Kelamin Ribut
Desember 13th, 2006 by Bugi Purnomo Kiki
Pernah mendengar kelamin bicara?
Suaranya begitu tegang membuat cacing perut
Berteriak minta jatah. Lebih kencang lagi,
Sembilan lonceng menuju cahaya peradaban
di acuhkannya masuk keranjang sampah di pojok sekolah.
Tak kurang dari jutaan ketertindasan tetap
Dalam kesakitannya merasa tak terdengar karena
tuli oleh kelamin yang berbicara.
Pernah mendengar kelamin berdiskusi?
Dengan lantang ia berteriak, jangan jadikan
Kami objek. Sedikit diantaranya ingin tetap sediakala,
Selalu membawahi dan mengangkangi.
Padahal mereka yang mewakili kelamin kita.
Begitulah kalau kelamin membuka mulutnya.
Biasanya dalam buaian quldi di siang terik.
Membawa kita pada kekerasan tak berujung dan
Menafikan hajat lain yang lebih agung.
Pernah mendengar dunia tanpa kelamin berbicara?
Begitu hening seperti tinggal di pendopo tepi pantai.
Tak terdengar kecuali deburan ombak dan sorot
Mentari di pagi hari. Dengan mata sayupun
Tetap akan kita saksikan bahwa bumi semakin berwarna
Biru dan hijau dengan pelita di ufuk-ufuk.
Pernah mendengar kelamin berpuisi?
Depok, 7 Desember 2006.
wow
sebuah ide puisi yang baik sekali, perumpamaan yang cemerlang. pernah dengar kelamin berkomentar ?
suatu perungkapan ide Bung Kiki tentang keadaan riil bumi Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa perumpamaan yang sangat linear.. menarik Bung!