Tentang Sisa Percintaan
Desember 8th, 2006 by p4nt7a
Sisa percintaan semalam jelas tergambar di beranda hati kita,
Setelah lewati seribu bukit tak berwarna.
.
Kita membentuk kabut yang penuhi langit-langit kamar sunyi,
Yang terlahir dari sisa nafas.
.
Kau selalu tersenyum di balik pendar lampu,
Memaki kehangatan jemari di ujung kesunyian.
.
Tak adakah belaian malam ini? Untuk Membangunkan amarah yang pulas tertidur.
Cinta memang kelam, seperti tak ada jalan dalam gua tanpa pelita.
.
Diluar kamar petir menjadi petaka,
Dan hujan tertawa melihat darah yang meringis dari tubuhmu.
.
Angin yang belari lewati jendela mengetuk-ngetuk,
Tapi kau makin lekat di dadaku.
.
Kini matahari datang di wajahmu, dan kabut yang tersisa di alismu
Pudar bersama secangkir kopi untuk pagi ini.
Tapi masih kulihat lorong yang jauh menunggu di balik langit.