KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Life is Struggle

Nyaris tanpa rencana, aku aku buka komputer salah seorang teman akrabku, kudapati file film bertajuk “Ketika”, hasil karya produser, sutradara, sekaligus aktor senior Indonesia, Deddy Mizwar. Bumbu-bumbu kejenakaan membuat sinema itu tak menjemukan kendati sarat makna. Kisah seorang konglomerat ambisius namun collapse dan terjerat hutang saat krisis moneter menerpa Indonesia. Seluruh harta-bendanya disita, oleh dan atas nama negara. Kain pakaian yang melekat di tubuhnya, anak dan istrinya tak luput dari eksekusi sita. Memedihkan, tapi keluarga itu tak patah arang. Dengan bantuan keluarga pembantu rumah tangga setianya, ia kembali mencoba meniti hidup dari awal menjadi penarik bajaj demi mengepalai keluarganya.

Film berakhir, tiba-tiba ingatanku terantuk ke seorang pengusaha yang menjadi teman karena posisinya sebagai ketua umum di organisasi ekstra kampus yang sempat aku geluti. Beberapa minggu terakhir kantor perusahaannya tutup. Kerap lubuk hati bertanya-tanya, “apa gerangan?”

Dengan niat silaturahmi seraya cross check, mantap hati aku bertandang ke rumahnya. Turun dari sepeda motor aku disambutnya bak kawan yang lama tidak bersua. Memang semenjak organisasi itu mulai vakum, aku putus komunikasi dengannya. Beginilah interaksi masyarakat modern yang kontraktual dan penuh kepentingan.

Sepatah dua patah kata penuh basa-basi, khas orang Jawa, terucap sebagai pembuka percakapan, sebelum aku dipersilakan duduk di kursi kayu teras rumahnya. “Saya pailit” itulah kata yang terang aku dengar darinya. Partner-partner usaha kepercayaannya tak sanggup memegang amanat perusahaan yang ia nahkodai. Perusahaan terbelit hutang 800 juta rupiah sementara aset-asetnya justru disita para karyawan karena tunggakan gaji yang belum dibayar. Sebagai direktur, ia lah yang berkewajiban menanggungnya. Seluruh mobil miliknya harus terjual bahkan rumah yang ditempatinya kini, bukanlah hak milik lagi. “Status saya menempati rumah ini hanyalah penyewa” ucapnya datar.

Sejumput keterkejutan sejenak menyergapku. kendatii sudah kuduga, tapi tidak separah ini tentunya. Ceritanya cukup memiriskan hati. Namun satu hal yang membuatku kagum, sorotan matanya tetap menunjukkan ketegaran, entah hatinya. “Ya, sekarang saya harus memulai usaha dari awal lagi”, tukasnya seakan mengerti guratan pikiranku.

Terbersit dalam pikiranku, “bagaimana jika aku yang terdera ini?” entahlah aku tak kuasa membayangkan. Wong saat ini aku pun sedang bergelut dengan kondisi kenyang lapar itu. Bagiku keprihatinan dan kesusahan adalah laku biasa dan ringan, namun amat rumit bila telah ada “nyawa-nyawa” lain yang mesti kita tanggung?

Hari itu seakan apa yang telah kutonton dari “Ketika” mewujud nyata di hadapan mata. Hidup memang berat. Lantas karena berat apakah kita harus meninggalkan hidup? “Tidak”, teriakku lantang. Life is Struggle !!!

Tinggalkan Komentar