KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Menanti Entah

Telah lama aku berdiri
Di tanah lapang ini, akulah yang berani menantang terik
Dengan kaki-kaki kering yang memijak pada lantai bumi yang panas
Pada permohonanku yang tengadah, aku menatap langit
Berharap alam memberikan jawabnya

Telah lama aku sendiri dengan sepasang kaki yang masih tegak berdiri
Menanti lelaki yang datang membawa hujan
Berharap dia yang akan menghidupkan senyum yang lama karam meninggalkan
bibirku
Temukan aku dengan lelakiku yang hilang diterpa badai angin
Betapa getaran ini begitu mengguncang nafasku
Karena untuk pertama kali jantung ini berdetak karenanya
Tak kupahami mengapa dia begitu jauh
Saat kuraba rindu, hanya kulit kering yang membungkus daging
Rapuh, tak sempurna
Saat dingin, semua sel kulitku mengelupas
Merambat perih mencerca dalam daging
Aku hanya diam perih tersudut dalam gelap yang memekak mata
Karena hanya dia yang mampu menyelimutiku
Dia bagai abu yang tersisa dari pembakaranku
Layaknya pohon tanpa daun, kerontang…
Biarlah sepasang kakiku tetap tegak berdiri
Walau lelah… tetap kumenanti pertemuan yang entah

One Response to “Menanti Entah”

  1. on 14 Dec 2006 at 22:38Purna

    Puisi ini benar2 terfokus pada satu titik tidak berpaling pada situasi yang lain. Puisi yang melukiskan penderitaan panjang dan perih dari seorang pecinta. Penggambaran yang bagus, beberapa puluh kata menggambarkan seribu suasana.

Tinggalkan Komentar