Lenyap…
Desember 16th, 2006 by Hortenshia
“Arina… Dimana kamu sayang? Kamu menghilang bagai ditelan bumi saja… apa saja yang kau lakukan???” Hanya satu kalimat itu saja yang kutulis di e-mail, “Sialan!” Makiku dalam hati. Aku menyandarkan diri di kursi. Sesekali kumainkan jariku di atas keyboard lagi, “Arinaaa… kapan kamu pulang? Masih ingat tidak saat pertama kali ketemu? Itu lho, pas kita sama-sama jadi suporter basket sekolah. Waktu itu seru banget ya. Terus kita ternyata satu extrakulikuler. Ternyata kita juga tetangga! Tapi sekarang kamu pergi gitu aja dihadapanku… Kok hilang… kemana kamu???” Aku mengedip-ngedipkan mata sebentar. Mataku mulai lelah.
Arina, gadis manis yang polos dan lugu. Kami bertemu tanpa sengaja. Tepatnya saat itu kami jadi supeorter klub basket sekolah kami. Kami yang masih anak baru tak saling mengenal satu sama lain. Kemudian kami tanpa sengaja selalu saja bertemu. Kelompok selalu bersama, kegiatan juga bersama, belajar juga jadi bersama. Arina juga tetangga baru sebelah rumah. Jadi tambah akrab. Kamipun jadi sahabat baik.
Sebenarnya Aku seorang gadis tertutup yang selalu merasa orang-orang disekitarku tak dapat diajak kompromi. Aku benci sekali… Benci sekali pada mereka. Karena aku merasa mereka tak pernah mau mengerti aku. Akupun juga pada awalnya benci dengan Arina. Aku benci anak-anak yang bisa akrab orang lain sebegitu mudahnya. Karena mereka sendiri tak pernah mau mendekatiku seperti layaknya dia mendekati anak-anak lain. Dulu aku memiliki sahabat terpecaya. Namun ia mengkhianatiku berkali-kali. Sehingga aku semakin tak percaya pada orang lain. Tapi dia berbeda. Dia baik sekali. Dia mau mengulurkan tangan padaku. Walau aku pernah menyakitinya berkali-kali karena dia selalu mencampuri segala urusanku. Tapi pada akhirnya aku luluh juga
Yaaah, itu kejadian 5 tahun yang lalu. Saat kami baru kelas 1 SMU. Dimana masa-masa indah aku lewati bersama dia. Benarkah itu? Tapi 3 tahun lalu, dia menghilang dan lenyap begitu saja dihadapanku. Kami satu kuliah di Inggris. Progam kami sama, namun tempat tinggal dan universitas kami berbeda. Kami masih bisa saling kontak kok. Semua berjalan lancar. Sampai kemudian 2 bulan setelah itu, dia lenyap dihadapanku. Ia berjanji akan jalan-jalan bersamaku untuk menjelajahi Brighton. Namun aku menunggu dirinya berjam-jam, ia tak kunjung datang. Dihubungi tidak bisa, bahkan aku mendatangi asramanya, tapi dia tak kunjung datang. Sakit hati ini rasanya. Sampai sekarang gadis itu masih menghilang dihadapanku.
“Arina… Kamu nggak lupakan janjimu untu mau ngajak aku jalan-jalan keliling kota Brighton kan? Aku sebal lho. Aku jadi semakin membencimu. Kamu lawan atau kawan? Duniaku makin kelam, Arina…”