KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bapakku

Tatapan lembut selalu terlihat ketika aku berbicara
Mata itu menyiratkan pengalaman hidupmu
Delapan puluh tiga tahun…
Masa perjuangan, kemerdekaan, reformasi…hingga kini
Bapak lalui dengan penuh kesabaran yang tiada kentara

Dalam perjuangan taklukan bumi, tak pernah kulihat keluhanmu
Tiada lelahkah bapak berjalan tanpa daya menggenggam emas?
Berjuang tanamkan kejujuran setiap peristiwa yang dating silih berganti
Kauseka peluh keringat selalu disertaidengan senyum puas
Bapakku seorang pahlawan kesabaran…

Kini…
Tubuhmu terbujur kaku di pembaringan, tak berdaya…
Menanti waktu hentikan langkahmu
Masih…
Sinar matamu lebih menyimpan perjuangan tuk terus melangkah
Dalam ketakberdayaan, matamu menyimpan sejuta kata
Melalui cakrawala buku-buku yang telah menetap dalam jiwamu

Bapak…
Aku selalu membaca matamu, hatimu, jiwamu dan pikiranmu, ketika kulihat kau hanya bisa menatapku…
Seakan kauberi aku pegangan dan makna lewat tatapan itu,
“Usah kau larakan hatimu, berjuanglah dengan ketulusan hatimu, lihatlah bapak yang kini tak berdaya ini, selalu tersenyum melihat peristiwa manis dan pahit.
Biarkan bapakmu pergi membawa semua peristiwa hidup yang indah dan berbekas…”.

Tak bisa kubayangkan aku tanpamu, bapak

Rasanya aku tak bisa hidup tanpamu…
Tak bisa kuikuti perjuanganmu seorang diri sepertimu

Ketika hatiku telah hilang tak bernyawa
Mungkin aku tak akan bisa menemuimu lagi…
Suatu saat nanti, sang matahari kan tenggelam pijakkan bumi
Dan aku terpaku menatap pusaramu

FP, 27 Februari 2005

Tinggalkan Komentar