Kenangan yang Terbingkai
Desember 11th, 2006 by lubisgrafura
SEBUAH rumah milik kakek yang dihadiahkan kepada nenek ketika pengantin baru itu berdiri di atas pekarangan yang disekitarnya banyak tumbuh rose warna merah dan putih. Kakek tahu bahwa nenek sangat menyukai rose. Rumah itu dibangun dengan papan. Di beberapa bagian depan dan sampingnya ditumbuhi oleh tumbuhan rambat dan satu pohan Oak. Kakek sangat rajin memangkas tumbuhan itu agar tidak menutup jendela dan mengurangi masuknya cahaya matahari.
Aku seperti tengah berdiri di depan rumah itu. Mencium aroma roti panggang tiap pagi, kemudian mengolesinya dengan selai. Melihat Lussie mengibas-kibaskan ekornya di atas karpet. Atau jika musim dingin tiba, malam akan semakin kental dengan angin dingin yang membuat salju semakin akrab memeluk dinding papan. Air yang meleleh dari ujung atap tidak sempat jatuh mencium tanah karena keburu membeku. Tapi lucu, bekuan air yang menetes itu memanjang, menjulur, meliuk seperti tongkat nenek.
Hingga terdengar olehku deringan telefon yang memaksaku menggantungkan kembali bingkai foto rumah kakek dan nenek itu ke dinding.
***
Dulu, setiap kali tiba di desa tempat kakek dan nenek, aku selalu berlari ke lantai atas memandang bentangan ladang bermil-mil jauhnya dari jendela. Hamparan hijau rumput itu berakhir dengan gunung biru yang ditaburi putih salju. Di seberang kanan sana tampak peternakan sapi milik Pak Cork dengan beberapa pekerjanya. Lelaki tua itu selalu berbicara dengan aksen yang berat, sungguh berbeda dari kebanyakan aksen orang kota.
Di sisi lain aku dapat melihat danau dengan permukaannnya yang tenang, jika senja datang permukaannya melukis gumpalan awan yang keperakan. Juga kepakan-kepakan burung yang pulang. Betapa masa kecilku telah kuhabiskan di rumah kakek dan nenek. Aku adalah cucu pertama dari anak satu-satunya, sehingga aku dapat merasakan betapa kebahagiaan mereka telah tercurah sepenuhnya kepadaku.
Pada saat usiaku menginjak tahun ke sepuluh, kedua orang tuaku memilih untuk hidup sendiri-sendiri. Hak asuh diriku jatuh kepada Mom, karena Dad seorang pemabuk. Itupun alasan kenapa Mom memilih cerai.
Mom bahagia telah memenangkan persidangan hak asuh, tetapi ia harus berjuang keras karena Mom tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia harus banting tulang untuk kebutuhan kami setiap hari. Makanya, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama kakek dan nenek di desa. Setiap pagi aku selalu ikut nenek ke ladang membawakan sarapan untuk kakek. Sayang, setahun kemudian kakek meninggal.
Hari-hari kulalui dengan nenek. Mom yang dulu pernah pulang dua minggu sekali, kini menjadi setiap bulan sekali. Bahkan pernah sampai lima bulan Mom tidak pulang. Tapi, ia selalu mengirimi kami fotonya dan surat dari kota. Begitu juga Dad, ia pernah mengunjungiku beberapa kali dan mengirimiku surat. Namun, Mom melarangku untuk membalas surat-surat Dad. Walaupun dalam surat itu Dad mengatakan kepada Mom bahwa ia sangat mencintainya.
Dad pernah mengajakku ke kota menemui Mom. Di sana kami bertemu Mom. Aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saat itu yang kulihat mata Mom berubah menjadi lembab. Dan malam itu aku dan Dad pulang. Aku tak tahu persis apa yang terjadi kemudian, ketika aku terbangun di tengah malam kutersadar bahwa diriku sudah berada di kamar.
Aku hidup dan dewasa di desa. Nenek mengajariku banyak hal. Di akhir pekan kami selalu menghabiskan waktu untuk memancing, walau aku tahu nenek tidak suka memancing, tapi dia selalu menuruti keinginanku. Dari pagi hingga bola senja merah tertelan gunung, kami akan bersama pulang menuju rumah dan memasak ikan yang baru saja kami pancing. Kemudian Lussie berlari menyusul dari belakang.
Hari berganti seiring musim panen. Dan aku mulai menyukai gadis tetangga sebelah. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya. Aku sering murung dan mengurung diri di kamar. Menuliskan bait-bait puisi kepada seorang gadis yang aku sendiri tak tahu namanya. Melihat tingkahku, pada suatu kali makan malam, nenek menanyakan diriku apakah aku sudah memiliki pacar.
Dan, aku tak bisa menyembunyikan perasaan ini jauh dari nenek. Aku tak mau sedebu rahasiapun yang kuselipkan dari nenek. Ketika aku menceritakan pertama kali aku melihatnya, kulihat senyum simpul di bibir keriputnya. Nenek justru menyuruhku untuk mengejar gadis itu. Sebagai seorang laki-laki aku harus mendapatkan gadis itu.
Aku tak mau nenek menyebutku sebagai lelaki bodoh yang tak bisa merebut hati seorang gadis. Seorang perempuan itu memiliki pintu yang bernama hati, kata nenek kala itu, hanya ketulusan yang bisa menjadi kunci untuk membukanya.
Aku menceritakan rencanaku kepada nenek untuk mengajak gadis itu pergi ke karnaval yang akan diadakan seminggu lagi. Nenekku mengangguk setuju. Ia mengelus kepalaku, elusannya kurasakan seperti ketika aku masih usia kanak-kanak.
Alhasil, aku berhasil mengajak gadis itu untuk berkencan. Pertama kali aku menggandeng tangan gadis. Betapa tangan seorang gadis adalah ibarat salju di puncak gunung Alphene. Diantara keramaian, kami senantiasa bergandengan hingga malam menyelimuti desa dengan kota kecil di tengahnya, Kami akhiri hari yang indah itu dengan minum teh hangat di sebuah kedai.
Malam kuhabiskan dengan nenek. Kuceritakan pengalamanku hari ini yang sungguh indah. Kuceritakan setiap detilnya. Bahkan aku tak bosan-bosannya mengulangi peristiwa-peristiwa yang menarik. Nenekpun tak bosannya mendengarkan ceritaku. Dan ia menanyakan ini-itu walau aku sudah menceritakannya berkali-kali.
Hingga pada suatu ketika, aku mengajaknya untuk makan malam. Dan satu hal lagi yang membuatku kagum dari nenek adalah caranya menyenangkan tamu. Ivy, nama gadis itu, kulihat tersipu untuk beberapa kali saat nenek mengatakan bahwa aku adalah lelaki yang beruntung mendapatkan gadis seindah rose.
***
Pada usiaku yang kelima belas, akhirnya aku harus mengakui kenyataan: Ivy meninggalkanku!. Aku benar-benar jatuh. Dan aku merasakan rasa sakit hati untuk yang pertama kalinya. Sakitnya seperti ketika aku terjatuh di taman rose saat memetik bunga, dan duri-durinya mengenai kulitku.
Nenek dapat melihat perubahanku seperti saat pertama kali aku jatuh hati kepada seorang gadis yang belum kutahu siapa namanya. Kembali aku sering menghabiskan sisa waktuku di kamar memenuhi buku dengan bait-bait puisi yang kutulis untuk seorang gadis yang pertama kali memasukkan duri ke dalam hatiku.
Segala usaha yang dilakukan nenek sia-sia. Ia sudah melakukan segalanya untuk diriku, tapi aku masih suka membisu. Nenek juga masih setia menungguku memancing hingga senja tergelincir ke belakang gunung. Kami pulang tanpa seekor ikan pun di dalam kotak. Lagi-lagi nenek mengusap kepalaku dengan jemarinya yang makin hari kurasakan makin kering. Dan Lussie mencoba menghibur dengan meloncat-loncat di depanku.
Lambat laun aku akhirnya dapat melupakan Ivy. Aku kembali sekolah dan ingin mewujudkan cita-citaku dari kecil untuk menjadi seorang penulis. Nenek yakin aku dapat melakukannya. Hingga pada suatu kali aku harus pergi meninggalkan desa - yang hampir separuh usiaku kuhabiskan di sini.
Aku tak bisa meninggalkan nenek sendiri. Aku bisa membayangkan betapa nenek akan kesepian. Lussie tentu tak bisa diajak bicara ketika nenek kesepian. Pernah aku berkata kepada nenek untuk tetap tinggal di sini, tapi nenek justru tidak suka dengan sikapku yang cengeng. Untuk melanjutkan hidup, kata nenek sebelum aku pergi, haruslah rela melepas segala kenangan.
Kaki ini seperti terantai oleh rumah papan itu. Apalagi seminggu yang lalu nenek terbaring karena penyakit jantungnya. Ingin sekali rasanya ini adalah mimpi. Dan ketika aku tersadar aku sudah mendapati Lussie berdiri di samping kepalaku dan menjulurkan lidahnya ke pipiku. Tapi, hari itu adalah kenyataan yang tak bisa kuingkari.
Aku memeluk nenek, kemudian aku mencium Lussie. Nenek kembali menyapukan jemarinya di rambutku. Aku tak tahan dan menangis. Aku tahu bahwa nenek juga tak bisa menyembunyikan air mata dibalik kulit keriputnya. Kutinggalkan rumah kenangan itu. Aku beranjak dan tak mau menoleh kebelakang agar air mata ini tak berubah menjadi gunung es yang mencair.
***
Aku tinggal di sebuah flat sederhana bersama Mom. Mom masih juga melarangku untuk membalas surat-surat dari Dad. Aku menurut saja apa yang dikatakan Mom. Banyak buku-buku yang dikirimkan Dad kepadaku. Tapi seperti biasa, Mom selalu melarangku membalas suratnya, walau hanya sekedar mengucapakan terima kasih.
Pada akhir musim dingin, penyakit jantung nenek sering kambuh. Nenek terlalu capek mengurus rumah itu. Aku mengambil cuti beberapa hari dan aku berada di rumah papan itu. Kuulangi kebiasaanku memandang jendela, menatap lama-lama hamparan ladang atau danau yang sedang menggambar langit senja. Juga ternak sapi Pak Cork yang makin luas. Seminggu terasa sangat cepat. Setelah nenek dinyatakan sehat, kami kembali ke kota.
Aku seperti tak percaya. Apalagi Mom harus berhenti dari pekerjaannya karena perusaahaan Mom mengalami bangkrut. Tabungan Mom tidak cukup lagi untuk membiayai hidup di kota, sedangkan pekerjaan belum juga mampir. Apalagi jantung nenek sering kambuh. Keadaan ini memaksa kami untuk pulang merawat nenek.
Kami harus segera melunasi hutang, belum lagi menebus obat penyakit nenek yang harus diminum setiap hari. Nenek bukan makin sembuh, tapi penyakitnya makin kambuh. Akhirnya, nenekpun mewasiatkan rumah papan itu kepada kami sebelum dirinya memutuskan untuk menyerahkan tongkat estafet kehidupan kepada generasi berikutnya.
“Hidup ini harus dilanjutkan. Ada yang harus berhenti dan yang lainnya musti berlari” itu kata terakhirnya.
Hingga sampailah kami kepada saat dimana kami tidak memiliki pilihan lain, selain menjual rumah beserta karangan itu. Kami mencari flat sederhana di kota, karena Mom memiliki pekerjaan di sana.
Setiap tiga bulan sekali kami mengunjungi makan nenek, menabur rose di atas tanah tempat pembaringan nenek. Setiap kali kami melintasi rumah dari papan itu, kami seolah tak mau menoleh. Dan diantara kami selalu menjaga percakapan agar tidak menoleh ke sana. Tapi Lussie selalu berdiri ke jendela mobil. Menggonggong memberitahukan sesuatu dengan bahasa yang tak dimengerti, seperti hati kami yang memungkiri ingin mengatakan sesuatu tentang rumah itu.
***
Sudah dua tahun Dad tidak mengirimi aku paket berisi buku. Akhirnya pada suatu ketika aku merasa ingin menuliskan sebuah surat kepadanya, walau Mom melarangku. Berkali-kali bahkan berpuluh-puluh surat telah kukirim, tapi surat itu selalu kembali dengan alasan orang yang dituju sudah pindah alamat.
Pada suatu malam, aku menuliskan puisi-puisi untuk Dad. Aku tahu dad pasti bangga dengan hasilku kini. Diam-diam, dengan hasil tabunganku, aku pergi ke alamat surat yang pernah Dad tulis.
Pada suatu sore aku sampai di alamat tersebut. Kulihat sebuah rumah dengan halaman yang tidak terlalu luas dan rumput yang terpotong rata seperti karpet. Di balik pagar kayu itu terdapat kotak surat yang sebagian sisinya berkarat. Kucocokkan dengan alamat surat Dad. Sama.
Setelah pintu kuketuk beberapa kali, seorang lelaki tua membuka pintu. Kusebut nama Dad, tapi dia tidak mengenalnya. Ia mengatakan ia sudah menempati rumah ini selama dua tahun. Akhirnya aku bertemu tetangga yang baik hati dan pernah mengenal Dad, aku diberi nomor telefon kantor. Dad sudah lama tidak pulang, kata tetangga yang baik itu, mungkin ia tinggal di kantor. Malam itu aku menginap di rumahnya dan ia bercerita banyak hal tentang Dad.
Esok paginya aku pergi menuju kantor dan bertemu dengan atasan Dad. Ia seorang lelaki dengan perut buncit dengan kumis yang membusur seperti terbuat dari sapu ijuk. Ia mengatakan menyesal, membuat perasaanku tidak enak. Ia menceritakan Dad sudah meninggal karena serangan kanker otak. Aku tertunduk pucat dan lemas menatap tas ransel yang di dalamnya terdapat puisi-puisi yang kutulis untuk Dad beberapa malam lalu. Aku hendak mengirimkannya, tetapi aku tidak tahu di mana alamat Dad sekarang.
Malang, Juli 2006