KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mungkin Keringatmu Belum Mengering

Mungkin keringatmu belum mengering
Ketika kau tinggalkan kereta terakhir di stasiun tua itu
Berjalan menembus malam pekat berangin
Walau langkahmu gemetar, tapi tak gentar menghantam dingin

Kau lihat para sosok tua dan anak kecil
Mendengkur pelan di bawah jembatan-jembatan kota yang kau lewati
Ada sekumpulan orang tertawa-tawa sambil menggenggam botol-botol anggur merah
Mereka dibuai fatamorgana keduniaan yang memikat nikmat
Ada gubuk tua kumuh yang menyimpan kebahagiaan di sudut jalan itu
Karena dari dalam terdengar tawa gembira anak-anak bercengkrama dengan orang tua mereka
Sementara gedung-gedung mewah memperlihatkan keglamoran
Diisi oleh manusia-manusia yang berpesta melepas penat karena sehari sudah otot bekerja demi uang
Kini mereka biarkan sendi-sendi tubuh mengental dalam alunan musik yang riang dan tak berpijak pada manfaat
Dan sampailah kakimu di penghujung perjalanan
Sembari menyeka keringat yang membanjir di dahimu
Tiba-tiba dadamu yang masih basah terpekik tajam
Kakimu memaku langkah yang terhenti
Gubuk yang kau bangun di bawah matahari itu
Dipaksa musnah menjadi tanah, menjadi rongsokan
Yang kelak dibangun sebuah peradaban modern
yang lebih berharga mahal daripada sekedar gubuk

Mungkin keringatmu belum mengering
Ketika kau terlelap di stasiun tua itu
Menanti tibanya kereta pertama
Untuk kembali ke kampung halaman esok hari
Tapi tak ada yang disesalkan
Setidaknya kau telah menyingkap misteri malam di kota yang penuh kebusukan itu

One Response to “Mungkin Keringatmu Belum Mengering”

  1. on 12 Dec 2006 at 11:24nofita

    sendi-sendi penderitaan
    dengan bangga menunjukkan kekuasaan…………..
    mungkin beginilah ketamakan penguasa kita dan ketamakan kita

Tinggalkan Komentar