Pelajaran Sore Itu
Desember 13th, 2006 by yuana
Entah dari mana aku harus memulai. Ingin sekali kuceritakan sebuah kejadian yang sangat berperan dalam hidupku. Kejadian yang tak kan kulupakan dan benar-benar mengubah pandanganku.Mungkin sebaiknya kuperkenalkan dulu siapa diriku. Namaku Sanna, aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur, yaitu di Blitar, sebuah kota yang terkenal sebagai tempat makam proklamator Replublik Indonesia. Aku berasal dari keluarga yang sederhana dan biasa. Ayahku seorang pegawai negri yang senantiasa setia dalam mengabdi pada bangsa ini. Dia seorang guru SMP di daerah kami,sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya diisi dengan kegiatan memasak, mencuci, dan merawat dua adikku yang masih kecil. Meskipun kami bukan keluarga yang kaya, namun kami cukup bahagia. Bila hari minggu tiba, aku dan adik-adiku sering diajak bepergian ke kota. Biasanya kami diajak ke tempat pemandian umum, aku dan adik-adiku sangat senang sekali bisa bermain-main di sana.
Seperti anak-anak lainnya, ketika umurku sudah cukup, akupun disekolahkan dan menjalani masa-masa pendidikan secara normal seperti anak-anak lainnya.. Mulai dari SD,SMP, dan SMA telah kujalani dan kuselesaikan dengan lancar hingga akhirnya tibalah masa-masa UMPTN. Alhambulillah aku pun lolos dalam seleksi tersebut dan diterima di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Akhirnya dengan berat hati aku pun meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tuaku untuk melanjutkan pendidikan.
Kehidupan di Bandung ternyata jauh berbeda dengan kehidupan di daerahku. Di sini semuanya serba mahal, tempat-tempat hiburan tersebar di mana-mana, mal-mal besar ada di mana-mana, ramai, sampah berserakan dan tindak kejahatan pun sering terjadi. Yang jelas kehidupan di sini jauh berbeda dengan kampungku yang senantiasa tenang, bersih, murah, dan masyarakatnya ramah. Namun semuanya tidakk menjadi masalah bagiku, seperti kata pepatah, “ Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Aku pun berusaha menyesuaikan diri dengan lingkunganku yang baru.
Sekitar bulan Agustus masa-masa kuliah dimulai. Ternyata kuliah sama saja dengan masa-masa SMA, datang ke kampus, duduk, belajar, dan ujian. Semua kegiatan tersebut akhirnya menjadi rutinitas bagiku , hingga akhirnya pada suatu hari terjadi sesuatu yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Sesuatu yang mampu mengubah pandanganku tentang hidup ini.
Kejadian tersebut terjadi pada sore hari, tepatnya tanggal 20 Oktober tahun lalu. Waktu itu seperti hari-hari biasanya, aku datang ke kampus, kuliah, belajar, dan browsing internet sampai sore hari. Sekitar jam lima sore aku pun pulang ke kos. Seperti biasa pula, aku pulang dengan berjalan kaki dan melewati jalan yang biasa kulewati. Aku pikir semuanya bakal berlangsung seperti biasa sebagaimana rutinitas harianku. Namun, tanpa disangka-sangka, tiba-tiba muncul dua orang pemuda. Keduanya bertopi, memakai kaos, dan penampilannya pun lumayan sangar dengan rambut dicat merah.. Kedua orang tersebut mendekat ke arahku, aku pikir mereka hanya berjalan berlawan arah denganku dan kami hanya akan bersimpangan saja. Namun, untuk kedua kalinya tanpa kuduga ternyata prediksiku salah. Tiba-tiba saja salah satu dari keduanya menodongkan pisau ke perutku, sedangkan yang satunya lagi mendekap badanku. Kemudian mereka meminta dompet, HP, ATM, dan nomor pin ATM-ku. Tak kusangka, ternyata aku sedang dirampok. Baru kali ini aku dirampok dan ditodong preman-preman sialan. Sepertinya mereka telah memperhitungkan aksinya masak-masak sehingga sama sekali tidak memberiku peluang untuk bergerak dan melakukan perlawanan.
Dalam hati ingin sekali aku berontak dan menghajar mereka. Aku tidak rela jika uang dan barang-barangku dirampas begitu saja, padahal aku memperoleh semuanya dari orang tuaku. Aku tidak rela jika pengorbanan dan kerja keras orang tuaku dirampas begitu saja. Namun apa daya, nyaliku benar-benar menciut saat itu juga. Aku tidak berani melawan dan benar-benar ketakutan saat itu. Baru kali ini aku berhadapan langsung dengan preman jalanan.
Tanpa basa-basi dan pikir panjang, aku pun menuruti keinginan mereka, apalagi mengingat kondisiku yang terdesak dan terpojok Namun untunglah waktu itu otakku masih jalan, ketika mereka meminta nomor pin ATM, kuberi nomor palsu. Aku pikir mereka akan percaya begitu saja dan segera pergi meninggalkanku. Ternyata anggapanku salah lagi, mereka bukan preman yang baru kali ini menodong orang. Mereka tidak begitu saja percaya. Mereka kemudian menggiringku ke tempat ATM yang lokasinya tidak jauh dari situ. Benar-benar semuanya telah diperhitungkan dengan cukup matang. Mereka menyuruhku memasukkan ATM tersebut dan melihat saldonya sambil memberi tekanan pada pisau yang ditodongkan ke arahku disertai ancaman.
Benar-benar pikiranku sudah kacau dan rasa ketakutan semakin menguasaiku. Otakku pun sudah tidak bisa lagi berpikir mencari jalan guna mnyelamatkan hartaku. Rasanya ingin berteriak meminta tolong, tapi sayang tidak ada orang yang lewat. Jalan yang kulewati benar-benar sepi di sore hari, sangat strategis untuk melakukan kejahatan Tanpa perlawanan akhirnya uang Rp. 2 juta di ATM pun lenyap. Setelah semua barang-barang berhargaku diambil, salah satu dari mereka kemudian pergi mengambil motor, sedangkan yang satunya masih mendekapku dan ganti mengeluarkan pisau menodongku. Kemudian tanpa kusangka lagi, sambil mengancam mereka menyuruhku naik motor. Motor tersebut akhirnya dinaiki tiga orang dan aku berada di tengah. Aku tidak tahu akan dibawa ke mana. Jalanan yang kami lewati saat itu sangat sepi. Ketika berada di jalan yang gelap dan jauh dari perumahan , mereka kemudian menurunkannku, setelah itu mereka memacu motornya dengan kencang dan kabur.
Hari itu aku benar-benar sial. Semua uangku habis, HP dirampas, dan ATM-ku pun kosong. Akhirnya setelah sampai di kos, dengan bantuan temanku aku menghubungi orang tuaku, menceritakan apa saja yang baru kualami, dan meminta kiriman uang secepatnya. Untunglah waktu itu di rumah masih ada beberapa ratus ribu sehingga bisa mereka kirimkan untukku. Dalam hati aku benar-benar marah dan dendam dengan para preman itu. Aku berjanji tak kan kubiarkan hal semacam ini terjadi untuk kedua kalinya.
Selang tiga hari setelah penodongan tersebut, aku pun mulai bisa menerima apa yang baru kualami dan mulai menjalani kehidupanku seperti sedia kala. Namun ada satu hal yang masih mengganjal dalam hatiku. Dalam hati ini masih tersimpan kebencian dan dendam terhadap preman-preman jalanan. Aku berpikir, suatu saat jika terjadi lagi maka harus kulawan.
Setelah setahun, kini kusadari banyak hal yang bisa kuambil sebagai pelajaran dari kejadian itu. Kini aku sadar bahwa hidup itu keras, hidup tidaklah sederhana dan mudah seperti angan-anganku dulu, dan hidup perlu perjuangan dan perlawanan. Siapa kuat dia yang menang dan siapa lemah dia bakal jadi korban. Dalam hidup jangan jadi penakut. Penakut hanya akan mempersulit diri sendiri. Siapa yang penakut maka dia akan selalu kalah.
Apa yang dialami oleh Sanna adalah sebuah fakta sosial di negeri kita! Yaa, negeri kita yang lagi dilanda berbagai bentuk aktivitas premanisme dan musibah akibat ulah manusia dan pemimpinnya!
Kembali ke cerita Sanna, jujur saya ikut prihatin! Akan tetapi, sepatutnya kita juga harus jujur terhadap tindakan 2 preman yang mendholimi Sanna! Kejujuran itu, berangkat dari beberapa pertanyaan, pertama, apakah betul tindakan yang dilakukan 2 preman tersebut adalah kemauan pribadi ataukah disebabkan karena “desakan sosial”? kedua, apakah tindakan 2 preman tersebut terhadap Sanna adalah tindakan yang dikonstruksikan atas kemauan 2 preman tersebut atau malah sebaliknya, konstruksi tersebut adalah merupakan design kontruksi sosial disekitar preman! dan ketiga, dimanakah titik kesalahan di dalam sistem sosial kita sehingga 2 preman tersebut tampil sebagai “preman” yang dikatakan oleh Sanna?
Tiga pertanyaan di atas, merupakan refleksi bagi kita bahwa “premanisme” mungkin akan perlahan2 hilang, jika saja sistem dan prilaku bangsa ini dikonstruksikan ke arah yang benar!
Wassalam,
S. Sjaf