Di Dadanya Kamar Tidurku
Desember 18th, 2006 by aanmansyur
perempuan itu
di dadanya kamar tidurku;
kasur seempuk peluk
selimut selembut kabut
di sana ia pejamkan keteganganku
dengan ninabobo semerdu doa ibu
juga ia tiupkan sebuah mimpi
tentang taman tanpa buah terlarang
dan ular mendesis
kecuali tangis
bayi yang renyah
sementara aku tertidur, ia pelan berjalan
ke padang tempat ksatria berperang
ia terkesima keperkasaan kuda mereka
dan tangannya cedera oleh pedang
ia menangis terisak, terguncang-guncang
membangunkan aku tiba-tiba
ia merajuk minta direngkuh
hingga benang-benang hujan reda
dan matanya tinggal genangan bening
dua telaga yang menghapus semua dahaga
lalu ia tuntun aku kembali ke tempat tidur
melelapkan aku dengan dongeng
tentang sepasang kekasih
mati dan menjelma bunga selasih
juga, sekali lagi, mimpi
tentang bayi yang menangis
namun saat aku lelap
dalam senyap ia melayap
ke hutan mencari pemburu
mengagumi busur dan anak panah
menggores keningnya dan berdarah
ia terisak, terguncang membangunkan aku
lalu minta cinta berdekap-dekap
lalu aku tertidur
lalu ia melanglang ke gunung, ke laut,
ke kota, ke mana-mana,
di luar tidurku
lalu ia menangis terguncang
lalu aku terbangun dari mimpi
yang tak pernah sampai
lalu aku lelap
lau ia mengendap-endap
lalu ia menangis
lalu aku redakan tangis
lalu di mana bayi yang menangis?
permainan cinta dan rasa sakit
berganti-ganti seperti siklus musim
hingga tak lagi mampu aku pahami
mengapa aku putuskan tetap terlelap
di dadanya dan terkesiap setiap ia meratap
perempuan itu,
sungguhkah aku mencintainya
atau mencandui rasa sakit mencintainya?
2006