Jendela-jendela
Desember 9th, 2006 by rifannazhif
Andaikata ada suatu cara membalikkan masa ke jaman purba, aku akan mengatakan kepada pencipta rumah supaya tidak membuat jendela. Karena jendela adalah suatu tempat yang mengantarkan pandang ini ke dunia luar. Bagaimana akhirnya aku segera menyesali nasib. Mencaci-maki kehidupan. Dan menuduh Tuhan serba tidak adil.
Mengapa tidak, setelah berumur enam bulan lebih sehari, tiba-tiba aku teridap penyakit folio. Ayah-Bunda yang notabene dari keluarga miskin, hanya mampu memberiku air mata. Tidak lebih, selain bubur nasi terlalu encer dan air tajin setiap hari.
Aku pun menjalani masa kanak-kanak dengan penuh murka. Setiap kali melongok ke jendela sebelah timur, aku akan melihat betapa anak-anak kampung bermain dengan riang di tengah sawah. Tubuh-tubuh yang liat itu, kaki-kaki yang lincah itu, gigih mengejar bola jerami. Atau tiba-tiba mereka berteriak histeris sambil berebut memburu layang-layang putus. Meskipun akhirnya benda malang itu hancur di tangan-tangan mungil mereka, semua tetap tertawa bahagia. Tapi sungguh, hal tersebut membuatku merutuk. Apalagi ketika kaki-kaki ini begitu tidak berdaya menggantung di atas kursi bambu. Dan aku mirip seorang tolol. Idiot!
Bunda seperti biasa selalu mengawasiku dari rusuk ruang tengah, hanya sesekali mendecak, tanpa berpaling dari rajutannya. Mulut Bunda berulangkali komat-kamit mengunyah daun tembakau kering berbau sedikit pesing. Meskipun sekali-dua dia menegur, paling tidak hanya memberikan semangat. Agar aku tabah menerima keadaan yang cacat. Agar aku rela menjalani hidup dengan tanpa kaki. Walaupun sebenarnya kakiku utuh, tapi tidak berdaya!
Begitu pula ketika aku berpindah ke jendela barat, pepohonan dengan rumpun-rumpun perdulah yang terlihat tersiram matahari. Perempuan-perempuan kecil sering bermain di situ. Mereka menyebut tempat tersebut istana perempuan. Terkadang mereka bermain tali. Tapi ketika hari cerah dan matahari berhasil menjilati embun yang menetesi daun, perempuan-perempuan kecil akan berteriak kegirangan mengejar rama-rama. Mengejar capung. Kaki-kaki mungil yang halus tersabet ujung-ujung ilalang. Tergores di sana-sini mencipta perih. Dan mereka tetap bahagia. Bersenjatakan plastik, masing-masing mengepung rama-rama atau capung. Mereka menungkupkannya, sehingga hewan-hewan malang itu menggelepar.
Begitulah kehidupanku setiap kali matahari bergulir dari sebelah timur menuju barat. Manakala malam menjelang, bunda selalu telaten mengurut-urut kakiku dengan minyak jelantah amis. Kerapkali aku menolak perlakuan bunda. Dia toh tetap bersikeras. Dia berharap ada mukjizat yang akhirnya mampu meluruskan kakiku. Mampu membuat kaki-kaki ini kukuh. Mengajakku berjalan menuju lembah. Mengajakku berjalan menuju kota bersama ayah untuk berniaga.
“Inginkah kau ayah ajak ke kota, Lamhot?” Suatu hari ayah bertanya kepadaku. Dia menatapku dari balik kacamatanya yang tebal. “Kau tidak ingin melihat betapa ramainya kota. Anak-anak berseragam yang setiap pagi berangkat ke sekolah. Terus ada mobil-mobil, sepeda motor, truk dan masih banyak lagi. Pasti kau akan takjub Lamhot!”
Aku tidak menjawab. Kupandangi bagaimana dengan sabarnya bunda mengurut-urut kedua belah kaki ini.
“Atau kau ingin ayah belikan sepeda?” Ayah tersenyum samar. Tapi dia kemudian terdiam. Merasa bersalah. Karena bagaimana mungkin aku akan dihadiahi sepada, sementara untuk menopang tubuh dengan dua kaki lemah ini saja aku tidak mampu. “Maafkan ayah, Lamhot. Ayah tidak sengaja membuatmu bersedih. Bila nanti ayah mempunyai duit banyak, ayah akan memberikanmu kaki baru. Entah bagaimana caranya, itu harus dilakukan. Ayah berharap ilmu kedokteran akan semakin maju. Bukan begitu, Bunda?” Ayah melirik bunda. Sang bunda hanya menjawab dengan desahan, sama seperti yang selalu dia lontarkan ketika menyadari pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.
Aku bergeser mendekati ayah yang sedang menyeruput kopi panas. “Lamhot tidak paham mengapa kaki-kaki ini begitu lemahnya, Yah. Apakah ini takdir Tuhan, atau Dia memang tidak menyukai lamhot?” tanyaku menutup pembicaraan.
Sejak saat itu tidak pernah lagi ayah mengajakkku berjalan-jalan ke kota. Bahkan ke luar rumah pun tidak. Dan itu sudah berjalan sekian tahun lamanya sampai aku berumur limabelas tahun. Sampai bunda meninggal dan tidak ada lagi yang mengolesi kaki-kakiku dengan minyak jelantah amis. Ah, terkadang kerinduan merasuk melihat bunda mengolesi kaki-kakiku dengan minyak yang tidak mengenakkan hidung itu. Atau melihatnya merajut sambil mengunyah-ngunyah tembakau. Sementara ayah, sejauh ini belum mampu mewujudkan impiannya membuatku berdiri tegak. Membuatku bisa berjalan mengikuti langkahnya yang panjang dan tegas.
* * *
Sepuluh tahun sudah meninggalkan Kotanopan. Sepuluh tahun pula telah kulupakan masa-masa penuh gerutuan. Sekarang aku kembali dengan penampilan hampir sempurna. Dengan tinggi seratus tujuh puluh centimeter, aku kelihatan sedemikian jangkung. Apalagi dipadukan stelan kontras, sekaligus cukup ketat membalut badan, maka lengkaplah perubahan seratus delapan puluh derajat dari seorang Lamhot kecil yang cacat. Saat ini meskipun tertatih, dan kaki-kaki ini hanya palsu, tapi aku sudah bisa berjalan leluasa.
Lebih sepuluh kota telah kujelajahi. Lebih puluhan bisnis kugeluti. Tapi tidak satu kenangan pun yang membuatku tenang. Bayang-bayang rumah masa kanak-kanak selalu datang sedemikian menggoda. Rumah dengan jendela dua. Satu menghadap ke barat, satu menghadap ke timur. Godaan itu sedemikian hebat, sehingga ketika Pak Margono memperkenalkan anaknya yang lumayan seksi, aku hanya mendecak sambil ketawa. Kukatakan saja belum siap berumahtangga. Meskipun dia menawarkanku sekedar pacaran dengan anaknya, tetap saja aku menggeleng.
“Gila kau, Lamhot! Perempuan seseksi itu sanggup kau tolak mentah-mentah? Lagipula Pak Margono bukan orang melarat, kan?” ucap Sulaiman, rekan bisnisku, kecewa. “Persunting saja anaknya itu, Hot. Ingat, kau dapat membangun kerajaan kecil sendiri! Otak dan relasi sudah kau miliki. Pak Margono mempunyai puluhan pabrik yang sampai duapuluh tahun ke depan akan tetap maju pesat. Ayolah! Apalagi yang kurang?” Sulaiman semakin mendesak. Aku hanya melengos.
“Sekali tidak tetap tidak!” tekanku.
“Sudah sampai, Juragan!” Mang Ujang, sopir pribadiku, tiba-tiba mengerem mobil. Aku tersentak. Samar kulihat sebuah rumah kecil yang renta dan lapuk di bahu bukit. Sekali saja diterjang badai hujan, barangkali dia akan mengalir ke lembah serupa erosi.
Apakah itu rumahku? Itukah rumah yang sekian tahun telah melindungi si cacat ini dari sengatan matahari? Mengapa dia sebegitu asing sekarang?
Mang ujang mencoba memapahku, tapi lekas kutolak. Aku tidak ingin tampak seperti si lemah setelah memperoleh dua kaki palsu ini. Kusuruh dia menunggu di mobil saja.
Ah, tidak terasa telah sepuluh tahun terlewat. Telah beratus kenangan buruk dan baik mengiringi langkahku di rumah itu. Rumah yang tidak terawat. Rumah warisan ayah dan bunda untuk anak semata mayang mereka.
Seorang perempuan tua bergegas menyongsongku. Samar kuingat, dia adalah Mak Upik, tetangga sebelah rumahku. Sebenarnya bukan tetangga yang bersebelahan rumah benar. Jarak rumah kami hampir tiga puluh meter. Namun dulu rumah-rumah masih jarang. Jadi, meskipun dengan jarak sedemikian jauh, kami tetap dianggap sebagai tetangga bersebelahan rumah.
Mak Upik mengajakku ke rumahnya. Aku menolak. Keinginan yang serupa magnet telah menarik kakiku ke rumah yang seperti nenek peot itu. Ah, kasihan rumahku ini!
Mak Upik tidak mengikutiku ke dalam rumah. Takut, katanya. Hampir dua tahun tidak ada lagi orang yang berani masuk ke dalamnya. Mereka tidak berani karena takut rumah roboh. Kayu-kayunya hampir dua per tiga dimakan rayap.
Ketika aku melangkah tertatih di dalam rumah, terdengar bunyi derit keras. Rumah sedikit bergoyang. Tapi hanya sebentar. Setelah bisa beradaptasi di ruang tengah, aku pun melangkah ke jendela sebelah timur.
Sekelebat bayangan bunda hadir di rusuk ruangan. Dia sedang menyulam sambil mengunyah-ngunyah tembakau. Lalu samar pula bayangan ayah kelihatan tengah menyeduh kopi di lantai kayu sambil berselonjor.
Kuingat bagaimana sepuluh tahun lalu ayah meregang nyawa di situ setelah meminum kopi hadiah dari kepala desa. Sebelum dibawa ke rumah sakit di kota, hidup ayah tidak bisa tertolong lagi. Tersebar desas-desus kalau ayah diracun kepala desa. Beberapa hari sebelumnya, kepala desa ingin membeli tanah ayah. Tapi tidak jadi. Sebab ayah tidak setuju tanahnya akan dijadikan pertapakan lapau tuak. Tempat mabuk-mabukan serta arena perjudian.
Berhubung waktu itu aku masih belum cukup dewasa dan berasal dari keluarga tidak mampu, penyebab kematian ayah tidak diperpanjang lagi. Sebulan berselang, aku pun diajak seorang kawan berniaga ayah ke kota. Dari situlah sedikit demi sedikit taraf hidupku meningkat. Sampai kemudian aku mampu membeli kaki palsu dan mampu berjalan tegak, meskipun sedikit tertatih.
Hati-hati kutumpukan kedua belah tangan di kusen jendela yang penuh rayap. Kutatap ke lembah sebelah timur. Duhai, betapa banyak perubahan di kampung ini sekarang. Sawah-sawah yang dulu terbentang luas, kini dipenuhi rumah dan gedung-gedung bertingkat. Anak-anak yang biasa bermain layangan, tidak lagi menuruti naluri kanak-kanaknya. Mereka telah diracuni tekhnologi. Matahari yang setiap hari menyapa ramah, hampir luput dari sapaan ramah anak-anak itu. Mereka lebih suka mendekam di rumah sambil menonton film di televisi. Atau, mereka akan berkelompok-kelompok di warung sambil bermain playstation. Bahkan kala bermain, mereka sekali-dua berjudi.
Terasa dadaku sesak. Kesedihan serupa halimun mendadak menutupi hatiku. Bayang-bayang tentang sawah, anak-anak yang bermain layangan atau sepak bola di sawah berlumpur, punah sudah. Tekhnologi seibarat bulldozer telah meluluhlantakkan sosok mereka sebagai anak kampung. Ah, apa yang sering diceritakan anak Nek Upik melalui surat-suratnya memang benar. Orang-orang kampong telah sedemikian jauh berubah. Bahkan katanya, tingkah mereka melebihi perilaku orang-orang kota sungguhan. Kusut air mata yang seketika meleleh.
Tapi aku tidak perlu kecewa. Jendela sebelah barat masih terbuka ramah untukku. Dari sana aku bisa melihat hutan yang rimbun. Melihat perempuan-perempuan kecil sedang mengejar rama-rama atau capung. Atau, mungkin mereka sedang bermain tali. Aku pun melangkah seiring suara deritan lantai kayu yang keras.
Namun apa yang terlihat dari jendela sebelah barat? Tuhan, hutan itu ternyata sudah gundul! Hanya tanah-tanah kering tampak menyembul sedikit dari lahan-lahan yang sudah penuh rumah. Perempuan-perempuan kecil yang riang dan alami juga sudah berubah. Di umur yang belum cukup itu, mereka sudah bersolek, mulai menggoda laki-laki dan pacaran! Tidak ada lagi cerita tentang bermain tali, rama-rama dan capung. Sedangkan bunda mereka sibuk mengikuti arisan di sana-sini. Sibuk menggosipkan orang. Menceritai kerabatnya yang muslim. Tidakkah perempuan-perempuan itu menyadari telah mengkanibali saudaranya? Mereka serupa serigala yang memakan kawan sepermainan masing-masing.
Sungguh kecewa hatiku. Sungguh hancur perasaan ini. Perjalanan sekian ratus kilometer dari Jakarta ke Kotanopan, tiba-tiba seperti amat melelahkan. Padahal semenjak berangkat empat hari lalu bersama Mang Ujang, sedikitpun aku tidak merasa lelah. Kenangan masa kecil laksana energy drink memberiku semangat menggebu.
Barangkali aku akan kelihatan lebih tua lima tahun setelah menerima kenyataan ini. Apalagi ketika menuruni bukit, ternyata kenyataan lebih pahit terlihat. Tetangga-tetangga yang kusapa, hanya melengos. Padahal kalau saja menjawab ramah dan mengajakku singgah sebentar di rumah mereka, aku telah mempersiapkan oleh-oleh cukup untuk semuanya. Tapi sudahlah! Ludah serupa empedu ini harus kutelan sendiri.
Setelah berpamitan kepada Mak Upik, kemudian memberikannya seperangkat sajadah serta dodol, aku langsung pulang ke Jakarta.
“Tidak jadi menginap di rumah, Juragan?” tanya Mang Ujang tanpa menoleh ke arahku. Dia mungkin tahu bahwa hatiku sedang mangkel. “Katanya mau merasakan hawa kampung dulu.” Dia tertawa pelan untuk menghidupkan suasana mati.
“Tidak akan!” tekanku. Perlahan bukin barisan semakin jauh tertinggal.
Selintas gambaran jendela-jendela itu kembali membuatku mual. Dulu ketika masih kecil dan cacat aku merasa amat membencinya. Karena dari jendela-jendela tersebutlah rasa iriku mencuat melihat anak-anak dengan riangnya bermain. Berlompat, berlari riang di atas kaki-kaki sehat dan normal.
Tatkala aku menjadi orang berkecupan, lalu mampu berjalan dengan kaki palsu, kemuakan terhadap jendela-jendela pupus sudah berganti kerinduan teramat dalam. Kangen! Rasa kangen melihat anak-anak bermain seperti tabiat orang kampung yang naturalis dari jendela sebalah timur-barat. Itulah yang memaksaku pulang ke kampung, meskipun yang kujumpai hanya rumah tua dan reot. Hanya rumah renta!
Tapi apa yang kuperoleh? Nonsen! Orang-orang dimana saja sudah berubah! Di kota, desa, gunung, pesisir dan di mana saja ternyata sama. Semua telah terkontaminasi tekhnologi kebablasan. Hanya sedikit saja yang mampu mengerti dan mengolah manfaatnya.
Mendadak rasa ingin muntah menerjang ulu hati. Cairan adrenalinku bergolak. Jendela-jendela seakan bayangan buruk mempertontonkan nasib bangsa yang terpuruk dan bobrok. Ah, kembali aku berharap, andaikata pencipta rumah pada jaman purba tidak pernah terpikir untuk membuat jendela-jendela, tentu aku tidak perlu melongok ke negeri-negeri memualkan ini.
“Juragan, sudah sampai.” Mang Ujang mengejutkanku.
“Sampai di mana?”
Dia tidak menjawab. Di depan mobil aku melihat rumah tinggi menjulang dengan jendela yang banyak dan besar-besar.
o0o0o0o0o0o0o0o