KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Relawan Sejati

“Lekas naik kita mau berangkat !”Teriak pimpinan relawan dari desa gempol

Dengan sekali teriakan. Semua langsung naik ke Truk diesel. Wajah lugu mereka menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Tidak semua orang yang dapat menjadi relawan seperti mereka. Di samping luangnya waktu dan keikhlasan yang harus ada pada diri seorang relawan. Kebanyakan dari mereka adalah petani , pedagang, tukang batu dan pengangguran.

Hawa sejuk menyelimuti desa gempol. Diiringi jalannya matahari keluar dari persembunyiannya. Mereka sudah siap berangkat ke daerah gempa yang baru melanda di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.

“Pak ini nasinya ketinggalan!,” teriak Narti kepada suaminya.

“Tidak usah di bawa Bu, nanti kan ada yang memberi makan,” kata Parjo

“Sudahlah Pak, bawa aja”

Akhirnya Parjo pun mengalah dengan isterinya. Dia membawa bekal makanan untuk makan siang di tempat kerja nanti. Semua temannya melihat kepada Parjo, seakan akan mereka iri akan kasih sayang yang diberikan Isteri Parjo. Sebelum berangkat mereka berdoa, mengheningkan cipta kepada Allah Swt, agar di berikan keselamatan dan amal kerjanya di terima di sisiNya.

Derum suara Trukpun mulai terdengar. Waktu yang di butuhkan antara Desa Gempol dan tempat tujuan kira satu setengah jam.

***

Ketika sampai ke Tujuan Pimpinan kelompok memberikan petunjuk bahwa nanti kalau bekerja berkelompok 2 orang dalam satu rumah kecuali bila di perlukan dengan yang lain. Wajah wajah korban bencana tersenyum gembira ketika relawan datang. Hanya orang orang inilah yang selama ini membantu pekerjaan para korban bencana. Yaitu menyingkirkan sisa sisa reruntuhan Rumah mereka.

Kesetiakawanan dan persaudaraan itulah yang di tonjolkan para relawan. Mereka dengan tersenyum bila mengerjakan sesuatu. Tidak pernah mengeluh. Dan tidak memungut bayaran. Bahkan kadang kadang merekalah yang mengeluarkan sebungkus rokok.

“Mas Parjo, yang disini masih banyak Mas batunya,” kata Eko seorang korban bencana .

“Oh ya sebentar Mas Eko,” sahut Parjo.

“Ya mudah mudahan orang seperti Mas Parjo dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”

“Amin, “sahut Parjo

“Sekarang ini saya baru tahu kalau ada bencana alam , banyak orang orang yang sengaja memanfaatkan korban bencana .”

“Maksud Mas Eko?”

“Ya banyaklah Mas Parjo, seperti contohnya sebelum kami dapat bantuan, harga mie didaerah sini aja sampai 4000 per bungkus.”

“Walah kok tega ya Mas”

“Belum lagi sekarang. Karena bangunan di daerah sini banyak yang roboh coba nanti kalau pulang Mas Parjo lihat di toko bangunan. Harga semen aja kan melonjak di bandingkan dengan daerahnya Mas Parjo”

Parjo pun tercenung mendengar penuturan Eko si korban bencana alam. Saat itu Parjo teringat kata kata Kakeknya.

“Parjo, jadi orang jangan suka membodohi orang kecil. Nanti hidupnya akan sengsara. Walaupun kenyataanya makmur tapi banyak penyakit yang akan menggerogoti tubuh. Terutama penyakit Tamak.”

Sinar Matahari siang ini tidak sempurna sinarnya. Mendung mengelayuti di tubuh Matahari. Banyak sekali reruntuhan dirumah Eko. Di bantu Parjo membersihkan. Juga materialnya banyak yang hancur. Seperti genting yang tidak dapat di pakai lagi.

“Mas Parjo makan dulu,” ajak Eko sambil mencuci tangannya .

“Oh iya , Mas Eko”

“Makan seadanya ya. Di sini makanan paling banyak ya Mie. Maklum dari bantuan yang datang banyak sekali Mie”

“Terima kasih Mas Eko. Saya tadi kebetulan sudah dibawakan nasi sama isteri saya”

Hati Eko terharu. Mas Parjo ini membantu tanpa dibayar masih sempat membawa makanan sendiri. Yang membuat takjub Eko adalah ketulusan Parjo. Bila disuruh selalu dikerjakan . Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan dengan senang hati membantu .

“Sudah tiga hari ini Mas Parjo ikut membersihkan rumah kami. Kalau di rumah Mas Parjo kerjaannya apa?”tanya Eko

“Kalau saya sih Petani kecil kecil an, Mas.“

“Saya sangat berterima kasih sama Mas Parjo yang jauh jauh mau datang ke sini untuk membantu,” kata Eko tulus

“Setiap orang yang terkena musibah harus dibantu ,”

“Tapi tidak semua orang mau kan’”kata Eko

Parjo terdiam. Dia hisap rokok nya dalam dalam. Masih dalam ingatannya ketika mendengarkan radio terdengar suara tembang dhandanggula.

Jroning nampa pepesthen puniki

Wajibira mung nuhoni dharma

Apan wus dadi kodrate

Lelaku jro lumaku

Titi tata tatag ing batin

Nggayuh yuning bebrayan

lahir trusing kalbu

Mula lumaku makarya

Antepira sepi pamrih lahir bathin

Makarya tan akarya

( Didalam kita menjalani hidup ini, sesuai dengan

kodratnya kita hanya nuhoni dharma, melaksanakan

kewajiban sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia

karena itu dalam setiap perbuatan kita harus menyadari

untuk bekerja dan bekerja tanpa pamrih, bisa

diupamakan makaryo tan akaryo artinya kita berbuat

sesuatu tetapi kita tidak merasa membuat sesuatu yang

kita harapkan hasilnya )

“Mas Parjo , Tolong kesini sebentar ,” kata Sato relawan yang lain.

“Ada apa ?”

“Ini bantu angkat lemari besar ini.”

“Baik,”sahut Parjo

Lemari jati kepunyaan Pak Seno ini memang Jati tua. Dan anehnya dia tidak rusak kena hantaman Tembok . Bobotnya sangat berat sekali. Mengangkatnya pun harus 6 orang. Ketika diangkat posisinya sudah terlentang . Bukan berdiri seperti layaknya lemari lain. Mungkin karena kena hantaman tembok yang runtuh dan goyangan gempa beberapa hari yang lalu.

“Mas Parjo, sudah makan?”tanya Sato

“Sudah.”

“Kamu sudah makan,”

“Sudah, makan Mie tadi di tenda Pak Seno.”

“Kasihan Pak Seno Mas”

“Kenapa?”

“Dia kehilangan anaknya yang kecil, sehingga orang nya menjadi perasa “

“Maksudmu?”

“Aku tadi di tanya sama Pak Seno, Dik Sato apakah ini nanti dipungut biaya?”

“Terus kamu jawab apa”

“Ya Enggak lah. Wong kita ini kan Relawan,”sambil tersenyum bangga

“Betul ”

“Tapi aku tadi dirumahnya Pak Buang di sebelah sana , sempat di marahi” ujar Sato

“Kenapa?”

“Karena aku salah membuang aja”

“Ya yang sabar, jangan diambil hati”

“Iya Mas, resiko kita”

Parjo tersenyum. Kasihan Sato . Sato adalah seorang remaja , dia masih bujangan dan pengangguran tapi tidak malas. Dia kalau di kampung terkenal dengan ringan tangan. Bila minta tolong sama si Sato ini , Asal perutnya di kasih telo dan Kopi dia sudah berterima kasih. Dan Dia tidak pernah minta imbalan uang.

Saat matahari mulai tenggelam ke bumi , semua relawan naik ke mobil Truk yang telah di sediakan oleh pamong Desa. Kembali ke rumah masing masing. Dan membawa cerita yang tak terlupakan untuk anak cucunya. (Mertoyudan, 2006)

One Response to “Relawan Sejati”

  1. on 15 May 2007 at 18:38sakura

    keren bgt untuk sebuah cerita nyata… jadi inget temen yang sesama relawan yang rela memperjuangkan hidupnya demi keselamatan orang lain,,, tanpa pamrih

Tinggalkan Komentar