KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bom

Sormin menyeka keringatnya yang terus mengucur. Udara lembab di luar rumah sedikitpun tidak meredakan kegerahannya. Hampir tiga kali dia mengganti kaos oblong. Tapi tetap saja tubuhnya seperti berubah laksana bendungan, yang setiap saat memancarkan tetes demi tetes air.

Dia merasa cemas. Ketakutan. Bercampur aduk dengan rasa bersalah. Layar televisi yang menayangkan peristiwa pemboman di jalan protokol itu, telah menimbulkan rasa eneg dalam jiwanya. Rasa yang mengguncang adrenalin, sehingga harus berkali pula dia pergi ke kakus tanpa membuang sedikitpun kotoran.

Awalnya dia merasa setengah bangga setelah pemboman itu sukses. Namun sejam lalu, ketika sedang menyalakan televisi, Sam, anaknya tiba-tiba menelepon. Dia menangis menceritakan pemboman di jalan protokol telah merenggut nyawa calon istrinya. Ya, calon istri Sam, yang kelak menjadi menantu Sormin.

Sormin kecut. Bagaimana mungkin ini terjadi? Padahal dia sudah berjanji akan menikahkan Sam dengan perempuan itu. Dengan Sumiati, perempuan yang tewas seketika tatkala tragedi pemboman terjadi. Apa yang harus dikatakan Sormin pada anaknya? Apakah dia harus menceritakan bahwa salah seorang pelaku pemboman itu adalah dirinya? Meskipun tidak terlibat langsung melakukan pemboman, tapi Sorminlah yang berperan amat besar mencarikan orang yang bersedia berjibaku. Mencarikan orang yang benar-benar mau melakukan bom bunuh diri. Fuh! Ditatapnya layar televisi yang tengah menayangkan puluhan korban terbakar. Mendadak hatinya seperti meledak dan buyar sebagaimana jeroan binatang.

* * *

Malam itu di sebuah tempat kos di sudut kota, Sormin duduk sambil menatap ragu tiga orang lelaki perlente di depannya. Suasana benar-benar mencekam. Lampu sepuluh watt menerangi ruangan, sehingga wajah-wajah di sekeliling Sormin hanya serupa bayangan-bayangan yang melintas. Ada hawa dendam dan kebencian berputar-putar di dalam. Dan Sormin merasakan itu. Dia meraba hangat di leher. Berusaha membuang resah sembari menyeka keringat.

“Kamu sanggup melakukan tugas ini, Sormin!” tekan salah seorang di antara mereka setengah mengejek. Sormin membisu.

“Dia pasti sanggup,” jawab lelaki lain yang sejak tadi kelihatan tidak banyak tingkah. “Sormin, meskipun baru saya kenal beberapa bulan, tapi memiliki jiwa yang tegar. Dia juga termasuk setia dan rela menyumbangkan nyawanya demi kemajuan kelompok kita. Bukan begitu, Min?”

Sormin menatap lelaki itu lekat-lekat. Di antara mereka bertiga, hanya dia yang Sormin kenal. Dia adalah Ram. Lelaki seumuran Sormin. Tapi karena daya pikir dan pergaulan hidup yang lebih njelimet, dia kelihatan lebih tua lima tahun dari Sormin.

“Saya, saya pikir sanggup, Mas! Tapi apakah tidak berdosa membunuh orang-orang yang tidak bersalah itu? Saya takut dihukum Tuhan!” Bibir Sormin bergetar.

Dua orang lelaki di sebelah Ram tertawa mengejek.

“Ingat, Sormin, ini demi agama. Demi Negara kita. Tidakkah kau perhatikan bagaimana para bule dengan enaknya mengeksploitasi kekayaan bumi persada ini? Bagaimana mereka lambat-laun mengotori agama kita. Kita berjihad, Sormin. Jihad!” Tatapan mata itu seolah menancap ke lubuk hati Sormin yang paling dalam. Mengaduk-aduk perasaannya. Mengacaukan daya pikirnya yang waras.

“Tapi membunuh itu tetap berdosa!”

“Sudahlah, Ram! Dia ini banci! Cari orang lain saja!” Lelaki berpakaian motif kotak-kotak berdiri. Sormin melotot. Dia mencekal lengan lelaki itu.

“Tenang! Jangan bertengkar seperti ini! Ingat waktu kita sempit! Hanya tinggal sepuluh jam. Sementara bom yang akan kita ledakkan sudah siap. Saya sudah menyimpannya di sebuah gudang tua di ujung kota. Dan pekerjaan ini harus sukses!” Dia mengeluarkan beberapa gepok uang dari sebuah tas president hitam. “Lagipula uang buat kita sudah tersedia. Bukan untuk bersenang-senang. Tapi supaya kita bergegas kabur ke luar negeri setelah pemboman selesai. Di sana kita akan bertemu kawan-kawan seperjuangan. Kita akan menyusun rencana ke depan, untuk melakukan pemboman selanjutnya.”

“Bagaimana, Min?” Lelaki itu menepiskan cekalan Sormin.

“Tapi….”

“Ingat, Min, kau bukanlah orang yang disuruh melakukan bom bunuh diri itu. Tapi orang lain. Kau hanya diberikan tugas mencari orang tersebut.” Ram berdiri. Tubuhnya yang jangkung hampir menyentuh lampu yang bersinar semakin redup.

“Kalau saya tidak sanggup melakukannya?”

“Kau akan tahu sendiri akibatnya! Ingat keluarga dan nyawamu!”

Seketika Sormin tersentak. Dia tidak mengira Ram yang perlente dan berwajah setenang telaga, bisa melecutkan panas serupa magma. Sormin merasa terbakar. Tubuhnya menciut di atas kursi rotan itu.

“Ya, saya sanggup!” Sormin akhirnya mengiyakan.

* * *

Lima jam lamanya Sormin keliling-keliling kota. Tapi dia belum juga mendapatkan seorang lelaki yang mau dijadikan tumbal pemboman itu. Seorang lelaki yang mau melakukan bom bunuh diri! Heh! Siapa yang mau toh mati konyol begitu? Sormin sendiri tidak nekat melakukannya. Apalagi orang lain! Atau mungkin saja mereka pura-pura mau, tapi kemudian mengadukan Sormin ke polisi. Pasti berabe!

Karena itu sejak berpisah dengan Ram dan teman-temannya, Sormin tidak berani sedikitpun mengucapkan tentang rencana pemboman tersebut kepada orang yang diincarnya. Dia hanya menceritakan tentang proyek besar yang membutuhkan idealisme dan kesetiaan. Ketika mereka bertanya apakah proyek tersebut menghasilkan uang, Sormin menjawab, “Ya, cukup menghidupi keluarga anda sekian tahun!”

Tapi mungkinkah orang mempercayai Sormin? Dia hanyalah pekerja serabutan yang lebih dominan menganggur. Lagipula, dia bukan intelektual, yang mampu menyitir kata-kata sehingga orang terhipnotis.

Dalam pikiran buntu, akhirnya Sormin teringat kepada Latief. Lelaki pengangguran yang teramat fanatik terhadap agama. Dia pasti mau kalau ditawari jihad, batin Sormin lega. Dan ternyata lelaki bujangan berperawakan ceking itu, menyanggupi. Meskipun tidak dibayar.

“Tapi kami tetap akan membayarmu!” Sormin berjanji.

“Membayar kepada siapa kalau aku mati syahid?”

“Kepada kedua orangtuamu!”

“Baiklah!”

* * *

Sormin meremas-remas rambutnya. Televisi tetap menayangkan beberapa mayat korban bom bunuh diri. Berbagai ucapan belasungkawa menggaung deras, seiring hujan yang mengetuk-ngetuk kaca jendela. Bebagai kecaman dan caci-maki bergemeretak seperti hendak meruntuhkan ruangan.

Sormin menggigil. Pekerjaan Latief berakhir sukses. Tapi dia juga telah sukses membuat menangis ratusan atau bahkan ribuan orang. Dia pun berhasil membuat jutaan lagi kehilangan pekerjaan. Para wisatawan seorang demi seorang eksodus, dan entah kapan lagi berani menginjakkan kakinya ke negeri ini.

“Aku bersalah telah menjadi perpanjangan tangan para teroris itu. Aku berdosa telah tanpa sengaja ikut membunuh calon istri Sam.” Tubuh Sormin bergetar. Ketika telepon selular pemberian Ram berbunyi, dia beringsut takut-takut.

“Ayah!” terdengar suara sedih dari seberang. Suara istri Sormin.

“Kenapa?”

“Sam meninggal!”

“Meninggal? Tidak mungkin! Dia barusan meneleponku!”

“Benar, Yah! Sam juga menjadi korban bom bunuh diri di jalan protokol itu.”

Sormin gelagapan. Jadi, jadi siapa yang menelopnnya barusan? Nanar ditatapnya tayangan di telivisi, manakala sesosok mayat tanpa tangan diangkat dari selokan.

“Itu, itu, Sam!” Tiba-tiba bom meledak di perut Sormin. Bom bunuh diri.

—sekian—

Tinggalkan Komentar