KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Menyesal….

Mengapa hanya bintang dan bulan menemani malam?

Apakah mentari begitu membenci malam?

Atau malam terlalu angkuh meski tetap saja kelam?

Pertanyaan ini berputar-putar dalam benakku. Inikah suratan takdir bagiku yang selalu sendiri, tapi terlalu egoiskah aku mengatakan “Aku ini sendiri dalam dunia ini.” Nyatanya banyak orang lalu lalang mengisi hari-hariku, ada juga orang yang menyayangiku, lalu apa yang kucari dalam hidup ini? Sampai malam bergulir dan berganti pagi aku belum tahu apa jawaban yang pasti.

Kupandang dari jendela kamar pagi ini nampak begitu indah, udara terasa segar, burung berkicau dengan riang, dan daun-daun berhias titik embun. Pertama aku takjub melihat, lalu tak lama kemudian aku mulai iri karena alam begitu riang kenapa diriku tidak? Aku lalu umpat semua “Kenapa engkau begitu bahagia sedang aku begitu berduka? Apakah engkau tertawa dengan penderitaanku? Apakah engkau senang dengan apa yang aku alami?” Hembusan angin pagi mulai berhembus kuat seolah menjawab semua pertanyaanku. “Hai alam! Aku tak tahu apa arti dari hembuan anginmu?” Angin kembali berhembus dengan kuat namun aku kembali tak mampu menterjemahkannya. “Sudahlah kau tak usah menjawab, jawabanmu juga takkan menenangkan hatiku!” Aku berbalik membelakangi jendala, menuju tempat yang paling kusuka–diantara ruangan lain di rumahku–yaitu kamar mandi. Disinilah aku sering merenungkan jawaban apa yang kucari dari segala pertanyaan yang ada dalam benakku–dan dari ke hari semakin bertambah.

Setelah 1 jam pelajaran di “surga rumahku” aku keluar dengan tubuh basah dan hanya berbalut handuk, aku langsung menjatuhkan tulisan dalam buku catatanku

Perempuan?
“Wahai perempuan makhluk terindah didunia
Entah apa yang mengganjal
Aku selalu menghadap dua jalan Tak punya pedoman untuk sebuah kepastian

Kata kebanyakan begitu indah
Terlalu lama begitu lengah dan lemah
Dan aku-pun semakin tak mengerti kapan datang untuk pergi

Kapan kembali lalu berpisah lagi
Lagi-lagi begitu ramaikan hatiku, cuma hatiku”

Entah roh siapa yang menuntun, tapi tulisan itu begitu cepat melesat dalam setiap baris buku catatanku. Aku tak peduli paling penting tulisan itu laku untuk dijual dan mampu menyambung setiap hembusan nyawaku.

Jalan begitu lengang, bahkan Pak Somat yang biasa sudah menyusuri jalan untuk menawarkan bubur, tak nampak batang hidungnya. Hanya terlihat orang gila, dan lagi-lagi aku iri padanya. Ia begitu bebas. Meski tubuhnya sangat dekil, namun terlihat bersinar menerangi kebutaan pagi. Kenapa bisa ia begitu lepas tanpa beban mengikat. Unsur kemanusiaanku – yang selalu iri – muncul kembali.

Ada sesuatu menghantam diriku dari belakang. Tubuhku terasa ringan, melayang menuju suatu tempat yang damai.

Kakiku kembali menjilati jalan dan kali ini tanpa beban, ringan, dan terasa pepohonan berjajar rapi mempersilahkanku untuk berjalan. Di ujung Jalan Soedirman langkahku terhenti sejenak. Aku melihat sekumpulan anak, begitu nyenyak, terkulai, dan membiarkan dingin udara pagi menusuk-nusuk kulit legamnya. Dimana orangnya tua mereka? Mereka hanya terlihat terlelap berbagi mimpi bahagia, tak ada sesosok ibu yang menemani atau sosok Ayah melindunginya. Aku menjadi tersadar bahwa nasibku masih lebih beruntung dari pada mereka. Meski aku dan mereka sama-sama sudah tak punya “penunjuk arah” untuk langkah menuju masa depan, paling tidak aku sudah diberi bekal supaya mampu menaklukkan kehidupan. Sungguh tak tahu diri aku ini, selalu mencerca kepada-Nya karena telah merebut orang-orang terpenting dalam hidupku. Aku seharusnya mampu bersyukur.

Arah pandanganku tiba-tiba terarah menuju ke seberang jalan, tertuju pada sosok remaja yang kukenal dengan nama Budi. Ia teman seperjuanganku menantang kejamnya dunia. Tetapi itu dahulu, saat ia belum terlalu pintar seperti aku. Sekarang otaknya begitu brilian, entah apa yang membuatnya begitu. Segala sesuatu menjadi mudah untuknya, bahkan sangat jelas terlihat otaknya penuh dengan rumus senyawa kimia, rumus fisika, dan rumus-rumus ilmu eksakta lain yang tak kutahu namanya. Lama aku menatap dengan penuh iri. Ia juga terlihat menelajangi tubuhku dengan tatapan bengis dan sinis khas para ilmuwan. Tidak! Ia tidak menatapku, memang ia memandang kearahku tapi tatapan itu kosong. Tatapan itu seperti tak ada tujuan. Tatapan itu tak bertuan. Ia seperti orang gila! Bukan! Ia bukan orang gila. Otak brilian yang kubenci itu hilang? Ia berjalan kearahku sambil berteriak “Temanku, engkau akan tetap kuanggap menjadi temanku. Jika engkau membenci otakku sesungguhnya aku juga membencinya! Aku tak punya pilihan, tak seperti engkau! Mempunyai beribu pertanyaan yang membuatmu tetap hidup” Dari arah barat muncul truk berkecepatan tinggi menyapu kebencianku dan hanya meninggalkan onggokan tubuh Budi temanku. Orang-orang lalu berhambur menuju jasad dengan nyawa tinggal “sekarat” itu. Inginku mendekat dan menolong tapi kaki seperti terbawa menuju suatu tempat. Aku hanya berharap Budi mampu bertahan dengan nyawanya itu.

Otot-otot kakiku mulai lelah dan terhenti didepan sebuah gedung pertunjukan. Samar aku mendengar suara perempuan yang sudah kukenal. Aku mulai mendekat masuk kedalam gedung. Sungguh benar perkiraanku, aku kenal dengan pemilik suara yang kudengar. Ia Ida, perempuan yang selalu menemaniku, perempuan yang mampu membuatku sedikit tenang menghadapi kehidupan, perempuan yang mampu menunjukkan jarinya bila aku memang bersalah – tidak seperti orang di lingkunganku yang sebagian besar Jawa dan terkenal dengan beribu basa-basinya. Bila kalian tanya mengapa aku begitu dekat dengannya maka aku tak akan tahu jawabannya, karena semua ini terjadi secara alami dan manusiawi. Ia tak begitu cantik tetapi cukup untuk memikat hati para kaum adam. Suara lantangnya lama-kelamaan mulai pudar. Gemuruh tepuk tangan mengalir. Ida tersenyum simpul. Aku mulai jatuh cinta padanya! Senyum itu yang kutunggu. Senyum itu begitu menanti. Senyum itu …….. Disertai tangis. Tangis bahagiakah? Sambil tersedu Ida berkata, “Untuk kawanku Bhima. Temanku mengarungi hidup. Sahabat untuk berbagi. Engkau telah berkendara dengan empat roda manusia. Engkau tinggal onggokan raga. Aku hanya mampu berdoa. Satu yang inginku katakan ‘aku sebenarnya bukan hanya ingin ramaikan hatimu tapi juga hidupmu’ Maafkan aku terlambat untuk mengerti”

Mendengar ucapan Ida tubuhku seperti tertarik kembali. Kulihat Budi dimasukkan kedalam Ambulance. Lalu terlihat anak-anak berkulit legam itu memainkan alat musik sederhana di perempatan. Terakhir terlihat gambarku dibawa seorang anak kecil mengiringi di depan sebuah keranda. Cahaya begitu terang menyerang mataku. Segalanya putih. Tubuh ringan melayang. Pikiranku terbesit betapa angkuhnya aku mendapat segala kenikmatan. Hanya penyesalan yang menutup lembaran pertanyaan-pertanyaan dalam pikiranku.

Mei, 2005 (Teruslah gali makna hidup sedalam mungkin. Tetapi janganlah engkau abaikan nikmat yang telah engkau dapatkan. Janganlah gunakan penyesalan menjadi penutup lembaran kisah hidupmu. Cukup aku yang seperti ini)

One Response to “Menyesal….”

  1. on 17 Dec 2006 at 18:33eDay

    Namun,
    Apakah ada kehidupan yang lebih indah dari pada yang menikmati alam mimpi,,?

    Cinta ‘N Damai Selalu Dari Kami Cilegon People “BANTEN”

Tinggalkan Komentar