Dalam Celana Dalam
Desember 10th, 2006 by Ngawang-nguwung
Apa kau sudi menjadi perawan tua?”
SETELAH jauh berjalan, mengusung usia untuk kesetaraan jender, tiba-tiba hatiku luruh berserakan disapu sepi. Selain usia yang sudah berkepala empat, nasehat ibu akhir-akhir ini benar-benar menusuk jiwaku. Luka dan menganga.
Sejujurnya, aku merasakan sudah waktunya memiliki pendamping hidup. Jadi istri dari seorang suami yang mengayomi dan pengertian dengan keadaanku saat ini. Apakah ada laki-laki yang mau singgah di hatiku? Hingga saat ini, itulah yang tidak terjadi. Tersebab aku membenci laki-laki. Lihatlah ayah yang mengkhianati ibu. Kawin lagi dengan wanita seusiaku waktu di SMA. Dari situ berawal benci beranak pinak menjadi beku membatu.
Demikianlah, selama ini aku menutup kesempatan semua laki-laki yang mencoba iseng ataupun serius merayuku. Bisa jadi, ini membuat aku tak punya dan tak pernah ada teman laki-laki yang dekat dan serius. Aku merasakan mereka sama. Sebagai kolega, rekan kerja dan semacamnya. Mereka amat segan dengan profesiku sebagai aktivis perempuan, memiliki visi dan perjuangan yang jelas terhadap kaum perempuan. Apakah mereka tidak melihat aku sebagai wanita yang juga butuh sentuhan laki-laki? Hingga saat ini, itulah yang tidak terjadi.
“Ana, apa yang kau cari? Kuliah sudah menamatkan S2. Mobil, rumah dan kebutuhan hidup sudah terpenuhi. Jabatan sudah kau dapati, nama besar sudah kau raih. Sudah waktunya kau punya suami. Aku ingin mengendong cucu. Kapan lagi? Ibu sudah semakin tua.”
Dek! Ibu tampak serius. Biasanya hanya menyindir dan bergurau saja. Sekarang suaranya mantap dan harap. Kalimat itu seperti belati yang menghujam jantungku. Sakit sekali.
Jangankan punya calon suami, kekasih saja tidak ada. Sehari-hari aku tak pernah memikirkan itu. Aku bekerja meniti karier dan memperjuangkan kepentingan kaum perempuan. Memang, kepentingan pribadi terbengkalai untuk itu. Bukankah perjuangan butuh pengorbanan?
Ah ibu, selama ini aku memang alpa untuk yang satu ini. Bu, maafkan anakmu. Aku memang tak pernah hadir sebagai wanita pemikat atau paling tidak sebagai wanita yang membutuhkan laki-laki. Bukan soal aku tak terlalu cantik, tapi memang pemikiran dan pendidikanku mengajarkan agar aku tampil sebagai wanita yang tegar dalam memperjuangkan segenap visi dan misi sebagai aktivis perempuan.
“Ibu tak mengerti, apa yang membuatmu tak ada impian untuk hidup berumah tangga? Seperti impian semua wanita. Apakah semua wanita karier dan sukses akan sepertimu?”
Ibu aku ajak ke kota sejak ayah pergi entah ke mana beberapa tahun silam. Sehari-hari ibu mengurus rumah bersama Bik Inah, pembantuku. Ibu dengan setia memasak makanan kesukaanku pada hari libur. Ibu juga mengurus keperluan-keperluan hidupku. Sepertinya aku salah, memperlakukan ibu sebagai pembantu. Tapi ibu tak merasakan sebagai pembantu. Ia melakukan itu karena ia sayang kepadaku.
“Sudah beberapa tahun Ibu di sini, tak pernah aku melihat ada laki-laki yang mengunjungi pada malam Minggu. Apakah kau tak mau mengenalkannya kepada Ibu?”
Dup! Kali ini pertanyaan ibu tepat pada sasaran. Tepat pada ulu hatiku. Berdarah. Rasa bersalah keluar dari situ. Entah mengapa, di depan ibu aku tak mau menyatakan apa yang selama ini aku lakukan, berjuang melawan hegemoni laki-laki.
“Aku tak punya teman laki-laki, Bu,” ujarku memberanikan diri.
“Ah, Mariana, masak tak ada. Orang secantik dan seanggun kamu, mana mungkin tidak menjadi perhatian laki-laki. Kau saja yang tidak pernah memikirkannya.”
Ibu menyodok kembali ulu hatiku.
“Teman laki-laki banyak. Tapi tak ada yang serius ke arah itu,” jawabku kalah.
Ah ibu, anakmu ternyata tak punya selera romantis. Mungkin sudah mati menemui ajal karena kesibukan sehari-hari dan tidak pernah aku beri makan. Aku memang tak membutuhkannya.
Sejak SMP hingga SMA, aku dikenal sebagai gadis tomboi. Temanku banyak laki-laki daripada perempuan. Ayah dan ibu kadang-kadang memperingatkan agar mengurangi aktivitasku dengan anak laki-laki. Tapi aku tak menggubrisnya. Aku jalani saja semauku dan sebebas merpati. Sesering peringatan itu datang, sebanyak itu pula aku tingkatkan intensitas pergaulanku dengan laki-laki.
Aku tak menemukan cinta monyet. Aku lebih gila dari cinta monyet. Amat banyak teman laki-laki yang memeluk, mencium, dan merabaku. Aku membenci nafsu mereka tapi aku butuh mereka, tanpa mereka aku tak punya teman. Teman perempuan kadang-kadang terlalu manja dan romantis. Aku muak. Karena dengan pergaulan sehari-hari, aku amat tahu siapa sebenarnya makhluk laki-laki, sedikit lebih baik dari seekor anjing. Mau buktinya, lihatlah ayah yang kawin lagi. Bacalah koran, ada ayah yang membuntingi anak gadisnya. Dan, ternyata, rahasia seorang laki-laki amat murah dicari. Laki-laki amat lemah dan tak mau jujur dengan kelemahannya. Laki-laki tak akan kuat dan besar kalau tidak ada perempuan. Menutup kelemahan itulah mereka menjajah perempuan. Aku tak mau dijajah laki-laki tapi aku kini butuh laki-laki.
Sampai buah dadaku ranum dan ada sesuatu yang mengalir dari dalam celana dalamku aku masih seperti itu. Hanya saat kuliah aku mencoba untuk lebih feminim. Lebih-lebih setelah kuliah, menjadi dosen, jadi aktivis perempuan, aku sudah sangat feminim. Tetapi, terus terang, aku tak berminat dengan laki-laki. Sungguh. Kalaupun ada laki-laki yang berminat kepadaku, aku tolak dan kalaupun mereka macam-macam merayuku, mereka menyesal sendiri. Lidahku akan mengeluarkan api sampai mereka mundur teratur.
Semenjak ungkapan-ungkapan ibu masuk ke telingaku, ada yang luka pada tubuhku. Jantung dan hatiku berdarah. Mengalir ke dalam celana dalamku. Ia tak basah, tapi membuatku gatal. Kadang juga membuatku binal dan bertingkah nakal. Ini membuat gairah yang berbeda, bukan gairah untuk mengajar, menjalankan tugas, tapi entah apa namanya. Tiba-tiba aku ingin memakai lipstik tebal. Ingin merokok. Duduk di tepi jalan. Aku ingin mencobanya beberapa kali. Tapi takut-takut.
Aku juga sering melamun sembari menggosok tanganku ke selangkangan. Pada waktu seperti itu, semua jadi terbalik, aku benci jabatan, aku benci profesi yang selama ini menjadi bagian hidupku dan teman-teman. Aku gatal. Seperti ada tekanan pada kodratku sebagai seorang perempuan, butuh belaian laki-laki pada detik-detik tertentu. Aku tak sanggup hidup sendiri. Amat sepi. Dan aku memanggil dan membayangkan siapa saja asalkan laki-laki untuk merabaku. Tak perlu ia seorang kepala negara, bintang film atau lainnya. Mereka meraba sesuatu dalam celana dalamku. Aku biarkan liar nalar berkobar agar segera menjadi kenyataan kenikmatan seperti selapis gelap menghadangnya. Aku ingin meraihnya. Setelah mendapatkannya, aku menyesalinya, membuangnya jauh-jauh dengan segenap kebencian, muak dan jijik. Puih!!
Di kamar mandi, aku telanjang dan menikmati lekuk indah tubuhku yang ranum dan nyaris kelewat matang. Tapi aku tetap bangga pada tubuhku. Sayang, aku dipeluk kesepian hingga membuatku benci pada diri sendiri. Benci sekali.
“Apa kau sudi menjadi perawan tua?” kata ibu suatu waktu.
Ah ibu. Terlambat ibu mengingatkan aku. Sudah tak ada lagi kepastian tentang laki-laki yang mau singgah di peraduan ini. Ada sesal menghujam tubuhku berkali-kali. Membuat aku menggelinjang hebat. Mereka menghujamku berkali-kali. Benarkah perjalananku selama ini? Kenapa aku begitu rapuh? Apakah semua perempuan merasakan seperti ini? Apakah semua aktivis perempuan seperti ini? Auh! Aku tak kuat.
Tubuhku luka. Mengalirkan darah ke dalam celana dalamku. Melimpah ruah dan menetes ke lantai. Aku cemas. Tapi ada kenikmatan dari aliran-aliran itu. Aku biarkan saja agar bisa melepas kebingungan dan kesepian.
“Apakah kau tak butuh laki-laki?” Suara ibu datang entah dari mana masuk ke telinga membuat tubuhku merekah, membelah, menganga, aku memejamkan mata. Aku merasakan kematangan jiwa dalam kearifan dan kemunafikan. Mengigil menuju puncak keabadian entah di mana. Nikmat sekali.
“Ah, Ibu, maafkan aku,” ujarku sambil melepas tanganku dari dalam celana dalamku.
Tiba-tiba ibu muncul dengan senyuman paling sempurna sembari memperhatikan tingkah polahku. Aku amat malu. Uh!***
(1)
Sbenernya itulah kaum hawa. Yg selalu menuntut melebihi haknya. Emansipasì alasan mereka, tp stlh didapat, sering jd berkembang ke angkuhanya. ” tanpa laki2 akupun lbh mampu”. Maka dgn dalih karir mereka melejit. Saat muda usia bila ada lelaki datang menyentuh hatinya, mereka menuntut pria harus berpendidikan tinggi, ekonomi lbh, ganteng, ìstimewalah yg diminta.
Namun seiring usia, maka pria lbh memilih yg lbh muda, maka wanita jenis ini makin tersisih dari lingkungan asmara
(2)
Kaum hawa br menyadarinya saat smua sudah mencapai titik kritis dr terlambat. Mereka baru menyadari ada yg lbh mereka butuhkan dari skedar materi, kdudukan, nama besar dè èl èl, yaitu CINTA. Belaian lembut suami, gairah sex sbagai kodrati, tangis dan canda anak2nya yg nb lbh membahagiakan ktimbang KARIR memang karir sangat membahagiakan hawa. Tp kbahagiaan yang semu.
Sbenernya tetep ada lelaki yg mungkin menaruh hati pada kaum ini. Namun terlalu banyak ujian bagi lelaki yg mau meminangnya
)3(
Ujian itu adlh :
- Pasti ada rasa MINDER mendekati ‘Pantaskah aku ? Di remehkan gak ? Sudikah ia ?’.
- REPRODUKSI jd pertimbangan jg, tdk melulu org merd orientasi SEX ada jg krn ingin cepat punya kturunan, usia 35 jaman skarang sudah ada yg menopouse apalagi 40 tahun.
- MATRÉ adlh hal yg lbh menakutkan bagi cow kalo mendekati cew model gini. Tudingan khalayak pasti ‘paling cuma ngincar hartanya’.
Bs jg hal ini terucap oleh si cew jg n jadikan tambah minder.
Melihat hal2 diatas maka sering para cow…
TERAKHIR
…para cow sering berseloroh, ” ah aku tetap mau asal aku di ijinin punya istri yg lbh muda di tempat lain”.
Jelas hal itu gak bakal di acc ma tu cew. Tp kalopun di acc, akupun mau he he he (dikit promosi).
Maka di Islam jg di atur kl wanita tdk boleh menjadi pemimpin dgn tafsiran : bagaimanapun tinggi ksuksesannya wanita, tetap sebagai makmum dan pria tetap yg memimpin. 0817440545 sering kami diremehkan wanita saat mendekatinya, di hati kami cuma bs blg ‘kelak saat dah umur dia yg kejar kami’.
Duh, jangan selalu melihat perempuan yang mengejar karir sampai tak berumah tangga itu pasti gak bahagia dong.
Tuhan memberi kita peran yang berbeda2 di dunia ini. Kalau memang Tuhan ingin menyatakan rencananya di dunia ini melalui perempuan itu, walaupun perempuan itu tidak bersuami sampai akhirnya, gak berarti dia gak bahagia.
Punya suami gak akan menjamin juga bahwa perempuan akan bahagia. Semuanya tergantung tujuan hidup. Dan berserah pada Tuhan.
Bahagia itu bukan diukur dari apa yang kita punya sekarang, suami kah, harta kah, jabatan kah. Tapi apa yang ada di diri kita saat ini bisa kita syukuri dengan sepenuh hati, setiap saat. Itulah kebahagiaan.
Berbicara mengenai masalah gender memang selalu menarik, satu fihak memaparkan argumennya dengan segala pembenaran yang seolah-olah sudah menjadi norma, fihak lain memaparkan sanggahan yang mengusung pesan-pesan konservatif yang kaku.
Tapi barangkali yang jarang direnungkan kembali secara mendalam adalah masalah pembagian peran. Alam memberikan anugrah yang sangat luar biasa, dimana semua aspek mempunyai peran masing yang melahirkan harmoni dan kesetimbangan. Salah satu anugrah alam untuk kita adalah cermin harmoni dimana segala sesuatu berjalan dengan hukum-hukum yang baku, yaitu sebab dan akibat.
Manakala alam memperlihatkan suatu keadaan ataupun kejadian maka sudah sangat bisa dipastikan akibat dari suatu sebab.
Issue gender yang seringkali didengungkan merupakan suatu akibat dari sebab tertentu. Mari kita pungut satu contoh dalam kehidupan mahluk yang bernama manusia;
Manusia terlahir dari sebab dan akibat, kehidupan yang dilaluinya-pun penuh dengan sebab akibat yang melahirkan banyak cerita suka dan duka.
Kembali kepada masalah gender; manusia laki-laki dan manusia perempuan sebagai bagian dari alam, tentunya memiliki peran, peran tersebut terlahir dari pola kebiasaan dan warisan turun temurun yang pada akhirnya menjadi kaidah sebab dan akibat yang menyertai kehidupannya.
Pertanyaannya kemudian peran apakah itu? jawaban yang paling benar adalah jawaban dari hati nurani masing-masing manusia. Jawaban hati nurani merupakan pedoman kodrati yang selayaknya dipatuhi sehingga harmoni kehidupan manusia terwujudkan.
Seandainya,…. seluruh manusia perempuan dan manusia laki-laki mengikuti hati nuraninya apakah akan terjadi segala kekisruhan yang terjadi akibat saling berebut peran? anda semua sudah mendapat jawaban dari hati nurani anda semua,…..
Yang patut dicatat dan direnungkan apakah “aku” sebagai manusia sudah berperan sebagaimana yang diyakini hati nurani? apakah “aku” sebagai manusia seringkali mengingkari kata hati nurani? apakah “aku” sebagai manusia sudah dapat mengendalikan ego yang muncul pada saat hati nurani berkata?
Lebih baik menjadi “manusia” yang menciptakan harmoni daripada menjadi “orang” yang melahirkan ketimpangan.
Tabea,….
Oya,… konsep bahagia untuk setiap manusia juga berbeda, tidak selalu bahagia bisa dinilai berdasarkan nilai-nilai kebahagian yang ada dan selalu berkembang saat ini, bias akan terjadi apabila menilai kebahagiaan manusia dari tatanan nilai yang menjadi pendapat kolektif kelompok “orang”, untuk ukuran kebahagiaan nilai-nilainya ada pada manusia yang bersangkutan.
“Mungkin” manusia yang berbahagia adalah manusia yang mampu menerima dan mengolah perang bathin yang terjadi di dalam dirinya, ……….entahlah…….. bagaimana menurut anda?…… kata hatilah yang bisa menjawabnya.
Salam……
aneh juga, tapi itu wajar aja untuk perempuan jaman sekarang yang lebih mengutamakan hal yang mungkin akan berguna bagi masa depan. seharusnya tidak perlu menyesal tapi itu memang sifat anda yang selalu fokus dan tidak ingin ada yang membuat anda berhenti di tengah jalan. yah kebanyakan pria selalu melihat permpuan dari luar dan selalu maunya dilakukan. tapi jika anda sendiri bisa tidak terlalu menyerah pada keinginannya maka tidak ada masalah asal anda melakukannya dengan tegas. jangan bilang diluar jangan tapi di otak iya. hancur kalo gita. 1 nasihat kalo udah jodoh kapanpun itu atau umur berapapun pasti ketemu
kasihan juga aktivis gender. buat apa melawan tuhan?