Di meja itu lalat masih berputar putar. Gelas dari bibir Nola itu pun tidak di sentuh. Dia masih berputar putar mencari tempat untuk mendarat yang tepat. Ada genangan air sedikit yang memang di buat Nola agar mereka hinggap di sana. Lalat itu pun menurut, mereka mendarat di genangan air. Begitu mudah terpancing.
Nola masih setia menunggu. Dia selalu pintar dalam membuat sesorang bergantung padanya. Pancingan pancingannya selalu tepat. Di tempat kerjanya Nola adalah seorang monster yang harus di hindari. Kecepatan dalam berpikir selalu menelurkan ide ide gila. Seorang yang di tunggunya adalah sebaliknya orang yang sangat penyabar dan pendengar yang baik. Lelaki itu Misnar.
Di kejauhan tampak Laki laki itu melangkah santai sambil di tangannya ada sebatang rokok. Perawakannya biasa dengan tubuh yang normal tidak sporti. Raut wajahnya mencerminkan kematangan yang luar biasa. Nola tersenyum ketika melihat sosok orang yang ditunggu telah datang. Tidak biasanya Misnar telat.
“Sudah lama menunggu,” sapa Misnar
“Ya lumayan. Untung aku di temani oleh Lalat. Tidak biasanya kamu telat kenapa?”
“Pekerjaan ku banyak temanku banyak yang tidak masuk.”
“Bagaimana apakah tekadku kamu dukung sesuai dengan sms ku kemarin kepada mu?”
Misnar tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir serius. Sambil di hisapnya rokoknya tadi.
“Jangan, semua itu ada jalan yang terbaik untuk menyelesaikan, kasihan dengan anak anak mu. Setiap persoalan selalu ada jalan keluarnya. Apalagi hanya persoalan mengenai uang.”
“Apakah kamu tidak ingin bersatu dengan aku? Aku mau walau kau jadikan isteri keduamu. Disamping itu hubungan kita ini sudah berjalan satu tahun.” Ujar Nola sambil memegang tangan Misnar.
“Terima kasih engkau telah memberi kepercayaan kepada ku. Tapi sejak semula kita berkomitmen bahwa perselingkuhan ini bukan di akhiri di atas ranjang. Kita sepakat kalau kita hanya berbagi cerita , betul tidak?”
“Ya betul. Tapi aku sudah pusing dan tidak cocok lagi dengan suamiku yang selalu memperhitungkan keluar masuk uang. Padahal aku selama ini tidak pernah di beri uang sama sekali. Aku makan dan pakaian dari gajiku sendiri. Sedangkan hanya anak anak yang selalu di santuni olehnya.”
“Sebenarnya itu sudah dari cukup . Karena Suamimu masih mau melihat kebutuhan anak anaknya. Banyak di luaran Gaji Suami di makan sendiri untuk foya foya .“
“Yang diberikan anak anak itu seperlima dari gajinya semua. Yang empat per lima nya di kemanakan. Aku juga nggak tahu,” kata Nola kesal
“Tanyakan terus terang kepada suamimu.”
“Sudah aku tanyakan tetapi selalu marah bila di tanyakan.”
“Apakah Suamimu kalau pulang tepat waktu?”
“Dia itu kalau mengenai waktu selalu disiplin, bila ada keperluan mendadak dia selalu kirim sms ke aku.”
Misnar memutar otak . Dia selalu dapat penyelesaian bila ada persoalan yang rumit . Tapi dengan persoalan Suami dari Nola ini menempuh jalan buntu. Simpul simpul syaraf yang selama ini di latih untuk memecah masalah tidak dapat di gunakan . Dilihatnya Lalat itu selalu berdenging denging di sekitar tangannya. Kemudian melihat wajah Nola yang halus dan mulus. Selama ini Dia belum pernah menyentuh wajah Nola. Walaupun mereka sudah berhubungan satu tahun .
“Aku yakin kalau Suami kamu itu mempunyai rencana yang tidak ingin kamu ketahui. Dia kayaknya mempersiapkan kejutan untuk mu. Bersabar aja.”
“Dari dulu saran kamu selalu bersabar tidak ada penyelesaian yang baik. Bagaimana kalau Dia tidak mempunyai rencana. Uang dari gajinya itu di berikan ke simpanannya misalnya.”
“Apakah kamu tahu kalau Suami kamu selingkuh?”
“Tidak. Cuman aku merasa kayak gitu aja.”
“Sudahlah, walapun demikian Dia adalah Suami dari anak anakmu. Kamu harus hormati dan sayangi.”
“Apakah kamu sudah tidak sayang lagi sama aku?”
Di hisapnya rokok Misnar dalam dalam. Hidup ini penuh liku liku. Jerat perselingkuhan seperti Misnar membuat Dia bingung. Walaupun perselingkuhan Misnar tergolong aneh. Perselingkuhan yang didasari saling menyayangi tapi tidak di akhiri dengan persetubuhan. Misnar merupakan tipe Laki laki yang kuat dalam memegang prinsip. Perselingkuhan mereka dapat dikatakan sebagai Persahabatan. Dia hanya memenuhi hasrat untuk saling bertukar kisah .Bahkan rumah masing masing pun tiada yang tahu.
“Aku masih seperti dahulu. Seperti waktu kita pertama kali bertemu. Mungkinkah aku datang kemari jika aku tidak sayang dengan kamu.”
Nola tersenyum bahagia. Dia wanita yang haus akan kasih sayang. Sosok wanita karier yang tidak puas dengan perilaku Suami. Sudah setahun ini perhatian terhadap Suaminya sudah berkurang. Perhatiannya kini hampir tercurah kepada Misnar. Pria yang ada di hadapannya sekarang. Padahal selama ini Misnar hanya memberikan perhatian dan tidak memberikan tubuhnya. Nola teringat pertemuan pertama dengan Misnar di pesawat. Waktu itu Seorang Pramugari menegur agar memakai sabuk pengaman karena keasyikan ngobrol.
***
Sudah tiga bulan Misnar dan Nola tidak mengadakan pertemuan karena jadwal Misnar padat untuk keluar kota. Semula Nola menolak tetapi akhirnya Nola pun menyetujui. saran Misnar untuk bersabar terhadap suaminya. Dalam sebulan kehidupan Nola sudah mulai kembali pulih seperti sedia kala.
Ternyata dugaan Misnar benar. Suami Nola memberikan kejutan saat ulang tahun perkawinan mereka. Nola diberikan hadiah sebuah rumah untuk persinggahan di daerah perkebunan. Rumah itu tidak terlalu besar tetapi sangat asri. Kedua anak mereka Niko dan Lala pun sangat gembira dengan rumah itu.
***
Sudah lima belas menit Nola menunggu Misnar. Kemarin Misnar Sms kalau Dia ingin bertemu di tempat biasanya. Saat yang paling menegangkan untuk Nola. Karena hampir tiga bulan penuh mereka belum pernah bertemu lagi. Kehidupan keluarga Nola sudah mulai normal. Sedangkan Dia tidak dapat melupakan Misnar. Terbayang wajah Misnar yang kalem penuh dengan kesabaran.
“Maaf Bu. Ada surat titipan tadi pagi,” Kata seseorang kepada Nola.
“Terima kasih.”
Surat itupun dibuka oleh Nola.
Dear Nola,
Sebelumnya Aku minta maaf . Karena hari ini tidak bisa datang. Dan mungkin untuk selamanya. Karena aku telah menyadari bahwa kita telah bermain dengan air laut yang tidak ada batasnya, semakin dalam kita bermain maka akan tenggelam. Mudah mudahan engkaupun menyadari hal itu.
Surat ini sengaja aku tulis agar aku tidak menatap wajahmu yang sangat menyentuh kalbu. Ada semacam arus listrik yang sangat kuat bila aku memandangmu. Dan arus itu tidak akan dapat di putus oleh manusia siapapun kecuali oleh pembuat arus.
Nola, Suamimu dan Isteriku adalah tipe tipe orang yang sangat setia. Mereka selama ini tidak mengetahui hubungan kita. Mereka tidak menyadari kalau kita telah bermain dengan Api. Dan anak anak kita yang masih polos itu pun belum mengetahui.
Dalam hampir setahun ini kita telah menjalin hubungan. Kita telah tahu karakter kita masing masing. Dan hampir saja perjalanan perselingkuhan kita terjebak dalam Lumpur Lumpur nista.
Semoga engkau memahami isi surat ku ini. Aku mengucapkan terima kasih karena selama ini engkau telah meluangkan waktumu untuk bersendagurau dan bertukar kisah denganku. Aku juga akan memaafkanmu dari lubuk hati paling dalam. Biarlah gemuruh hati ini hancur saat ini dari pada rumah tangga yang kita bina puluhan tahun akan hancur. Kenangan yang terindah yang kita rengkuh akan aku jadikan album kenangan yang tak terlupakan. Jadikanlah perselingkuhan kita ini menjadi perselingkuhan yang terakhir.
Salam manis
.
Misnar
Selesai membaca Nola langsung mengambil handphone yang ada di tasnya. Dia cari nomor dari Misnar. Dipencetnya nomor itu, terdengar nada jawaban “Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar” .(Magelang, 2006)
penulis mengambil sebuah permasalahan perselingkuhan dari citra di masyarakat yang terjadi sekarang ini. tapi di cerita ini perselingkuhan yang terjadi adalah perselingkuhan lain dari pada yang lain . saya melihat dari ilustrasi yang di tawarkan begitu segar dan idenya tergolong baik.