Sang Instan
Desember 8th, 2006 by rifannazhif
Aku hanyalah seonggok barang instan. Bukan mie seperti engkau bayangkan. Atau sepiring nasi goreng yang tersimpan dalam bungkus plastik beraluminium. Tapi aku adalah manusia yang hidup dari instan. Makan, minum, bekerja secara instan. Sehingga keringat yang keluar dari tubuhku, taklah wangi deodoran. Melainkan bau basi serupa caluk yang tersimpan di rak dapur.
Dari kecil aku sudah dididik berprinsip serba cepat dan mudah. Tak pernah berusaha, apalagi berjibaku untuk memperoleh sesuatu. Karena dengan uang, semua bisa didapat. Bahkan ketika menikah, semua berlangsung instan. Marsih, istriku, kunikahi tanpa tatakrama. Tanpa antar-antaran apalagi pesta. Sebab dia kunikahi karena kecelakaan. Ya, orangtuanya terpaksa mengamini saja. Bahkan setengah memaksa menyuruhku menikahi putrinya itu. Barangkali untuk menudungkan rasa malu saja. Padahal dalam hatinya ingin mencincangku menjadi abon
Sedangkan kini, ketika aku luntang-lantung sebagai pengusaha tak jelas; halal-haram langsung sikat, tiba-tiba seorang lelaki perlente muncul di ambang pintu rumahku. Kutaksir umurnya lebih tua dariku. Tapi penampilannya membuatnya lebih muda lima tahun.
“Pak Supanghat?” tebaknya langsung. Aku terkesiap. Segera kusingsingkan kain sarung dan melilitkannya di perutku yang bunting. Hah, darimana dia tahu namaku?
“Ya, mari masuk!” ucapku ramah. Padahal tak biasa-biasanya aku berbuat begini. Kerapkali aku hanya manyun ketika menerima tamu. Bahkan tak jarang mereka kubiarkan duduk-duduk di ruang tengah sampai kerongkongannya kering. Sampai akhirnya lari terbirit dan terkaing-kaing menahan haus. Namun sekarang, aku bak hamba menyambut majikannya.
Memang penampilan perlente begini selalu membuat orang lain hormat. Meskipun tak jarang keperlentean itu hanyalah tabir yang menutupi badannya yang panuan atau hatinya yang kurapan dan berulat.
“Darimana bapak tahu namaku?” lanjutku sambil menghidangkan segelas sirop mewah.
“Wah, siapa yang tak kenal bapak? Bapak adalah seorang pengusaha sukses. Bahkan berniat menjadi anggota dewan.” Dia merapat ke telingaku sambil setengah berbisik, “saya bisa meluruskan niat bapak itu.”
“Ah, bapak bercanda.” Agak sungkan aku balas membisik, “Tamat SMP saja aku tidak. Bagaimana mungkin aku menjadi anggota dewan? Aku tak memiliki ijazah sarjana, Pak!”
“Kan ada yang instan! Saya bisa mengusahakannya. Mau sarjana dengan s satu, s dua, s tiga atau es teller, saya bisa usahakan. Tergantung besar-kecilnya modal yang bapak keluarkan.”
Aku langsung tertarik. Bahkan sedemikian tertarik, sehingga tanpa sungkan-sungkan kugadaikan gelang istriku. Kapan lagi memperoleh ijazah instan begini. Tak perlu tamat SMP, apalagi sampai botak karena belajar di kampus, toh dengan mudah aku menjadi sarjana instan. Dan ujung-ujungnya akan mudah menjebol kerumitan persyaratan menjadi anggota dewan.
Memang garis tanganku penuh keberuntungan. Semua kesenangan hidup kuperoleh dengan mudah; instan. Jadi, layaklah aku digelar sebagai sang instan. Wah, wah, langsung saja kubayar lelaki itu dengan suka cita.
Besok-besoknya aku sudah duduk di meja dewan sambil kongkow-kongkow. Tertawa terbahak sambil meghisap cerutu. Di mataku melintas sekali-dua bayang-bayang Ratmi, perempuan malam di café elite pusat kota. Segera kutelepon dia sambil berusaha menghalau wajah Marsih. Ah, bagaimana tak nikmat hidup serba instan. Berbagai perempuan dengan tipe berbeda dapat kugaet tanpa bersusah-payah.
“Pak, mie instannya sudah siap!” Seorang lelaki berpeci membawa senampan makanan kepadaku.
“Ya!” Kututup telepon cepat-cepat. “Terimakasih!”
* * *
Lumbantoro tiba-tiba datang mendekatiku dengan wajah pias. Warna dasinya tak jelas lagi karena telah basah oleh keringat. Sementara kancing bajunya tak terkancing benar. Tebakanku, seperti biasa dia barusan perang dengan istrinya lewat telepon. Biasa, dia memang tipe lelaki takut istri. Wajahnya saja yang sangar, namun nyalinya pengecut.
“Perang lagi, ya! Ah, sudah kularang kau ikut denganku tadi malam ke kafe itu. Tapi kau bersikeras. Akibatnya perang lagi, kan? Kau berbeda denganku. Kalau aku, dengan mudah berkelit. Aku memiliki ribuan kamus tipuan untuk menutup cerocosan Marsih.”
“Bukan itu, Supanghat. Tapi kudengar-dengar orang-orang seperti kita akan tergusur dari kursi dewan. Bahkan bisa-bisa diperkarakan ke pengadilan. Atau setidak-tidaknya menjadi saksi.”
Aku tertawa. “Atas kasus apa?”
“Ijazah sarjana instan, Ngat! Pemerintah sekarang sedang memburu pengguna dan pengedar ijazah palsu seperti kita-kita ini. Apakah kau tak membayangkan kita akan terdepak dari sini? Aduh, aku tak mau jatuh miskin, Ngat!”
Hatiku kecut. Namun selebihnya tersenyum geli. Aku membayangkan wajah ketua dewan pasti sangat ketakutan sekarang ini. Dia sama sepertiku, pemakan ijazah instan. Jadi, ketika tim pencari ijazah istan menggrebek gedung dewan, aku hanya diam saja. Romansha, sang ketua dewan langsung ke depan dengan wajah pias. Didatanginya orang-orang itu dengan senyum dibuat-buat. Kemudian dia kembali sambil setengah tersenyum. Setelah tim itu pergi, aku langsung memberondongnya.
“Bagaimana, Pak? Kita akan ditendang dari sini? Apakah kita akan diseret ke pengadilan?”
Dia menepuk bahuku. “Tak mungkin, Ngat. Kalau tak licik, mana mungkin aku menjadi ketua dewan.”
“Bapak berhasil memperdaya mereka?”
“Ya, kusuruh mereka membuat laporan instan ke bosnya. Tanpa pengauditan. Biasa, semua kan bisa diatur.” Dia terbahak, kemudian serius berbisik kepadaku. “Kenalanmu yang perempuan malam masih banyak, Ngat? Biasa, para tim itu harus kita service habis nanti malam.”
“Ready stock, Bos!” Aku tersenyum lega sambari berjalan ke kantin untuk menikmati sepiring nasi goreng instan.
=Sekian=
hehe.. serba instan nih ye..
keren juga…