KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ketika Waktu Itu Tiba

Angin semakin cepat berhembus, menerbangkan dedaunan kering di sepanjang jalan yang membujur menuju pantai. Pohon-pohon akasia tegar menjulang, berjejer di bantaran jalan berundak-undak, menghalangi cahaya matahari redup menerangi langkahku. Gelap sore bertambah menyekap. Menimbulkan ketakutan merasuk laksana demam. Lamat terdengar desah ombak, membuarkan birahi alami menyetubuhi pantai pasir putih.

Terbayang di mataku kalau sekarang beberapa sipir penjara sedang menyusuri pinggiran pantai berlumpur. Di tangan masing-masing anjing Doberman menyalak, menjulur-julurkan lidah serupa pejantan yang hampir lima tahun tidak mencium aura betina. Para sipir itu sedang mengejarku. Mengejarku dan Mamad, narapidana yang sudah berulangkali melakukan perkara kriminalitas.

Berdua, ibarat si kembar, aku dan Mamad selalu melakukan penjambretan di sepanjang jalan kota. Pekerjaan rutin mengasyikkan, apalagi perempuan-perempuan genit yang kami jambret menjerit ketakutan. Memohon ampun, atau berteriak sambil mengacung-acungkan sendal. Aku dan Mamad pasti tertawa keras di atas sepeda motor yang dipacu kencang.

Berulangkali pula kami tertangkap basah. Berulangkali dihajar massa, keluar masuk penjara, bahkan berendam di selokan-selokan berlumpur ketika polisi melangsungkan razia dadakan. Tapi ketika terbebas dari penjara, luput dari kejaran pertugas, kami mengulang kejadian sama.

Terus terang kuceritakan, nasib kami adalah serupa tahi kerbau yang dibuang sembarangan di jalanan. Aku seorang anak haram, terlantar di emperan toko. Hidup dan berkembang di bawah asuhan seorang pengamen yang juga penjambret.

Mamad seorang anak kampung. Bapaknya preman pasar, tapi akhirnya tewas ditikam petugas pamong praja ketika mengadakan razia preman. Ibu Mamad pun berlari ke luar kampung bersama seorang lelaki yang kelak menjadi suaminya. Persis setelah Mamad berumur enam tahun.

Mamad kemudian tinggal bersama neneknya. Namun karena bawaan nakal seperti bapaknya yang preman, akhirnya dia hengkang ke kota. Berjibaku di dalam bis kota menjadi peminta-minta, pengamen dan pemalak. Ketika berumur limabelas tahun, dia beralih profesi sebagai kenek bis kota. Tapi hanya bertahan sebulan. Selebihnya dia berkeliaran di jalanan, dan berjumpa denganku. Berbekal sepeda motor curian, kami menjambangi jalanan sebagai setan. Berpuluh berita kriminal kami, menghiasi halaman koran. Berpuluh pula korban. Berpuluh caci-maki dan tangisan berantai. Tapi itulah kenikmatan sebagai penjambret. Ketika malam-malam, menghabiskan hasil menjambret di kafe. Mabuk-mabukan, bermain perempuan atau menari-nari laksana setan.

Tiba-tiba suara letusan terdengar. Aku tersadar masih berada di dalam kepungan sipir penjara. Mamad yang merayap di belakangku tersedak. Kelihatan ketakutan amat membayangi matanya yang berkilat redup diterpa sinar senter para pengejar kami. Anjing-anjing sialan itu semakin santer menyalak. Langkah-langkah tegas dan berbobot bertambah dekat saja. Hampir lima kali sinar senter menyergap ubun-ubunku. Tapi rerimbunan perdu menolongku bersembunyi. Kubisikkan kepada Mamad supaya berhenti merayap. Berdua kami menelusup ke bawah rumpun perdu yang sedikit berduri. Mamad menjerit tertahan ketika melihat seekor tikus tanah melintas, melompat ke atas telapak kakinya.

“Diam, Mad!” bentakku.

“Tapi tikus itu….,” jawab Mamad protes. Dia memang paling anti terhadap tikus. Paling takut! Baginya mendingan bertemu dengan polisi ketimbang dengan tikus brengsek.

Teriakan-teriakan sipir penjara serupa sirine mengaung-ngaung di seantore rerimbunan akasia. Mereka bertambah dan semakin dekat. Aku dapat merasakan hawa amarah serta napas mereka yang memburu. Lalu dengus anjing, aroma ludahnya yang basi, si bongkok! Uh, senjata berlaras pendek tersebut selalu membuatku panas-dingin.

Dalam situasi begini selalu saja aku teringat Maimunah, perempuan berperut tambun, tapi baik hati. Perempuan itulah yang setiap kali membantuku, manakala habis dihajar massa. Atau ketika suatu waktu pulang dengan penuh luka karena dikejar-kejar polisi. Dia pula yang mencintaiku sepenuh hati. Menyeduhkanku secangkir kopi, menghidangkan makanan hangat-berkuah.

Namun terlalu sering aku membentaknya. Terlalu sering pula meninggalkannya. Ketika sedang senang, aku memilih tidur ditemani perempuan-perempuan lacur daripada mengeloni Maimunah yang seperti badak. Dia kerap kali merajuk ketika melihatku pulang dengan baju acak-acakan dan berbau parfum murahan. Tapi dia tidak banyak bicara, karena statusku dengannya hanya sebatas teman. Meskipun sekali-dua mengeloninya—karena dia sendiri yang meminta—toh hanya sesampai itu saja. Kataku, kami hanya kumpul kebo. Kumpul kebo! Dan bagiku dia tidak lebih daripada kebo!

Seharusnya aku menuruti nasehat Maimunah ketika meneleponku dari seberang pulau. Dia dengan perhatian, bersusah payah mengeluarkan duit banyak hanya untuk mendengar suaraku. Hanya sekedar mengatakan bahwa dia sudah bosan melihat hidupku yang penuh noda kriminal.

“Mas Rauf, dinda harap Mas dapat mengerti. Bersabarlah menunggu sampai masa tahanan Mas berakhir. Jangan lagi berusaha kabur seperti dulu. Karena itu akan membuat Mas semakin terjepit. Tetap dan akan terus menjadi incaran polisi. Dinda harap Mas mengurungkan niat kabur dari penjara besok pagi.” Lamat terdengar dia sesungukan.

Dinda? Sejak kapan Maimunah memakai embel-embel tersebut? Aku tertawa dalam hati. Kepadanya kukatakan tidak akan kabur dari penjara. Namun rayuan maut Mamad yang melebihi pelacur jetzet, membuatku kalap. Selepas membanting horn telepon penjara, aku dan Mamad pura-pura berkelahi di taman kecil di depan sel. Sipir kelabakan. Dia datang berusaha melerai.

“Berhenti! Stop!”

Ketika dia, yang hanya sendirian berjaga malam itu, mencoba mendekat, langsung kupukul dengan balok kayu. Mamad menendang ulu hatinya. Kemudian bersama Mamad aku memanjat dinding penjara. Telapak tangan kami koyak-moyak karena mencengkeram pucuk tembok yang ditanami pecahan beling.

Seperti kerap kali kami lakukan, aku dan Mamad akhirnya sukses kabur dari penjara. Tapi kemudian kami hanya berputar-putar di lokasi tersebut. Karena penjara memang berada di sebuah pulau kecil. Tatkala kami memutarinya, selalu saja kami berhenti pada posisi sama. Menghadapi laut yang membentang luas. Pantai berpasir putih. Ombak yang menggila setinggi dua meter lebih.

Walaupun ahli berenang, ternyata kami tidak sanggup menaklukkan ombak. Begitu berenang sekitar lima meter dari pantai, tubuh kami langsung dihantam, dicabik-cabik, lalu terhumbalang di atas karang. Pinggangku seperti hendak patah. Tulangku remuk-redam.

Sebagai pilihan terakhir adalah berlari ke hutan. Di situlah aku dan Mamad berdiam. Merayap laksana ular. Begitupun, ternyata para sipir tidak bodoh. Mereka tahu setiap jengkal tanah di pulau ini, seperti pemahaman mereka terhadap setiap jengkal tubuh istrinya.

“Ayo, keluar bajingan-bajingan! Apakah kalian lebih memilih menjadi makanan anjing daripada kembali ke penjara?” teriak salah seorang sipir. Kupeluk lutut Mamad dengan bibir bergetar. Suara letusan senjata terdengar mengakhiri ucapan pongah itu.

“Bagaimana Rauf? Aku takut!” Mamad menatapku dengan pasrah.

”Tenang saja. Aku sebenarnya takut juga.”

Mendengar tidak ada reaksi, tiba-tiba para sipir kalap. Anjing-anjing dilepaskan. Seperti telah mengenal sasarannya, binatang ganas itu langsung menerjang ke dalam rumpun perdu. Melahap seketika pergelangan kakiku dan Mamad tanpa ampun.

Aku berontak. Menendang moncong anjing-anjing sialan tersebut. Kemudian berdua kami melompat. Berlari menembus rerimbunan perdu yang lebih berduri. Tapi letusan senjata, membuat segalanya terjawab. Ada sesuatu yang dingin, tapi mengakibatkan panas membakar, menembus pungungku. Lalu terbebas dari ulu hati yang tiba-tiba berbentuk jeroan binatang. Kulihat Mamad terbelalak. Dia berusaha menolong. Sesudahnya aku tidak ingat apa-apa lagi. Hanya sebuah cahaya berwarna gelap tiba-tiba menutupi kornea mataku.

—sekian—

Tinggalkan Komentar