Bu Darmo
Desember 11th, 2006 by AJ Susmana
Ia tak lantas menikah sesudah Sudarmo, suaminya, pamit meninggalkannya untuk perjuangan dan hidup yang semakin tak pasti pasca 1965. Ia hanya mendengar bahwa Sudarmo masuk Barisan Pendam. Sesudah itu ia tak pernah lagi mendengar kabar dan beritanya. Hidup atau matinya. Harapan untuk bertemu semakin pupus. Tapi ia tak pernah menangis dan mengeluh. Bekerja dan bekerja apa saja agar dua puterinya hasil perkawinannya dengan Sudarmo kelak bisa menjadi orang berguna dan penting atau cukup bisa hidup tak menyusahkan orang lain. Pasar dan ayam-ayam potong kemudian menjadi sumber kehidupannya. Ia pun tak pernah lagi bertanya-tanya tentang keberadaan suaminya. Biarlah waktu yang mengaturnya sebagaimana Bathara Kala memilih korban-korbannya sesuai dengan kesepakatan para dewa.
Ia masih muda dan cantik dan memang cantik walau sudah beranak dua. Tak ada kembang desa yang mampu mengalahkan kecantikannya. Puluhan pemuda dan lelaki-lelaki bersuami bahkan nekad melamarnya terlebih para tentara yang memasuki desanya. Semuanya tak membuatnya luluh walau beberapa lamaran sering disertai dengan ancaman: akan ditangkap karena dituduh pernah terlibat organisasi perempuan terlarang: Gerwani. Ia tak peduli. Kepada siapapun yang datang ke rumahnya atau berkenalan di pasar, ia selalu tetap memperkenalkan dirinya dengan nama Bu Darmo. Begitulah mungkin caranya menghargai dan menghormati kerabat dan orang-orang sedesanya yang berteman baik dengan suaminya dan mungkin juga untuk bukti cintanya pada Sudarmo. Orang-orang pun semakin terbiasa memanggilnya Bu Darmo meski statusnya sebagai janda cantik yang jadi rebutan tak pernah surut.
Satu persatu sebagian dari mereka yang merasa kalah mundur perlahan dan tak berani mengusiknya dengan kasar. Kecantikannya tampak menyelamatkan hidupnya dan membuat para pengagumnya ingin bersaing dengan wajar atau justru takut terjadi pertumpahan darah bila ada yang berhasil merayunya. Karenanya seperti ada kesepakatan umum di desa: “Biarlah ia memilih hidupnya sendiri dan lelaki yang disukainya!” Pemuda dan para lelaki iseng pun makin suka memanggilnya janda cantik Desa Kembang. Ia tak marah untuk itu. Biasa saja. Biarlah julukan itu menjadi penglaris untuk dagang ayam-ayam potongnya di pasar. Tapi, perempuan-perempuan yang cemburu atas kesuksesan hidupnya semakin liar menyebarkan gosip kehidupannya: pemuda dan lelaki-lelaki bersuami yang memasuki rumahnya tak sekadar melamar dan memberi hadiah-hadiah rayuan tapi juga menidurinya bahkan ia memilih dan mengundang pemuda-pemuda yang disukainya untuk naik ke ranjangnya dan memuaskan kebutuhan sexnya yang binal. “Mana ada perempuan bisa tahan hidup sendiri?” Ia perempuan setan kemasukan roh Calon Arang.
Sepuluh tahun sesudah peristiwa 1965 dan hidup di tengah gosip desa, Bu Darmo tiba-tiba meninggalkan desanya dan mengadu nasib di Kota Besar, Jakarta. Turut serta dua puterinya. Ia tak tahu apa yang musti dikerjakan di Jakarta. Perjalanan ke Jakarta saja adalah perjalanan pertama paling jauh ke barat. Ujung Kulon yang mistik justru pernah ia dengar dan akrab di telinganya ketika masih kanak-kanak karena sering menjadi bahan cerita-cerita ibunya. Tapi, Jakarta? Ia tak mengenal sama sekali. Hanya kehendak untuk mengubah hiduplah yang memberanikan dirinya memberanikan angkat kaki dan membawa serta dua puterinya yang belum menginjak remaja. Terlebih tak ada lagi yang mengikatnya di desa. Orang tua semua telah tiada. Ke Jakarta, adalah jalan keluar yang paling mungkin untuk mengubah nasib dan ini pun lebih baik daripada Bu Darmo menjadi gunjingan terus-menerus orang-orang yang lamaran dan cintanya ditolak serta menjadi musuh besar kaum perempuan desa yang semakin apolitis dan semakin jauh dari hingar-bingar kehidupan politik. “
Sesudah beberapa tahun meninggalkan desa, Orang-orang desa mendengar bahwa Bu Darmo bekerja pada Juragan Ayam Potong di Tangerang yang sekaligus mau menampung dan menyekolahkan dua puterinya di sekolah dasar.
***
Bom Minyak selesai sudah. Tahun-tahun pun berjalan dengan sunyi di desa. Tak ada lagi keramaian dan riang-ria anak-anak bermain di bawah bulan purnama. Anak-anak semakin banyak yang terpaksa bekerja di sawah membantu orang tua-orang tua mereka. Itu pun tak cukup. Satu persatu remaja dan pemuda: laki-perempuan, meninggalkan desa menuju kota-kota besar: mengadu nasib. Kehidupan tani tak lagi menarik. Kota-kota besar memberi harapan akan kehidupan yang lebih baik Entah jadi apa tak peduli. Yang penting bila pulang ke desa bawa uang. Titik. Moral tak lagi penting untuk dijadikan ukuran kebaikan di desa. Uang dan uang: itulah yang menyihir kehidupan desa. Sebagian dari perempuan yang pergi meninggalkan desa itu tak kembali tapi setia mengirimkan uang untuk orang tua-orang tua mereka di desa. Sebagian lagi, pulang dengan membawa anak-anak tanpa ayah. Karenanya terpaksa menikah dengan pemuda tani yang miskin. Kemiskinan semakin membelenggu. Harapan dan mimpi tiap malam dipertaruhkan di meja judi dan minuman keras murahan. Walau begitu orang tua-orang tua di desa selalu merelakan anak-anaknya pergi meninggalkan kehidupan desa yang dulu dikenal begitu ramah. Terkadang bahkan memaksa anak-anak mereka untuk pergi mengadu nasib di kota-kota besar tak peduli berpendidikan cukup atau tidak.
Teringatlah kini para lelaki tua desa itu kepada Bu Darmo yang cantik yang dulu membuat mereka bermimpi menjadikan Bu Darmo istri kedua atau ketiga. Teringatlah kini para pemuda yang kini telah memiliki anak-anak remaja yang berhamburan di kota-kota besar dan antri berbaris mencari lowongan kerja di pabrik-pabrik. kepada Bu Darmo yang dulu membangkitkan birahi mereka dan membuat mereka melakukan marturbasi bila melihat Bu Darmo melenggang ke pasar. Teringatlah kini, para ibu-ibu desa kepada Bu Darmo yang dulu membuat mereka hampir mati cemburu dan secara tak langsung mengusirnya pergi dari kehidupan desa.
“Bu Darmo. Bu Darmo”, orang-orang desa menyebut-menyebut lagi namanya setelah bertahun-tahun dilupakan. Berbagai cerita tentang Bu Darmo pun bermunculan di desa. “Bu Darmo adalah satu-satunya perempuan desa kita yang sukses di Jakarta”.
“Bu Darmo orang baik yang rela membantu orang-orang desa yang kesusahan di Jakarta”
“Bu Darmo, Juragan Ayam, setiap hari bisa ribuan ayam di potong di rumahnya yang besar”
“Bu Darmo menerima banyak karyawan. Ia tak banyak bertanya bila yang datang orang-orang dari desanya”.
“Bu Darmo pun tak pernah menolak orang datang untuk meminta sumbangan pembangunan rumah ibadah, termasuk masjid, terutama masjid di desanya”.
Cerita-cerita kesuksesan dan kebaikan Bu Darmo terus bersimpang-siur di desa dibawa pulang oleh para remaja dan pemuda yang mengadu nasib di Jakarta. Tapi Bu Darmo tak pernah pulang ke desa walau sekadar mengunjungi makam Ayah-Ibunya. Bu Darmo semakin menjadi misteri bagi orang-orang desa.
“Bagaimana Bu Darmo bisa menuai kesuksesan hidup yang keras di Jakarta?”
“Tak mungkinkah ia menjual kecantikannya pada lelaki-lelaki hidung belang di Jakarta yang kaya-raya?”
“Di desa sini saja sudah sundal. Apalagi di kota besar?”
“Mungkinkah ia merebut suami majikannya? Sehingga bisa sukses seperti sekarang?”
“Siapakah pemuda ganteng yang ikut Bu Darmo dan mengaku sebagai anaknya?”
“Anaknya? Dari benih lelaki manakah? Bukankah ia belum pernah menikah semenjak ditinggalkan Sudarmo?”
“Tak punyakah dia setan-setan yang disembahnya untuk membuatnya kaya-raya?”
“Bu Darmo, borjuis!”
Bu Darmo tak pernah peduli dengan gosip dan cerita-cerita yang berkembang mengenai dirinya yang mengalir dari desa leluhurnya. Ia bekerja dan bekerja. Terus bekerja. Sepertinya ia berusaha melupakan masa lalu. Hanya kini dan masa depan. Dua puterinya yang tumbuh dewasa dan berpendidikan tinggi cukup membahagiakan hidupnya yang mulai berangkat senja. Bu Darmo sendiri tak pernah lulus sekolah dasar. Ia pun tak peduli: siapakah yang akan menggantikan perannya mengelola industri pemotongan Ayam Bu Darmo yang sukses. Begitulah orang-orang yang dekat dengannya dan orang-orang yang bekerja bersamanya mengenal hidupnya sehari-hari.
2000. Orang-orang yang di tahun 1965 pergi meninggalkan desanya, entah pergi kemana, kini kembali berdatangan. Ada rasa takut tapi tak terlalu. Demokrasi meyakinkan mereka bahwa orang-orang yang pernah dituduh komunis bisa tinggal di desanya masing-masing tanpa perlu takut. Yang di luar negeri pun mulai diserukan untuk kembali. Begitulah mulut Bu Darmo pun berseru menyebut nama Sudarmo, suaminya, dari kamar pembaringannya. Orang-orang yang mengelilingi sisa-sisa hidupnya yang terakhir pun mendengar suara aneh tapi jelas:
“Niken, aku pasti kembali”
Jakarta, 25 September 2006