KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Singgang

1998

Menunggu terasa begitu lambat. Tak seperti nyala bara api tembakau dalam kelobot yang diisapnya. Dua tiga hisapan lagi rasa nikmat itu tentu akan berakhir. Kalau dapat memilih, Karto ingin memainkan asap perontok paru-paru itu lagi dan lagi. Namun sayang, batang ke 12 miliknya kini adalah batang terakhir yang menemaninya di pematang itu sedari siang tadi.

Pangkal-pangkal jerami yang terpangkas di lembayung senja itu adalah harapannya untuk 1 musim berikutnya. Seperti juga tahun lalu, ia hanya dapat menunggu tunas-tunas baru tumbuh dan berbulir, menghabiskan sisa lengas yang tak lagi lembab sebab kini burung; angin; dan gareng pung; enggan mengabarkan hujan, pun segugus bintang Waluku yang masih ia yakini.

Bahasa bumi tak lagi ia pahami. Restunya tak lagi ia dapati. 5 windu yang lalu masih ia rasai aroma wangi hamparan geluh itu. Ketika katak, belut, dan ular mudah ia jumpai di antara rumpun padi dan lapukan tahi sapi. Lalu setiap akhir musim adalah kedamaian, sebab gulma dan padi menguning mampu rukun bersanding.

Namun sebentar kemudian datang sapi Nippon berkaki bulat, ia menderu bukannya melenguh, tak pula merumput. Seiring dengan itu, rumpun padi mampu terpanen 2-3 kali setahun meski benih bernas bertunas itu tak lagi ia punya. Ia adalah buruh di negeri sendiri. Nun kemudian bulir peluh hanya sisakan keluh, ketika butir-butir garam penghijau daun dan racun serangga melambung, sementara gabah masih saja merangkak.

Lalu awal musim tanam adalah mata rantai pinjaman tak berujung. Sejak saat itu, sejarahnya beranjak ke titik nadir. Ia terikat peraturan yang menganggapnya pandir. Kaum dungu yang musti dibariskan lewat satu kata. Ingkar berarti makar, patuh tak bertukas berarti tertindas. Saat itu, Revolusi Hijau juga bermakna: keadaan aman terkendali tercipta melalui tangan mereka yang bersepatu lars berbau amunisi. Sebutan PKI adalah kutukan yang lebih mengerikan dari kematian, meski tak pernah sekalipun ia syairkan Genjer-genjer.

Konon, hamparan hijauan sawahnya adalah bukti kekalahan kaumnya. Waduk dibangun di tengah kecamuk. Gunung rimbun tak lagi alirkan tetes embun hingga ke anak-anak sungai dan pematangnya. Parit menjelma gorong-gorong yang melolong, sebab sepoi semilir hanya wartakan air yang tak lagi mengalir. Ternyata kaum berdasi tak seperti mentari terbit pagi. Tan kendat, tan randhat, tan sambat. Ratap yang berurai adalah wujud janji yang tak pernah mereka tuai, barangkali juga karena dulu diberi dengan setengah hati. Bukankah manusia selalu dinilai sebatas grafik dan deret angka statistik ? Daging dan jiwa telah menjadi mesin yang tak mengenal kenyang, sebab saudara mereka, para tengkulak, tak mau sedikit mengalah. Jaman segan menuliskan sejarah mereka yang dikalahkan.

Masih belum pudar teriakan-teriakan kerabatnya di timur kaki Merapi. Mereka memilih hanyut tenggelam bersama sejengkal tanah yang mereka punya, pertahankan kemerdekaan atas kesewenang-wenangan dibalik jargon pembangunan. Sadumuk bathuk senyari bumi, kehormatan dipertaruhkan sampai mati.

Seperti hamparan rerumpun Dewi Sri di hadapannya kini, bertunas dan bertunas dalam sedikit lengas. Mencoba bermalai, meski tak berjuntai. Demikianlah, sepanjang mentari dendangkan irama pergantian musim, bukan nasibnya. Terngiang ucapan-ucapan anaknya yang dahulu tak ia pahami. Barangkali benar katanya, uang terlampau jauh mencampuri urusan alam. Konon, dedahanan di ranah Dayak pun telah menjelma deretan nominal angka-angka, berikut air, isi tanah, dan udara.

Deret-deret pematang di punggung bukit yang kerontang seakan gambarkan kerut-kerut di dahinya. Ketika kini setiap ayunan cangkul ditemani nafas yang tersengal. Cocok tanam adalah wilayah mereka yang beruban. Tubuh segar dalam kemudaan begitu enggan memanggul cangkul dan bergumul lumpur. Mereka lebih suka menjadi buruh di negeri orang, atau mengais sampah pembangunan di perkantoran. Selalu ia bertanya, kapankah ia benar-benar dianggap sebagai manusia ? Berdikari dalam menentukan nasib sendiri. Sejajar dalam menggagas anjuran untuk kaumnya. Sebab ia mengerti, dirinya bukanlah pedagang yang hanya mementingkan keuntungan atau pejudi yang memuja kemenangan. Ia adalah pilar pangan.

Menunggu terasa begitu lambat. Seperti menanti susutnya air ditelan bumi di desa-desa yang kini beralih menjadi sumber irigasi. Ingatan itu laksana api yang enggan padam. Menghantui dan mencekam. Diam pun sebuah perlawanan sebab tinggal suara hati yang tak mungkin terbungkam. Selalu dan selalu ia berharap jaman segera berganti. Kembalikan segala yang terampas: benih, tanah, pengetahuan, kemerdekaan, dan darah dagingnya.

1995

“Bodoh kau, Rif ! Dengan sederet prestasimu, gaji pokok 10 juta per bulan dapat kau kantongi. Itu harga yang pantas untuk mantan ketua cabang. Apalagi yang kau tunggu ?”

“Hidup adalah pilihan, Bung.”

“Termasuk memilih untuk menjadi kere ?”

“Ah, apalah arti sebuah kemapanan jika masih juga jadi budak penindas.”

“Buang impianmu. Omong kosong apa lagi ? Realistis, Kawan. Yang kita butuhkan adalah konkret, konkret, kon..”

“Mencebur dalam pergolakan adalah hal paling konkret untukku.”

“Ya, benar sekali, hingga suatu saat anak-anakmu kelak merengek minta makan. Lalu masyarakat menganggapmu pecundang !”

“San, aku tak hidup dari popularitas.”

“Lalu, apa yang kau dapatkan dengan bercocok tanam ? Jangan mimpi. Dengan apa kau dapat kalahkan Monsato ?”

“Hatiku, San. Hatiku gerakkan pikiran dan kakiku.”

“Dengan hidup nomaden dari kampung ke kampung ? Selesaikan tugas akhirmu, lalu ambillah tawaran itu. Setidaknya kelak keluargamu akan merasakan manfaatnya.”

“Akan kuhayati kemiskinan, San.”

“Rif, ini demi kebaikanmu. Masa depanmu. Membangkitkan orang lapar berarti menggurat urat nadi hingga terkapar, Rif. Bukankah sejarah mengajarmu agar BTI tak tumbuh berganti ? Sudahlah.”

“Allah tak tidur, San. Dan hanya syaitan yang dihinggapi ragu dan kekhawatiran.”

1996-1997

Setiap orang dengan mudah lenyap seperti ditelan bumi. Mereka yang dilemahkan diam dan menanti situasi aman terkendali. Ini bukan 1966 tapi 1996, angka terbalik bukan pertanda kemanusiaan membaik. Tak terpikir khawatir adalah watak setan dan penyakit yang mudah menjangkit, para pengawas mengintai mangsa dalam was-was. Sebab bukan tak mungkin beralih mereka yang dimangsa.

Remaja tanggung tak sungkan lagi teriakkan revolusi. Gaung-gaung menuntut perubahan menggelombang di setiap penjuru kota. Buruh tak lagi mudah percaya janji kesejahteraan. Pun kaum tani mulai berani menagih hak azasi, sambil berteriak “Kembalikan tanah kami !” Hari-hari dilewati dengan ketakutan.

Di ujung jalan, lelaki perlente coba sembunyikan seonggok HT, sesaat setelah ia gunakan. Bergegas ia hengkang ketika sepasang mata menjurus padanya selayang pandang dari balik tirai jendela.

Lelaki berkemeja biru dari balik tirai lambaikan tangan ke belakang, isyaratkan kawannya agar mendekat.

“Mur, di mana Hartono, Udin, dan Shofia. Kita harus cabut secepatnya.”

“Mereka di Kinanti. Ada apa, Mas ? ”

“Lelaki berjaket cokelat yang menjauh itu, Mur. Dia Intel. Kau kontak mereka sekarang dan jangan kembali. Berkas-berkas itu biar aku yang selamatkan.    Lekas  !”

“Iya, Mas.”

“Nanti kita ketemu seminggu lagi. Di Karangwuni.”

Tak berapa lama setelah pesuruh pergi.

Mbok Is, saya nitip ini. Seminggu lagi saya ambil. Saya mau pulang”

“Kok sepertinya terburu-buru, to Nak. Apa bapak sakit?”

“Ndak, hanya kangen.”

“Apa mau terusan ? Tidak makan-makan dulu, ngramekan warung ibu”

Nuwun, Bu Is. Saya mau ke kantor pos dulu.”

“Ya, udah. Hati-hati di jalan ya, Nak.”

“Makasih Bu. Saya pamit”

Matahari begitu teriknya, seorang lelaki berkemeja biru keluar dari kantor pos di tengah kota. Di perempatan, tak jauh darinya, berarak massa demonstran. Pintu roler kios dan toko berubah menjadi kanvas besi bertuliskan Pro Reformasi atau Milik Pribumi. Hanya beberapa warung kecil yang bernyali kais rejeki.

“Cabut Dwi Fungsi !”

“Ganyang Soeharto dan Kroni !”

“Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan !”

Teriakan-teriakan demostran gerahkan seorang komandan. Sesaat kemudian massa yang menyemut melaju terjang pagar hidup yang bersiap dengan pentungan. Dua tiga letupan menambah riuh. Kumpulan manusia mulai ricuh dalam kabut gas air mata dan hujan batu. Mengaduh. Mengerang. Massa demonstran tunggang langgang disambut ayunan pentungan dan jejakan. Sebagian tersungkur dan terinjak. Mereka yang menerjang kini terkejar.

Dor ! Dor !

Gonggong laras panjang entah darimana asalnya, halau massa. Sisakan serpihan kayu dan pecahan kaca. Masing-masing memilih selamatkan diri. Lima belas menit pertama, mereka yang luruh mengaduh digelandang pemburu. Sebagian diobatkan, sebagian diamankan.

Seonggok tubuh berkemeja biru terpaku. Sebercak darah dari lubang di saku baju mulai membeku. Beberapa orang agak ragu untuk mendekati. Desas-desus segera berhembus.

1998

“bapak koma aku akan pulang titik arif rahman”

Selembar surat kawat itu lusuh dalam genggamnya. Beritakan hasrat yang tak sampai.

Selembar yang lain beritakan darah dagingnya telah usai usia. “Maaf, Pak Karto. Hanya itu yang dapat saya sampaikan. Putra Bapak tak berwasiat apapun” kata pengantarnya waktu itu.

Konon anaknya tercatat gerakkan kaum buruh perjuangkan haknya. Juga kaum tani jadi lantang berani. Tatapnya masih melekat pada rerumpun jerami di hadapannya. Singgang. Sejenak ia mencoba tersenyum. Dalam heningnya ia mengerti, harapannya di musim berikutnya tumbuh bersama semangat anaknya.
.

Jogjakarta, September 2005.

Untuk saudara-saudaraku kaum tani di Kedungombo.
.

Catatan:

Lengas: air yang dikandung tanah

Gareng Pung : Serangga yang berbunyi disetiap pergantian musim

Bintang Waluku: Rasi Orion

Geluh: Tanah lempungan

Genjer-genjer: Lagu rakyat banyuwangi yang menggambarkan ketahanan desa  yang dicitrakan sebagai lagu pki oleh orde baru

Tan kendat : Berdedikasi,

Tan randhat : Tepat janji,

Tan sambat : Ringan hati

Mbok: ibu (sebutan)

Nuwun: terimakasih

Singgang: Tunas yang ditumbuhkan dari pangkal potongan jerami sisa panen untuk mensiasati musim.

Tinggalkan Komentar