KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Jerat

Dalam balutan gaun ketat biru laut, perempuan itu menghidangkanku segelas mungil sampanye. Juga tidak lupa menghidangkan dua bongkahan menantang dari balik gaunnya yang memiliki belahan dada terlalu rendah. Bibirnya tersenyum. Sedikit kaku. Tapi sentuhan sengaja ujung jemarinya di barisan kumisku yang jarang, membuatku sedikit berdesir. Mengakrabkan jiwaku dengan jiwanya yang sebenarnya bertolak belakang.

“Mari diminum, Mas Prabowo.” Dia duduk di seberangku.

Lamat terdengar desah ombak menghantam pantai. Sekali-dua ada deru perahu motor melintas kencang.

Dari kamar di lantai lima hotel itu, terlihat taburan bintang laksana butiran pasir. Berkelap-kelip manja. Mengingatkanku kepada Saodah, perempuan yang telah menghadiahiku tiga orang putri.

“Terima kasih. Tapi saya tidak bisa meminum yang beginian. Lagipula bagi saya ini terlalu mahal. Saya hanya biasa meminum secangkir kopi hangat.” Aku mencoba tersenyum ramah, walaupun barangkali kelihatan kaku.

Perempuan di seberangku tertawa perlahan. Dengan sengaja dia menyilangkan kedua belah kakinya yang jenjang. Menunjukkan pangkal pahanya serupa pualam. Mengintip nakal dari belahan rok terusan yang berbelahan terlalu ke atas.

Kutelan ludah. Keringat dingin meninju-ninju kening. Namun perempuan itu kelihatan tenang saja. Sesekali dia melirik manja. Sesekali mencicipi sampanye dengan bibir ranumnya. Pipinya pun bersemu merah.

Jujur saja, meskipun tergoda, tapi pertama berjumpa dengannya, aku berusaha menghindar. Setiba di bandara X aku bergegas menuruni tangga pesawat. Aku berharap Saodah menjemputku, sehingga akan mudah menghilang dari perempuan itu. Tapi bunyi “bip” tiga kali di ponsel, membuyarkan semua rencanaku. Saodah mengabarkan tidak bisa datang. Putri ketiga kami demam panas.

Perempuan itu, yang kukenal dengan nama Mira, langsung mencecar langkahku. Obrolan basa-basi diawali sambil berjalan ke ruang tunggu bandara. Mirna kembali dengan jurus mautnya mengajakku menginap di hotel berbintang. Dan itu sudah dihembus-hembuskannya sejak kami tanpa sengaja satu pesawat dari Jakarta. Bahkan dia duduk persis di seberangku.

“Ayolah… Kita menginap semalam di hotel. Hanya semalam, Mas Prabowo.” Dia melemparkan senyum penuh misteri sambil berusaha merendengiku di seputaran lobi bandara.

Anehnya aku terpedaya. Sekarang aku sudah duduk di seberangnya dengan segelas mungil sampanye. Meskipun aku cukup setia kepada Saodah, tapi harum dan kemolekan tubuh Mirna membuat imanku jatuh. Membuatku terseret ke dalam jerat yang dijalinnya sendiri.

Mirna adalah seorang pemimpin partai X, sama sepertiku (tapi aku di partai lain). Seharusnya sebagai rival aku harus menghindari berjumpa berdua dengannya. Namun sekarang, bukan hanya berjumpa berdua dalam satu kamar hotel. Tapi kami sekaligus membicarakan perkolusian kotor. Menjijikkan!

Mirna berharap aku mau bekerjasama memanfaatkan pra dan pasca Pemilu sebagai ajang pengumpulan duit. Setidak-tidaknya dengan memanfaatkan jabatan pimpanan partai, kami pasti mampu merekayasa pengeluaran keuangan partai. Ya, katakanlah untuk budget ini-itu. Sedikit manipulasilah.

“Bagaimana, Mas? Pekerjaan ini sangat menjanjikan, lho! Kapan lagi kita dapat mewujudkannya? Mumpung kita sama-sama menjadi pimpinan Partai!” Dia berjalan mendekatiku. Ujung jari telunjuknya menyentuh pangkal lututku yang sudah bergetar dari tadi. “Kalau Mas menunggu terlalu lama, bisa-bisa kesempatan ini hilang. Sebentar lagi mungkin saja kita lengser keprabon. Sudah itu gigit jari. Padahal Mas, juga saya, telah menjadikan partai sebagai lahan hidup terakhir. Bukan begitu?”

Aku mengangguk. Sampanye kucicip sedikit demi sedikit. Terasa getir menerpa ujung lidah. Namun membuat jantungku berdegup kencang. Aliran darah seperti mengikuti alur pikiran yang mulai mesum.

“Mas sudah seratus persen berhenti dari pekerjaan sebelumnya, begitu pula saya. Dengan mengandalkan uang hasil korupsi tersebut, kita bisa membangun kerajaan sendiri. Apalagi kemudian kita sama-sama membuka usaha, PT misalnya?” Dia melirik nakal. “Lagipula untuk mewujudkan ini, saya bersedia anda… Hmm!”

“Tiduri maksudmu?” tebakku sekenanya.

Dia mengangguk cepat.

Darahku semakin kencang mengalir. Tapi selintas aku mengingat Saodah dan ketiga putriku. Mengingat betapa amat susahnya perjuangan ini menuju jabatan tertinggi di partai.

Perjuangan melelahkan. Setindak demi setindak aku memulai semuanya dari nol. Sebagai seorang guru merangkap anggota DPC partai, aku melewati segalanya dengan amat sulit. Perjalananku hanya berbasiskan sikap jujur. Hanya itu! Karena mengandalkan uang seperti rekan lain, pasti sebagai guru aku tidak sanggup.

Begitulah, seiring hembusan takdir, karierku di partai menanjak cepat. Dari jabatan sebagai anggota, berubah menjadi ketua DPC partai. Dua tahun kemudian terpilih menjadi ketua DPD. Suatu kesempatan menggiurkan. Tapi aku menganggapnya sebagai amanah yang harus dijalankan seperti ghalibnya. Pikiranku lurus-lurus saja. Orang-orang partai senang melihatku. Meskipun ada sebagian yang kesal, karena aku terlalu bersih. Di kalangan pejabat partai aku disebut si Karang. Sosok yang amat susah ditaklukkan, meskipun dengan segepok uang. Dan setelah enam tahun berselang, aku pun terpilih menjadi pimpinan tertinggi partai.

Tapi mengapa sekarang aku tergiur dengan rayuan Mirna yang nista? Dia tidak memberikanku uang dan harta. Dia hanya merencanakan sesuatu yang wah! Namun aku langsung terseret ke jeratnya yang lengket. Apakah ini karena godaan harum dan kemolekan tubuhnya?

Tuhan! Kenapa aku sampai sedemikian jauh terperosok? Di umur menjelang empatpuluh enam tahun, seharusnya aku semakin dekat dengan-Mu. Anehnya, sekarang berubah sebaliknya. Apakah ini yang dinamakan masa pancaroba kedua?

Sebenarnya aku mengenal Mirna baru beberapa bulan lalu. Kami berjumpa di sebuah seminar tentang Pemilu. Kebetulan saat itu aku ditempatkan sebagai salah seorang pembicara. Sedangkan Mirna, entah diatur oleh siapa, tiba-tiba menjadi notulis.

Awalnya kuanggap biasa saja. Tapi pendekatan Mirna dengan penetrasi reguler, lambat-laun membuatku tergoda. Berulangkali namanya tertera di layar ponselku, sehingga ketika berdua Saodah, aku selalu blingsatan. Beruntung Saodah bukan pencemburu, jadi semua berjalan sebagaimana adanya.

Sekarang, ketika aku telah berada di lingkaran jerat ciptaan Mirna, tidak ada sesuatu pun yang kulakukan selain mengikuti arus. Mirna yang sedemikian menggoda di usia menjelang kepala empat, membuatku seperti terselimut syahwat.

Malam memarangkap

Dalam gelap pekat

Tubuh yang menggeliat

Seketika melantun darah menyingkap

Kudengar sayup-sayup debur ombak menyentuh pantai. Deru perahu bermotor melintas sekali-dua. Bintang-bintang di langit menyebar laksana butiran pasir. Mirna melabuhkan keringatku dalam secawan sampanye.

Saodah tiba-tiba seperti melintas di mataku. Dia menangis sambil membawa bendera partai koyak-moyak. Lianda, putri sulungku, menyusul dengan perut membusung. Di pusarnya tertera nama partai. Lastri, putri tengahku, melambaikan saputangan partai. Dan Aminah, putri bungsuku, datang tanpa pakaian. Tubuhnya penuh bilur-bilur biru membentuk logo partai.

* * *

Pagi memuntahkan cahaya matahari.

Kepalaku pusing. Bintang-bintang seolah berpindah dari angkasa ke dalam kamar. Mirna yang sedari tadi menyenandung nakal di kamar mandi, mendadak muncul dengan beberapa orang dari partaiku.

“Dia telah memperkosaku semalam. Dia memberiku bergelas-gelas sampanye sehingga membuatku pusing.” Mirna menudingku yang setengah telanjang. Begegas kutarik selimut lebih ke atas. “Bahkan dia memaksaku supaya bersama-sama menandatangani di atas meterai rencana menggelapkan uang partai.” Mirna menunjukkan selembar surat pernyataan yang memang kami tanda-tangani tadi malam dengan kondisi setengah teler.

“Oh, Pak Prabowo rupanya cuma mengelabui kita selama ini dengan sikapnya yang sok suci. Sikapnya yang setegar batu karang.” Lukito, sebagai bendaharawan partaiku, angkat bicara. “Ternyata semua bullshit! Atas semua ini, apalagi bapak telah menodai Mirna, calon istri saya, kami segera mendepak bapak dari jabatan pimpinan partai. Dan ini masih kemurahan hati kami. Beruntung kami tidak mengadukan bapak ke polisi atau tidak mengumumkannya kepada wartawan. Ini demi kebaikan bersama. Dan kami rencakan bahwa sayalah pengganti anda. Selamat berjumpa kembali pada saat rapat darurat lusa.” Lukito tertawa diiringi rekan-rekannya.

Tiba-tiba aku merasa telah terjebak di dalam jerat yang sedemikian apik. Mirna tersenyum nakal sambil melemparkan bantal guling. Dan semua berlalu cepat. Tapi tiba-tiba belasan blitz kamera menyerbu dari pintu. Memunculkan taburan bintang di kamar laksana butiran pasir pantai.

(Palembang, 23/02/04 13:30:30)

Tinggalkan Komentar