KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ketika Hans Tidak Kembali

Ada yang menggelenyar nikmat di dada ketika lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapanku. Dengan tinggi seratus tujuhpuluh sentimeter, dia kelihatan teramat jangkung dan gagah. Dia melemparkan senyum hangat. Duduk di hadapanku sangat sopan. Setangkai mawar yang disembunyikan di punggung, akhirnya diberikannya kepadaku. Ada wangi hangat membuar dari tubuhnya. Wangi hutan yang eksotik, sehingga membawa anganku ke pedalaman Kalimantan. Pedalaman yang penuh ritual, juga lelaki-lelaki hitam dan berkeringat. Ah, seketika kurasakan naluri kewanitaanku panas. Pipiku barangkali bersemu merah. Selintas kulihat dia menatapku. Sekali lagi melemparkan senyum hangat. Lalu meremas jemari ini selembut rengkuhan embun yang membuaikan mimpi.

“Lama menunggu?” Dia bertanya perlahan. Tapi aku tidak menjawab. Aku masih terkesima melihat penampilannya yang memukau. Setelan kemeja kotak-kotak berwarna putih, dipadu celana hitam yang membalut tubuhnya, membuatku memberinya nilai sembilan. Padahal sebetulnya aku ingin memberikannya nilai sepuluh. Namun sepuluh itu kuanggap jatah Tuhan.

“Tidak lama, Hans! Sekitar sepuluh menit.” Tawa ramahku akhirnya pecah. Kupersilahkan dia mencicipi udang goreng kegemarannya yang sudah terhidang sejak tadi. Botol minuman beralkohol rendah, kuangsurkan kepadanya. Dia tertawa senang.

Benda kegemarannya itu selalu membuatnya bergembira. Karena minuman beralkohol rendah itu, katanya sedikit banyak membuat suasana hangat. Tapi yang terpenting, rasa malunya untuk berbincang mesra denganku, segera lenyap setelah meneguknya seloki-dua. Begitu dia selalu mengumbar kata-kata pembelaan tentang minuman keras. Mungkin sekedar membenarkan perbuatannya.

Hans, Hans! Lelaki ini kukenal sekian hari lewat di sebuah cafeteria. Perjumpaan yang singkat dan mengesankan. Saat itu aku tengah menikmati jus semangka dan tiram bersaus pedas. Entah suatu kebetulan, tiba-tiba saus pedas itu muncrat ke celana Hans. Memang aku terburu-buru memencet botol saus yang terbuat dari plastik. Tapi aku tidak membayangkan kalau hampir setengah botol saus itu mengotori celana Hans. Aduh, aku tidak tahu warna wajahku seperti apa saking malunya. Tidak banyak yang kulakukan selain mengucapkan sepatah kata; maaf!.

Dan entah suatu kebetulan lagi, kami sedemikian cepat akrab. Barangkali karena kami sama-sama hobby makan tiram. Sama-sama senang mengembara di dunia cyber, berchating ria sampai berjam-jam di warnet. Tapi untuk mengajakku makan malam di restoran mewah begini, sungguh sangat mengejutkan. Adakah rahasia yang akan diungkapkan Hans kepadaku?

“Maaf, Kris. Seharusnya bukan kamu yang harus menungguku. Tapi aku yang wajib menunggumu. Toh, yang ingin mengadakan acara makan-makan ini kan, aku!”

“Sama saja, Hans! Tidak terlalu penting apakah aku atau kamu yang datang duluan di sini. Yang penting, meja ini sudah kamu pesan sedari sore, kan?” Kulihat Hans samar mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.”

“Apa itu?” Hans memandang keluar restoren sejenak, kemudian menatapku dengan serius.

“Kenapa tiba-tiba kamu sedemikian formal mengajakku makan di restoran ini? Padahal kita biasanya makan-makan di cafeteria.”

“Biasanya? Seberapa sering?” tanya Hans menggoda. Aku tersipu malu.

“Oh, iya, kita baru berkenalan beberapa hari, toh! Makan bersama kamu di cafeteria pun baru sekali. Yah, sebagai awal perkenalan kita yang tidak sengaja. Tapi tidak ada salahnya kan aku juga menganggapmu doyan makan di cafeteria, atau warteg, atau warung kaki lima,” cerocosku.

Dia menyilangkan tangan di depan dada. Kelihatan serius. Alisnya yang tebal hampir bertaut. Tapi sesaat berikutnya dia tertawa deras, sehingga memaksaku menancapkan kuku di lengannya yang liat.

“Wah, cakaran maut!” Tawanya bertambah deras.

“Pertanyaanku belum kamu jawab!”

“Jawaban apa?”

“Kenapa kamu mengajakku makan di restoran ini?”

Hans membisu. Ketika mulai berbicara, dia hanya permisi ke toilet sebentar. Lalu muncul dengan wajah malu-malu. Duduk di depanku serupa anak TK yang melihat mainan kesukaanya.

“Aku akan melamarmu. Boleh, kan?”

Aku terperangah. Seandainya berada di rumah, pasti aku akan langsung ke kamar dan menghambur ke tempat tidur. Perasaan kacau-balau ini memang harus dinetralisir di atas tempat tidur. Tapi bagaimana sekarang? Tiba-tiba kakiku kesemutan.

“Secepat ini? Kita baru berkenalan sekian hari, Hans!”

“Cepat atau lambat bukanlah penentu cintaku padamu. Kalau aku ingin melamarmu sekarang, tidak siapapun yang berhak melarang. Cintaku akan sepenuhnya tertumpah ke telaga jiwamu hanya dapat diwujudkan dengan menikah, Kris. Dan sebelum menikah, toh aku harus cepat-cepat melamarmu,” kata hans sedemikian tegas dan terang.

“Tapi!”

“Bulan depan aku dan orangtuaku akan datang melamarmu. Setuju?”

Entah kekuatan darimana, akhirnya aku mengangguk ragu. Tapi sesampai di rumah, mendadak jiwaku berbunga-bunga. Wah, akhirnya aku menikah juga, setelah hampir sepuluh tahun menunggu lamaran seorang lelaki. Jujur kukatakan, sekarang umurku sudah tigapuluh lima tahun. Umur yang teramat terlambat buat menikah.

* * *

Tapi kenangan bersama Hans hanyalah serupa setetes air yang jatuh ke permukaan telaga. Ketika dia jatuh, telaga hanya beriak sedikit. Kemudian kembali tenang seperti sediakala.

Belum genap sebulan setelah makan-makan bersamanya di restoran, tiba-tiba Hans mendapat tugas menjaga keamanan di Aceh. Tugas yang menurutku sangat menakutkan. Ibarat melompat ke lautan kalajengking, maka begitu pula menurutku keberadaan Hans kelak. Karena bukan sedikit berita yang kucerna-meskipun bercampur kabar angin-bahwa para petugas keamanan di sana sering mengalami penyiksaan, pembunuhan atau entah apalah namanya. Aku tidak ingin keadaan seperti itu terulang kepada Hans.

“Aku tidak akan lama di sana, Kris. Lagipula aku ditempatkan di pusat kota. Tidak masuk ke pedalaman, Kris!” katanya menenangkanku dari seberang.

Tanganku berkeringat memegang horn telepon. “Tapi, tapi bagaimana dengan lamaran kamu, Hans!”

Hans tidak menjawab. Terdengar suara dengungan menyergap dari horn telepon. “Sabar saja, Sayang. Sementara aku hanya tinggal di sana selama tiga hari. Hari keempat aku sudah berada di Jakarta, dan hari kelima aku akan melamarmu.”

“Pernikahan kita?” kejarku.

“Nanti kita susun kembali rencananya. Pesawat helikopternya sudah akan berangkat. Jaga dirimu baik-baik!”

Hanya sampai di situ perkataan Hans, karena suara berikutnya hanyalah dengingan keras. Kemudian telepon mati. Sungguh, seketika jiwaku tidak tenang. Ada keganjilan amat sangat di dalam dada ini. Keganjilan yang membuat perutku mules-mules. Menciptakan kecemasan teramat panjang. Kecemasan tidak akan pernah melihat Hans lagi. Kecemasan tidak mungkin mendengar suaranya yang ramah.

Mama yang menyadari kegalauanku mencoba menghibur. Dia mengatakan bahwa aku hanya termakan omongan yang tidak-tidak tentang keadaan di Aceh. Padahal sebenarnya keadaan di sana tidaklah serawan perkiraan orang.

Aku mencoba membenarkan pendapat mama. Tapi tetap saja hatiku tidak tenang. Hingga malam harinya semuanya terjawab. Tanpa sengaja aku menyalakan televisi yang menyiarkan jatuhnya sebuah pesawat helikopter sesaat sebelum mendarat di sebuah landasan di Aceh. Aku yakin itu pesawat helikopter yang ditumpangi Hans.

“Hans telah mati dan tidak akan kembali!” teriakku histeris. Mama tergopoh mendekatiku.

“Mungkin dia tidak berada di dalam helikopter itu, Kris. Mungkin dia naik pesawat lain, atau pesawat terbang, misalnya.”

“Aku yakin, Ma!”

Tiba-tiba telepon selularku menyala. Terpampang di monitornya sebaris nomor yang tidak kukenal. Buru-buru kuangkat. “Hallo, dengan siapa?”

“Dengan teman Hans. Kamu Kris, ya?” Terdengar suara lelaki yang terputus-putus.

“Ya, kenapa?”

“Hans telah tewas karena pesawat helikopternya jatuh di……” Suaranya terputus seketika. Aku terbadai di pelukan mama.

“Kenapa, Kris?” Mama setengah menjerit.

Aku tanpa sadar tertawa sedih. Hans tidak akan mungkin kembali. Dan tidak akan ada pula Hans-Hans lain yang bersedia mendekati dan melamarku. Haruskah di umur tigapuluh lima tahun ini aku menutup pintu untuk kata; menikah? Entahlah!

0o0o0sekian0o0o0

Tinggalkan Komentar