sok idealis serta ratunya, robohkan benteng benteng
religiusitas tak kami butuhkan, penasihat penasihat gombal, pendidikan sok mendidik
bubarkan semuanya!” teriak rakyat jelata sesungguhnya kami anak anak muda
yang terbuang
Namun tak ada mendengar kami karna kami jauh, kosong, rendah, dingin, gejolak,
sampah, berteriak, darah, picik, tersisih, abnormalitas, aku, kami, figur yang salah, tangis,
setan, memilih, kayamiskin, dosa, dosa, dosa
Kami memang abu sebelum terbakar. Kami salah. Kami apakah
Namun waktu nurani sedikit saja, rasa saat kami ingin seperti kamu semua
Normal, ekspresi, api, jiwa, cerah, dan pengakuan
Ajari kami, tampung, bina, rehab, rehab ( kalau tak malu mengakui )
Bukankah jalan ini masih panjang?
Dan kami ada wahai penguasa dan hati yang menganga
Lihatlah!
Betapa kami ada untuk dirubah
bukankah jalan ini masih panjang?
september 2006