Halte dan Jam Tangan Tua
Desember 15th, 2006 by dhank Ari
Oleh : Ari Harisman
Janjinya, dia akan datang di halte ini.
Pagi-pagi sekali, Nora sudah bersih-bersih badan, bersolek sekian lama di depan cermin dan membayangkan seluruh hal-hal indah tentang lelaki itu. Lelaki itu janji akan datang di sebuah halte di sekitar Manggarai, tak jauh dari anak kali Ciliwung. Halte itu memang sudah sering mereka pakai sebagai tempat bertemu. Halte itu sudah menyaksikan beberapa kali pertemuan antara Nora dan lelaki itu. Tak pernah terlalu lama. Paling-paling, hanya 10 kalimat perjumpaan dari mereka berdua kemudian mereka pergi, entah kemana. Pertemuan itu selalu pagi dan tak pernah ada pertemuan di waktu-waktu yang lain, termasuk malam.
Nora begitu bersemangat menyiapkan diri, selalu begitu. Nora selalu bersikap seakan-akan ini adalah kencan pertama dimana dia harus tampil dengan sebaik mungkin. Padahal, sudah berkali-kali dia pergi kencan dengan lelaki bernama Said ini. Nora membasuh badannya berulang kali dengan sabun termahal yang pernah dijual di toko sebelah rumah. Parfumnya pun sangatlah mengundang orang untuk menyatakan bahwa Nora begitu wangi sekali, wangi yang elegan dan tidak asal wangi yang biasanya menyengat hidung orang. Bedaknya pas. Sisirannya pas dan segalanya pas, tak kurang dan tak lebih. Mungkin Nora sadar bahwa dirinya hanya memiliki kekayaan dan tidak memiliki kecantikan fisik layaknya seorang model yang cantik. Dia hanya tidak ingin Said kemudian pergi setelah melihat dirinya yang begitu apa adanya. Pertemuan pertamanya dengan Said adalah ketika seluruh polesan ini memang sedang tertempel di sekujur tubuhnya. Jadi, bersoleklah Nora, setiap kali akan bertemu dengan Said. Seluruh peralatan kecantikan memang dia punya, namun sayang, Nora tetap tidak cantik.
Nora tetap tidak cantik. Dia hanya kaya karena ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses dan terpandang. Dengan uang dan kenyamanan, Nora hadir sebagai seseorang yang terawat sekali. Tak ada bagian-bagian tubuhnya yang tidak bisa dia rawat. Lalu dia pun beranjak remaja dan kemudian dewasa. Layaknya perempuan lain, wajar jika Nora kemudian mengharapkan ada lelaki yang mau menemani hari-harinya. Namanya juga manusia, yang memang sudah diciptakan untuk saling berpasangan. Mimpilah Nora setiap malam tentang sebuah hubungan cinta. Jutaan kisah pun dia coba reka-reka, hanya untuk menyenangkan hatinya.
Ketika Nora sedang asyik mengarang kisah-kisah cinta di dalam benaknya, sebuah pesta digelar ayahnya untuk memperingati ulang tahun Nora yang ke dua puluh tiga. Ayahnya membuat sebuah pesta taman dimana semua relasi ayahnya diundang hadir. Sebagai pengusaha terpandang dimana orang-orang selalu mengincarnya untuk diajak kerjasama, maka banyak sekali orang-orang yang menyengaja untuk hadir di pesta itu. Banyak penjilat-penjilat berdasi dipesta itu. Mereka tersenyum, tertawa dan menyantap seluruh makanan dan minuman dengan terlalu sopan.
Nora tidak suka dengan semuanya itu. Meski Nora dibesarkan dengan kehidupan layaknya bangsawan, seluruh jalinan hubungan formal dan penuh kemunafikan itu terasa janggal saja di hatinya. Ada juga diantara hubungan itu yang memang didasarkan atas rasa pertemanan ataupun persaudaraan, tapi Nora melihat bahwa sebagian besar hubungan itu terjalin atas dasar bisnis belaka.
Nora kemudian dikenalkan dengan banyak orang, dengan banyak pemuda yang tak lain adalah anak-anaknya, keponakan-keponakannya atau bahkan saudara-saudara jauhnya orang-orang yang merupakan relasi ayahnya itu. Mereka semua berpakaian rapih dan sopan sekali dengan tata krama yang seakan sudah diajarkan setiap hari. Ada yang cukup tampan dan ada juga yang tak begitu tampan. Yang jelek pun menjadi tak begitu tampan karena pakaian yang dikenakannya, dengan sikap yang diusungnya.
Tak ada yang sreg di hatinya. Nora malah terkesan dengan seorang lelaki yang berdiri gagah, berpakaian serba putih yang sedang menunggui salah satu bilik, tempat dimana minuman soda disajikan. Lelaki itu selalu tersenyum pada setiap orang yang mengambil minuman dan dengan cekatan mengganti setiap jengkal gelas yang kosong dengan gelas berisi minuman yang baru.
Sengaja atau tidak, lelaki itu kemudian tersenyum ke arah Nora. Nora kaget setengah mati. Jika saja, Nora tidak diajarkan setiap harinya bagaimana bersikap sebagai seorang putri, dia tentu sudah kalang kabut hari itu. Tapi Nora tetap bersikap dingin dan lembut, meski dalam hatinya berkecamuk sebuah perasaan yang sulit dia jelaskan di hari itu. Seorang lelaki tersenyum ke arahnya dengan cara yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Sebuah senyum persahabatan dan ketulusan yang kental.
Lelaki itu memang selalu tersenyum hari itu. Tugasnya adalah menuangkan minuman ke dalam gelas, menungguinya dan kemudian tersenyum pada setiap orang yang mencoba mencicipi minuman itu. Lelaki itu memang selalu tersenyum. Sesekali atau mungkin setiap senyumnya itu adalah sandiwara, yang mempertontonkan keramahan dan penghormatan agar kenyamanan itu muncul di hati pencicip minuman atau para undangan pesta. Lelaki itu mungkin terlatih untuk memberikan senyum yang bersahabat dan tulus. Dan jika senyumnya pada Nora juga adalah senyuman sandiwara, maka lelaki itu sangat hebat sekali karena Nora tidak sedikitpun merasa itu sebagai suatu sandiwara. Nora yakin bahwa senyum itu tulus dan murni.
Nora pun menghampiri untuk satu gelas minuman dan untuk satu hubungan pertemanan yang akan segera dia bina. Setelah Nora tersenyum untuk pertama kalinya pada lelaki itu, Nora kemudian memberanikan diri untuk menanyakan nama lelaki itu, sambil berbisik-bisik, di saat tak ada orang yang memperhatikan. Dengan perasaan was-was, lelaki itu kemudian menjawab.
“Jangan takut! Saya hanya ingin mengenalmu lebih jauh.”
“Kenapa? Saya hanya seorang pelayan. Apa Nona tak malu punya teman seperti saya?”
“Jangan pikirkan hal itu! Dimana kita bisa bertemu lagi?”
“Hari ini?”
“Terserah. Dimanapun. Kapanpun.”
“Nona tahu halte bis di sekitar Manggarai? Yang dekat dengan kali?”
“Hm…Saya akan cari.”
“Kita ketemu di sana hari kamis, jam 9 pagi.”
“Oke.”
Dua lelaki kemudian menghampiri bilik minuman itu dan mencoba meraih dua gelas soda. Perbincangan Nora dan lelaki itu pun kontan berhenti. Nora bahkan kemudian berlalu dan tak kembali ke bilik itu lagi. Nora merasa sudah punya janji dan tak perlulah dia kembali berbincang dengan lelaki itu di sini.
Seusai pesta, yang dipikirkan Nora hanyalah lelaki itu. Nora tak sabar menunggu hari kamis yang masih empat hari lagi. Apa benar lelaki itu akan menepati janjinya? Jam 9 pagi jelas waktu yang sangat tepat buat Nora. Selain karena ayahnya tentu sudah pergi ke kantornya yang jaraknya relatif jauh dari rumah, Nora juga memang memiliki waktu yang sangat lowong di hari kamis. Nora bahkan memiliki banyak waktu lowong di setiap harinya. Nora baru saja lulus sekolah dan tak ingin sekolah lagi ataupun bekerja. Nora sudah memutuskan bahwa kalaupun dia harus bekerja, biar dia bekerja di tempat ayahnya, meneruskan usaha keluarga.
Hari kamis itu berjalan dengan baik sekali. Dua jam sebelum jam 9, Nora sudah mulai dandan. Setengah jam sebelum jam 9, Nora sudah mengenakan jam tangan Seikonya dan menyetop taksi di sebelah pengkolan yang tak terlihat dari rumahnya. Sepanjang perjalanan itu, dia tak henti melihat Seiko mungilnya dan berharap cemas. Nora takut dia telat datang dan lelaki itu kemudian pergi. Namun layaknya sikap bangsawan pula, Nora pura-pura tidak panik ataupun menyuruh supir taksinya untuk bergegas. Nora hanya panas dingin saja melihat jarum jam Seikonya berjalan dengan sangat cepat sekali.
Jam delapan empat puluh tujuh, Nora sampai di halte itu. Masih kosong dan tak terlihat satu orang pun di situ, termasuk lelaki itu.
Diliriknya sekali lagi Seiko yang sudah dia pakai sejak 5 tahun yang lalu itu, dengan berhati-hati sekali. Ternyata masih sekitar sepuluh menit lagi menuju pukul 9.
Duduklah akhirnya Nora di sebuah pojokan halte. Nora juga tak lupa membawa kaca kecil dalam tasnya, sehingga ketika dia harus gerah berkeringat seperti saat itu, dia tak usah repot apabila harus menyeka keringatnya dengan sapu tangan yang bertuliskan Nora itu. Pagi itu memang terasa lebih panas dan Nora tak henti menggoyangkan kipas tangan itu kesana kemari, hanya agar hembusan angin sejuk mampir di wajahnya.
Hampir mendekati jam 9, lelaki itu datang. Said datang dengan penampilan seadanya dan hanya senyumnya saja yang terlihat bersahaja. Nora menyambutnya dengan beranjak dari duduknya dan balas tersenyum. Sebuah pertemuan yang kemudian berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hubungan pertemanan pun kemudian terjalin. Tak tahan dengan hubungan yang hanya sebatas teman, keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat lagi. Mereka akhirnya berpacaran. Mereka akhirnya terjebak dalam sebuah masalah karena hubungan mereka sudah tentu akan sangat terlarang di mata ayahnya ataupun keluarganya.
Namun Nora tidak ambil pusing dan terus berhubungan dengan lelaki itu. Jika sebelumnya mereka hanya berhubungan seminggu sekali di setiap hari Kamis pagi, kini mereka berusaha mencari waktu-waktu yang lain. Sama seperti yang mereka lakukan di sebuah Senin sore. Nora menemui Said untuk sekedar melihat wajahnya. Nora benar-benar tidak ambil pusing dengan pertentangan yang mungkin atau pasti akan keluar dari mulut ayahnya.
Nora bahkan begitu berani menantang Said untuk menikahi dia. Said menyanggupinya dengan mengangguk pelan, untuk kemudian mencium Nora. Nora melambung di hari itu dan jika saja sore itu tidak terlalu larut, Nora sudah akan menyerahkan keperawanannya pada Said. Tapi sore sudah terlalu larut dan Nora harus segera pulang. Nora menyesal tak mengatakannya siang atau pagi sebelumnya.
Mereka pun berpisah di sore itu dan kemudian berjanji untuk bertemu lagi di hari Kamis, jam 9 pagi. Saat itu hari Senin sore, menjelang adzan maghrib. Nora sudah memutuskan bahwa hari Kamis nanti, dia akan bercinta dengan Said. Dia akan tunjukkan bahwa dia siap menyerahkan segala-galanya bagi Said dan ingin segera dinikahinya. Itu akan terjadi di hari Kamis nanti, setelah jam 9 pagi.
Maka bersiap-siaplah Nora pagi ini. Seperti biasa, Nora dandan untuk sekian waktu lamanya. Seperti biasa pula, Nora menyetop taksi di sebuah pengkolan yang tak terlihat dari rumahnya. Seperti biasa pula, jam tangan Seiko itu pun dikenakan pada tangannya yang putih mulus terawat.
“Halte manggarai, Pak!”
“Yang di deket kali itu, Bu?”
“Ya. Ayo, Pak! Sudah mau jam 9, nih! Saya ada janji penting.”
“Ya. Maaf, Bu!”
Sopir taksi itu bingung tentang janji penting yang dimiliki perempuan di taksinya ini. Kenapa harus di halte tua dan jelek itu, janjinya harus dibuat? Kenapa bukan di lobby hotel atau di restoran saja? Ah, tugas dia kan hanya mengantar! Tak perlulah dia mempertanyakan itu, meski di dalam hati.
Nora masih melirik jam tangan Seiko itu. Sudah hampir jam sembilan namun jalanan macet sekali. Dulu sih tak pernah macet, namun belakangan ini memang selalu macet di daerah sini. Mobil rupanya makin banyak sementara ruas jalan masih yang itu-itu saja. Makanya, Nora pun pergi lebih awal.
Ini adalah janji Nora yang kesekian kalinya di halte itu, untuk bertemu Said. Hari ini, Kamis tanggal 17 April 2003. Sebuah hari yang panas sekali.
Nora sudah berjanji dalam hatinya dan dalam ucapannya di hari Senin itu. Nora berharap Said pun akan menepati janjinya hari ini. Hari ini terasa begitu penting sekali artinya. Nora meramalkan, pertemuan jam 9 nanti akan membahas hal yang sangat sakral sekali. Nora ingin sekali Said mengajaknya menikah. Tak peduli rintangan apa yang akan melingkupinya, tak peduli pertentangan yang akan terjadi dalam hubungan mereka itu. Tekad Nora sudah bulat. Nora jatuh cinta dan tak akan Nora menyia-nyiakan cintanya ini hanya gara-gara orang bilang ini adalah hubungan yang terlarang. Tidak ada yang terlarang dalam sebuah hubungan selama didasari oleh perasaan cinta. Nora dan Said sama-sama manusia dan apabila status mereka terlihat berbeda, itu hanya kulit luarnya saja. Said jauh lebih baik daripada orang-orang berdasi itu, tegas Nora dalam hatinya. Dan satu hal yang selalu Nora pegang dalam hatinya. Said orang yang sangat bertanggung jawab dan konsisten. Tipe lelaki yang tak akan menyia-nyiakan perempuan. Said bahkan selalu jujur dan muncul sebagai sosok dewa di mata Nora. Soal ketampanan, Said terlihat sangat seksi dengan dirinya sendiri.
Namun, jam tangan Seiko itu kini mulai menua. Bahkan Nora pun kini sudah mulai keriput kulitnya. Hari ini memang hari Kamis. Namun hari ini bukanlah tanggal 9 November tahun 1972, melainkan tanggal 17 April tahun 2003. Sudah 30 tahun lebih, Nora menepati janjinya untuk datang di hari Kamis, jam 9 pagi. Setiap hari Kamis, jam 9 pagi, Nora selalu menepati janjinya untuk datang di halte ini, halte yang juga mulai menua dan dilupakan orang.
Tak ada yang berubah dari janji itu, selain Said yang tak pernah datang sejak pertemuan terakhir di hari Senin, tanggal 6 November tahun 1972.
Tak ada yang berubah dari janji itu, selain Nora yang akan mengadukan sebuah pengakuan berdosa pada Said, ‘Maafkan, saya karena saya sudah tidak perawan lagi. Semenjak kamu tidak datang, keperawanan itu akhirnya diambil oleh suami saya yang saya nikahi, dua tahun setelah pertemuan kita yang terakhir’.
Nora pun tiba di halte itu dan menunggu selama setengah jam dan kemudian menyetop taksi lagi untuk beranjak pulang. Said ternyata belum juga datang.
10 April 2003