KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mendoakan Doa-doa

“Brengsek! Gue sumpahin lo cepet mati!”

Blash… akhirnya aku keluar juga dari mulut anak berandal itu. Aku naik ke atas langit, perlahan-lahan, aku melayang-layang. Tapi aku tidak bisa terbang lebih tinggi. Entah apa yang membuatku susah untuk bisa segera bertemu Tuhan. Agar aku bisa segera dikabulkan oleh-Nya.

Selama beberapa menit sendirian di angkasa, aku merasakan kesepian. Hanya bisa melayang-layang saja. Ada tabir yang tidak nampak yang membatasi aku untuk bisa segera bertemu Tuhan.

Aku melihat ke bawah, ada bayangan anak berandal yang tadi mengeluarkan aku. Apa yang dia kerjakan masih dapat kulihat jelas. Dia melayangkan satu tinju ke wajah teman yang tadi dimakinya.

“Cuih…” temannya itu meludah, “semoga elo hidup sengsara selamanya!”

Blash… ada lagi doa yang keluar. Kali ini dari mulut teman anak berandal itu. Dia juga melayang-layang. Sama seperti aku, dia juga tidak bisa terbang lebih tinggi. Terantuk oleh tabir yang tidak nampak.

Dia menghampiriku, “hei… mengapa kita tidak bisa menuju Tuhan?” ujarnya setengah kesal.

“Aku tidak tahu,” jawabku seadanya.

Dia berdecak kesal. “Paijo kurang ajar! Seenaknya saja dia mengeluarkan aku sampai aku melayang-layang tidak keruan begini!”

“Siapa itu Paijo?” tanyaku.

“Temannya Tomi si anak berandal itu! Majikan kamu!” jawabnya ketus.

Aku melihat kembali ke bawah. Paijo sudah tersungkur tidak berdaya. Tapi dia belum mati, mulutnya masih mengerang kesakitan. Tomi tersenyum puas. Ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya lalu pergi meninggalkan Paijo.

Tidak lama kemudian beberapa warga setempat datang untuk memberikan pertolongan kepada Paijo.

“Paijo sudah sekarat! Sebentar lagi juga mati!” ujar doa si Paijo, “seharusnya kamu dalam perjalanan bertemu dengan Tuhan.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena kamu adalah jalan menuju kematian Paijo,” jawabnya, “kalau kamu bertemu Tuhan maka Paijo mati dan berarti kamu sudah dikabulkan oleh-Nya.”

“Kau hebat, kau bisa tahu banyak hal,” ujarku.

“Walaupun Paijo nakal, tapi dia juga mengerti agama dan otaknya juga ngga bego-bego amat. Tidak seperti majikanmu!” timpalnya.

“Hmm… sepertinya kau tahu sekali tentang Tomi.”

“Tentu saja! Paijo dan anak berandal itu sudah berteman sejak kecil!”

Setelah berkata demikian, kami terhanyut dalam diam dan sunyi. Hanya melayang-layang saja sangat membuatku jenuh.

Aku melihat ke arah bawah kembali. Di tempat tadi Paijo sekarat, ada dua orang gadis. Yang satu berjilbab dan yang satu lagi dikuncir kuda. Mereka memakai pakaian berwarna putih dan rok abu-abu.

“Sudahlah, Ver, Tomi memang anak kurang ajar. Berani sekali dia buka-buka jilbab kamu di depan kantin,” ujar gadis kuncir kuda. Ia merangkul temannya yang sedang menangis tersedu, “perbuatan Tomi itu udah termasuk pelecehan! Kita harus segera melaporkan dia ke Kepala Sekolah!”

“Ngga usah, Tin,” gadis berjilbab angkat bicara, “lebih baik dia kita doakan saja.”

“Didoain apaan? Tuh anak udah sering bikin onar! Bahkan tadi pagi gue dengar dari teman-teman kalau Tomi udah mukul Paijo sampai babak belur! Dia pantasnya didoain biar cepat masuk neraka!”

Blash… muncullah satu doa lagi, sekarang dari gadis kuncir kuda itu. Dia juga melayang-layang seperti aku. Doa dari gadis itu juga terhalang tabir dan tidak bisa menuju Tuhan. Dia nampak tidak sabaran lalu melayang berputar-putar dengan kesal.

Aku melihat ke bawah kembali. Gadis berjilbab mulai menyeka wajah, menghapus air mata lalu menasehati temannya.

“Tin, istigfar. Jangan berkata seperti itu. Kalau aku lebih berharap agar Allah bisa membukakan pintu hatinya sehingga Tomi bisa kembali ke jalan yang benar.”

Blash… ada satu lagi doa yang keluar. Kali ini keluar dari mulut gadis berjilbab. Tapi anehnya doa gadis berjilbab itu tidak terbentur tabir seperti kami. Ia tidak melayang-layang dengan lama. Perlahan-lahan ia melesat lalu dengan cepat pergi semakin ke angkasa, melintasi kami bertiga.

“Hei!” teriakku pada doa gadis berjilbab, “hendak kemana kau?!”

“Aku akan segera bertemu Tuhan untuk segera dikabulkan,” jawabnya.

Dia sudah semakin jauh di atas kami. Aku memperhatikan dia pergi dengan bebas melayang semakin menuju Tuhan. Akh… betapa nikmatnya bila bisa segera bertemu Dia. Aku menjadi iri pada doa sang gadis berjilbab. Tuhan harus berapa lama aku melayang di sini? Mengapa kami tidak bisa melaju semakin ke angkasa? Apa sebab, Ya Tuhan? Apa sebab?

“Berhenti!” tiba-tiba sebuah suara berseru ke arah doa gadis berjilbab. “Kamu tidak bisa segera bertemu Allah.”

Aku, doa si Paijo dan doa gadis kuncir kuda sangat heran dengan suara itu. Yang jelas-jelas menghentikan langkah doa gadis berjilbab. Lalu suasana menjadi sangat terang. Cahaya-cahaya bermunculan, sangat indah, menari-nari di angkasa. Membentuk siluet-siluet keagungan-Nya.

“Siapa kamu?” tanya doa gadis berjilbab.

“Akulah takdir,” jawab suara di balik cahaya-cahaya, “Allah telah menggariskan jalan hidup Tomi. Seumur hidup dia tidak bisa insyaf. Ia akan semakin menjadi berandalan. Jauh dari agama.”

“Tapi bukankah aku bisa merubahnya?” tanya doa gadis berjilbab, “yang bisa merubah garis takdir adalah aku.”

“Allah belum memberikan izin,” jawab suara cahaya itu kembali, “gadis yang mengeluarkan kamu harus lebih giat beribadah lagi. Lebih bersungguh-sungguh mengeluarkan doa.”

“Jadi? Bagaimana nasibku?” tanya doa gadis berjilbab sendu.

“Aku akan menemanimu. Kita akan bertarung di sini secara halus. Jika gadis itu mengeluarkan doa yang sama berkali-kali baru aku bisa dikalahkan.”

“Bagaimana jika gadis berjilbab itu tidak mengeluarkan doa yang sama kembali? Apa yang akan terjadi padaku?”

“Kamu akan menjadi pahala untuk gadis itu.”

Doa gadis berjilbab itu mengangguk lalu masuk ke dalam cahaya-cahaya.

* * *

Aku masih melayang-layang entah sudah berapa lama. Tapi di tempatku bermakam kini sudah sangat penuh sesak. Banyak sekali yang keluar dari mulut orang-orang yang membenci Tomi.

“Anak ngga tahu diri! Suka ngelawan orang tua! Elo bisa kualat! Hidup elo ngga bakalan berkah selamanya!”

“Mati aja lo! Hidup lo cuma bikin orang susah!”

“Astagfirullah, Ya Allah… berikanlah peringatan untuknya.”

“Sebagai Bapak Kepala Sekolah, saya sudah tidak kuat menghadapi dia. Kalau saja dia bukan anak donatur sekolah kita, pasti sudah saya depak keluar sekolah. Semoga saja orang tuanya cepat bangkrut biar dia jadi orang susah. Biar ngga semena-mena lagi!”

“Pergi kamu! Dasar laki-laki buaya! Gue sumpahin mata elo biar buta sekalian!”

“Kapan, sih, kamu bisa sadar, Tom? Kayaknya kamu mesti dikasih penyakit lumpuh dulu sama Allah. baru bisa sadar!”

Dan banyak lagi doa-doa yang berseliweran di sekitarku. Sampai-sampai aku tidak bisa berjumpa dengan doa si Paijo dan doa si gadis kuncir kuda. Suara bergumam-gumam ribut berdengung dari para doa itu. Mereka mengeluh mengapa tabir penghalang begitu susah dibongkar.

Aku masih di tempat yang sama saat aku melihat Paijo dipukuli oleh Tomi. Di tempat itu saja sudah banyak doa datang bagaimana dengan tempat yang lain?

Aku melihat ke bawah kembali. Ada dua orang sedang berjalan kaki. Yang satu seorang remaja laki-laki. Aku hapal sekali kalau itu wajah Paijo. Ternyata dia sudah sehat. Di sebelah Paijo adalah pria separuh baya dengan memakai sorban dan kopiah. Mereka berdua menghentikan langkah kemudian terlibat dalam sebuah perbincangan.

“Nah, kita berpisah di sini,” ujar pria berkopiah, “oh iya, bagaimana dengan luka di kepala kamu? Keasyikan ngobrol fiqih, saya jadi lupa bertanya.”

“Alhamdulillah, Pak Ustadz, sekarang jahitan di kepala saya sudah bisa dilepas,” ujar Paijo.

“Syukurlah kalau begitu, Jo,” ujar Pak Ustadz, “lain kali jika ingin berteman akrab, carilah yang benar, terutama dalam hal agama. Insya allah pergaulan yang baik itu akan membawa dampak yang baik buat kita.”

“Iya, Pak Ustadz, tapi…” Paijo mengambil jeda sejenak, “apakah saya harus menjauhi Tomi?”

“Tidak,” Pak Ustadz menepuk pundak Paijo, “kamu tidak boleh memusuhinya. Kamu tetap berteman dengannya namun jangan terlalu akrab. Teruslah berusaha untuk mengajak Tomi kepada jalan Allah dan jangan lupa doakan Tomi.”

Paijo mengangguk, “iya, Pak. Ngomong-ngomong Bapak masih di sini? Tidak langsung pulang?”

“Saya janji dengan istri saya mau mengantarnya ke rumah kerabat. Untuk menghemat biaya dan tenaga, saya bilang sama dia kalau saya menunggu di sini.”

“Oh… Kalau begitu saya permisi pulang dulu, Pak. Assalamualaikum.”

“Walaikum salam, hati-hati, Jo,” jawab Pak Ustadz.

Sepeninggal Paijo, Pak Ustadz itu terus berdzikir. Asma-asma Tuhan yang menggema. Melintasi aku dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Dzikir-dzikir itu melintasi tabir, melintasi takdir. Mereka langsung berjumpa dengan Tuhan. Aduh… aku jadi semakin merindu menatap-Nya.

Selang berapa lama, Pak Ustadz sudah terlihat gelisah. Kemudian dia menyenandungkan shalawat-shalawat badar. Indah sekali di dengar. Rasanya nyaman dan damai. Seperti membelai-belai kejenuhan yang ada padaku.

Pak Ustadz itu pun lalu mendongak ke atas. Seolah rindu pada Penciptanya. Aku melihat matanya, sungguh jernih sekali, aku melihat wajahnya sungguh teduh dipandang. Pak Ustadz itu lalu tersenyum seolah kepadaku.

“Mas… mas!” tergopoh-gopoh seorang Ibu menghampiri Pak Ustadz, “lihat apaan, sih, di atas?”

“Eh… kamu sudah datang,” jawab Pak Ustadz, “aku sedang mengagumi indah langit ciptaan-Nya. Kamu darimana saja? Kenapa lama sekali datang?”

“Oh… itu, tadi di jalan ketemu sama Bu Ratmi, penjual nasi uduk di depan gang rumah kita itu,” ujar Bu Ustadz, “tadi Bu Ratmi cerita tentang Tomi.”

“Tomi?”

“Iya, anak berandalan itu! Kata Bu Ratmi, setiap Ibu-Ibu yang beli nasi uduk di tempatnya selalu ngomongin kelakuannya Tomi. Bu Ratmi sampai pusing menerima keluhan para pelanggannya.”

“Ya sudahlah, jangan dibicarakan lagi, nanti takut ghibah, lho, Bu.”

“Astagfirullah. Iya, Ibu, sih tidak ikut-ikutan menjelek-jelekkan Tomi, Pak. Cuma Ibu kasihan sama Tomi.”

“Kasihan kenapa, Bu?”

“Kata Ibu Ratmi, sudah banyak sekali yang mendoakan Tomi macam-macam. Mereka doain Tomi cepat matilah, didoain biar sakit keras, biar hidupnya ngga berkah, biar lumpuh total, pokoknya semuanya mencaci maki Tomi.”

“Masya Allah. Kalau orang yang sesat itu seharusnya didoakan yang baik-baik, dong Bu,” Pak Ustadz menggelengkan kepala kemudian dia mengadahkan tangan. “Ya Allah… hapuskanlah doa-doa buruk yang diberikan kepada Tomi. Ya Allah, berikanlah dia jalan yang lurus. Jalan yang Engkau Ridhoi. Amin.”

Blash… doa dari pak Ustadz itu muncul. Mengapa sekujur tubuhku tiba-tiba merinding? Karena doa itu sangat berbeda dengan doa yang lainnya. Doa itu menggumpal cepat menimbulkan energi yang sangat kuat. Sampai getarannya terasa seakan mengguncang angkasa.

Insting kecilku berteriak! Aku harus segera lari. Harus segera pergi. Akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan nanti. Aku harus selamatkan diri. Tapi di sini sangat sesak. Susah untuk melesat pergi. Doa-doa yang lain juga sama kacaunya dengan aku. Kami semua panik. Bingung melangkah, kami pun saling berbenturan satu sama lainnya.

Sementara doa dari Pak Ustadz mulai merangkak naik ke angkasa. Menghampiri kami semua di sini. Bergumpal-gumpal semakin membesar. Ia hendak melahap kami! Inikah akhir nasibku? Padahal aku belum bertemu Tuhan!

Doa itu semakin melebar, merengkuh segala yang ada di sekitarku. Terjangannya semakin kuat, ia bergerak sangat cepat. Satu per satu doa di sekitarku dia lahap. Mereka menghilang. Sampai ujung doa itu menyentuhku. Menyeretku pada ruang hampa. Semakin hampa… aku semakin menghilang… kata per kata pada kalimatku menjadi remuk. Ya Tuhan jadi begini akhir petualanganku di angkasa? Ya Tuhan! Ya Tuhan!

* * *

“Heh! Ustadz busuk! Kalau jalan pakai mata dong! Kalau elo meleng terus gue sumpahin elo cepet mati!”

Blash… akhirnya aku keluar lagi dari mulut Tomi. Tapi Ya Tuhan… kali ini aku ditujukan kepada Pak Ustadz yang kemarin.

“Maaf, Tomi, saya, kan tidak sedang jalan. Saya sedang memungut paku yang ada di jalanan ini,” jawab Pak Ustadz.

“Elo kurang kerjaan, ya, Pak? Elo Ustadz apa pemulung?! Pake acara mungut-mungutin paku!” decak Tomi masih kesal, “gue, kan, jadi nabrak elo!”

“Aku melihat kamu berjalan dari kejauhan. Paku payung ini begitu banyak bertebaran di jalan. Saya tidak ingin kamu terluka, Tom,” jawab Pak Ustadz tenang.

Tomi terdiam. Ia menatap tajam ke wajah Pak Ustadz. Entah apalagi yang akan dikatakannya. Semoga dia membuat teman untukku. Jenuh bila harus melayang-layang sendirian seperti ini.

//Tamat//.

Tinggalkan Komentar