KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ada kerinduan mengubun menyucuk-nyucuk hati Sulaiman. Kerinduan seorang anak kepada ayah yang tidak kunjung tiba. Karena sejak ayah pergi bekerja ke luar negeri sekian tahun lewat, tidak sekalipun dia datang kembali. Meskipun sekedar menyapa. Sedangkan sebait kabar berita, juga tidak sampai, selain kabar angin bahwa ayah sudah sampai dan bekerja serabutan di Malaysia. Dia menjadi tenaga kerja illegal. Dan sungguh, Sulaiman sangat asing terhadap kata illegal itu. Apakah sebentuk makanan atau pakaian, dia tidak mau ambil pusing.

Sulaiman amat berharap suatu hari ayah akan muncul di ujung jalan menanjak. Sambil menyeka keringat, ayah melambai-lambai. Sebuah sepeda baru dengan rumbai-rumbai plastik warna-warni di ujung stang, berjalan lancar di belakangnya sembari di dorong anak-anak kampung. Mereka mengelu-elukan ayah. Menyebut-nyebut nama Sulaiman dengan gembira, “Sulaiman punya sepeda! Sulaiman punya sepeda!”

Alangkah bangga perasaan Sulaiman. Dadanya langsung membusung serupa tentara yang kerap dia lihat berbaris-baris di kota kabupaten. Ayah tentu tersenyum dan ikut memanggil namanya. Tubuh ayah yang tinggi tegap, membayang jelas di jalan tanah. Memanjang dan bertambah memanjang karena senja semakin merapat. Sulaiman juga melihat ayah mengenakan seragam putih-hitam dengan dasi kupu-kupu yang mencekik lehernya. Ayah kelihatan gagah. Mirip benar pemain film yang sering ditonton Sulaiman di layar tancap ketika musim pasar malam melanda kampungnya.

Tapi Sulaiman hanya mampu berharap. Sebab setelah hampir sembilan kali panen padi, ayah tidak kunjung datang. Ibu kelihatan semakin kurus. Kerut-merut ketuaan begitu tiba-tiba menyergap wajahnya yang dulu ranum.

Sulaiman sedih. Sedih melihat keadaan ibu, sekaligus keadaan dirinya sendiri yang seperti anak yatim. Berulangkali dia diolok-olok teman di sekolah, karena bertahun sudah tidak memiliki ayah. Kata teman-temannya, ayah Sulaiman kawin lagi di luar negeri. Ayah Sulaiman orang penggatal, genit. Ibunya juga dikatakan suka mengganggu suami orang. Betina penggoda dan macam-macam lagi yang sengaja tidak diingat Sulaiman karena gelar-gelaran itu teramat jorok. Akibatnya Sulaiman berulangkali berkelahi di sekolah, sehingga pulang-pulang dengan hidung berdarah dan seragam kotor koyak-moyak. Ibu hanya mengelus dada tanpa berkehendak marah. Karena memarahi Sulaiman sama saja menambah kemasygulan anak semata wayangnya itu.

“Apakah ayah kawin lagi dengan perempuan lain di Malaysia, Bu?” tanya Sulaiman suatu hari kepada ibu. Dia bertanya sambil meringis-ringis karena luka di ujung hidungnya sedang diobati ibu. Sepulang sekolah tadi dia bergelut dengan Somad di depan rumah bedeng sebab telah diolok-olok sebagai anak perempuan malam.

“Siapa yang mengatakan begitu?” Ibu melotot. Tampak tangannya bergetar menahan amarah.

“Teman-teman di sekolah, Bu!” jawab Sulaiman tertunduk. Dia menyesal telah mempertanyakan sesuatu yang pasti membuat hati ibu kembali terluka.

“Ayahmu tidak mungkin berbuat demikian, Sulaiman. Ayah seorang yang setia!” Ibu berdiri. Ditatapnya bunga-bunga rumput yang terbang dibawa angin ke utara. Para angon bebek yang berjalan beriringan bersama bebek-bebek mereka, kelihatan seperti beberapa batang korek api yang diiikuti semut-semut. Senja sudah merapat dan mereka harus bergegas pulang. Matahari yang berwarna merah di pundak gunung laksana sepotong kue yang hampir habis dilahap bumi.

“Tapi mengapa dia tidak pulang-pulang? Mengapa dia tidak memberi kabar kepada kita?” Sulaiman merengut.

“Jangan berkata begitu, Sulaiman!” Ibu marah. Keningnya berkerut menahan emosi di dalam dada.

Sulaiman tertunduk lagi. “Maaf, Bu! Sulaiman tidak akan bertanya macam-macam lagi.”

Setelah perdebatan kecil itu Sulaiman menjadi pendiam, demikian pula ibu. Ketika berpapasan atau sedang duduk berduaan di dalam rumah, keduanya hanya mengomongkan yang perlu-perlu saja. Tapi kebiasaan Sulaiman duduk berlama-lama di beranda depan yang berlantaikan tanah merah tidak hilang-hilang juga. Dia tetap berharap ayah akan tiba di ujung jalan menanjak. Berkeringat dengan senyum kemenangan. Dan sepeda baru itu, duh… Sulaiman sangat menginginkannya. Karena kaki-kaki mungilnya sudah terlalu capek sekian tahun menempuh perjalanan beratus meter menuju sekolah. Tapi sekali lagi sosok itu tetap tidak muncul-muncul. Sampai senja berganti malam. Sampai malam benar-benar menyergap, sehingga Sulaiman menguap lebar-lebar. Bila sudah demikian tiada pilihan lain selain lelap.

* * *

Tiba-tiba ayah muncul di ujung jalan menanjak. Dia mengenakan pakaian putih- hitam dan berdasi kupu-kupu mencekik leher. Senyumnya yang khas mempertontonkan gigi-gigi putih tersusun rapi. Persis pagar halaman depan rumah.

Dia melambai dengan tangan kokoh. Bayang-bayang tubuhnya memanjang dan semakin memanjang karena senja bertambah merapat. Sulaiman melihat ayah bertambah tua. Tapi dibanding dulu, sekarang dia kelihatan lebih dewasa. Sulaiman melihat anak rambut ayah yang menjuntai dari balik topi koboi. Ah, dia sudah ubanan. Tapi Sulaiamn tidak menghiraukan semua itu. Dia senang ayah sudah kembali. Lebih senang lagi ketika ayah benar-benar menepati janji. Dia membawakan Sulaiman sebuah sepeda baru. Beberapa anak kampung mendorong benda bagus itu sambil berteriak, “Sulaiman punya sepeda! Sulaiman punya sepeda!”

Bagaikan anak panah melesat dari busurnya, Sulaiman menyongsong ayah. Ayah merangkulnya erat. Lalu menyuruhnya mengendarai sepeda itu. Setengah malu, Sulaiman mengangguk. Dia menaiki sepeda itu meskipun belum bisa mengendarainya. Dia hanya berpura-pura saja, agar ayah melihatnya gagah. Melihatnya meluncur menuju rumah dengan senyum lebar.

Brak! Mendadak sepeda jatuh, serempak dengan jatuhnya Sulaiman dari atas bale-bale. Dia tertawa geli sambil memukul lantai. “Hanya mimpi!” ketusnya.

“Kenapa berbicara sendiri, Sulaiman?” tegur ibu.

“Tidak, Bu! Tidak apa-apa! Sulaiman pergi bermain dulu.”

* * *

Angin musim kemarau berhembus pelan. Menerbangkan debu jalanan. Membawa dedaunan berpusing-pusing, sebelum akhirnya terjerembab ke tanah. Dan anak-anak yang pulang sekolah meremukkannnya.dengan kaki-kaki kecil lincah bersepatu aneka warna. Mereka berteriak girang.

Manakala sebuah layangan melintasi angkasa, dan akhirnya putus, anak-anak sekolah itu pun berlari serabutan. Saling sikutan mengejar layang-layang putus. Tapi akhirnya benda yang terbuat dari kertas minyak itu mengalami nasib tragis. Remuk di tangan-tangan mungil yang saling berebut. Dan semuanya pun tertawa. Berlari lebih kencang karena perut mereka sudah ribut sejak tadi.

Sulaiman memandang tingkah mereka dari rusuk rumah. Ah, alangkah gembiranya anak-anak itu. Pasti sesampai di rumah, ayah mereka akan berteriak senang sambil mengajaknya makan bersama di dapur.

Tapi Sulaiman tidak pernah mendapatkan semua itu. Sepulang sekolah dia hanya disambut ibu dengan wajah kusut. Sepiring nasi putih, sejumput sayur bayam bening dan sepotong ikan asin bakar setengah gosong, menjadi santapan rutinnya setelah shalat lohor. Ah, ke mana dirimu, Ayah? Kenapa kau harus pergi bekerja ke Malaysia? Bukankah keluarga kita lebih lengkap apabila ayah berada di kampung ini? Bekerja menggarap ladang kita yang sekarang terbengkalai. Daya magis apa yang membuat ayah harus bergelut di tempat asing itu?

Sulaiman menatap ke ujung jalan menanjak yang berkali-kali melahirkan debu mengapung. Menciptakan halimun kecoklatan. Duh, adakah sosok lelaki yang dirindukannya akan menjelma di tempat itu bukan serupa mimpi?

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari lembah. Lambat-laun semakin dan bertambah keras. Beberapa kepala pun merayap perlahan di ujung jalan menanjak. Merayap perlahan menjadi beberapa sosok memanggul sebuah peti. Peti mati!

Peti mati siapa itu? Siapa yang meninggal? Kenapa tidak ada bunyi kentongan dari masjid pertanda ada warga kampung yang telah menghembuskan nafasnya yang terakhir?

Sulaiman cemas. Dia menyongsong rombongan pemanggul peti mati itu ke pintu pagar. Dia melihat wajah-wajah pucat mereka. Wajah-wajah penuh kesedihan.

“Siapa yang meninggal?” tanya Sulaiman terbata.

Lelaki berpeci putih yang berjalan paling depan menjawab, “Ayahmu, Nak! Ayahmu!”

Sulaiman mematung. Tidak bisa memimpikan apa-apa lagi. Tidak ada lagi harapan baginya menunggu ayah esok hari. Menunggunya muncul di ujung jalan menanjak. Menunggunya membawa sepeda baru diiringi anak-anak kampung. Semuanya sekarang harus pupus, karena ayah tidak akan mungkin kembali kepada keluarganya. Tapi dia kembali kepada Allah.

“Ayah…!,” teriak Sulaiman histeris menjangkau-jangkau peti mati. Orang-orang memeganginya, sebelum akhirnya anak kecil yang menunggu ayahnya ini terbaring lemas dengan harapan yang sudah kosong melompong.

Palembang, 27 September 2004

***sekian***

Tinggalkan Komentar