Rawang
Desember 11th, 2006 by rifannazhif
Burung prenjak tidak berkicau nyaring lagi sejak beberapa menit lalu. Hujan yang turun setetes-setetes, pun tiba-tiba menderas. Seiring padamnya lampu listrik sehingga ruang tamu tersaput kelam.
Rahim, murid sd kelas enam itu, sudah menyalakan lampu teplok. Diletakkannya lampu yang bersinar meliuk-liuk itu di atas lantai papan. Sementara dia tengkurap sambil menulis sebuah karangan tentang hujan dan banjir. Besok karangan Rahim beserta karangan teman-temannya akan dikumpulkan oleh Pak Malik. Kabarnya akan diikutsertakan dalam lomba mengarang anak tingkat sd sekecamatan.
Fatimah, bunda Rahim telah berhenti menyulam. Sebab matanya yang sediki rabun itu, tidak dapat melihat jelas di tengah suasana yang kelam. Dengan gundah dia berdiri di dekat jendela. Pandangannya nanar melihat hujan besar bercampur angin. Dia teringat gempa dan badai tsunami yang telah menelan ratusan ribu nyawa manusia. Hampir sepekan ini dia terus mengikuti beritanya dari televisi empat belas inchi yang dikredit suaminya sebulan lalu.
Akankah hujan yang berkepusu itu sebagai pertanda badai akan datang? Mungkinkah kampungnya yang damai itu kelak bernasib sama seperti Aceh dan kota lainnya? Tidak! Dia tidak membayangkan bagaimana mereka anak-beranak kemudian dilantak badai. Dihanyutkan banjir bandang. Sehingga yang terlihat hanyalah gapaian tangan yang pasrah meminta pertolongan.
“Jangan berlama-lama memandang hujan itu, Bu! Nanti asmamu kambuh. Kancingkanlah jendela itu.” Ibrahim, suaminya, melerai Fatimah dari hujan, sambil sesekali matanya awas memperhatikan lobang tikus di rusuk ruang tamu. Beberapa hari ini seringkali tikus-tikus membuat lemari makan seperti kapal pecah. Ibrahim ingin memukul setiap kepala yang muncul di lobang itu dengan palu yang digenggamnya erat-erat.
“Aku takut, Pak! Takut kalau-kalau badai seperti di Aceh terjadi di sini. Lihatlah hujan yang sedemikian deras!” Giginya bergemeretak menahan dingin. Ketika dia mulai mendehem-dehem, jendela langsung dikancingkannya.
“Bu, Bu! Ibu terlalu memikirkan badai di Aceh. Bencana seperti itu tidak akan terjadi di sini. Pertama, kita jauh dari laut. Kedua, gempa sebelum badai datang tidak terjadi sampai sekarang, kan? Hanya ada hujan. Hujan, Bu! Hujan yang selalu biasa kita lihat,” ucapnya menekan. “Dia datang mengguyur dan memberi makan tumbuh-tumbuhan kita. Dia adalah rahmat dari Tuhan. Jadi jangan sekali-kali ibu mengesalkannya. Lebih baik ibu menenangkan diri dulu. Tidur!” Dia menatap Rahim yang masih tekun menulis.
“Rahim, berhentilah menulis di lantai! Nanti dadamu sakit,” tegur Ibrahim sambil beranjak ke atas bale-bale. Hatinya kesal menunggu tikus-tikus bandel itu keluar dari persembunyiannya. Dia berharap barangkali dengan berpura-pura tidur, para tikus akan terkecoh dan berani keluar seekor demi seekor.
“Sebentar lagi, Pak! Besok karangan ini akan dikumpul. Mudah-mudahan aku menang lomba. Jadi juara pertama sekecamatan. Ah, dengan hadiah uang tunai dari kejuaraan mengarang itu, aku akan mengganti sepatuku yang sudah jebol,” balasnya sambil berkhayal.
Ibrahim hanya menepiskan tangan di awang-awang. Khayalan anaknya terdengar terlalu tinggi. Sambil berpura-pura tertidur, telinganya awas mendengar suara kaki-kaki tikus yang akan keluar dari sarangnya. Tapi barangkali karena jenuh menunggu, akhirnya Ibrahim tertidur.
Dia tiba-tiba merasakan gempa yang amat dahsyat. Sehingga bale-balenya berguncang hebat. Dia merasakan tercampak dan terjerembab ke lantai, seiring suara gelombang air sayup-sayup mendekat. Kemudian mendendang rumahnya. Membawanya pergi jauh.
Ibrahim melihat istri dan anaknya menggapai-gapai dalam arus air. Dia melihat banyak orang tergulung gelombang laksana sekumpulan kelapa tua. Dalam kepanikan, mendadak sayup di dengarnya suara riuh di luar. Dia lansung duduk dan menyadari bahwa gempa dan gelombang bah yang melanda kampungnya hanya mimpi semata. Tapi teriakan di luar yang membangunkannya memang benar. Sayup-sayup, kemudian semakin jelas terdengar. “Rawang! Rawang melanda kampung. Ayo, ke tempat yang lebih tinggi!”
“Rawang? Rawang, Bu!” teriak Ibrahim kepada istrinya yang sedang membuka pintu ruang tamu. Di halaman depan rumah, berpuluh orang kampung dengan wajah cemas berdiri dalam gigil.
“Rawang, Pak Ibrahim! Rawang di lembah. Di perkampungan kami,” ucap seseorang setengah berteriak. “Kami sementara mengungsi di sini.”
Rumah Ibrahim memang persis di punggung bukit. Lokasinya dari rumah penduduk lain agak berjauhan. Dia sengaja membangun rumah di situ. Jauh dari lembah yang dilingkari sungai. Jauh dari bencana banjir, manakala sewaktu-waktu sungai tiba-tiba meluap tanpa kompromi.
“Sebatas mana banjirnya?” Ibrahim berkumpul bersama orang-orang kampung yang kedinginan. Selintas matanya awas melihat Fatimah dan Rahim yang duduk di tangga rumah. Dia merasa tenang. Mudah-mudahan air bah tidak sanggup menjangkau rumahnya.
“Sebatas dada orang dewasa!” tekan mereka menjelaskan.
Ibrahim menerawang. Dia membayangkan padi-padi yang mengijau di sawahnya. Membayangkan rimbunan cabe, terong, cepokak dan kacang pancang di pematang. Ah, pasti semuanya sudah terlindas banjir. Hancur-luluh dibawa arus menuju hilir.
Lalu, bagaimana penghidupannya ke depan? Bagaimana tentang penduduk kampung yang tempat tinggalnya terendam? Bagaimana roda kehidupan akan berjalan teratur dan simultan?
Ibrahim memang sudah membayangkan hal ini akan terjadi. Akan terus berulang. Hujan yang turun tanpa pemberitahuan, tidak lagi memiliki tempat bersimpuh. Karena pepohonan tidak ada. Bebukitan sudah gundul, sehingga setiap tetes air yang menimpanya akan menggelinding ke lembah. Menggelinding bersama serbuk-serbuk tanah. Bersama longsor. Banjir!
“Bagaimana dengan ladang dan persawahan?” tanya Ibrahim pelan. Dia berharap mendengar jawaban yang sedikit menyejukkan hati.
“Habis semua! Rumah, sekolah, ternak, semua tenggelam!” tekan mereka, sehingga Ibrahim merasakan tungkai kakinya lemas. Hampir seperti tidak dialiri darah.
“Ini terjadi bukan sebagai ujian bagi kita, melainkan hukuman dari Tuhan. Kita telah bersalah menghancurkan hutan-hutan rimbun. Membumihanguskan pohon-pohon hanya demi kenikmatan segelintir orang berdasi.”
“Tapi pohon-pohon itu diproduksi sebagai pembuat kertas, bubur kayu,” ucap seseorang menyela.
“Ya, tapi akhirnya mengancurkan rakyat kecil seperti kita.” Ibrahim terduduk di tanah. Dia ingat betul suatu hari pernah memimpin demonstran ke Kantor Pemerintah Kota demi menutup kegiatan penebangan pohon di sekitar perkampungannya. Namun jawaban yang mereka terima hanya seperti biasa; “ini semua demi pembangunan”. Dan sampai sekarang penebangan terus berlanjut. Seperti berlanjutnya banjir, longsor, badai dan bencana-bencana alam lain.
Ibrahim pasrah. Dia mulai apatis! Ditendangnya mimpi ingin hidup sejahtera ke langit. Karena hanya langit yang memiliki hak di posisi lebih tinggi. Berhak menyejahterakan, juga berhak memelaratkan rakyat jelata. Entah besok hari dia dan keluarganya dapat makan dua kali sehari, Ibrahim sendiri tidak tahu. Atau barangkali mereka akan mampus!
catatan : 1) banjir
o0o0o0o0o0o0o0o