KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Asmara di Posko Jenggala

Masih terus terdengar alunan lagu Berita Kepada Kawan yang dilantunkan oleh Ebit G Ade dari kaset tape di Posko Jenggala. Merinding seluruh tubuh Ananda setiap kali mendengar lagu tersebut. Kota Yogya tempat ia menuntut ilmu beberapa tahun yang lalu kini hancur lebur diguncang gempa 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.53 yang lalu dengan kekuatan 5,9 Skala Ricter. Yang mengakibatkan sebagian besar rumah penduduk, gedung pemerintahan, kampus, sekolah juga jalan-jalan retak-retak dan hancur. Korban meninggal mencapai ribuan. Luka berat dan ringan tak kalah banyaknya.

Sejak hari pertama terjadi gempa Posko Jenggala dibanjiri calon relawan dari penjuru kota yang ingin menjadi relawan-relawanti termasuk Ananda yang berangkat dari Jakarta bersama beberapa teman alumni sekolahnya saat menuntut ilmu di Yogya.

Mereka bergabung dalam satu posko namun terpisah karena Posko Jenggala dibagi tiga tempat dalam satu komplek daerah yang sangat luas. Posko Jenggala I sebelah barat yang bertugas penerimaan bantuan, Posko Jenggala II sebelah selatan yang bertugas pembagian bantuan kepada korban gempa sedangkan Posko Jenggala III berhadapan jauh dengan Posko Jenggala I yang bertugas pemeriksaan kesehatan gratis untuk korban gempa.

Setiap malam para koordinator tiap posko rapat berdiskusi membicarakan kegiatan masing-masing posko. Mereka yang hadir diantaranya Dr. Anton sebagai ketua, Ir. Bambang memegang bendahara, Dra. Astuti berperan sekretaris, Ananda, Silvi, Zuhri yang mengkoordinasi masing-masing posko beserta anggota-anggotanya.

Berawal dari kegiatan itulah dua insan yang berbeda saling memperhatikan dengan mata yang berbicara. Dua insan itu Ananda yang sebagai koordinator posko Jenggala I dan Zuhri yang mengkoordinatori posko Jenggala III. Usai acara diskusi dengan rasa percaya diri Zuhri menyapa gadis mungil itu. Kemudian mengajak berbincang-bincang, paling tidak membicarakan tentang kegiatan posko pasca gempa.

“Maaf, Anda koordinator dari posko Jenggala II kan?” sapanya Zuhri pada gadis manis yang mau berbenah diri meninggalkan tempat rapat yang tak lain adalah Ananda. Namun yang diajak bicara malah tersenyum.

“Kok Anda malah tersenyum? Ada yang salah dengan pertanyaan saya?” Zuhri terbengong-bengong.

“Heran saja dengan Anda. Sudah beberapa malam kita berkumpul di tempat ini tapi Anda belum juga hapal koordinator posko Jenggala I,” kata Ananda masih senyum-senyum. Sebenarnya Zuhri juga malu mendengar kalimat koordinator posko Jenggala I itu. Namun untuk menutupi rasa malunya dia mengajak makan malam bareng di tempat yang sudah disediakan. Dengan senang hati Ananda menerima ajakan koordinator posko Jenggala III yang tinggi dan atletis itu.

Makin hari makin dekat saja hubungan mereka. Disini ada Zuhri disinipun ada Ananda. Disana Ananda berada disanapun Zuhri ada. Sehingga sebagian relawanti lainnya pun merasa iri dengan kedekatan mereka, salah satunya Santi yang gosipnya sangat menyukai Zuhri.

Sore itu Santi memergoki Zuhri lagi sendirian di tenda posko. Santi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada didepan mata untuk dapat bercanda dengan Zuhri.

“Zuhri, tumben sendirian? Mana Ananda, kok tak kelihatan?” sapanya dengan nada menggoda. Yang disapa merasa kaget.

“Oh kamu Santi, bikin aku kaget saja. Ada perlu apa?” tanyanya sembari mencari kesibukan begitu tahu siapa yang datang.

“Ingin ngobrol-ngobrol saja sama kamu, tidak boleh?” godanya sekali lagi dengan menyandarkan sedikit lengan ke punggung laki-laki itu. Sebenarnya Zuhri risih dengan sikap Santi.

“Maaf Santi, aku baru sibuk”. Selalu begitu alasan Zuhri setiap Santi hadir.

“Aku tahu kamu tidak sibuk, itu cuma alasanmu menolak kehadiranku kan? Sejak Ananda masuk ke posko kita sikapmu berubah padaku, kamu jatuh cinta ya sama dia?” ujar Santi bernada sinis.

“Apa urusanmu?”

“Urusanku dong! Aku ingin tahu hubungan kalian sampai mana?”

“Maksudmu apa dengan pertanyaanmu itu?” ujar Zuhri tak mengerti.

“Jujur saja Ri, aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya.”

“Alasannya?”

“Karena aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat.” Santi memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka tidak tahu dibalik tenda ada seorang Ananda mendengar percakapannya. Ananda tetap diam ditempat.

“Terima kasih atas pengakuanmu mencintai aku, tapi di dalam hati ini telah ada nama yang kuukir indah disana,” kata Zuhri dengan nada sedikit puitis seraya meletakkan telapak tangannya di dadanya yang bidang.

“Emm… romantis sekali kata-katamu, maksudmu si Ananda?” tebak Santi.

“Syukur kalau kamu sudah tahu,” ujar Zuhri singkat.

Zuhri kembali meneruskan kesibukannya. Santi yang merasa dicuekin segera meninggalkan tempat itu. Tentu saja dia merasa kecewa karena secara halus ditolak pernyataan cintanya. Sebentar kemudian muncullah Ananda dari balik tenda. Ia berusaha untuk menutupi apa yang didengarnya tadi. Zuhri terpana melihat penampilan rambut panjang Ananda yang dibiarkan lepas tanpa pengikat rambut. Kelihatan cantiknya.

“Ada yang salah dengan penampilanku, kok cara memandangmu seperti itu?”

“Tidak ada kok. Aku cuma…,” Zuhri tak meneruskan kalimatnya.

Ananda tersenyum melihat gelagat Zuhri.

“Ananda, ngomong-ngomong kamu sudah punya calon suami belum?” tanya Zuhri dengan santainya sembari menjejeri Ananda yang duduk memandangi sinar matahari sore.

“Belum, tidak ada yang mau sama aku. Memang kenapa, mau daftar?” Canda Ananda sekenanya.

“Masa iya sih, wanita seanggun kamu tidak ada yang mau?”

“Ya udah kalau tak percaya! Aku bukan tipe wanita yang bisa dirayu. Aku ingin calon suami yang sederhana, pengertian dan apa adanya. Terus kamu sendiri bagaimana?” Ananda balik bertanya.

“Belum, tidak ada yang mau denganku?”

“Yang benar saja, pria seganteng kamu tidak ada yang naksir?”

“Ya…gimana ya, soalnya aku bukan seorang pria yang sok ganteng yang mau gaet sembarang wanita. Karena aku ingin calon istri yang sederhana, apa adanya dan pengertian,” kata Zuhri dengan sedikit mengutip sebagian kalimat jawaban Ananda. Dalam batin Ananda tersenyum juga sebab sebagian ucapannya dikutip pria yang duduk disampingnya.

Suasana hening. Tak ada yang tahu apa yang bicara di dalam hati mereka. Dirasa cukup keperluannya Ananda kembali ke poskonya dengan meninggalkan senyuman indah pada Zuhri.

Dilain waktu Santi menemui Ananda yang sedang merapikan isi tenda posko yang sedikit berantakan.

“Emm… Ananda, aku ingin menanyakan sesuatu.” Tanpa permisi Santi langsung masuk dalam tenda. Tentu saja Ananda kaget karena ketidaktahuan ada orang masuk ke dalam poskonya tanpa permisi dulu.

“Soal apa?” Tanya Ananda menghentikan sejenak berbenahnya.

“Soal hubunganmu dengan Zuhri, sebenarnya sampai dimana hubungan kalian?”

“O… itu. Teman curhat, memang kenapa?”

“Aku minta… kamu jangan dekat-dekat dia lagi deh. Jujur saja sejak kehadiranmu disini aku merasa terganggu dan akibatnya hubunganku dengan dia agak renggang,”

“Oh, gitu. Ya maaf saja kalau kamu merasa terganggu dengan kehadiranku. Tapi kalau untuk menjauhi Zuhri aku tidak terima, karena selama ini dia yang lebih dulu dekatin aku,” kata Ananda merasa tersinggung juga mendengar ucapan Santi seperti itu.

“Pergi saja kalau didekatin dia, gampang kan?”

“Kamu cemburu karena Zuhri lebih sering jalan denganku?”

“Kuakui, aku memang cemburu dengan kedekatan kalian, apa aku salah?” aku Santi dengan nada sinis.

“Sory saja kalau telah membuatmu cemburu. Tapi apakah kamu tidak malu bila kalimat itu kamu lontarkan padaku? Harusnya kan pada Zuhri?,” ucap Ananda mencoba tetap tenang menghadapi sikap Santi yang seolah-olah menuduh dirinyalah yang menyebabkan kerenggangan persahabatan mereka.

Malam itu ketika tidak ada kegiatan Ananda menghampiri Santi lalu mengajaknya untuk menemui Zuhri di tenda posko Jenggala III. Sebenarnya dia enggan diajak menemui Zuhri. Karena masih kecewa dengan penolakan cintanya beberapa hari yang lalu.

“Santi, sekarang silahkan kamu bicara dengan Zuhri tentang pengakuanmu pagi tadi.” Ananda membuka pembicaraan begitu sampai di pintu posko Jenggala III. Kebetulan bertemu langsung dengan Zuhri yang hendak keluar. Zuhri yang merasa disebut namanya hanya bengong, tak tahu maksud kedatangan dua makluk wanita dihadapannya dan lebih mengherankan lagi dengan ucapan Ananda agar Santi mau bicara dengannya.

“Ri, sebenarnya aku cemburu melihat kalian sering jalan,” ungkap Santi tanpa basa-basi dengan menahan rasa kecewa bercampur marah yang sebenarnya sedang bergejolak didalam batinnya.

“Santi, sebelumnya aku minta maaf mungkin tanpa aku sadari aku telah membuat dirimu kecewa atau apalah. Tak ada yang melarang kamu untuk cemburu melihat kedekatanku dengan wanita lain, tapi seperti yang pernah aku katakan padamu beberapa hari yang lalu bahwa aku telah mencintai wanita lain dan kamu sudah tahu siapa yang kumaksud. Aku sangat berterima kasih karena kamu telah menyayangi bahkan mencintaiku tapi perlu kamu ingat, cinta itu tak harus saling memiliki. Kamu cantik, percayalah masih banyak laki-laki yang mencari wanita sepertimu”. Zuhri berusaha memberi pengertian pada Santi disaksikan Ananda. Ada rasa lega di hati Ananda karena permasalahannya dapat diselesaikan dengan baik.

Mendengar kalimat Zuhri, Santi langsung pergi meninggalkan tenda posko dengan perasaan gondok, kecewa, marah dan merasa kalah saingan. Sementara Ananda diam berdiri menatap kepergian Ratih yang lambat laun menghilang dari pandangannya.

“Sebenarnya ada apa, kok tiba-tiba kamu dan Santi datang ke sini, terus kamu menyuruh Ratih untuk bicara denganku?” tanyanya tetap belum mengerti dengan kejadian yang baru saja terjadi.

Ananda kemudian menceritakan apa yang menjadi permasalahannya. Dan ia juga menceritakan bahwa ia mendengarkan pembicaraannya dengan Santi dibelakang tenda posko beberapa hari yang lalu. Zuhri baru mengerti sepenuhnya. Malam semakin larut dan dingin. Zuhri segera mengantar pulang Ananda kembali ke tendanya yang sudah kelihatan mengantuk. Namun setengah perjalanan Zuhri menghentikan langkahnya.

“Ananda, aku mencintai kamu,” ucap Zuhri dengan keberanian hatinya.

Ananda terkejut mendengar ungkapan cinta dari pria yang berdiri dihadapannya. Mata mereka saling beradu pandang. Lama.

“Kamu serius dengan ucapanmu?” kata Ananda dengan hati masih tak percaya.

“Aku serius Ananda. Aku sudah jatuh cinta padamu pertama melihatmu”

“Kamu yakin tak salah kalimat itu kamu ungkapkan untuk aku?”

“Tidak Ananda. Karena sungguh-sungguh aku mencintaimu!” tegas Zuhri.

“Lalu?”

“Aku ingin… kamu menjadi calon istriku?”

“Kamu yakin tidak salah memilih aku?”

“Aku yakin Ananda.”

“Tapi aku takut, aku merasa bukanlah yang terbaik untukmu. Aku yang cuma tamatan SMA, fisik tidak bagus, tidak pintar dan dari keluarga tidak punya. Sementara kamu sebaliknya dari aku. Sebenarnya kamu masih punya kesempatan untuk mencari yang lebih baik dari aku, misalnya si Santi….,”

“Aku tidak perduli dengan keadaanmu. Aku sangat menyayangimu, Ananda,” potong Zuhri dengan harapan bisa menyakini wanita dihadapannya.

“Tapi aku tak mau jadi calon istrimu, aku ingin benar-benar dijadikan istrimu, pacaran untuk nikah, kamu siap?” tantangnya tanpa basa-basi.

“Aku siap! Terima kasih Ananda. Kamu wanita yang aku cari. Kamu wanita sederhana, dewasa, apa adanya dan pintar. I love you,” ucap Zuhri seraya mencium kening wanita yang ingin dia dinikahi itu dengan mesra.

Tiga bulan kemudian menikahlah mereka.

6 Responses to “Asmara di Posko Jenggala”

  1. on 20 Jun 2007 at 08:45KAPELOR

    ceritanya kayak anak-anak banget sih, pengarangnya kurang kreatif. kalau ngak bisa ngarang ceerpen jangan bikin cerpen dong. ngabisin waktu aja

  2. on 28 Dec 2007 at 22:10muhamad kosim

    hallo kak pengarang ,q suka gaya loe dan cerpenkamu dan aku mau tanya niiih, bgmn keadaannya stlh menikah

  3. on 07 Aug 2008 at 17:39candra srs

    assalamualikum wr.wb

    Cerpenya bagus ceritanya lumyan,tapi boleh gx beri saran.Menurut

    aq itu gx mengembang ,maksudnya kurang kreatif dalam

    menceritakannya padehal cerita tersebut asyik.Dan penulisannya

    kurang dasyhat dehhhh….jadi agak kurang seru gitu jadinya.Terima

    kasih.Selamat berkarya

  4. on 12 Feb 2009 at 10:19sua

    lumayan puisimu , saat baca sambil minum kopi. aq suka yaaaa

  5. on 06 Mar 2009 at 11:04citra

    bgus loch ceritanya……
    kalo lebih panjang pasti bagus kalo buat novel

  6. on 16 Nov 2009 at 20:31MASKUB

    em….

    lumayan buat seorang pemula…?

    lain kali, agak lebih dahsyat dikit napa??

    biar gereget na keluar…!!

    oce!!

Tinggalkan Komentar