KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kupu-kupu di Atas Ranjang

Oleh: P. Handoko

Pastinya kapan, aku lupa. Tapi aku ingat saat itu pagi baru saja menjelang. Kamu membangunkan aku dengan taburan kupu-kupu hidup berbau madu. Ketika itu, aku masih belum mengenalmu sama sekali. Benar-benar sebuah perjumpaan yang sangat dramatis. Kamu memintaku dengan sedikit memaksa agar mau menjahit sayapmu yang robek di sebelah kanan. Dengan jantung yang berdegup kian tak karuan, kuperhatikan sebenarnya kita berdua memiliki kelengkapan tubuh yang relatif sama, kecuali sepasang sayap itu. Sepayang sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita bergambar tentang peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Tapi seingatku tak ada satupun yang sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga dan cahaya lilin terang di kedua ujungnya. Satu lagi, kamupun tidak mungil. Ukuran fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Satu yang jelas membuat kita berbeda, aku jelas laki-laki, sedangkan kau mirip seorang wanita.

Kulihat ada cairan kental yang merembes keluar dari robekan sayapmu. Mungkin itu darah. Darah yang kembali menurutku sungguh aneh. Warnanya putih. Aku jadi teringat cerita tentang Yudistira yang pernah kubaca. Seorang ksatria pandawa yang seumur hidupnya tak pernah berdusta. Untuk itu, dewa-dewa kemudian menganugerahinya darah yang berwarna putih. Sungguh ingin kubertanya, apa kamu juga tak pernah berdusta ? Tapi aku tak berani menanyakan itu kepadamu. Tak pernah. Sama sekali tak pernah.

Kepalamu mulai bergerak, sesaat setelah aku selesai menjahit robekan sayapmu dengan benang nilon tipis. Bibirmu bergetar. Pasti menahan perih yang teramat sangat.

’’Maaf, aku tak punya obat bius untuk meredam rasa sakitmu. Seumur hidupku memang aku tak pernah menyimpannya. Masih untung anakku memiliki segulung benang nilon yang biasanya dia pakai untuk bermain layangan. Dan untungnya juga, katamu benang apapun bisa kupakai untuk menjahit lukamu’’.

Tiba-tiba, kulihat kembali getaran itu. Getaran tubuhmu yang menyiratkan rasa sakit. Tanpa sadar mataku ikut bergetar, benar-benar menahan perih yang teramat sangat. Sudah tiga puluh delapan jam lebih, aku sama sekali tak sempat memejamkan mata untuk tidur. Dan tadi baru tiga puluh delapan menit lebih sedikit aku menikmati ketidaksadaran yang sangat menyenangkan itu.

Suaramu terdengar lirih, ketika kamu mengucapkan terima kasih. Dan suaramu bertambah lirih ketika kamu meminta maaf setelah tahu kehadiranmu mengganggu tidurku. ’’Tak apa-apa’’, jawabku. ’’Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Aku sebenarnya sangat ingin mendengar semuanya, tapi ceritanya besok saja. Kamu aman disini. Aku mau tidur lagi’’. Tapi tiba-tiba kudengar kamu memintaku untuk tidak tidur. Dengan agak dongkol, karena kepala yang kian menebal dan pusing, spontan kubentak kamu.

’’Memangnya kamu siapa berani melarangku untuk tidur. Dasar tak tahu diri. Benar-benar tak tahu diri. Sudah ditolong, masih banyak menuntut. Pokoknya aku mau tidur di kamar sebelah. Kamu tahu, mata ini terasa kian mengantuk. Jika tidak tidur, aku pasti sekarat’’.

’’Tolong jangan tidur dulu’’, kembali pelan bisikmu merayap menyentuh gendang telingaku dan menendang-nendangnya kasar. Kamu pun mulai menangis. Emosiku tambah tak karuan, tapi sebelum aku beranjak, dengan cepat kamu berkata, ’’jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian di kamar ini. Silahkan rebah di sebelahku atau dimanapun yang kamu mau, tapi tolong jangan tidur, sebab itu juga berarti meninggalkanku dalam bentuk yang lain. Sekali lagi aku mohon, jadilah teman bicaraku. Jaga aku agar jangan sampai terlelap selama darah masih merembes dari celah luka ini. Sebab, lelap akan membunuhku’’.

Aku tak kuasa menolak permintaanmu, walaupun mata ini sebenarnya juga sudah tak kuasa untuk terus bekerja. Aku bingung, tapi kuhampiri juga kamu. Lantas duduk diam di atas ranjang tepat disebelahmu. Sesaat aku merenungi nasibmu kini, mungkin juga nasibku beberapa puluh jam yang lalu. Aku meringis. Ironis. Ternyata ada persamaannya. Kita sama-sama sempat menjadi takut dengan tidur. Kamu tak boleh tidur selama sayap itu belum sembuh. Entah apa sebabnya. Karena jika tertidur, itu berarti kematianmu. Sementara aku, selama tiga puluh delapan jam yang lalu juga tak boleh tertidur. Ada laporan yang harus aku selesaikan, karena terlanjur sudah masuk dead line. Jika sampai tak selesai, aku akan dipecat dari kantor dan karier yang telah aku rintis selama belasan tahun akan hancur. Bagiku itu juga kematian !

Kamu tersenyum mendengar ceritaku. Aku juga sudah mulai merasa agak nyaman dengan kehadiranmu. Entah dari mana mulanya, namun seperti terhipnotis, sinopsis demi sinopsis kehidupanku pelan-pelan mengalir membanjiri udara kamar ini. Sementara kamu, hanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian. Tak lama, akupun sampai kepada cerita tentang istriku yang kini sedang menempuh program S2 di Belanda. Terakhir dia pulang ke rumah ini sekitar enam bulan yang lalu, sekalian mengumpulkan data-data penelitian untuk keperluan tesis yang sedang dia kerjakan. Tak lupa aku juga bercerita tentang Soka dan Modya yang sejak kemarin sore bersama neneknya pergi ke Batam untuk mengisi waktu liburan mereka. ’’Benang yang kupakai menjahit lukamu itu milik si sulung Modya yang telah berusia sepuluh tahun. Praktis di rumah ini, kini aku sendirian’’.

Sebenarnya aku masih ingin meneruskan ceritaku, tapi mendadak kamu menangis lagi. ’’Ada apa?’’, tanyaku singkat. Aku tiba-tiba merasa kurang enak. ’’Apa ada kata-kataku yang salah ? Atau apa aku terlalu membosankan ?’’.

Kamu menarik nafas panjang, sangat berat, lalu berkata, ’’Kamu dan keluargamu pasti sangat berbahagia. Akupun pasti akan sebahagia kamu, jika Gian putraku dan Ningan suamiku masih hidup. Kematian yang merenggut keduanya dua tahun lalu itu terlalu mengejutkan dan diluar dugaan siapapun. Gian masih kecil, mungkin seusia Modya’’.

’’Kecelakaan atau wabah penyakit ?’’.

’’Bukan penyakit, tapi dia disakiti’’.

’’Astaga! Disakiti oleh siapa ? Penjahat macam apa yang sampai tega menyakiti anak kecil ?’’.

’’Justru pelakunya sama sekali tidak merasa dirinya penjahat, bahkan dia menyebut dirinya sebagai prajurit Tuhan. Baginya apa yang dilakukannya adalah sebuah perjuangan yang direstui oleh Tuhan’’.

’’Aku tidak mengerti’’.

’’Kamu tidak akan mengerti. Hal ini memang teramat sulit untuk dimengerti’’.

’’Maaf, tapi hal itu terjadi di duniamu, kan? Kapan ?’’.

Tiba-tiba kamu menatapku tajam. ’’Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Kekejaman itu justru terjadi di duniamu sendiri!’’.

’’Lantas luka disayapmu itu ?’’.

’’Naas. Aku cuma jalan-jalan. Sekedar menikmati keramaian. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Tiba-tiba ada ledakan dan guncangan dahsyat. Asap menumpuk melahirkan cendawan besar. Semua orang jatuh rebah ke tanah. Kaca-kaca gedung pecah. Suasana menjadi serba berantakan lalu hening. Dua detik, tiga detik, dan pada detik selanjutnya terdengar riuh jerit dan tangis kesakitan. Kamu tahu, hal semacam ini juga yang telah menyebabkan kematian Gian dan Ningan. Kamu bisa bayangkan, jasad keduanya yang telah menghitam arang diuruk dalam satu kubur karena sudah terlalu hancur’’.

Aku hanya bisa terdiam mendengar ceritamu. Aku coba menatapmu. Kamu ternyata sudah menatapku terlebih dahulu. Aku menunduk, sebab matamu mendadak menjelma gerhana matahari yang segera akan membutakan mataku. Sesaat kurasa gelap. Kubiarkan jemari tanganmu menggapai jemari tanganku, lalu membimbingnya pelan kepipimu setelah sebelumnya sempat melewati belahan dadamu dan celah basah bibirmu. Jemariku dan sekujur tubuhku bergetar. Aku merasa agak jengah. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelisip. Tapi sumpah, bukan nafsu murahan. Pelan-pelan, kucium keningmu yang putih bersih dan dingin bagai bengkoang.

’’Aku mengantuk. Sangat mengantuk’’.

’’Aku juga’’.

’’Cepat cium aku. Buat aku terus terjaga’’.

Detik demi detikpun meluncur dengan cepat dan tahu-tahu hening. Hanya desah nafas kacau yang terdengar sesekali. Diluar langit sudah sangat terang.

’’Kamu menyesal?’’.

’’Aku cuma teringat istri dan anak-anakku’’.

’’Maafkan aku. Ini semua terjadi gara-gara aku’’.

’’Jangan selugu itu. Aku menikmati semuanya’’.

’’Terimakasih. Kamu sudah menyelamatkan aku’’.

Nada panggil HP ku tiba-tiba berbunyi nyaring memotong pembicaraan kita yang terdengar kian seperti basa-basi. Aku agak kaget dan kian merasa tak tenang setelah tahu bahwa itu adalah panggilan dari istriku. Aku ambil HP ku yang kuletakkan di atas meja dan kembali duduk dibibir ranjang dengan membelakangi kamu.

’’Halo, sayang. Ada apa?’’.

’’Alhamdulillah, kamu ternyata masih dirumah. Aku benar-benar khawatir’’.

Kudengar suara tangisan pelan. Dingin segera merambat cepat ketengkukku. Hatiku serasa diiris-iris. Prasangkaku spontan berkesimpulan, pasti sesuatu telah terjadi padanya disana. ’’Memangnya kenapa?’’, tanyaku cepat.

’’Kamu belum lihat berita TV pagi tadi ?’’.

Aku terbatuk beberapa kali sebelum menjawab, tenggorokanku mendadak diserang kemarau. ’’Belum, seharian ini aku dirumah dan … tidur. Sebenarnya siang ini aku berencana pergi ke kantor untuk menyerahkan laporan yang sudah selesai aku kerjakan. Tapi, … aku masih terlalu lelah’’.

’’Kamu harus bersyukur sayang. Ibu dan anak-anak barusan menelpon dari Batam. Kata mereka, ada bom berkekuatan besar barusan meledak di halaman depan gedung kantormu. Bom kedua yang meledak pada hari ini. Tadi, malam satu bom juga meledak disebuah diskotik. Mereka lihat di TV, semuanya berantakan dan banyak jatuh korban. Untung kamu tidak ada disana’’.

Aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang disampaikan oleh istriku yang tidak bisa menyembunyikan perasaan kalutnya. ’’Ibu dan anak-anak sangat khawatir dan sudah mencoba menghubungi kamu dari tadi. Mungkin karena kamu sedang tidur, maka tidak dapat mendengar dering telepon rumah ataupun nada panggil di HP mu. Kamu harus segera menelpon mereka setelah ini’’.

’’Iya, mereka pasti akan segera aku telpon’’.

’’Yang, aku kangen kamu. Tadi aku bermimpi kita bersetubuh. Benar-benar persetubuhan yang sangat luar biasa. Tumben-tumbennya kamu seagresif itu. Aku berhasil mencapai orgasmeku, berkali-kali. Mungkin ini yang kalian kaum laki-laki sering sebut mimpi basah itu. Cuma anehnya kita melakukannya di atas seekor kupu-kupu raksasa yang terbaring menutupi ranjang kita’’.

’’Kamu jangan aneh-aneh. Bersabarlah. Minggu depan kamu harus pulang ke tanah air. Kamu tidak lupa ‘kan dengan hari ulang tahunnya Soka ?’’.

’’Pasti, aku pasti akan pulang untuk Soka, Modya dan tentunya kamu. Aku sudah kangen dengan ranjang kita dan harum tubuhmu. Tesisku juga sudah selesai dan sekarang sedang dipelajari lagi oleh dosen pembimbingku. Tapi, aku tak mau di situ ada kupu-kupu raksasa’’.

Istriku tertawa. Akupun ikut tertawa. Aku tahu dia cuma bercanda. Aku maklum dia bermimpi, tapi aku sama sekali tidak sedang bermimpi. Benarkah ? Untungnya pembicaraan berakhir. HP kututup. Aku segera menoleh kebelakang, tapi kamu sudah tidak ada disana. Yang kutemukan hanya beberapa lembar bulu-bulu lembut berwarna biru yang tersebar menempel di bantal, guling, selimut, dan sprei lusuh ranjang ini. Pelan kuberbisik, terimakasih atas segalanya buat kamu yang namanya pun tak sempat aku tanyakan. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh. Tapi sekarang semuanya harus segera aku bersihkan, sebab istriku akan pulang.

Tinggalkan Komentar