KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kisah Satu Malam

Kriiiiing. Suara alarm di pagi hari itu sangat menganggu. Dengan terhuyung-huyung aku bangun dari tempat tidurku dan mematikan alarm.

Huaaah. Hari apa sekarang? Aku berjalan menuju kalender kecil yang ada di meja. Hari Senin. Otakku otomatis mengingatkanku mata kuliah apa saja yang harus kuajarkan hari ini. Masih dengan mata mengantuk aku berjalan menuju cermin yang tergantung di dinding dan berkaca. Wajah yang terpantul di cermin adalah wajah seorang pria tampan, berambut hitam lurus, hidung mancung, dengan rambut acak-acakan baru bangun tidur. Saat aku sedang mengamati wajahkku di cermin itulah aku merasa kalau ada yang sedang mengawasi tingkah lakuku. Aku berbalik dan….

Oh rupanya Anda pembaca yang dari tadi mengawasi tingkah lakuku. Kenalkan namaku Dani, seorang dosen fakultas sastra inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Nah sekarang aku permisi dulu, karena aku harus mandi dan bersiap untuk pergi.

Selesai mandi aku langsung pergi mengajar. Tidak ada yang istimewa hari ini. Semua berjalan seperti biasa. Rutinitas. Ah, kadang-kadang aku lelah dengan semua rutinitas ini. Selesai mengajar aku langsung pulang untuk kembali bersiap melakukan pekerjaan sambilanku.

Sambil bersiul kecil aku memasukkan handuk, satu stel pakaian ganti, sabun cair, dan satu pak Durex ke dalam tasku. Anda mungkin heran apa pekerjaan sambilanku sehingga membutuhkan barang-barang seperti yang aku sebutkan di atas. Biar aku beritahu, tapi Anda jangan kaget, ya. Aku adalah seorang gigolo. Ya, benar, tidak salah lagi aku adalah seorang pelacur, pria panggilan atau apapun Anda mau memanggilku. Tapi bagiku ini adalah pekerjaan. Dan sebagai seorang profesional di bidangnya aku harus selalu mempersiapkan diriku dengan sebaik-baiknya, makanya aku selalu membawa banyak perlengkapan bila hendak pergi kerja sambilanku ini.

Anda mungkin heran mengapa seorang dosen sepertiku mau menjalani pekerjaan yang bagi sebagian orang adalah pekerjaan hina dan kotor ini. Jawabannya mungkin klasik. Uang. Anda tahu berapa besar gaji dosen lulusan S1 sebulan? Hanya satu juta lebih sedikit. Itu pun harus dipotong macam-macam potongan, sedang biaya kehidupan di Bandung ini tidak sedikit. Jadi begitulah, siang hari aku mengajar, malam hari, tidak setiap malam sih, hanya dua hari dalam seminggu, aku melacur.

Mungkin kata melacur kurang tepat. Karena sebenarnya yang kulakukan kadang-kadang hanya menjadi teman curhat wanita-wanita yang kesepian karena suaminya terlalu sibuk untuk memperhatikan mereka. Kalau kemudian dari teman curhat aku menjadi teman tidur wanita-wanita itu, aku tidak keberatan, karena bagaimana pun juga memang itulah pekerjaanku. Oh oh sudah jam tujuh, aku harus pergi sekarang.

Jam setengah delapan kurang. Bagus aku masih punya waktu setengah jam sebelum klienku datang. Dengan langkah santai aku berjalan menuju pintu masuk hotel melati di kawasan stasiun Bandung itu.

Di meja resepsionis ada seorang pria kecil berbadan tegap, berambut kribo sedang asyik mengisi TTS. Begitu melihatku datang dia segera bangkit sambil tersenyum lebar. ’Pagi sekali datangnya, Bang.’ Katanya dengan logat Batak yang kental dan menyerahkan sebuah anak kunci padaku. Aku tersenyum.

Bang Bolon, begitu nama pria itu. Pekerjaan resminya adalah resepsionis hotel melati itu, tapi dia juga nyambi sebagai managerku, dialah yang selama ini mencarikan klien sampai mengatur jadwal pertemuanku.

Sambil memutar-mutar anak kunci di tanganku aku berjalan menuju kamar paling ujung di lantai 1. kamar 110. Kamar ini letaknya agak tersembunyi jadi cocok sekali untuk dipakai sebagai tempat pertemuan dengan klienku.

Aku membuka pintu kamar. Udara harum dari dalam kamar langsung menyergapku. Kamar ini sebenarnya lebih cocok disebut ruang tamu. Ukuranya dua kali kamar standar yang disediakan hotel ini. Di tengah ruangan ada sebuah sofa panjang. Di depannya ada pesawat televsi dan VCD player. Di ujung ada sebuah kulkas kecil yang isinya selalu penuh dengan minuman dingin. Agak di ujung ruangan terdapat sebuah double size bed.

Aku tersenyum melihat keadaan kamar ini. Entah sudah berapa orang klienku yang kulayani di kamar ini. Dengan langkah ringan aku melangkah masuk. Menjatuhkan tasku di sofa dan mengambil minuman dingin dari kulkas.

Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum klienku datang. Ah aku jadi teringat pada pertemuan terakhir yang kulakukan di tempat ini.

***

Kamis, seminggu yang lalu.

Jam delapan kurang lima. Hari aku mendapat klien yang benar-benar on time rupanya. Padahal masih ada waktu lima menit lagi tapi kok dia sudah menunggu di kamar. Dengan terburu-buru aku menyusuri lorong dan membuka pintu kamar 110.

’Maaf, aku terlambat….’ kataku. Tapi kata-kata selanjutnya tidak jadi kuucapkan karena aku terlalu terkejut melihat siapa yang jadi klienku malam itu.

Di sofa duduk seorang wanita berambut panjang, berwajah oriental, berkulit putih. Dia tampak agak tegang terlihat dari caranya memegang tas di tangannya dengan erat. Rupanya wanita itu juga tidak kalah terkejut melihatku.

’Anita?’ kataku menyebut nama wanita itu.

’Bapak?’

Anita adalah salah seorang mahasiswaku yang terpandai. Dia adalah bintang kampus. IPK-nya selalu cum laude. Orangnya supel dan banyak kawan, disukai dosen dan mahasiswa. Tapi kenapa dia ada di sini sekarang?

’Maaf, sepertinya saya salah kamar.’ Kata Anita sambil berdiri.

’Sepertinya tidak,’ tukasku. ’Kamu sedang menunggu kedatangan seseorang bukan? Saya juga sedang menunggu kedatangan seseorang. Kenapa kamu tidak duduk dulu dan kita tunggu sama-sama saja?’

Anita kembali duduk. Aku menjatuhkan tasku di sofa dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil sekaleng minuman dingin. ’Mau?’ aku menawarinya.

Dia menggeleng. Aku perhatikan dia semakin tegang. Cengkraman di tasnya semakin menguat.

’Nanti tasnya rusak lho.’ Kataku, setengah bercanda.

’Hah?’

’Itu.’ Kataku sambil menunjuk ke arah tas yang dia terus pegang di pangkuannya.

’Oh.’ Dia tersenyum malu.

’Sudah lama menunggu?’ tanyaku sambil mengambil tempat di sebelahnya.

Dia bergeser menjauh. ’Lumayan,’ jawabnya singkat dan terus diam. Kepalanya tetap tertunduk.

’Kamu baru pertama kali ya ke sini?’ tanyaku setelah beberapa lama kami saling diam.

’I…iya. Bapak?’

Aku tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaannya. ’Sudah hampir dua tahun.’

’Oh.’ Dan terus diam.

Aku juga ikut diam. Rasanya aneh karena biasanya aku berhadapan dengan Anita di ruangan kelas sekarang aku berhadapan dengan dia sebagai klien.

’Kamu nggak salah tempat datang ke sini?’ tanyaku akhirnya.

’Memang kenapa?’ dia balik bertanya.

’Ya…..kamu tahu sendiri. Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk orang seperti kamu.’

’Apa maksud Bapak?’ dia balas bertanya.

’Kamu tahu kan ini tempat buat mereka yang ingin mencari kelepasan. Atau mereka yang ingin memuaskan diri mereka. Bukan tempat mahasiswa teladan seperti kamu.’

’Jadi cuma karena saya mahasiswa teladan saya tidak berhak berada di sini. Begitu?’

’Bukan begitu maksud saya. Tapi bayangkan kalau ada orang tahu mahasiswa teladan seperti kamu ada di tempat seperti ini.’

’Dan bayangkan juga kalau dosen sebuah universitas terkenal di Bandung adalah seorang pelacur.’ Balas Anita.

Aku terdiam. Anita juga diam.

’Maaf, saya tidak bermaksud menghina Bapak.’ Akhirnya Anita berkata.

’Nggak apa. Lagi pula saya tidak menganggap diri saya sebagai pelacur. Saya ini cuma penolong bagi wanita-wanita yang datang kemari.’

’Maksud Bapak?’ Anita tampak bingung.

’Menurut kamu kebanyakan wanita yang datang kemari untuk apa?’ aku balas bertanya.

’Untuk mencari kepuasan.’

’Dalam hal?’

’Ya. Bapak tahu sendiri.’

Aku tertawa kecil melihat wajah Anita memerah. ’Kamu benar. Tapi itu cuma sebagian.’

Anita tampak bingung.

’Sebagian besar wanita yang datang kemari bukan untuk mencari hal seperti itu. Mereka datang untuk mencari seorang pria yang mau mendengarkan mereka. Pria yang mau memperhatikan mereka, tanpa mereka harus merasa bersalah karena melakukan perzinahan.’

’Jadi maksud Bapak, Bapak nggak pernah ’begitu’ dengan wanita yang datang kemari?’

’Nggak juga. Biasanya setelah mereka merasa puas, yang ’begitu’ bisa terjadi.’

Anita kembali diam.

’Sekarang kamu mengerti kan. Apa yang terjadi di tempat ini tidak semata-mata hubungan yang ’begitu’. Kadang-kadang kami hanya ngobrol. Sebenarnya tempat ini seperti ruang praktek dokter. Sembilan puluh persen wanita yang datang kemari adalah mereka yang mencari jawaban atas masalah mereka. Dan Sembilan puluh persen dari mereka menemukan jawaban mereka di sini.’

Anita tetap diam. Aku bangkit dan mengambil kaleng minumanku yang kedua. Untuk sesaat seprtinya dunia berhenti berputar. Tidak ada suara sedikit pun di kamar ini. Akhirnya kebekuan ini dipecahkan oleh Anita.

’Apa Bapak bisa membantu saya?’ tanyanya.

’Tergantung apa masalahnya,’ jawabku.

Kembali diam mengisi ruang kosong di antara kami.

’Pak,’ kata Anita dengan suara lirih. ’Saya mau minta bantuan Bapak.’

Aku tersenyum.

’Ceritakan. Saya mendengarkan.’ Kataku sambil mengambil tempat di sampingnya.

’Menurut Bapak, saya orangnya seperti apa?’ tanya Anita.

’Kamu orangnya baik dan pintar,’ jawabku. ’Kritis lagi. Kamu juga cukup supel dan menyenangkan. Dan…begitulah.’

’Jadi menurut Bapak, saya itu anak alim begitu?’

’Tergantung definisi alim itu apa dulu.’

’Alim dalam arti tidak pernah melakukan sesuatu yang nakal atau melanggar hukum.’

’Kalau begitu ya.’

Anita menghela napas. Kembali dia terdiam.

’Saya datang kemari karena saya ingin membuktikan kalau saya tidak seperti yang orang lain kira,’ kata Anita lirih. ’Selama ini orang selalu mengangap saya anak baik, penurut. Sedang saya sendiri merasa terbeban harus menampilkan kesan itu terus menerus. Saya ingin membuktikan kalau saya tidak sebaik itu. Kalau saya juga bisa nakal. Saya bisa melakukan sesuatu yang orang tidak bayangkan sebelumnya. Tapi saya tidak berani melakukannya. Apa kata orang nanti?’

’Anita,’ kataku lembut. ’Apa kata orang terhadap kamu bukan urusan kamu. Yang perlu kamu lakukan sekarang cuma menetapkan tujuan dan melakukannya. Itu saja.’

’Tapi saya tidak bisa, Pak.’

’Dengar. Apa yang terjadi di kamar ini tidak ada orang lain yang akan tahu. Saya janji. Kalau kamu terus seperti itu, tidak berani melakukan apa yang kamu mau, kamu selamanya akan tersiksa dengan perasaan kamu.’

Anita tidak menjawab.

’Ya, terserah kamu.’ Kataku sambil bangkit dari tempat dudukku. Kembali dunia seperti berhenti berputar. Waktu seakan menjadi sesuatu entitas yang diam. Suara menjadi sesuatu yang langka.

’Pak,’ panggil Anita. Kali ini suaranya berbeda. Lebih mantap dan percaya diri.

Aku berbalik dan melihat diri Anita yang biasa kulihat di kelas. Anita yang penuh percaya diri. Aku tersenyum.

’Pak,’ katanya mantap dan tenang. ’Saya sudah memutuskan. Saya kemari untuk tidur dengan seorang gigolo dan saya akan melakukannya.’

’Baiklah.’ Kataku sambil berjalan ke arahnya.

***

Jam delapan kurang lima.

Tok tok tok.

Ah rupanya klienku sudah datang. Nah pembaca, sepertinya aku harus permisi dulu. Terima kasih karena sudah mendengarkan ceritaku. Selamat malam.

Aku berjalan menuju pintu dan membuka pintu. Seorang wanita berwajah oriental dan berambut panjang tampak berdiri di depan pintu.

’Masuklah.’ Ajakku pada Anita.

Tanpa banyak bicara Anita masuk sementara aku mengunci pintu di belakangnya.

Bandung, 28 November 2005

2 Responses to “Kisah Satu Malam”

  1. on 05 Jul 2008 at 06:49ajie

    terima laki laki gak…? guwe butuh laki-laki.

  2. on 14 Sep 2008 at 21:16satya sembiring

    seru banget ceritanya. diawali dengan gaji hanya satu koma lebih
    untung gaji gw 4 koma lebih jadi gak sampai begini

Tinggalkan Komentar